MENGAPA NABI MUHAMMAD SAW TIDAK MELAKSANAKAN SHALAT SUBUH SETELAH PERISTIWA MI'RAJ?
Shalat adalah suatu ucapan dan perbuatan khusus yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Shalat merupakan suatu kewajiban bagi seorang Mukallaf yang mana tidak bisa ditawar dengan apapun. Awal mula disyariatkan shalat berlatar belakang pada peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga diangkat oleh Allah SWT ke Sidratul Muntaha di malam ke-27 Rajab atau 10 Tahun 3 Bulan setelah diangkatnya Nabi Muhammad menjadi Rasul.
Dari Peristiwa Mi’raj Nabi Muhammad mendapatkan oleh-oleh kewajiban shalat bagi umat islam dalam sehari semalam tujuh belas rakaat yang dilaksanakan dalam lima waktu. yaitu, Subuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya’. Hikmah dari adanya tujuh belas rakaat adalah bahwa dalam sehari semalam adalah umumnya seseorang itu bangun selama 17 jam. Yaitu, 12 jam di siang hari, 3 jam saat sore, dan 2 jam sebelum fajar. Setiap rakaat dari waktu-waktu tersebut digunakan untuk menambal dan menebus atas kelalaian yang terjadi di setiap jam bangunnya seseorang dalam sehari semalam.
Kewajiban Shalat lima waktu pada awalnya tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. namun, Shalat-shalat itu sebelumnya sudah pernah dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu. Seperti shalat subuh adalah shalat yang dilakukan oleh nabi Adam As, Shalat Zhuhur dikerjakan Nabi Daud As, sedangkan Shalat Ashar dikerjakan Nabi Sulaiman As, Shalat Maghrib adalah shalatnya Nabi Ya'qub As, dan Shalat Isya’ adalah shalatnya Nabi Yunus As.
Setelah terjadinya peristiwa Isra’ dan Mi’raj semua shalat yang dikerjakan nabi-nabi terdahulu dikumpulkan menjadi satu dan disyariatkan kepada umat islam. Kemudian shalat fardhu yang pertama kali dikerjakan oleh Nabi Muhammad Saw adalah shalat Zhuhur, dan Nabi tidak melaksanakan shalat subuh pada malam hari itu.
Alasan Nabi tidak melaksanakan shalat subuh adalah karena Nabi Muhammad Saw belum mengetahui tata cara shalat, sedangkan kewajiban shalat bergantung pada mengetahui tata caranya. Selain itu tidak diwajibkannya shalat subuh pada malam tersebut juga dikarenakan permulaan wajibnya shalat dimulai dari waktu Zhuhur bukan dari waktu subuh.
بَابُ الصَّلَاةِ هِيَ شَرْعًا: أَقْوَالٌ وَأَفْعَالٌ مَخْصُوصَةٌ، مُفْتَتَحَةٌ بِالتَّكْبِيرِ مُخْتَتَمَةٌ بِالتَّسْلِيمِ، وَسُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِاشْتِمَالِهَا عَلَى الصَّلَاةِ لُغَةً، وَهِيَ الدُّعَاءُ. (زين الدين أحمد بن عبد العزيز المليباري (ت ٩٨٧هـ)، فتح المعين بشرح قرة العين: ص٣)
"Bab Shalat. Shalat menurut syara' adalah: ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu, yang diawali dengan takbir (takbiratul ihram) dan diakhiri dengan salam. Dinamakan demikian (shalat) karena ia mengandung makna shalat secara bahasa, yaitu doa." (Zainuddin bin Abd al-Aziz Ahmad al-Malibari (W. 987 H), Fath al-Mu’in bi Syarh Qurroh al-’Ain: Hal. 3)
