Baiat Dalam Tarekat: Ketentuan Baiat



BAIAT DALAM TAREKAT: KETENTUAN BAIAT

LATAR BELAKANG

 Baiat dalam tarekat yakni proses seorang murid menyatakan komitmen spiritual kepada seorang mursyid seperti ikatan rohani yang dibangun atas dasar kesadaran, keikhlasan, dan kesiapan menempuh jalan tazkiyah (penyucian diri) atau kedekatan dengan Allah SWT.  Masalahnya, ketika praktek  baiat tidak selalu berjalan sesuai ketentuan tasawuf yang benar. Ada tarekat yang mewajibkan baiat tanpa memberikan penjelasan memadai, ada mursyid yang menerima baiat tanpa memastikan kesiapan murid, bahkan ada juga murid yang ikut baiat hanya karena tekanan sosial atau ikut-ikutan teman. Semua ini berpotensi mengaburkan makna baiat sebagai janji rohani. Maka dari itu disini akan membahas ketentuan baiat dan tata cara baiat yang benar.

PEMBAHASAN 

Pengertian Baiat

Baiat juga bisa disebut dengan al-’Ahd secara bahasa adalah keamanan, sumpah, perjanjian, jaminan, penjagaan dan wasiat. dan secara istilah komitmen pada suatu bentuk ketaatan agama, seperti komitmen kaum Anshar bahwa sesungguhnya mereka akan melindungi Nabi Saw., dengan cara yang mereka gunakan untuk melindungi istri-istri dan anak-anak mereka. seperti dijelaskan dalam kitab Bughyah al-Wajid

فَالْعَهْدُ فِيْ اللُّغَةِ يُطْلَقُ عَلَى مَعَانٍ، قَالَ فِيْ الْمُخْتَارِ: اَلْعَهْدُ: اَلأَ مَانُ، وَالْيَمِيْنُ، وَالْمَوْثِقُ، وَالذِّمَّةُ، وَالْحِفْظُ، وَالْوَصِيَّةُ. وَعَهِدَ إِلَيْهِ مِنْ بَابِ فَهِمَ أَيْ أَوْصَاهُ. وَفِيْ التَّعْرِيْفَاتِ: اَلْعَهْدُ حِفْظُ الشَّيْءِ وَمُرَاعَاتُهُ حَالًا بَعْدَ حَالٍ، هَذَا أَصْلُهُ، ثُمَّ اسْتُعْمِلَ فِيْ الْمَوْثِقِ الَّذِي يَلْزَمُ مُرَاعَاتُهُ، وَهُوَ الْمُرَادُ، اِنْتَهَى. وَفِيْ عُرْفِ الشَّرْعِ: اِلْتِزَامَ قُرْبَةٍ دِيْنِيَّةٍ، كَالْتِزَامِ اْلأَ نْصَارِ بِأَنَّهُمْ يَحْمُوْنَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا يَحْمُوْنَ مِنْهُ نِسَاءَهُمْ وَأَوْلَادَهُمْ.(مكتوبات حضرة مولانا خالد المسمى بغية الوجيد: ص ٣٦)

“Al-’Ahd secara bahasa digunakan untuk beberapa makna. Penulis kitab al-Mukhtar berkata: al-Ahd adalah keamanan (perlindungan), sumpah, perjanjian yang kokoh, jaminan, penjagaan, dan wasiat. Kata 'ahida ilaihi (ia telah berjanji kepadanya) mengikuti bab fahima, artinya: ia telah mewasiatkannya. Dan di dalam kitab al-Ta'rifat: Al-’Ahd adalah menjaga sesuatu dan memeliharanya dari waktu ke waktu (secara berkesinambungan). Ini adalah makna asalnya. Kemudian (kata tersebut) digunakan untuk makna perjanjian kokoh yang wajib dipelihara, dan itulah makna yang dimaksud. Selesai. Dan di dalam istilah (urf) Syariat: (al-’Ahd adalah) komitmen pada suatu bentuk ketaatan agama, seperti komitmen kaum Anshar bahwa sesungguhnya mereka akan melindungi Nabi Saw., dengan cara yang mereka gunakan untuk melindungi istri-istri dan anak-anak mereka."(Maktubat Hadroh Maulana Khalid Musamma Bughyah al-Wajid: 36)

Setelah membahas baiat secara bahasa dan istilah, baiat pertama kali dilakukan pada saat perjanjian Hudaibiah yang dilakukan di bawah pohon yang dikisahkan dalam sejarah hidup nabi Muhammad SاAW., “Dipanggilnya sahabat-sahabatnya sambil ia berdiri di bawah sebatang pohon dalam lembah itu. Mereka semua berikrar (berjanji setia) kepada-nya untuk tidak akan beranjak sampai mati sekalipun. Dengan keimanan yang teguh dan dengan kemauan yang keras, mereka semua berikrar kepadanya. semangat mereka sudah berkobar akan mengadakan pembalasan terhadap pengkhianatan dan pembunuhan itu. mereka menyatakan ikrar kepadanya yang kemudian dikenal dengan nama “Baiat al-Ridwan” (Muhammad Husain Haekal: 1956) tapi juga disebutkan dalam Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir yang menjelaskan tentang isi baiat tersebut meliputi baiat tentang menolong dan taat, jumlah orang yang dibaiat dikira kirakan 1.400 orang sampai 1.500 orang dan orang yang pertama kali dibaiat adalah Abu Sinan al-Asadi.

وَالْمُبَايَعَةُ أَصْلُهَا مُشْتَقَّةٌ مِنَ الْبَيْعِ فَهِيَ مُفَاعَلَةٌ لِأَنَّ كِلَا الْمُتَعَاقِدَيْنِ بَائِعٌ، وَنُقِلَتْ إِلَى مَعْنَى الْعَهْدِ عَلَى الطَّاعَةِ وَالنُّصْرَةِ قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّبِيءُ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعُنَكَ عَلَى أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِااللهِ شَيْئًا [الممتحنة: ١٢] الآيَةَ وَهِيَ هُنَا بِمَعْنَى الْعَهْدِ عَلَى النُّصْرَةِ وَالطَّاعَةِ.

