HUKUM SUNTIK INSULIN DALAM KEADAAN PUASA
Puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Dalam praktiknya, terdapat kondisi medis tertentu yang mengharuskan seseorang mendapatkan pengobatan secara rutin, salah satunya adalah penderita diabetes yang membutuhkan suntikan insulin pada siang hari ketika sedang menjalankan ibadah puasa ramadan. Dalam dunia medis, insulin yang disuntikkan kepada pasien penderita diabetes tidak bersifat nutrisi hanya berfungsi sebagai obat untuk mengatur kadar gula darah. Selain itu, insulin diberikan melalui jalur penyuntikan melalui otot dan tidak diberikan melalui saluran masuk ke dalam tubuh. Timbul keraguan atas keabsahan puasa, apakah suntikan insulin termasuk dalam kategori sesuatu yang membatalkan puasa, mengingat adanya zat yang masuk ke dalam tubuh.
Bagaimana hukum suntik insulin bagi orang yang sedang menjalankan puasa Ramadan menurut perspektif fikih Islam?
Tafsil (Diperinci)
Hukum Suntik Insulin Membatalkan Puasa
Hukum suntik insulin bagi orang yang berpuasa adalah membatalkan puasa, karena memasukkan sesuatu kedalam tubuh.
Hukum Suntik Insulin tidak Membatalkan Puasa
Hukum suntik insulin bagi orang yang berpuasa adalah tidak membatalkan puasa, karena insulin termasuk suntikan yang tidak bersifat nutrisi, diberikan melalui otot dan tidak diberikan melalui saluran masuk ke dalam tubuh.
حُكْمُ اْلإِبْرَةِ: تَجُوزُ لِلضَّرُورَةِ، وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا فِي إِبْطَالِهَا لِلصَّوْمِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْوَالٍ:
١. فَفِي قَوْلٍ: إِنَّهَا تُبْطِلُ مُطْلَقًا، ِلأَ نَّهَا وَصَلَتْ إِلَى الْجَوْفِ.
٢. وَفِي قَوْلٍ: إِنَّهَا لَا تُبْطِلُ مُطْلَقًا؛ ِلأَ نَّهَا وَصَلَتْ إِلَى الْجَوْفِ مِنْ غَيْرِ مَنْفَذٍ مَفْتُوحٍ.
٣. وَقَوْلٌ فِيهِ تَفْصِيلٌ – وَهُوَ اْلأَصَحُّ –: إِذَا كَانَتْ مُغَذِّيَةً فَتُبْطِلُ الصَّوْمَ،
وَإِذَا كَانَتْ غَيْرَ مُغَذِّيَةٍ فَنَنْظُرُ:
إِذَا كَانَ فِي الْعُرُوقِ الْمُجَوَّفَةِ – وَهِيَ اْلأَوْرِدَةُ –: فَتُبْطِلُ.
وَإِذَا كَانَ فِي الْعَضَلِ – وَهِيَ الْعُرُوقُ غَيْرُ الْمُجَوَّفَةِ –: فَلَا تُبْطِلُ. (التقريرات السديدة في المسائل المفيدة: ج ا، ص ٤٥٢).
‘’Hukum suntikan: Boleh digunakan karena darurat, tetapi para ulama berbeda pendapat tentang batalnya puasa menjadi tiga pendapat:
1. Pendapat Pertama: suntikan membatalkan puasa secara mutlak, karena sampai ke dalam perut.
2. Pendapat Kedua: suntikan tidak membatalkan puasa secara mutlak, karena masuk ke perut bukan melalui lubang yang terbuka.
3. Pendapat Ketiga yang merinci dan ini yang paling kuat: Jika suntikan itu bersifat nutrisi maka membatalkan puasa, dan jika bukan nutrisi maka diperinci lagi: apabila masuk melalui pembuluh darah besar (vena) maka membatalkan, dan apabila masuk ke otot yaitu pembuluh yang tidak berongga maka tidak membatalkan.’’ (al-Taqrirat al-Sadidah fi al-Masail al-Mufidah, 1: 452).
أَمَّا حُكْمُ اْلإِ بْرَةِ قَالُوا؛ إِنَّ اْلإِ بْرَةَ الَّتِي يُحْقَنُ بِهَا الْمَرِيضُ، تَمُرُّ بِالْعُرُوقِ وَتَصِلُ إِلَى الْجَوْفِ، فَتُفْسِدُ الصَّوْمَ. لَكِنْ قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ كُلُّمَا يَدْخُلُ إِلَى الْجِسْمِ مِنْ مَنْفَذٍ غَيْرِ طَبِيعِيٍّ، إِنَّهُ لَا يَبْطُلُ بِهِ الصَّوْمُ. لَكِنَّ رَدَّ الْفَرِيقُ اْلآخَرُ بِأَنَّ الطَّعْنَةَ إِذَا وَصَلَتْ إِلَى الْبَطْنِ، قَالُوا: يَبْطُلُ بِهَا الصَّوْمُ، وَقَاسُوا عَلَيْهَا اْلإِ بْرَةَ. وَقَالَ الشَّيْخُ عَبْدُ اللّهِ بَكِيْرٌ: إِنَّهَا لَا تُفْطِرُ. (شرح الياقوت النفيس في مذهب ابن إدريس: ص ٤٦٦).
‘’Adapun hukum suntikan, mereka (para ulama) berkata: Sesungguhnya suntikan yang disuntikkan kepada orang sakit, masuk melalui pembuluh darah dan sampai ke dalam perut, maka hal itu membatalkan puasa. Akan tetapi sebagian ulama berkata: Setiap sesuatu yang masuk ke dalam tubuh melalui jalan yang bukan alami, maka itu tidak membatalkan puasa. Jawaban kelompok pertama (yang mengatakan batal) ialah bahwa luka tusukan apabila sampai ke perut mereka berkata hal itu membatalkan puasa, dan mereka mengqiyaskan suntikan kepadanya. Dan Syaikh Abdullah Bakir berkata: Suntikan itu tidak membatalkan puasa.’’ (Syarh al-Yaqut al-Nafis fi Madzhab Ibn Idris: 466).
Penulis : Siti Aisah Fitri Handayani
Contact Person : 082234201646
e-Mail : aisah.fitri2203@gmail.com
Perumus : M. Faisol., S. Pd.
Mushohih : M. Faisol., S. Pd.
Penyunting : Ahmad Fairuz Nazili
Daftar Pustaka
Muhammad bin Ahmad bin ʿUmar asy-Syatiri (W. 1360 H), Syarh al-Yaqut al-Nafis fi Madzhab Ibn Idris: Dar al-Minhaj li an-Nasyr wa at-Tauzi’, Beirut, Lebanon: Cetakan pertama, 1432 H/2011 M.
Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim al-Kaf (W. 1420 H), al-Taqrirat al-Sadidah fi al-Masail al-Mufidah: Darul ‘Amwal-Da‘wah, Tarim, Yaman: Cetakan pertama, 1423 H/2003 M, sebanyak 1 jilid.


%20Siti%20Aisah%20Fitri%20Handayani.png)
%20Siti%20Aisah%20Fitri%20Handayani%20(1).png)
Posting Komentar untuk "Hukum Suntik Insulin Dalam Keadaan Puasa"