وَالْحِكْمَةُ فِي كَوْنِ الْمَكْتُوبَاتِ سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً أَنَّ زَمَنَ الْيَقَظَةِ مِنَ الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ سَبْعَ عَشْرَةَ سَاعَةً غَالِبًا، اِثْنَا عَشَرَ فِي النَّهَارِ، وَنَحْوُ ثَلَاثِ سَاعَاتٍ مِنَ الْغُرُوبِ، وَسَاعَتَيْنِ مِنْ قُبَيْلِ الْفَجْرِ، فَجُعِلَ لِكُلِّ سَاعَةٍ رَكْعَةً جَبْرًا لِمَا يَقَعُ فِيهَا مِنَ التَّقْصِيْرِ.(قَوْلُهُ: وَلَمْ تَجْتَمِعْ هَذِهِ الْخَمْسُ لِغَيْرِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ) أَيْ بَلْ كَانَتْ مُتَفَرِّقَةً فِي الْأَنْبِيَاءِ. فَالصُّبْحُ صَلَاةُ آدَمَ، وَالظُّهْرُ صَلَاةُ دَاوُدَ، وَالْعَصْرُ صَلَاةُ سُلَيْمَانَ، وَالْمَغْرِبُ صَلَاةُ يَعْقُوْبَ، وَالْعِشَاءُ صَلَاةُ يُوْنُسَ، كَمَا سَيَذْكُرُهُ الشَّارِحُ فِي مَبْحَثِ أَوْقَاتِ الصَّلَاةِ عَنِ الرَّافِعِيِّ…
…(قَوْلُهُ: لِعَدَمِ الْعِلْمِ بِكَيْفِيَّتِهَا) أَيْ وَأَصْلُ الْوُجُوْبِ كَانَ مُعَلَّقًا عَلَى الْعِلْمِ بِالْكَيْفِيَّةِ. وَهُنَا تَوْجِيْهٌ آخَرُ لِعَدَمِ وُجُوْبِ صُبْحِ ذَلِكَ الْيَوْمِ، وَهُوَ أَنَّ الْخَمْسَ إِنَّمَا وَجَبَتْ عَلَى وَجْهِ الِابْتِدَاءِ بِالظُّهْرِ، أَيْ أَنَّهَا وَجَبَتْ مِنْ ظُهْرِ ذَلِكَ الْيَوْمِ.(أبو بكر عثمان بن محمد شطا الدمياطي الشافعي(ت ١٣١٠هـ)، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين: ج ١، ص ٣٠)
"Hikmah dari dijadikannya shalat fardhu sebanyak tujuh belas rakaat adalah bahwa waktu terjaga (tidak tidur) dalam sehari semalam umumnya adalah tujuh belas jam, dua belas jam di siang hari, sekitar tiga jam setelah terbenam matahari , dan dua jam sebelum fajar. Maka dijadikanlah bagi setiap satu jam itu satu rakaat sebagai penambal (penutup) bagi kelalaian yang terjadi pada jam tersebut. (Perkataan Mushannif: Dan tidaklah terkumpul shalat yang lima ini untuk nabi selain Nabi kita Muhammad Saw), maksudnya bahkan shalat-shalat tersebut dahulu terpisah-pisah pada para nabi. Maka Subuh adalah shalatnya Nabi Adam, Zhuhur adalah shalatnya Nabi Daud, Ashar adalah shalatnya Nabi Sulaiman, Maghrib adalah shalatnya Nabi Ya'qub, dan Isya adalah shalatnya Nabi Yunus, sebagaimana yang akan disebutkan oleh Syarih (penjelas kitab) dalam pembahasan waktu-waktu shalat dari Imam Ar-Rafi'i…
…(Perkataan Mushannif: Karena ketiadaan ilmu tentang tata caranya), maksudnya bahwa hukum asal kewajiban itu digantungkan pada adanya pengetahuan tentang tata cara (kaifiyah)-nya. Dan di sini ada arahan (alasan) lain mengenai tidak wajibnya shalat Subuh pada hari itu (hari saat peristiwa Mi'raj), yaitu bahwa shalat lima waktu itu mulai diwajibkan dengan permulaan pada waktu Zhuhur, maksudnya kewajiban itu dimulai dari waktu Zhuhur pada hari tersebut." (Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatha al-Dimyathi al-Syafi’i (W. 1310 H), I’anah al-Tholibin ala Halli Alfadz Fath al-Mu’in: Juz 1, Hal. 30)
Penulis : M. Muslihul Ulum
Penyunting : Ahmad Muzammilul Hanan
Daftar Pustaka:
Zainuddin bin Abd al-Aziz Ahmad al-Malibari (W. 987 H), Fath al-Mu’in bi Syarh Qurroh al-’Ain, al-Haromain, Surabaya, Indonesia, Cet. Pertama, 2006 M.
Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatha al-Dimyathi al-Syafi’i (W. 1310 H), I’anah al-Tholibin ala Halli Alfadz Fath al-Mu’in, Dar Ibnu ‘Ashoshoh, Beirut, Lebanon, 2005 M, Sebanyak 4 Jilid.
=======================================
=======================================
.png)


Posting Komentar untuk "Mengapa Nabi Muhammad Saw Tidak Melaksanakan Shalat Subuh Setelah Peristiwa Mi'raj?"