Hakikat Orang Alim Menurut Imam Syafi’i


Hakikat Orang Alim

Di era digital dan media sosial sekarang, otoritas keagamaan seringkali dinilai dari kepiawaian berbicara, banyaknya pengikut, atau viralnya ceramah, bukan dari konsistensi amal dan integritas pribadi. Fenomena ini berpotensi melahirkan budaya simbolik atau standar orang alim yang rendah di mana tampilan religius dan retorika lebih menonjol daripada keteladanan nyata.

Imam Syafi’i mengkritik hal tersebut dan beliau menjelaskan bahwa hakikat orang alim bukanlah orang yang ahli dalam berkata-kata, bukanlah orang yang ahli debat, dan bukanlah orang yang cuma mengobral teori tanpa adanya praktik. Akan tetapi Imam Syafi’i menegaskan bahwa orang alim itu terletak pada perilakunya dan praktik ilmunya. Seberapa banyak seseorang mengamalkan ilmunya maka semakin tinggi tingkat ke’aliman seseorang. Dengan demikian, masyarakat diingatkan untuk menilai figur publik—terutama dalam bidang keagamaan—berdasarkan integritas dan amal nyata, bukan sekadar popularitas atau kepiawaian berbicara atau ceramah. Hal ini dijelaskan dalam kitab Diwan al-Imam al-Syafi’i Hal 99:


وَقَالَ اْلِإمَامُ الشَّافِعِيُّ مٌؤَكِّدًا أَنَّ الْفَقِيْهَ الْفَقِيْهُ إِنَّمَا هُوَ بِفِعْلِهِ لَا بِنُطْقِهِ وَمَقَالِهِ:

(إِنَّ الفَقِيْهَ هُوَ الْفَقِيْهُ بِفِعْلِهِ … لَيْسَ الْفَقِيْهُ بِنُطْقِهِ وَمَقَالِهِ)

(ديوان الإمام الشافعي، ص ٩٩)

Muhammad ibn Idris al-Syafi‘i berkata, menegaskan bahwa seorang faqih yang sejati hanyalah dinilai dari perbuatannya, bukan dari kefasihan bicara dan ucapannya: “Sesungguhnya faqih itu benar-benar faqih karena amalnya; bukanlah faqih itu karena tutur kata dan perkataannya.” (Diwan al-Imam al-Syafi’i, 99)






Posting Komentar untuk "Hakikat Orang Alim Menurut Imam Syafi’i"