Keutamaan Dan Amalan Malam Nisfu Sya’ban

KEUTAMAAN DAN AMALAN MALAM NISFU SYA’BAN

Dalam islam ada tiga bulan mulia atau disebut dengan asyhurul hurum yaitu Rajab, Sya’ban dan Ramadhan. Bulan sya’ban adalah bulan ke-8 dalam kalender hijriyah yang mempunyai banyak sebutan antara lain adalah bulan untuk beramal. Bulan Sya’ban bukan sekadar penanda waktu, melainkan madrasah spiritual bagi setiap Muslim. Jika Rajab adalah bulan untuk menanam benih dan Ramadhan adalah masa panen, maka Sya’ban adalah waktu untuk menyiram dan merawat tanaman amal kita. Beberapa amalan yang ada dalam bulan Sya’ban adalah berpuasa, sholat malam dan membaca surah Yasin pada malam nisfu sya’ban. 

Malam Nisfu Sya’ban adalah malam ke-15 di bulan Sya’ban yang memiliki banyak sebutan diantaranya Lailatul Mubarakah (malam yang diberkahi), Lailatul Qismah (malam pembagian), Lailatul Takfir (malam penghapusan dosa), Lailatul Ijabah (malam dikabulkannya doa), Lailatul Hayat (Malam Kehidupan), Lailatul Idil Malaikat (Malam Hari Rayanya Malaikat), Lailatus Syafa’at (Malam Syafa’at) dan masih banyak lagi.  Pada malam ini pula rezeki, amal, dan ajal manusia dicatat. 

أَسْمَاءُ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ذَكَرَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ لِلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ أَسْمَاءً كَثِيرَةً - وَكَثْرَةُ الْأَسْمَاءِ تَدُلُّ عَلَى شَرَفِ الْمُسَمَّى غَالِبًا - وَقَدْ أَوْصَلَ أَسْمَاءَهَا أَبُو الْخَيْرِ الطَّالَقَانِيُّ لِاثْنَيْنِ وَعِشْرِينَ اسْمًا. اللَّيْلَةُ الْمُبَارَكَةُ؛ لَيْلَةُ الْقِسْمَةِ؛ لَيْلَةُ التَّكْفِيْرِ؛ لَيْلَةُ الْإِجَابَةِ؛ لَيْلَةُ الْحَيَاةِ، وَلَيْلَةُ عِيْدِ الْمَلَائِكَةِ؛ لَيْلَةُ الشَّفَاعَةِ؛ لَيْلَةُ الْبَرَاءَةِ وَلَيْلَةُ الصَّكِّ؛ لَيْلَةُ الْجَائِزَةِ، وَلَيْلَةُ الرُّجْحَانِ، وَلَيْلَةُ التَّعْظِيْمِ، وَلَيْلَةُ الْقَدْرِ؛ لَيْلَةُ الْغُفْرَانِ. (السيد محمد بن علوي بن عباس المالكي المكي الحسني(ت ١٤٢٥  هـ)، ماذا في شعبان: ص ٧٢-٧٥)

“Nama-Nama Malam Nisfu Sya'ban Sebagian ulama menyebutkan banyak nama untuk malam pertengahan bulan Sya'ban (Nisfu Sya'ban) dan banyaknya nama biasanya menunjukkan kemuliaan apa yang dinamai tersebut Abu al-Khair al-Thalaqani menyebutkan hingga dua puluh dua nama untuk malam ini. Malam yang Diberkahi, Malam Pembagian, Malam Penghapusan Dosa, Malam Pengabulan , Malam Kehidupan dan Malam Hari Raya Malaikat, Malam Syafaat, Malam Pembebasan dan Malam Piagam,

Malam Hadiah, Malam Keunggulan, Malam Pengagungan, dan Malam Kemuliaan, Malam Ampunan” (al-Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas al-Maliki al-Makki al-Hasani (W. 1425 H), Madza fi Sya’ban: Hal. 72-75).


Hukum Puasa Sya’ban

Para ulama’ berbeda pendapat mengenai puasa pada bulan Sya’ban dikarenakan berbedanya alasan dan dalil yang diambil.

  1. HARAM

Letak keharaman puasa pada bulan sya’ban ini berada pada hari setelah nisfu sya’ban atau hari ke 16 di bulan tersebut yang merupakan hari keraguan atau ketidakpastian karena sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Orang yang berpuasa setelah nisfu Sya'ban khawatir mereka tidak tahu bahwa sebenarnya sudah memasuki bulan Ramadhan. 


