HUKUM SHALAT BERJAMAAH IMAM DI LANTAI BAWAH SEDANGKAN MAKMUM DI LANTAI ATAS
Siswa dan siswi SMA GARUDA melaksanakan shalat dhuhur berjamaah di bangunan sekolah yang bertingkat. Karena jumlah jamaah yang besar sehingga tidak memungkinkan untuk shalat di lantai satu, maka lantai 2 yang biasanya tidak digunakan untuk shalat berjamaah digunakan siswa untuk berjamaah, dan lantai dua tersebut terletak di bangunan yang sama, Bagaimana hukum shalat jamaah bagi siswa di lantai 2 tersebut?
JAWABAN
SAH
Menurut imam maliki tetap sah berjamaahnya meskipun dengan adanya penghalang, cukup dengan makmum bisa mengikuti gerakan imam melalui penglihatan atau pendengaran
أَمَّا الْمَالِكِيَّةُ فَقَالُوا: لَا يُشْتَرَطُ هَذَا الشَّرْطُ، فَاخْتِلَافُ مَكَانِ الْإِمَامِ وَالْمَأْمُومِ لَا يَمْنَعُ صِحَّةَ الِاقْتِدَاءِ، وَوُجُودُ حَائِلٍ مِنْ نَهْرٍ أَوْ طَرِيقٍ أَوْ جِدَارٍ لَا يَمْنَعُ الِاقْتِدَاءَ، مَتَى أَمْكَنَ ضَبْطُ أَفْعَالِ الْإِمَامِ بِرُؤْيَةٍ أَوْ سَمَاعٍ، وَلَا يُشْتَرَطُ إِمْكَانُ التَّوَصُّلِ إِلَيْهِ، إِلَّا الْجُمُعَةَ، فَلَوْ صَلَّى الْمَأْمُومُ فِي بَيْتٍ مُجَاوِرٍ لِلْمَسْجِدِ مُقْتَدِيًا بِإِمَامِهِ، فَصَلَاتُهُ بَاطِلَةٌ؛ لِأَنَّ الْجَامِعَ شَرْطٌ فِي صِحَّةِ الْجُمُعَةِ. (الفِقْهُ الإسلاميُّ وأدلَّتُهُ ج ٢، ص ٢٢٩)
“Menurut mazhab maliki berpendapat bahwa syarat ini tidak diperlukan. Perbedaan tempat antara imam dan makmum tidak menghalangi sahnya berjamaah. Adanya penghalang berupa sungai, jalan, atau tembok tidak menghalangi sahnya berjamaah, selama makmum masih mungkin mengikuti gerakan imam melalui penglihatan atau pendengaran. Tidak disyaratkan adanya akses jalan untuk sampai kepada imam (bisa tersambung secara fisik), kecuali untuk shalat jumat. Jika seorang makmum shalat di rumah yang bersebelahan dengan masjid dengan mengikuti imam masjid tersebut, maka shalatnya batal (tidak sah). Hal ini dikarenakan keberadaan di dalam masjid (Al-Jami') merupakan syarat sahnya Shalat jumat. (al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 2:229)
TIDAK SAH
Menurut mazhab Syafi’iyah, hal yang tidak mengesahkan jamaah diantaranya, melebihi jarak 300 dziro’, tidak adanya penghalang (ha’il), tidak adanya penghalang untuk makmum mencapai tempatnya imam secara langsung tanpa harus belok (izwirar) dan memutar (in’ithaf).
