Hukum Sholat Nisfu Sya’ban

HUKUM SHOLAT NISFU SYA’BAN

Sholat pada malam Nisfu Sya'ban adalah satu amalan yang ada pada bulan sya'ban. Adapun Hukum tentang Sholat Nisfu Sya’ban para Ulama’ berbeda pendapat mengenai kebolehannya.

  1. HARAM

Imam Nawawi menyebutkan bahwasannya sholat yang dilakukan pada malam Nisfu Sya’ban adalah perbuatan Bid’ah dan Munkar.

(الْعَاشِرَةُ) الصَّلَاةُ الْمَعْرُوْفَةُ بِصَلَاةِ الرَّغَائِبِ وَهِيَ ثِنْتَى عَشْرَةَ رَكْعَةً تُصَلَّى بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ لَيْلَةَ أَوَّلِ جُمْعَةٍ فِي رَجَبَ وَصَلَاةُ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ مِائَةُ رَكْعَةٍ وَهَاتَانِ الصَّلَاتَانِ بِدْعَتَانِ ومُنْكَرَانِ قَبِيْحَتَانِ وَلَا يَغْتَرَّ بِذِكْرِهِمَا فِي كِتَابِ قُوْتِ الْقُلُوْبِ وَاِحْيَاءِ عُلُوْمِ الدِّيْنِ وَلَا بِالْحَدِيْثِ اْلمَذْكُوْرِ فِيْهِمَا فَاِنَّ كُلَّ ذَلِكَ بَاطِلٌ. (أبو زكريا محيي الدين بن شرف النووي (ت ٦٧٦ هـ)، المجموع شرح المهذب: ج ٤، ص ٥٦).

“Shalat yang dikenal dengan nama Shalat Raghaib, yaitu shalat dua belas rakaat yang dikerjakan antara waktu Maghrib dan Isya pada malam Jumat pertama di bulan Rajab; serta Shalat malam nisfu Sya'ban sebanyak seratus rakaat. Kedua shalat ini adalah bid'ah yang munkar dan buruk. Janganlah terpedaya (tertipu) dengan penyebutan kedua shalat tersebut di dalam kitab Qut al-Qulub dan kitab Ihya' Ulumuddin, serta jangan pula terpedaya oleh hadis yang disebutkan dalam kedua kitab tersebut, karena sesungguhnya semua itu adalah batil (palsu)." (Abu Zakariya Muhyi al-Din bin Syaraf al-Nawawi (W. 676 H), al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab: Juz 4, Hal. 56).


  1. BOLEH

Imam Ghazali berpendapat dalam masalah Sholat Nisfu Sya’ban  adalah memperbolehkan, karena menurut beliau sholat ini pernah dikerjakan oleh para sahabat Nabi Muhammad Saw.

وَأَمَّا صَلَاةُ شَعْبَانَ، فَلَيْلَةَ الْخَامِسَ عَشَرَ مِنْهُ يُصَلِّي مِائَةَ رَكْعَةٍ كُلَّ رَكْعَتَيْنِ بِتَسْلِيمَةٍ، يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ {قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌ} إِحْدَى عَشْرَةَ مَرَّةً. وَإِنْ شَاءَ صَلَّى عَشْرَ رَكَعَاتٍ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ مِائَةَ مَرَّةٍ {قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌ}، فَهَذَا أَيْضًا مَرْوِيٌّ فِي جُمْلَةِ الصَّلَوَاتِ. كَانَ السَّلَفُ يُصَلُّونَ هَذِهِ الصَّلَاةَ وَيُسَمُّونَهَا صَلَاةَ الْخَيْرِ، وَيَجْتَمِعُونَ فِيهَا، وَرُبَّمَا صَلَّوهَا جَمَاعَةً. رُوِيَ عَنِ الْحَسَنِ أَنَّهُ قَالَ: حَدَّثَنِي ثَلَاثُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ: إِنَّ مَنْ صَلَّى هَذِهِ الصَّلَاةَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ نَظَرَ اللّٰهُ إِلَيْهِ سَبْعِينَ نَظْرَةً، وَقَضَى لَهُ بِكُلِّ نَظْرَةٍ سَبْعِينَ حَاجَةً، أَدْنَاهَا الْمَغْفِرَةُ. (أبو حامد محمد بن محمد الغزالي (ت ٥٠٥هـ)، إحياء علوم الدين: ج ١، ص ٢٠٣)

"Adapun shalat bulan Sya'ban, maka pada malam ke-15 (Nisfu Sya'ban), seseorang melakukan shalat seratus rakaat, di mana setiap dua rakaat diakhiri dengan salam. Pada setiap rakaat setelah Al-Fatihah, ia membaca Qul Huwallahu Ahad (Surat Al-Ikhlas) sebanyak sebelas kali. Jika ia mau, ia bisa melakukan sepuluh rakaat, di mana pada setiap rakaat setelah Al-Fatihah ia membaca Qul Huwallahu Ahad sebanyak seratus kali. Hal ini juga diriwayatkan dalam kumpulan shalat-shalat. Para ulama salaf terdahulu biasa melakukan shalat ini dan menamakannya Shalat Al-Khair (Shalat Kebaikan). Mereka berkumpul untuk melaksanakannya, dan terkadang mereka melakukannya secara berjamaah. Diriwayatkan dari Al-Hasan (Al-Bashri) bahwa ia berkata: Tiga puluh orang sahabat Nabi Saw menceritakan kepadaku: Sesungguhnya siapa yang melakukan shalat ini pada malam ini, maka Allah akan memandangnya dengan 70 kali pandangan, dan pada setiap pandangan Allah akan mengabulkan 70 hajatnya, yang paling rendah adalah ampunan" (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (W. 505 H), Ihya’ Ulumuddin: Juz 1 Hal. 203).


Catatan:

Meskipun ada perbedaan pendapat antara Imam Nawawi dan Imam Ghazali dalam hukum melaksanakan Sholat Nisfu Sya’ban, bagi para umat muslim mengisi malam Nisfu Sya'ban dengan ibadah adalah hal yang baik dan sah-sah saja untuk dilaksanakan.


Daftar Pustaka:

Abu Zakariya Muhyi al-Din bin Syaraf al-Nawawi (W. 676 H), al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Huquq al-Thob’i Mahfudhoh, Tanpa Tahun, Sebanyak 9 Jilid.

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (W. 505 H), Ihya’ Ulumuddin, Dar al-Ma’ruf, Beirut, Lebanon, 1982 M, Sebanyak 4 Jilid.


Penulis            : M. Muslihul Ulum

Penyunting    : Ahmad Muzammilul Hannan


======================



======================



Posting Komentar untuk "Hukum Sholat Nisfu Sya’ban"