  1. BOLEH

Meskipun dalam kalangan Ulama Syafi’iyah mengharamkan, ada 6 keadaan yang diperbolehkan berpuasa pada hari ke 16 pada bulan Sya’ban. 6 keadaan yang diperbolehkan puasa:

  1. Puasa Dahr (Setahun Penuh)

  2. Puasa Senin Kamis

  3. Puasa Daud (Sehari Puasa Sehari tidak)

  4. Puasa Nadzar

  5. Puasa Qodho’

  6. Puasa Kafarat

Sedangkan menurut Jumhur Ulama’ puasa tersebut diperbolehkan.


قَالَ الشَّافِعِيَّةُ: يَحْرُمُ صَوْمُ النِّصْفِ الْأَخِيرِ مِنْ شَعْبَانَ الَّذِي مِنْهُ يَوْمُ الشَّكِّ، إِلَّا لِوِرْدٍ بِأَنْ اعْتَادَ صَوْمَ الدَّهْرِ أَوْ صَوْمَ يَوْمٍ وَفِطْرَ يَوْمٍ أَوْ صَوْمَ يَوْمٍ مُعَيَّنٍ كَالِاثْنَيْنِ فَصَادَفَ مَا بَعْدَ النِّصْفِ، أَوْ نَذْرٍ مُسْتَقِرٍّ فِي ذِمَّتِهِ، أَوْ قَضَاءٍ لِنَفْلٍ أَوْ فَرْضٍ، أَوْ كَفَّارَةٍ، أَوْ وَصَلَ صَوْمَ مَا بَعْدَ النِّصْفِ بِمَا قَبْلَهُ، وَلَوْ بِيَوْمِ النِّصْفِ.  (وهبة الزحيلي (ت ١٤٣٦هـ)، الفِقْهُ الإسلاميُّ وأدلَّتُهُ: ج ٢، ص ٥٨٣)

"Ulama Syafi'iyah berpendapat: Haram hukumnya berpuasa pada separuh terakhir bulan Sya'ban (termasuk didalamnya hari syak/ragu), kecuali jika terdapat sebab-sebab berikut: Karena Wirid (Kebiasaan): Seperti orang yang terbiasa puasa dahr (setahun penuh), puasa Daud (sehari puasa sehari tidak), atau puasa pada hari tertentu seperti hari Senin lalu bertepatan dengan masa setelah pertengahan Sya'ban tersebut. Nazar: Puasa nazar yang memang sudah menjadi kewajiban dalam tanggungannya. Qadha: Baik mengqadha puasa sunnah maupun puasa wajib (Ramadhan). Kafarat: Puasa untuk membayar denda. Waqaf (Menyambung): Menyambung puasa setelah pertengahan Sya'ban dengan puasa sebelumnya, meskipun penyambungannya dimulai tepat pada hari ke-15 (hari pertengahan)." (Wahbah al-Zuhaili (W. 1436 H), al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu: Juz 2, Hal. 583).

وَقَالَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ: يَجُوزُ الصَّوْمُ تَطَوُّعًا بَعْدَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَضَعَّفُوا الْحَدِيثَ الْوَارِدَ فِيهِ، وَقَالَ أَحْمَدُ وَابْنُ مَعِينٍ: إِنَّهُ مُنْكَرٌ. (أبو الفضل أحمد بن علي بن محمد بن أحمد بن حجر العسقلاني (ت ٨٥٢ هـ)، فتح الباري شرح صحيح البخاري: ج ٤، ص ١٦٥)

“Mayoritas ulama berpendapat: Boleh hukumnya melakukan puasa sunnah (tathawwu') setelah pertengahan bulan Sya'ban. Mereka menilai lemah (dhaif) hadis yang melarang hal tersebut. Imam Ahmad dan Ibnu Ma'in berkata: Sesungguhnya hadis tersebut adalah hadis munkar." (Abu al-Fadhil Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar al-Asqolani (W. 802 H), Fath al-Bari Syarh Shohih al-Bukhori: Juz 4, Hal. 165).


  1. SUNNAH

Disunnahkan berpuasa karena Nabi Muhammad pada bulan Sya’ban melakukannya satu bulan penuh.