 وَهِيَ الْبَيْعَةُ الَّبِيْ بَايَعَهَا الْمُسْلِمُوْنَ النَّبِيَّءَ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ تَحْتَ شَجَرَةِ مِنَ السَّمُرِ وَكَانُوْا أَلْفًا وَأَرْبَعَمِاتَةٍ عَلَى أَكْثَرِ الرِّوَايَاتِ. وَقَالَ جَابِرُ اِبْنُ عَبْدِ اللهِ: أَوْ أَكْثَرَ، وَعَنْهُ: أَنَّهُمْ خَمْسَ عَشْرَةَ مِائَةً.

 وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى كَانُوْا ثَلَاثَ عَشْرَةَ مِائَةً. وَأَوَّلُ مَنْ بَايَعَ النَّبِيِّء تَحْتَ الشَّجَرَةِ أَبُو سِنَانٍ اْلأَسَدِيُّ. وَتُسَمَّى بَيْعَةَ الرِّضْوَانِ لِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى {لَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ إِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ} [الْفَتْح: ١٨]. (تفسير التحرير والتنوير:ج ٢٦،ص ١٥٨-١٥٩)  

"Baiat" pada asalnya berasal dari kata "jual-beli" (al-bai'), dan berbentuk "mufa'alah" (saling melakukan) karena kedua pihak yang berakad adalah "penjual". Kemudian, kata ini dipindahkan maknanya menjadi "perjanjian" untuk taat dan menolong. Allah Ta'ala berfirman: "Wahai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan baiat (janji setia) bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun..." (QS. Al-Mumtahanah: 12). Baiat di sini bermakna perjanjian untuk menolong dan taat. Itulah baiat yang diberikan kaum Muslimin kepada Nabi Saw., pada hari Hudaibiyah di bawah sebuah pohon samura. Jumlah mereka seribu empat ratus orang menurut kebanyakan riwayat. Jabir bin Abdullah berkata: "Atau lebih." Dan darinya juga diriwayatkan bahwa jumlah mereka seribu lima ratus orang. Dari Abdullah bin Abi Aufa, mereka berjumlah seribu tiga ratus orang. Orang pertama yang membaiat Nabi Saw., di bawah pohon adalah Abu Sinan al-Asadi. Baiat ini disebut Baiat al-Ridwan karena firman Allah Ta'ala: "Sungguh Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon..." (QS. Al-Fath: 18)”.(Tafsir Tahrir wa Tanwir, 26: 158-159)

Dari ibarah diatas dijelaskan bahwa baiat pertama kali dilakukan pada saat zaman nabi Muhammad Saw., dan dinamakan baiat ridwan, jadi sejatinya baiat secara umum itu janji yang diucapkan murid dan disaksikan mursyid atas dasar kesadaran dan keikhlasan berbaiat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT., dan menjauhi larangan-Nya serta melakukan perintah-Nya karena sebelum kita membahas tentang baiat dan ketentuannya kita harus mengetahui sejarah dan pengertiannya.

Macam-Macam Baiat

Baiat dalam tarekat adalah hal penting bagi seorang murid yang ingin dekat dengan Allah SWT., melalui bimbingan mursyid tapi banyak sekali kebingungan tentang persiapan murid ketika baiat. maka dari itu akan dibahas tentang macam- macam baiat dulu sebelum masuk pada syarat-syarat baiat seperti dijelaskan oleh Muhammad As’ad Shahab Zada al-Utsmani al-Naqsyabandi dalam kitabnya Bughyah al-Waajid

وَالمُبَايَعَةُ عِنْدَ الْقَوْمِ قُدِّسَتْ أَسْرَارُهُمْ عَلَى وُجُوْهٍ مِنْهَا: بَيْعَةُ التَّوْبَةِ عَنِ الْمَعَاصِيْ. وَمِنْهَا: بَيْعَةُ التَّبَرُّكِ بِرِجَالِ السِّلْسِلَةِ، وَهِيَ بِمَنْزِلَةِ الدُّخُوْلِ فِيْ سِلْسِلَةِ الْإِسْنَادِ فِيْ الحَدِيْثِ بِشَرْطِهِ، وَلَا يَخْفَى مَا فِيْ ذَلِكَ مِنَ الْبَرَكَةِ. وَمِنْهَا: بَيْعَةُ تَأْكِيْدِ العَزِيْمَةِ عَلَى التَّجَرُّدِ لِأَمْرِ اللهِ، وَتَرْكِ مَا نَهَى عَنْهُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا، وَتَعَلُّقِ الْقَلْبِ بِااللهِ ،وَهُوَ الأَصْلُ فِيْ مُبَايَعَةِ الْمَشَايِخِ الْكَامِلِيْنَ.(مكتوبات حضرة مولانا خالد مسمى بغية الوجيد: ص ٣٦)

“Dan baiat menurut kaum (tarekat) yang telah disucikan rahasia-rahasianya, dengan beberapa bentuk diantaranya: Baiat taubat dari maksiat. Baiat tabarruk (mencari berkah) kepada para tokoh silsilah (tarekat), yang kedudukannya seperti masuk dalam silsilah sanad hadits dengan syarat-syaratnya, dan tidak samar lagi betapa besar keberkahan yang terkandung di dalamnya. Baiat untuk menguatkan tekad dalam mengkhususkan diri untuk urusan Allah, meninggalkan apa yang dilarang-Nya lahir dan batin, serta menghubungkan hati hanya kepada Allah. Inilah pokok utama dalam baiat kepada para syekh yang sempurna.” (Maktubat Hadroh Maulana Khalid Musamma Bughyah al-Wajid: 36)

Macam-macam baiat ada 3 yang terdapat dalam kitab Maktubat Hadrah Maulana Khalid Musamma Bughyah al-Waajid diantaranya baiat taubat dari maksiat, baiat untuk mendapat keberkahan dari para mursyid, dan baiat untuk menjalankan perintah Allah SWT.,  dan meninggalkan segala larangan-Nya, dari macam-macam baiat yang disebutkan kita bisa mengetahui baiat itu beberapa macam. 