وَإِنْ كَانَ الْإِمَامُ وَالْمَأْمُومُ فِي غَيْرِ الْمَسْجِدِ، إِمَّا فَضَاءً أَوْ بِنَاءً؛ فَالشَّرْطُ أَنْ لَا يَزِيدَ مَا بَيْنَهُمَا عَلَى ثَلَاثِ مِائَةِ ذِرَاعٍ، وَأَنْ لَا يَكُونَ بَيْنَهُمَا حَائِلٌ (فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب، ص ١٧)
“Jika imam dan makmum berada di selain masjid, maka syaratnya adalah jarak diantara keduanya tidak lebih dari tiga ratus dzira’, dan diantara keduanya tidak terdapat penghalang”. ( Fathu al-Qorib,17)
وَلَوْ وَقَفَ أَحَدُهُمَا فِي عُلُوٍّ وَالْآخَرُ فِي سُفْلٍ؛ اشْتُرِطَ عَدَمُ الْحَيْلُولَةِ، لَا مُحَاذَاةُ قَدَمِ الْأَعْلَى رَأْسَ الْأَسْفَلِ، وَإِنْ كَانَا فِي غَيْرِ مَسْجِدٍ عَلَى مَا دَلَّ عَلَيْهِ كَلَامُ الرَّوْضَةِ وَأَصْلِهَا وَالْمَجْمُوعِ، خِلَافًا لِجَمْعٍ مُتَأَخِّرِينَ. وَيُكْرَهُ ارْتِفَاعُ أَحَدِهِمَا عَلَى الْآخَرِ بِلَا حَاجَةٍ وَلَوْ فِي الْمَسْجِدِ (فَتْحُ الْمُعِينِ بِشَرْحِ قُرَّةِ الْعَيْنِ بِمُهِمَّاتِ الدِّينِ ص ٣٧)
“Jika salah satu (antara imam atau makmum) berdiri di tempat yang lebih tinggi dan yang lainnya di tempat yang lebih rendah, maka syarat (sahnya jamaah) adalah tidak adanya penghalang (yang mencegah sampainya pandangan atau gerakan). Tidak disyaratkan kaki orang yang di atas harus sejajar dengan kepala orang yang di bawah. Ketentuan ini berlaku meskipun keduanya berada di selain masjid, sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh keterangan dalam kitab Ar-Raudhah, kitab asalnya (Al-Aziz atau Asy-Syarhul Kabir), dan kitab Al-Majmu'. Pendapat ini berbeda dengan pandangan sekelompok ulama mutaakhirin (belakangan). Dan hukumnya makruh jika salah satu posisi (imam atau makmum) lebih tinggi dari yang lain tanpa ada keperluan (seperti tempat yang sempit atau tujuan mengajar), meskipun shalat tersebut dilakukan di dalam masjid." ( Fathu al-Mu’in, 37)
قَوْلُهُ: {وَهُوَ أَيْ المَأْمُومُ عَلِمَ بِصَلَاتِهِ أَيْ الإِمَامِ} أَيْ بِأَحَدِ الأُمُورِ المُتَقَدِّمَةِ كَالرُّؤْيَةِ لِلإِمَامِ أَوْ لِبَعْضِ صَفِّهِ وَكَسَمَاعِ صَوْتِهِ أَوْ صَوْتِ مُبَلِّغٍ. قَوْلُهُ: (وَلَا حَائِلَ هُنَاكَ) أَيْ بِحَيْثُ يُمْكِنُ الوُصُولُ إِلَى الإِمَامِ وَيُشَتَرَطُ هُنَا: أَنْ يُمْكِنَ الوُصُولُ إِلَيْهِ مِنْ غَيْرِ ازْوِرَارٍ وَانْعِطَافٍ بِخِلَافِهِ فِيمَا تَقَدَّمَ. (حاشية الباجوري على ابن قاسم الغزي: ج ١، ص٣٨٣-٣٨٤)
“Perkataannya: dan ia (yakni makmum) mengetahui shalat imam maksudnya adalah dengan salah satu cara yang telah disebutkan sebelumnya, seperti melihat imam atau melihat sebagian safnya, atau mendengar suara imam, atau suara mubaligh (yang menyampaikan suara imam). Perkataannya: ‘dan tidak ada penghalang di sana’ maksudnya ialah sehingga memungkinkan untuk mencapai tempat imam, dengan syarat disini bahwa menuju tempat imam itu dapat dilakukan tanpa harus berbelok jauh dan memutar, berbeda dengan keterangan yang telah disebutkan sebelumnya.” (Hasyiyah Ibrahim al-Bajuri, 1:383-384)
Penulis : Fia Naila Azki
Contact Person : 085895003387
e-Mail : fianailaazki@gmail.com
Perumus : Rif’at Athoillah S.Pd
Mushohih : Durrotun Nasikhin M.pd
Penyunting : Ahmad Fairuz Nazili
Daftar Pustaka
Ibrahim Ibn Muhammad al-Bajuri (W. 1276 H), Hasyiyah Ibrahim al-Bajuri: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, Cet.kedua: 1999 M, sebanyak 2 Jilid
Wahah az-Azuhaili (W. 1436 H), al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu: Daar al-Fikr, Damaskus, cet.pertama: 1985 M.
Muhammad bin Qasim al- Gazzi al-Syafi’i (W. 918), Fathul Qorib: Maktabah al-Irsyad, Surabaya, Indonesia, tanpa tahun.
Ibnu Hajar al-Haitami as-Syafi’i (W. 974), Fath al-Mu’in: Dar al-Ilm, Surabaya, Indonesia, tanpa tahun.

.png)
%20Fia%20Naila%20Azki%20(5).png)
%20Fia%20Naila%20Azki%20(6).png)
%20Fia%20Naila%20Azki%20(7).png)
%20Fia%20Naila%20Azki%20(9).png)
%20Fia%20Naila%20Azki%20(8).png)
Posting Komentar untuk "Hukum Shalat Berjamaah Imam Di Lantai Bawah Sedangkan Makmum Di Lantai Atas"