قَالَتْ: «لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ، وَكَانَ يَقُولُ: «خُذُوا مِنَ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللّٰهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا». وَكَانَ أَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ، وَكَانَ إِذَا صَلَّى صَلَاةً (دَاوَمَ عَلَيْهَا). (السيد محمد بن علوي بن عباس المالكي المكي الحسني(ت ١٤٢٥  هـ)، ماذا في شعبان: ص ١٩)

“Beliau (Aisyah) berkata:  “Nabi Saw tidak pernah berpuasa pada suatu bulan yang lebih banyak daripada bulan Sya'ban, karena beliau dulu berpuasa Sya'ban sebulan penuh. Beliau (Nabi) juga bersabda: Ambillah amal perbuatan yang mampu kalian kerjakan, karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan (memberi pahala) sampai kalian sendiri yang bosan (beramal).” (al-Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas al-Maliki al-Makki al-Hasani (W. 1425 H), Madza fi Sya’ban: Hal. 19).


Hukum Sholat Nisfu Sya’ban

Adapun Hukum tentang Sholat Nisfu Sya’ban para Ulama’ juga berbeda pendapat.

  1. HARAM

Imam Nawawi menyebutkan bahwasannya sholat yang dilakukan pada malam Nisfu Sya’ban adalah perbuatan Bid’ah dan Munkar.

(الْعَاشِرَةُ) الصَّلَاةُ الْمَعْرُوْفَةُ بِصَلَاةِ الرَّغَائِبِ وَهِيَ ثِنْتَى عَشْرَةَ رَكْعَةً تُصَلَّى بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ لَيْلَةَ أَوَّلِ جُمْعَةٍ فِي رَجَبَ وَصَلَاةُ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ مِائَةُ رَكْعَةٍ وَهَاتَانِ الصَّلَاتَانِ بِدْعَتَانِ ومُنْكَرَانِ قَبِيْحَتَانِ وَلَا يَغْتَرَّ بِذِكْرِهِمَا فِي كِتَابِ قُوْتِ الْقُلُوْبِ وَاِحْيَاءِ عُلُوْمِ الدِّيْنِ وَلَا بِالْحَدِيْثِ اْلمَذْكُوْرِ فِيْهِمَا فَاِنَّ كُلَّ ذَلِكَ بَاطِلٌ. (أبو زكريا محيي الدين بن شرف النووي (ت ٦٧٦ هـ)، المجموع شرح المهذب: ج ٤، ص ٥٦).

“Shalat yang dikenal dengan nama Shalat Raghaib, yaitu shalat dua belas rakaat yang dikerjakan antara waktu Maghrib dan Isya pada malam Jumat pertama di bulan Rajab; serta Shalat malam nisfu Sya'ban sebanyak seratus rakaat. Kedua shalat ini adalah bid'ah yang munkar dan buruk. Janganlah terpedaya (tertipu) dengan penyebutan kedua shalat tersebut di dalam kitab Qut al-Qulub dan kitab Ihya' Ulumuddin, serta jangan pula terpedaya oleh hadis yang disebutkan dalam kedua kitab tersebut, karena sesungguhnya semua itu adalah batil (palsu)." (Abu Zakariya Muhyi al-Din bin Syaraf al-Nawawi (W. 676 H), al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab: Juz 4, Hal. 56).


  1. BOLEH

Imam Ghazali berpendapat dalam masalah Sholat Nisfu Sya’ban  adalah memperbolehkan, karena menurut beliau sholat ini pernah dikerjakan oleh para sahabat Nabi Muhammad Saw.

وَأَمَّا صَلَاةُ شَعْبَانَ، فَلَيْلَةَ الْخَامِسَ عَشَرَ مِنْهُ يُصَلِّي مِائَةَ رَكْعَةٍ كُلَّ رَكْعَتَيْنِ بِتَسْلِيمَةٍ، يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ {قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌ} إِحْدَى عَشْرَةَ مَرَّةً. وَإِنْ شَاءَ صَلَّى عَشْرَ رَكَعَاتٍ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ مِائَةَ مَرَّةٍ {قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌ}، فَهَذَا أَيْضًا مَرْوِيٌّ فِي جُمْلَةِ الصَّلَوَاتِ. كَانَ السَّلَفُ يُصَلُّونَ هَذِهِ الصَّلَاةَ وَيُسَمُّونَهَا صَلَاةَ الْخَيْرِ، وَيَجْتَمِعُونَ فِيهَا، وَرُبَّمَا صَلَّوهَا جَمَاعَةً. رُوِيَ عَنِ الْحَسَنِ أَنَّهُ قَالَ: حَدَّثَنِي ثَلَاثُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ: إِنَّ مَنْ صَلَّى هَذِهِ الصَّلَاةَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ نَظَرَ اللّٰهُ إِلَيْهِ سَبْعِينَ نَظْرَةً، وَقَضَى لَهُ بِكُلِّ نَظْرَةٍ سَبْعِينَ حَاجَةً، أَدْنَاهَا الْمَغْفِرَةُ. (أبو حامد محمد بن محمد الغزالي (ت ٥٠٥هـ)، إحياء علوم الدين: ج ١، ص ٢٠٣)