Syarat Baiat

Baiat juga memiliki syarat-syarat yang juga dijelaskan oleh Muhammad As’ad Shahab Zada al-Utsmani al-Naqsyabandi syarat seorang mursyid yaitu: mursyid yang sempurna, berilmu dan telah sampai pada pemahaman tertinggi. Sedangkan, untuk murid syaratnya yaitu: berilmu, sabar, berakhlak baik dan sifat baik lainnya serta tetap menjaga wuquf al-qalbi dan tetap memakai pakaian yang sewajarnya tanpa menampakkan kesufiannya. terdapat dalam kitab Bughyah al-Waajid:

وَ مِنْ اَهَمِّ شَرَا ئِطِهَا: أَخْذُ بَيْعَةِ العَهْدِ الصَّحِيْحَةِ وَالإِنَابَةِ الرَّجِيْحَةِ مِنْ شَيْخٍ كَامِلٍ عَالِمٍ وَاصِلٍ إِلَى الشُّهُوْدِ الذَّاتِيِّ، عَلَى أَنَّهُ وَإِنْ كَانَ وُجُودُهُ فِيْ هٰذَا الزَّمَانِ أَعَزَّ مِنَ الكِبْرِيْتِ الأَحْمَرِ، إِلَّا أَنَّهُ بِبَرَكَةِ صُحْبَتِهِ يَنَالُ السَّالِكُ مِنْهُ مَقْصُوْدَهُ بِحَسَبِ اعْتِقَادِهِ فِيْهِ. وَمِنْ شَرَائِطُهَا: تَصْحِيْحُ الِْاعْتِقَادِ فِيْ إِثْبَاتِ الْوَاجِبِ تَعَالَى وَتَقَدَّسَ، وَتَطْبِيْقُهُ بِالْبَرَاهِيْنِ الْقَطْعِيَّةِ عَلَى مُقْتَضَى قَانُوْنِ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ، عَلَى وَفْقِ مَا قَرَّرَهُ حُكَمَاءُ عُلَمَاءِ الدِّيْنِ المَوْثُوْقُ بِعِلْمِهِمْ الأَثَرِيِّ المُوَافِقِ لِلْكِتَابِ الْعَزِيْزِ وَالسُّنَّةِ النَّبَوِيَّةِ المَأْثُوْرَةِ.وَمِنْهَا: اَلْعِلْمُ وَالْحِلْمُ وَحُسْنُ الْخَلْقِ وَالتَّوَاضُعِ وَلِيْنُ الجَانِبِ وَمَا يَتَشَعَّبُ مِنْهَا، وَكَذَا تَبْجِيْلُ المَشَايِخِ، وَمِنْهَا مُرَاعَاةُ الوُقُوْفِ القَلْبِيِّ الَّذِي هُوَ الرُّكْنُ الأَعْظَمُ فِيْ هٰذِهِ الطَّرِيْقَةِ فِيْ الحَقِيْقَةِ. وَمِنْهَا أَنْ يَكُوْنَ زِيُّ أَهْلِهَا كَزِيِّ عَوَامِّ المُؤْمِنِيْنَ، فَلَا يُشْتَرَطُ فِيْهَا التَّاجُ وَالطَّيْلَسَانُ وَغَيْرُ ذٰلِكَ مِنَ الأَزْيَاءِ، وَلَيْسَ فِيْهَا: الجَهْرُ بِالذِّكْرِ وَرَفْعُ الصَّوْتِ وَالْحَرَكَاتُ بِالرَّقْصِ وَالتَّغَنِّي وَالغَفْلَةُ، فَإِنَّ الذِّكْرَ بِلَا حُضُوْرٍ كَمَضْمَضَةِ عَطْشَانَ. (مكتوبات حضرة مولانا خالد المسمى بغية الوجيد: ص ٣٩-٣٦)

“Dan di antara syarat-syarat terpentingnya adalah: Mengambil baiat 'ahd yang sah dan inabah (kembali kepada Allah) yang kuat dari seorang syekh yang sempurna, alim, dan telah sampai (wushul) pada penyaksian (syuhud) hakikat diri (dzati). Meskipun keberadaan (syekh seperti itu) di zaman ini lebih langka daripada belerang merah (kibrit al-ahmar), namun dengan berkah bergaul dengannya, seorang penempuh jalan (salik) akan mencapai tujuannya sesuai dengan keyakinannya terhadap sang syekh. Meluruskan keyakinan dalam menetapkan kewajiban (mengesakan) Allah Ta'ala dan Yang Maha Suci, serta membuktikannya dengan dalil-dalil yang pasti (qath'i) sesuai dengan kaidah yang ditetapkan oleh generasi salaf yang shalih dari kalangan Sahabat, Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in. Hal ini sejalan dengan apa yang telah ditetapkan oleh para hakim (ahli hikmah) dari ulama agama yang terpercaya keilmuan atsar mereka, yang sesuai dengan Al-Qur'an yang agung dan Sunah Nabi yang terwariskan. Memiliki ilmu, hikmah atau kebijaksanaan, sikap yang baik, rendah hati, lemah lembut, serta cabang-cabang sifat mulia lainnya. Demikian pula menghormati para masyayikh (guru). Menjaga keteguhan hati (wuquf qalbi), yang merupakan pilar terbesar dalam tarekat ini pada hakikatnya. Pakaian para pengikutnya hendaknya seperti pakaian umumnya orang-orang beriman. Tidak disyaratkan memakai taj (sorban tinggi) atau thailasan (jubah kebesaran) dan pakaian-pakaian khusus lainnya. Juga tidak ada dalam tarekat ini: mengeraskan zikir, mengangkat suara, gerakan-gerakan tari, nyanyian, dan kelalaian. Karena sesungguhnya zikir tanpa kehadiran hati bagaikan berkumur-kumurnya orang yang kehausan (tidak menghilangkan dahaga).”(Maktubat Hadroh Maulana Khalid Musamma Bughyah al-Waajid: 36-39)

Pada ibarah diatas telah disebutkan syarat seorang mursyid dan seorang murid. Dari penjelasan ini diketahui bahwa syarat baiat untuk murid boleh tidak dipenuhi pada saat sebelum baiat karena jika kita menunggu sifat baik itu dimiliki semua maka, kita tidak akan mengikuti baiat.