"Adapun shalat bulan Sya'ban, maka pada malam ke-15 (Nisfu Sya'ban), seseorang melakukan shalat seratus rakaat, di mana setiap dua rakaat diakhiri dengan salam. Pada setiap rakaat setelah Al-Fatihah, ia membaca Qul Huwallahu Ahad (Surat Al-Ikhlas) sebanyak sebelas kali. Jika ia mau, ia bisa melakukan sepuluh rakaat, di mana pada setiap rakaat setelah Al-Fatihah ia membaca Qul Huwallahu Ahad sebanyak seratus kali. Hal ini juga diriwayatkan dalam kumpulan shalat-shalat. Para ulama salaf terdahulu biasa melakukan shalat ini dan menamakannya Shalat Al-Khair (Shalat Kebaikan). Mereka berkumpul untuk melaksanakannya, dan terkadang mereka melakukannya secara berjamaah. Diriwayatkan dari Al-Hasan (Al-Bashri) bahwa ia berkata: Tiga puluh orang sahabat Nabi Saw menceritakan kepadaku: Sesungguhnya siapa yang melakukan shalat ini pada malam ini, maka Allah akan memandangnya dengan 70 kali pandangan, dan pada setiap pandangan Allah akan mengabulkan 70 hajatnya, yang paling rendah adalah ampunan" (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (W. 505 H), Ihya’ Ulumuddin: Juz 1 Hal. 203).


Catatan:

Meskipun ada perbedaan pendapat antara Imam Nawawi dan Imam Ghazali dalam hukum melaksanakan Sholat Nisfu Sya’ban, bagi para umat muslim mengisi malam Nisfu Sya'ban dengan ibadah adalah hal yang baik dan sah-sah saja untuk dilaksanakan.


Keutamaan Membaca Surah Yasin Pada Malam Nisfu Sya’ban

Pada Malam Nisfu Sya’ban di Indonesia sudah menjadi tradisi membaca surah Yasin 3 kali dengan maksud meminta keberkahan pada umur, harta, dan hajat-hajat. Dalam hal ini tidak ada larangan untuk membaca sebagian dari al-Qur’an baik dibaca 1 kali maupun 100 kali, karena membaca al-Qur’an termasuk ibadah dan berpahala.


قِرَاءَةُ يٰسۤ بِنِيَّةِ طَلَبِ الْخَيْرِ الدُّنْيَوِيِّ وَالْأُخْرَوِيِّ، أَوْ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ كُلِّهِ لِذَلِكَ، لَا حَرَجَ فِيهِ وَلَيْسَ بِمَمْنُوعٍ. (السيد محمد بن علوي بن عباس المالكي المكي الحسني(ت ١٤٢٥  هـ)، ماذا في شعبان: ص ١١٨)

"Membaca Surat Yasin dengan niat meminta kebaikan dunia dan akhirat, atau membaca Al-Qur'an secara keseluruhan untuk tujuan tersebut, adalah hal yang tidak berdosa (tidak mengapa) dan tidak dilarang.” (al-Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas al-Maliki al-Makki al-Hasani (W. 1425 H), Madza fi Sya’ban: Hal. 118).


Tata cara membaca Surah Yasin pada malam Nisfu Sya’ban


Membaca Surah Yasin 3x setelah Sholat Maghrib

  • Bacaan pertama: Dengan niat memohon panjang umur (dalam ketaatan).

  • Bacaan kedua: Dengan niat memohon penolakan bala (musibah/bencana).

  • Bacaan ketiga: Dengan niat memohon kemandirian dari ketergantungan kepada manusia (kekayaan hati/istiqomah).

Setiap kali selesai membaca satu kali surat tersebut, bacalah doa setelahnya sebanyak satu kali

وَكَيْفِيَّتُهُ: (تَقْرَأُ أَوَّلًا قَبْلَ ذَلِكَ الدُّعَاءِ بَعْدَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ سُورَةَ يٰسۤ) ثَلَاثًا الْأُولَى بِنِيَّةِ طُولِ الْعُمُرِ. وَالثَّانِيَةُ بِنِيَّةِ دَفْعِ الْبَلَاءِ. وَالثَّالِثَةُ بِنِيَّةِ الِاسْتِغْنَاءِ عَنِ النَّاسِ. وَكُلَّمَا تَقْرَأُ السُّورَةَ مَرَّةً، تَقْرَأُ بَعْدَهَا الدُّعَاءَ مَرَّةً. (الشيخ العلامة عبد الحميد محمد علي قدس المكي (ت ١٣٣٤ هـ)، كنز النجاح والسرور في الأدعية التي تشرح الصدور: ص ۱٥٨).

"Tata caranya adalah: (Pertama-tama, sebelum membaca doa tersebut setelah shalat Maghrib, bacalah Surat Yasin) sebanyak tiga kali: Bacaan pertama: Dengan niat memohon panjang umur (dalam ketaatan). Bacaan kedua: Dengan niat memohon penolakan bala (musibah/bencana). Bacaan ketiga: Dengan niat memohon kemandirian dari ketergantungan kepada manusia (kekayaan hati/istiqomah). Setiap kali selesai membaca satu kali surat tersebut" (al-Syaikh al-Allamah Abd al-Hamid Muhammad Ali Quds al-Makki (W. 1334 H), Kanzu al-Najah wa al-Surur fi al-Ad’iyah allati Tasyrih al-Shudur: Hal. 158).


Pelaporan Amal Pada Malam Nisfu Sya’ban

Para ulama menyatakan bahwa bulan sya’ban adalah bulan yang banyak dilupakan oleh banyak manusia, padahal pada bulan sya’ban amal manusia dilaporkan pada Allah SWT. Karena letaknya di antara dua bulan besar yaitu bulan rajab yang termasuk bulan haram dan bulan ramadhan yang merupakan bulan puasa, banyak orang sering mengabaikan ibadah di bulan Sya'ban. Sya'ban adalah momentum ketika catatan amal manusia selama setahun dilaporkan atau diangkat kepada Allah SWT. Itulah sebabnya Rasulullah SAW sangat gemar berpuasa sunnah di bulan ini beliau ingin saat amalnya diangkat, beliau sedang dalam kondisi berpuasa.

قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ. (أبو الفضل أحمد بن علي بن محمد بن أحمد بن حجر العسقلاني (ت ٨٥٢ هـ)، فتح الباري شرح صحيح البخاري: ج ٤، ص ٢٧٣)

“Beliau (Rasulullah SAW) bersabda: 'Itu adalah bulan yang banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadan. Ia adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Tuhan semesta alam; maka aku ingin amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa."  (Abu al-Fadhil Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar al-Asqolani (W. 802 H), Fath al-Bari Syarh Shohih al-Bukhori: Juz 4, Hal. 273).


Para Ulama juga membagi ada pelaporan amal yang dilakukan Tahunan, Mingguan, dan Harian. Perbedaannya hanyalah terletak pada sifat laporan tersebut, apakah bersifat Global (Ijmali) atau Rinci (Tafsili). Laporan Global adalah laporan amal pada hari Senin dan Kamis bersifat global dalam skala mingguan. Begitu pula laporan pada malam Nisfu Sya'ban dan Lailatul Qadar yang bersifat global dalam skala tahunan. Laporan Rinci adalah laporan yang terjadi setiap hari dan setiap malam.

(قَوْلُهُ: وَالْمُرَادُ عَرْضُهَا عَلَى اللّٰهِ تَعَالَى) أَيْ إِجْمَالًا. وَكَانَ الْمُنَاسِبُ زِيَادَتَهُ، لِأَنَّ الْعَرْضَ إِنَّمَا يَكُونُ عَلَى اللّٰهِ تَعَالَى مُطْلَقًا - سَوَاءٌ كَانَ عَرْضَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ، أَوْ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، أَوْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، فَالْفَرْقُ إِنَّمَا هُوَ فِي الْإِجْمَالِ وَالتَّفْصِيلِ - فَعَرْضُ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ، عَلَى اللّٰهِ تَعَالَى إِجْمَالِيٌّ، وَكَذَا عَرْضُ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَالْعَرْضُ التَّفْصِيلِيُّ هُوَ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ - كَمَا نَصَّ عَلَى ذَلِكَ فِي "التُّحْفَةِ" - وَعِبَارَتُهَا: أَيْ تُعْرَضُ عَلَى اللّٰهِ تَعَالَى، وَكَذَا تُعْرَضُ فِي لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ، وَفِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَالْأَوَّلُ - أَيْ عَرْضُهَا يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ - إِجْمَالِيٌّ بِاعْتِبَارِ الْأُسْبُوعِ، وَالثَّانِي بِاعْتِبَارِ السَّنَةِ، وَكَذَا الثَّالِثُ، وَفَائِدَةُ تَكْرِيرِ ذَلِكَ إِظْهَارُ شَرَفِ الْعَامِلِينَ بَيْنَ الْمَلَائِكَةِ. وَأَمَّا عَرْضُهَا تَفْصِيلًا، فَهُوَ رَفْعُ الْمَلَائِكَةِ لَهَا بِاللَّيْلِ مَرَّةً، وَبِالنَّهَارِ مَرَّةً. اهـ.(أبو بكر عثمان بن محمد شطا (ت ١٣١٠هـ)، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين: ج ٢، ص ٤٤٩)