Tata Cara Baiat

Setelah mengetahui apa itu baiat dan syarat-syarat baiat kita dapat mengikuti baiat dengan baik dan sesuai dengan ajaran tarekat maka dari itu tinggal kita menerapkan tata cara yang sudah ditentukan oleh mursyid, rata-rata para mursyid membaiat caranya seperti Nabi Muhammad Saw., membaiat Sayyidina Ali Krw., seperti pandangan Syekh Arif Billah Sofiyuddin dalam karyanya kitab Simthu al-Majid  yang dinukil dalam kitab Sabil al-Salikin:

مِنْ أَمِيْرِ المُؤْمِنِيْنَ وَسَيِّدِ الأَوْلِيَاءِ المُتَّقِيْنَ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ عَلَيْهِ رِضْوَانُ اللهِ الْمَلِكِ الْوَهَّابِ أَنَّهُ (قَالَ) قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ دُلَّنِيْ عَلَى أَقْرَبِ الطُّرُقِ إِلَى اللهِ وَأَفْضَلِهَا عِنْدَ اللهِ وَأَشْمَلِهَا عَلَى عِبَادَةِ اللهِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكَ بِمَا وَصَلْتُ بِهِ إِلَى النُّبُوَّةِ فَقُلْتُ وَمَا ذَاكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ بِمُدَاوَمَةِ الذِّكْرِ فِيْ الْخَلْوَاتِ قُلْتُ هٰكَذَا فَضِيْلَةُ الذِّكْرِ وَكُلُّ النَّاسِ ذَاكِرُوْنَ قَالَ مَهْ يَا عَلِيُّ لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ وَعَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مَنْ يَقُوْلُ اللهُ اللهُ ثُمَّ قُلْتُ وَكَيْفَ أَذْكُرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: اسْمَعْ مِنِّيْ حَتَّى أَقُوْلَهَا ثَلَاثًا، وَلْتَقْتَرِبْ لِلسَّمْعِ، ثُمَّ قُلْهَا ثَلَاثًا وَأَنَا أَسْمَعُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ فَسَمِعْتُ مِنْهُ ثُمَّ قُلْتُ كَمَا سَمِعْتُ، فَأَجَازَ لِيْ إِنَّ الفَضْلَ غَيْرِيْ.(سبيل السالكين: ص ٤٠)

“Dari Amirul Mukminin dan pemuka para wali yang bertakwa, Ali bin Abi Thalib, bahwa dia berkata: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku jalan yang paling dekat menuju Allah, yang paling utama di sisi Allah, dan yang paling menyeluruh dalam beribadah kepada Allah." Rasulullah Saw., bersabda, "Hendaklah kamu berpegang teguh pada apa yang telah mengantarku sampai kepada kenabian." Aku bertanya, "Apakah itu, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Dengan senantiasa berzikir dalam keadaan menyendiri (khalwat)." Aku berkata, "Demikianlah keutamaan zikir, tetapi semua orang juga berzikir?" Beliau bersabda, "Tahanlah, wahai Ali! Kiamat tidak akan terjadi sementara masih ada di muka bumi orang yang mengucapkan 'Allah, Allah'." Kemudian aku bertanya, "Bagaimana caraku berzikir, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Dengarkanlah dariku hingga aku mengucapkannya tiga kali, dan dekatkanlah dirimu untuk mendengar. Kemudian ucapkanlah tiga kali sementara aku mendengarkan." Kemudian Rasulullah bersabda, "Lailahaillah tiga kali" (Tiada Tuhan selain Allah). Maka aku mendengarkan dari beliau, kemudian aku mengucapkannya sebagaimana yang kudengar. Lalu beliau memberikan ijazah (izin/penghargaan) kepadaku, "Sesungguhnya keutamaan (dalam hal ini) selain diriku" (mungkin bermakna: keutamaannya bukan dari diriku, melainkan dari Allah).” (Sabil al-Salikin: 40)

  Dari semua cara baiat banyak sekali yang mirip dengan cara Nabi Muhammad Saw., membaiat Sayyidina Ali Krw., tapi banyak sekali tarekat yang jarang menjelaskan tata cara baiat mursyid kepada murid karena biasanya hal tersebut sangat sakral diketahui banyak orang, tapi tak jarang ada juga yang mencantumkan dalam kitab tentang bagaimana tata cara baiat seperti pandangan Syekh Muhyi al-Din Abdu al-Qadir al-Jailani dalam karyanya Ithaf al-Akbar yang dinukil dalam kitab Sabil al-Salikin tentang tata cara pembaiatan tarekat al-Qodiriyah