“(Penyerahan amal kepada Allah Ta'ala) maksudnya adalah secara garis besar (global). Dan merupakan hal yang sesuai jika global itu ditambahkan, karena penyerahan amal kepada Allah Ta’ala terjadi secara mutlak baik itu penyerahan pada hari Senin dan Kamis, malam Nisfu Sya'ban, maupun Lailatul Qadar. Perbedaannya hanyalah terletak pada sifat penyetorannya, yaitu secara global (ijmali) atau rinci (tafshili). Penyerahan amal pada hari Senin dan Kamis kepada Allah adalah bersifat global, demikian pula penyerahan pada malam Nisfu Sya'ban dan Lailatul Qadar. Adapun penyerahan secara rinci terjadi pada setiap siang dan malam sebagaimana hal ini ditegaskan dalam kitab al-Tuhfah. Redaksinya adalah: "Amal-amal diserahkan kepada Allah Ta'ala (pada Senin dan Kamis), begitu juga diserahkan pada malam Nisfu Sya'ban dan Lailatul Qadar. Yang pertama yaitu penyerahan hari Senin dan Kamis adalah global dalam skala mingguan, yang kedua (Nisfu Sya'ban) dalam skala tahunan, begitu juga yang ketiga (Lailatul Qadar). Adapun faedah dari pengulangan penyerahan amal tersebut adalah untuk menampakkan kemuliaan orang-orang yang beramal di antara para malaikat." Sedangkan penyerahan amal secara rinci adalah proses diangkatnya amal oleh malaikat pada waktu malam sekali dan pada waktu siang sekali.” (Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatha (W. 1310 H), I’anah al-Tholibin ala hall al-Fadz Fath al-Mu’in: Juz 2, Hal. 449).


Daftar Pustaka


al-Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas al-Maliki al-Makki al-Hasani (W. 1425 H), Madza fi Sya’ban, Jami’ al-Huquq Mahfudhoh, Cet. Pertama, 1424 H.

Wahbah al-Zuhaili (W. 1436 H), al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Dar al-Fikr, Tanpa Tahun, Sebanyak 8 Jilid.

Abu al-Fadhil Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar al-Asqolani (W. 802 H), Fath al-Bari Syarh Shohih al-Bukhori, Dar al-Salam, Riyadh, cet. Pertama, 2000 M, Sebanyak 14 Jilid.

Abu Zakariya Muhyi al-Din bin Syaraf al-Nawawi (W. 676 H), al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Huquq al-Thob’i Mahfudhoh, Tanpa Tahun, Sebanyak 9 Jilid.

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (W. 505 H), Ihya’ Ulumuddin, Dar al-Ma’ruf, Beirut, Lebanon, 1982 M, Sebanyak 4 Jilid.

al-Syaikh al-Allamah Abd al-Hamid Muhammad Ali Quds al-Makki (W. 1334 H), Kanzu al-Najah wa al-Surur fi al-Ad’iyah allati Tasyrih al-Shudur, Dar al-Hawi, Beirut, Lebanon, Cet. Pertama, 2009 M.

Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatha (W. 1310 H), I’anah al-Tholibin ala hall al-Fadz Fath al-Mu’in, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, Lebanon, cet. Pertama, 1995 M, Sebanyak 4 Jilid.


Penulis     : M. Muslihul Ulum

Penyunting    : Ahmad Muzammilul Hannan


===========================



===========================

===========================

===========================



===========================



===========================



===========================



============================



=============================



=============================






Posting Komentar untuk "Keutamaan Dan Amalan Malam Nisfu Sya’ban"