جَرَّتْ اَلْعَادَةُ عِنْدَ مَشَايِخِ الصُّوْفِيَّةِ أَنَّهُ إِذَاجَاءَ أَحَدُهُمْ مُرِيْدُ طَالِبًا لِلْحَقِّ يُرِيْدُ أَخْذُ الْعَهْدِ عَنْهُ فَإِنْ كَانَ جَاهِلًا عَلَّمَهُ أَوَّلًا مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ مِنْ أُمُوْرِ العَقِيْدَةِ وَالعِبَادَاتِ وَمَعْرِفَةِ الحَلَالِ وَالحَرَامِ، ثُمَّ يَأْمُرُهُ بِالتَّوْبَةِ عَنْ جَمِيْعِ المَعَاصِيْ، وَيَأْمُرُهُ بِأَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ بِنِيَّةِ التَّوْبَةِ. ثُمَّ يَجْلِسُ المُرِيْدُ أَمَامَ الشَّيْخِ جِلْسَةَ الِْإِفْتِرَاشِ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ، ثُمَّ يَقْرَأُ الشَّيْخُ فَاتِحَةَ الكِتَابِ وَيُصَافِحُهُ، ثُمَّ يَقُوْلُ لِلْمُرِيْدِ: قُلْ: أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ الَّذِيْ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ. ثُمَّ يَأْمُرُهُ بِالِْالتِزَامِ بِطَاعَةِ اللهِ وَبِتَجَنُّبِ مَعَاصِيْ الجَوَارِحِ وَمَعَاصِيْ القَلْبِ كَالحَسَدِ وَالحِقْدِ وَالرِّيَاءِ وَغَيْرِهَا، ثُمَّ يَقُوْلُ لَهُ قُلْ: شَيْخُنَا وَأُسْتَاذُنَا (الشَّيْخُ عَبْدُ القَادِرِ الجِيْلَانِيْ) رَضِيْتُهُ شَيْخًا لِيْ وَطَرِيْقَتَهُ طَرِيْقَةً لِيْ، وَاللهُ عَلَى مَا نَقُوْلُ وَكِيْلٌ. ثُمَّ يَقُوْلُ الشَّيْخُ سِرًّا: يَا وَاحِدُ، يَا مَاجِدُ، اِنْفَحْنَا مِنْكَ بِنَفْحَةِ خَيْرٍ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ. ثُمَّ يَقْرَأُ آيَةَ المُبَايَعَةِ، وَهِيَ: ﴿اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللهَ ۗ يَدُ اللهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَنْ نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللهَ فَسَيُؤْتِيْهِ أَجْرًا عَظِيْمًا﴾ [سورة الفتح: ١٠]. ثُمَّ يَقُوْلُ لَهُ: اسْمَعْ مِنِّيْ كَلِمَةَ التَّوْحِيْدِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، وَقُلْ أَنْتَ مِثْلَهَا: «لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ»، وَهُوَ مُغْمِضُ العَيْنَيْنِ. فَيَقُوْلُهَا المُرِيْدُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ مُغْمِضُ العَيْنَيْنِ أَيْضًا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ. ثُمَّ يَأْمُرُهُ الشَّيْخُ بِالإِكْثَارِ مِنْ تِلَاوَتِهَا وَلَوْ مِنْ غَيْرِ تَحْدِيْدِ عَدَدٍ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ مَا اسْتَطَاعَ. يَقُوْلُ الشَّيْخُ: هَلْ قَبِلْتَ؟ فَيَقُوْلُ المُرِيْدُ: قَبِلْتُ. ثُمَّ يَقْرَأُ الشَّيْخُ وَالمُرِيْدُ الفَاتِحَةَ وَيُهْدِيَانِ ثَوَابَهَا إِلَى النَّبِيِّ وَإِلَى جَمِيْعِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَالآلِ وَصَحْبِ كُلٍّ مِنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ، وَإِلَى جَمِيْعِ المُؤْمِنِيْنَ، وَيُخَصُّ بِالذِّكْرِ الشَّيْخُ عَبْدُ القَادِرِ وَمَشَايِخُ الطَّرِيقَةِ. ثُمَّ إِذَا رَأَى الشَّيْخُ أَنْ يَأْمُرَهُ بِنَوْعٍ مِنْ أَنْوَاعِ الذِّكْرِ عَلَى حَسَبِ الطَّرِيْقَةِ الَّتِي يَسْلُكُهَا، فَعَلَى المُرِيْدِ تَنْفِيْذُ أَمْرِهِ مَا لَمْ يَشْتَغِلْهُ أَمْرٌ أَهَمُّ. وَمِنَ الطَّرِيْقَةِ القَادِرِيَّةِ فَرْعِ القَادِرِيَّةِ الذَّهَبِيَّةِ: أَنْ يَقُوْلَ صَبَاحًا وَمَسَاءً مِائَةَ مَرَّةٍ: «لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ»، وَمِائَةَ مَرَّةٍ: «أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ»، وَمِائَةَ مَرَّةٍ: «اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ»، وَمِائَةَ مَرَّةٍ: «حَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلُ». وَإِذَا رَأَى الشَّيْخُ أَنْ يَزِيْدَ لَهُ أَنْوَاعًا أُخَرَ مِنَ الْأَذْكَارِ زَادَ لَهُ، وَيُسْتَحَبُّ لِلْمُرِيْدِ بَعْدَ الِانْتِهَاءِ مِنَ العَدَدِ أَنْ يَقْرَأَ الفَاتِحَةَ وَيُهْدِيَ ثَوَابَهَا إِلَى شَيْخِ الطَّرِيْقَةِ وَمَشَايِخِ سَلَاسِلِهَا وَشَيْخِهِ.(سبيل السالكين: ص ٢٣٨-٢٣٩ )

Sudah menjadi kebiasaan di kalangan para masyayikh sufi bahwa apabila ada seseorang datang sebagai murid yang mencari kebenaran dan ingin mengambil baiat dari seorang syekh, maka jika ia masih awam, sang syekh terlebih dahulu mengajarkannya hal-hal penting yang ia butuhkan tentang akidah, ibadah, serta pengetahuan mengenai halal dan haram. Setelah itu, sang syekh memerintahkannya untuk bertaubat dari seluruh maksiat, lalu memerintahkannya untuk shalat dua rakaat dengan niat taubat. Kemudian sang murid duduk di hadapan syekh dengan posisi duduk iftirasy menghadap kiblat. Lalu syekh membaca surah al-Fatihah dan berjabat tangan dengannya, kemudian berkata kepada murid: “Ucapkanlah: Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah al-‘adzim alladzi la ilaha illa huwa al-hayyu al-qayyum wa atubu ilaih.” Setelah itu sang syekh memerintahkannya untuk berkomitmen taat kepada Allah dan menjauhi maksiat anggota badan serta maksiat hati seperti hasad, dengki, riya’, dan lainnya. Kemudian syekh berkata kepadanya: “Ucapkanlah: Syekh kami dan guru kami (Syekh Abdu al-Qadir al-Jailani), aku rida menjadikannya sebagai syekh, dan jalan tarekatnya sebagai jalan bagiku. Allah menjadi saksi atas apa yang kami ucapkan.” Lalu sang syekh mengucapkan secara pelan: “Ya Waḥid, ya Majid, anfahna minka binafḥati khayr” sebanyak tiga kali. Kemudian ia membaca ayat baiat: “Sesungguhnya orang-orang yang berbaiat kepadamu, mereka sebenarnya berbaiat kepada Allah. Tangan Allah berada di atas tangan-tangan mereka. Maka siapa yang melanggar janjinya, sesungguhnya ia melanggar untuk dirinya sendiri; dan siapa yang menepati apa yang ia janjikan kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar.”  (QS. al-Fath: 10) Lalu syekh berkata: “Dengarkan dariku kalimat tauhid sebanyak tiga kali, lalu engkau ucapkan pula tiga kali dengan cara yang sama: La ilaha illallah,” sambil memejamkan mata. Maka murid pun mengucapkannya setelah syekh, juga dengan mata terpejam, sebanyak tiga kali. Kemudian syekh memerintahkannya untuk memperbanyak bacaan itu (kalimat tauhid) kapan pun ia mampu, baik di malam maupun siang hari, meskipun tanpa jumlah tertentu. Setelah itu syekh berkata: “Apakah engkau menerima (baiat ini)?” dan murid menjawab: “Aku menerima.” Kemudian syekh dan murid membaca surah al-Fatihah dan menghadiahkan pahalanya kepada Nabi, semua nabi dan rasul, para sahabat semuanya, serta seluruh kaum mukmin. Mereka juga secara khusus menghadiahkan kepada Syekh Abdu al-Qadir dan para masyayikh tarekat. Jika syaikh melihat perlunya memberikan jenis zikir tertentu sesuai metode tarekatnya, maka murid wajib melaksanakan perintah tersebut selama tidak bertabrakan dengan urusan yang lebih penting. Di antara amalan tarekat al-Qadiriyyah, khususnya cabang al-Qadiriyyah Dzahabiyyah, adalah membaca setiap pagi dan sore:  1. La ilaha illallah sebanyak 100 kali 2. Astaghfirullah al-Adzim wa atubu ilaih sebanyak 100 kali
3. Allahumma ṣalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa ṣaḥbihi wa sallim sebanyak 100 kali  4.Ḥasbiyallah wa ni‘ma al-wakil sebanyak 100 kali, Jika syekh memandang perlu untuk menambah jenis zikir lain, maka ia menambahkannya untuk murid. Disunahkan bagi murid setelah menyelesaikan zikir tersebut untuk membaca al-Fatihah dan menghadiahkannya kepada syekh tarekat, para masyayikh dalam silsilahnya, serta kepada syekhnya sendiri”(Sabil al-Salikin: 238-239)

Selanjutnya ini adalah tata cara baiat tarekat al-Qadiriyah al-Naqsyabandiyah yang terdapat dalam kitab Tsamrat al-Fikriyah:

وَالشَّخْصُ الَّذِيْ سَيَدْخُلُ وَاتِّخَاذُ الطَّرِيْقَةِ الْقَادِرِيَّةِ وَالنَّقْشَبَنْدِيَّةِ هَذَا، ثُمَّ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ أَدَاءِ كَيْفِيَّةٍ أَوِ الْإِجْرَاءِ كَمَا يَلِيْ:

١. جَاءَ لِلْمُعَلِّمِ التَّقَدُّمُ بِطَلَبٍ لِلْحُصُوْلِ عَلَى إِذْنِ الْمُرْشِدِ لِدُخُوْلِ الطَّرِيْقَةِ وَأَصْبَحَ تِلْمِيْذَهُ، وَيَتِمُّ ذَلِكَ الْحُصُوْلُ عَلَى الْإِذْنِ.

٢. غُسْلٌ بِالتَّوْبَةِ يَلِيْهِ صَلَاةُ الْحَاجَةِ وَصَلَاةُ التَّوْبَةِ.

٣. الْاِسْتِغْفَارُ مِائَةَ مَرَّةٍ.

٤. صَلَاةُ اسْتِخَارَةٍ، الَّذِيْ يُمْكِنُ الْقِيَامُ بِهِ مَرَّةً وَاحِدَةً أَوْ أَكْثَرَ وَفْقًا لِتَعْلِيْمَاتِ مُرْشِدٍ.

٥. النَّوْمُ بِإِمَالَةٍ عَلَى الْيَمِيْنِ بِتَوَاجُهِ الْقِبْلَةِ فِيْ قِرَاءَةِ صَلَاةٍ عَلَى النَّبِيِّ إِلَى النَّوْمِ.

٦. وَبَعْدَهُ، وَالْقَادِمُ هُوَ تَنْفِيْذُ تَلْقِيْنِ الذِّكْرِ وَالْبَيْعَةِ مِثْلَ مَا وَرَدَ أَعْلَاهُ. وَالصَّوْمُ (الصَّوْمُ مَعَ تَجَنُّبِ الْأَطْعِمَةِ الَّتِيْ تَأْتِيْ مِنْ جَمَادٍ أَوِ الْأَرْوَاحِ) لِمُدَّةِ أَرْبَعِيْنَ وَوَاحِدًا يَوْمًا. وَبَعْدَ ذَلِكَ، وَبَعْدَ كُلِّ شَيْءٍ سَيُتَمُّ سَرْدُ تِلْمِيْذَةِ الطَّرِيْقَةِ الْقَادِرِيَّةِ وَالنَّقْشَبَنْدِيَّةِ.

وَأَمَّا طَالِبٌ بَعْدَ ذَلِكَ، وَيَجِدُ نَفْسَهُ مُضْطَرًّا إِلَى مُّمَارَسَةِ الْأَوْرَادِ عَلَى النَّحْوِ التَّالِيْ:

١. مَبْدَأٌ بِقِرَاءَةِ: "إِلَهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ أَعْطِنِيْ مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ" ٣×.

٢. قِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ إِلَى أَهْلِ سِلْسِلَةِ الطَّرِيْقَةِ الْقَادِرِيَّةِ وَالنَّقْشَبَنْدِيَّةِ.

٣. قِرَاءَةُ سُوْرَةِ الْإِخْلَاصِ ٣×، سُوْرَةِ الْفَلَقِ ١×، وَسُوْرَةِ النَّاسِ ١×.

٤. وَقِرَاءَةُ صَلَوَاتِ الْأُمِّ ٣× وَهُوَ: "اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ".

٥. الْاِسْتِغْفَارُ ٣× تَقْدِيْمُ مِثْلِ هَذَا الْوَجْهِ (الرَّابِطَةِ) لِمُرْشِدِ الْمُعَلِّمِ، بِقِرَاءَةٍ كَمَا يَلِيْ: "لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ حَيٌّ بَاقٍ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ حَيٌّ مَوْجُوْدٌ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ حَيٌّ مَعْبُوْدٌ".

٦. وَقِرَاءَةُ ذِكْرِ النَّفْيِ وَالْإِثْبَاتِ ٦٥× هُوَ: "لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ".

وَبَعْدَ ذَلِكَ:

١. قِرَاءَةُ: "إِلَهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ أَعْطِنِيْ مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ" ٣×.

٢. تَهْدِئَةُ وَتَرْكِيْزُ قَلْبٍ، ثُمَّ الشَّفَتَيْنِ اثْنَتَيْنِ مَخْتُوْمَةٌ فِيْ حِيْنِ يَتِمُّ الضَّغْطُ عَلَى اللِّسَانِ وَلَصْقُهَا مَعًا كَأَسْنَانِ الْمَوْتَى، وَشُعِرَ أَنَّ هَذَا كَانَ آخِرَ أَنْفَاسِهِ فِيْ حِيْنِ النَّظَرِ فِي الْقَبْرِ وَالسَّاعَةِ مَعَ كُلِّ إِشْكِلٍ.

٣. ثُمَّ الذِّكْرُ اسْمَ الذَّاتِ مَعَ قَلْبِهِ ١٠٠٠×.

• (تَنْبِيْهٌ) 

• كُلُّ ذَلِكَ مِنَ الْأَوْرَادِ يُقَامُ عِنْدَ مَا بَعْدَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ. 

• جَوْهَرٌ عَنِ الذِّكْرِ اسْمِ الذَّاتِ، عِنْدَمَا يُمْكِنُ أَنْ تُرْتَكَبَ وَبَعْدَ صَلَاةِ الْمَكْتُوْبَةِ ثُمَّ تَعْزِيْزٌ مَعَ إِضَافَةٍ بَعْدَ قِيَامِ اللَّيْلِ (صَلَاةِ اللَّيْلِ) وَبَعْدَ صَلَاةِ الضُّحَى. 

• لِلذِّكْرِ اسْمِ الذَّاتِ الْجَوْهَرِ يَنْبَغِيْ الْقِيَامُ بِهِ مَرَّةً وَاحِدَةً فِيْ وَسِيْلَةٍ فِيْ آنٍ وَاحِدٍ بِخَمْسَةِ آلَافِ مَرَّةٍ (بِالنِّسْبَةِ لِأُولَئِكَ الَّذِيْنَ مَا زَالُوْا بَعْدَ صَلَاةِ الْمَكْتُوْبَةِ) أَوْ سَبْعَةِ آلَافِ مَرَّةٍ (لِأُولَئِكَ الَّذِيْنَ رَقَوْا بِالْفِعْلِ). 

• الْمَوْقِفُ عِنْدَ تَنْفِيْذِ الْوِرْدِ لَيْسَ يُلَازِمُ مُعَيَّنَةً. لِذَلِكَ يُمْكِنُ أَنْ يَكُوْنَ وَسِيْلَةَ تَوَرُّكِ الِاعْتِصَامِ، اِفْتِرَاشٍ أَوِ الْقُرْفُصَاءِ. 

• قِرَاءَاتُ الْأَوْرَادِ، وَتَنْفِيْذُ غَيْرِهَا مِنْ أَفْعَالِ الذِّكْرِ الْمَوْجُوْدَةِ فِيْ أُسْتُرَالِيَا الْغَرْبِيَّةِ طَرِيْقَةِ النَّقْشَبَنْدِيَّةِ وَالْقَادِرِيَّةِ هَذَا بِمَزِيْدٍ مِنَ التَّفْصِيْلِ، يُمْكِنُ أَنْ يُنْظَرَ إِلَيْهِ إِذَا كَانَ الشَّخْصُ قَدْ دَخَلَ وَتَصَبَّحَ الْأَعْضَاءَ وَزِيَادَةَ تَعَالِيْمِهَا.(سبيل السالكين: ص ٦٩٩-٧٠١)

“Seseorang yang hendak masuk dan mengambil Tarekat al-Qadiriyah wa al-Naqsyabandiyah harus terlebih dahulu melaksanakan tata cara atau prosedur sebagai berikut: datang kepada guru (mursyid) untuk mengajukan permohonan izin masuk tarekat dan menjadi muridnya, proses ini dilakukan dengan memperoleh izin resmi dari mursyid, melakukan mandi taubat, kemudian melaksanakan shalat hajat dan salat taubat, membaca istighfar sebanyak 100 kali, melaksanakan shalat istikharah, yang dapat dilakukan satu kali atau lebih sesuai dengan petunjuk mursyid, tidur dengan posisi miring ke kanan menghadap kiblat sambil membaca shalawat kepada Nabi hingga tertidur, setelah itu dilanjutkan dengan pelaksanaan talqin zikir dan baiat sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, serta berpuasa (yaitu puasa dengan menghindari makanan yang berasal dari unsur benda mati maupun makhluk bernyawa) selama 41 hari. Setelah semua tahapan ini dilalui, barulah seseorang resmi tercatat sebagai murid Tarekat al-Qadiriyah wa al-Naqsyabandiyah. Adapun setelah menjadi murid, maka ia diwajibkan untuk mengamalkan wirid-wirid berikut: wirid awal:

  1. Membaca doa: ilahi anta maqsudi waridhoka mathlubi a'tini mahabbataka wama’rifataka wala haula wala quwwata illa billahil ‘aliyil adzim
    dibaca 3 kali.

  2. Membaca Surah al-Fatihah yang dihadiahkan kepada para ahli silsilah Tarekat al-Naqsyabandiyah dan al-Qadiriyah.

  3. Membaca: Surah al-Ikhlas 3 kali, surah al-Falaq 1 kali, surah an-Nas 1 kali

  4. Membaca shalawat ummi sebanyak 3 kali, yaitu: allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ala alihi wasohbihi wasallam

  5. Membaca istighfar 3 kali, lalu menghadirkan rabithah (menghubungkan hati) kepada mursyid dengan membaca: lailahaillallah hayyul ma’bud, lailahaillallah hayyum maujud, lailahaillah hayyul baaq

  6. Membaca zikir nafy isbat sebanyak 65 kali, yaitu: lailahaillah

Wirid lanjutan:

  1. Mengulang kembali bacaan: ilahi anta maqsudi waridhoka mathlubi
    sebanyak 3 kali.

  2. Menenangkan dan memusatkan hati, kemudian merapatkan kedua bibir dan menekan lidah ke langit-langit mulut (seperti kondisi orang yang telah wafat), sambil membayangkan seolah-olah itu adalah hembusan nafas terakhir, disertai tafakur tentang kubur dan hari kiamat.

  3. Setelah itu membaca zikir Ism al-Dzat (menyebut Nama Allah dalam hati) sebanyak 1000 kali.

Catatan Penting:

  1. Semua wirid tersebut diamalkan setelah setiap shalat fardhu.

  2. Inti dari zikir adalah zikir Ism al-Dzat, yang boleh diamalkan setelah shalat fardhu, lalu ditambah setelah shalat malam (qiyamul lail) dan shalat dhuha.

  3. Zikir Ism al-Dzat sebaiknya dilakukan sekali duduk dengan jumlah: 5000 kali bagi pemula, 7000 kali bagi mereka yang telah meningkat maqamnya

  4. Posisi duduk saat berzikir tidak ditentukan secara khusus: boleh duduk tawarruk, iftirasy, atau bersila.

  5. Penjelasan lebih rinci mengenai wirid dan amalan lain dalam Tarekat al-Naqsyabandiyah wa al-Qodiriyah ini dapat dipelajari lebih lanjut setelah seseorang resmi masuk sebagai anggota dan mendapatkan pengajaran lanjutan dari mursyid.”(Sabil al-Salikin: 699-701)

Seperti yang telah dinukil dari kitab Sabil al-Salikin diatas bahwa tata cara pembaiatan  itu memiliki cara yang sama-sama mirip dengan pembaiatan Nabi Muhammad Saw., kepada Sayyidina Ali Krw., maka, baiat bukan semata-mata ritual ceremonial tapi sebuah janji yang memiliki landasan kuat dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

KESIMPULAN

Baiat dalam tarekat pada hakikatnya merupakan janji rohani (al-‘ahd) yang mengikat antara murid dan mursyid atas dasar kesadaran, keikhlasan, dan kesiapan spiritual untuk menempuh jalan tazkiyah al-nafs dan taqarrub ilallah. Baiat bukan sekadar ritual formal atau simbolik, melainkan sarana penguatan komitmen batin untuk meninggalkan maksiat, melaksanakan ketaatan, serta mengarahkan hati sepenuhnya kepada Allah SWT. Dasar baiat bersumber dari al-Qur’an dan Sunah, sebagaimana tercermin dalam Baiat Ridwan pada masa Nabi Muhammad Saw., yang menunjukkan legitimasi syar‘i baiat sebagai janji kesetiaan spiritual.

Baiat memiliki beberapa bentuk, yaitu baiat taubat dari maksiat, baiat tabarruk kepada para masyayikh silsilah, dan baiat penguatan azimah untuk totalitas ibadah dan ketergantungan hati kepada Allah SWT.

Rukun baiat terletak pada aspek qalbi, yaitu berpalingnya hati dari selain Allah SWT., menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya, dan bertawakal dalam segala urusan.

Syarat baiat menuntut adanya mursyid yang memenuhi kriteria keilmuan, kematangan spiritual, dan kesesuaian dengan al-Qur’an dan Sunah, serta kesiapan murid untuk menempuh proses pembinaan, meskipun kesempurnaan akhlak murid tidak disyaratkan sejak awal.

Tata cara baiat dalam berbagai tarekat memiliki kesamaan substansial, meskipun terdapat perbedaan teknis dan detail amaliah. Kesemuanya bermuara pada zikir, taubat, penguatan tauhid, dan pembinaan spiritual yang berkesinambungan.

Dengan demikian, baiat tidak boleh dipahami sebagai formalitas sosial atau tradisi turun-temurun semata, tetapi sebagai ikatan ruhani yang serius dan bertanggung jawab, baik bagi mursyid maupun murid. Kesalahan dalam memahami atau mempraktikkan baiat berpotensi mereduksi makna luhur tarekat sebagai jalan penyucian diri menuju Allah SWT.



Berikut ini adalah tabel perbandingan antara Tarekat al-Qadiriyah dan Tarekat al-Qadiriyah wa al-Naqsyabandiyah:


Poin Utama

Tarekat al-Qadiriyah (Ithaf al-Akbar)

Tarekat al-Qadiriyah wa al-Naqsyabandiyah (Tsamrah al-Fikriyah)

Permohonan Baiat

Murid datang kepada syekh untuk mengambil baiat

Murid mengajukan izin resmi kepada mursyid

Pembekalan Awal

Diajarkan akidah, ibadah, halal–haram jika masih awam

Tidak dirinci secara eksplisit, namun berada di bawah bimbingan mursyid

Taubat

Taubat dari seluruh maksiat dan shalat taubat

Mandi taubat, shalat hajat, dan shalat taubat

Posisi Baiat

Duduk iftirasy  menghadap kiblat

Duduk Tawaruk terbalik

Bacaan Utama

Istighfar, ayat baiat, talqin kalimat tauhid

Istighfar, doa maqsudi, talqin zikir

Ayat Baiat

Dibacakan QS. al-Fath: 10 

Tidak disebutkan secara khusus

Talqin Zikir

Kalimat tauhid (la ilaha illa Allah)

Zikir nafi itsbat dan Ism al-Dzat

Wirid Harian

Zikir pagi–petang (tauhid, istighfar, shalawat, hasbiyallah)

Wirid terstruktur setelah shalat fardhu

Puasa

Tidak disebutkan secara khusus

Puasa khusus selama 41 hari

Rabithah

Tidak dijelaskan secara khusus

Ditekankan rabithah kepada mursyid

Fokus Utama

Penguatan tauhid dan zikir lisan

Zikir qalbi dan Ism al-Dzat

Penutup Baiat

Pembacaan al-Fatihah dan hadiah pahala

Wirid lanjutan dan penguatan zikir batin


Menurut analisis saya dari tabel perbandingan diatas menunjukkan bahwa ketentuan baiat secara umum yaitu adanya mursyid yang memiliki silsilah thariqah, sebelum baiat diawali dengan taubat dan niat mujahadah, mengandung janji ketaatan, memiliki amalan, dan bertujuan membimbing pada hakikat yang benar.


Penulis : Mahbubah El Gabriela

Contact Person : 085940483720

e-Mail : mahbubahelgabriela@gmail.com 


Perumus : M. Ulul Albab Munajadallah, S.Psi

Mushohih : Muhammad Syafi’ Dzulhilmi, S.Tp


Daftar Pustaka

Muhammad As’ad Shahab Zada al-Utsmani al-Naqsyabandi (W. 1303 H),  Maktubat Hadroh Maulana Khalid Musamma Bughyah al-waajid, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon:cetakan pertama, 2012 M, 1443 H. 

Muhammad Husain Haekal (W. 1956 M) Sejarah Hidup Muhammad, PT. Mitra Kerjaya Indonesia, Kalimalang, Pondok Kelapa, Jakarta:cetakan ketiga puluh lima, 2007 M.

Imam Syekh Muhammad Thahir bin ‘Asyur (W. 1393 H/1973 M). Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, Dar al-Tunisia Mansur, Tunisia: cetakan pertama, 1984 M, Sebanyak 30 Jilid.

Santri Mbah KH. Munawir Kertosono Nganjuk, Sabil al-Salikin, Ngalah Grafika, Purwosari, Pasuruan:cetakan pertama, 1437 H / 2015 M, Sebanyak 1 Jilid.

 



















Posting Komentar untuk "Baiat Dalam Tarekat: Ketentuan Baiat "