Hukum Puasa Sya’ban


HUKUM PUASA SYA’BAN

Para ulama’ berbeda pendapat mengenai puasa pada bulan Sya’ban dikarenakan berbedanya alasan dan dalil yang diambil.

  1. HARAM

Letak keharaman puasa pada bulan sya’ban ini berada pada hari setelah nisfu sya’ban atau hari ke 16 di bulan tersebut yang merupakan hari keraguan atau ketidakpastian karena sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Orang yang berpuasa setelah nisfu Sya'ban khawatir mereka tidak tahu bahwa sebenarnya sudah memasuki bulan Ramadhan. 


  1. BOLEH

Meskipun dalam kalangan Ulama Syafi’iyah mengharamkan, ada 6 keadaan yang diperbolehkan berpuasa pada hari ke 16 pada bulan Sya’ban. 6 keadaan yang diperbolehkan puasa:

  1. Puasa Dahr (Setahun Penuh)

  2. Puasa Senin Kamis

  3. Puasa Daud (Sehari Puasa Sehari tidak)

  4. Puasa Nadzar

  5. Puasa Qodho’

  6. Puasa Kafarat

Sedangkan menurut Jumhur Ulama’ puasa tersebut diperbolehkan.


قَالَ الشَّافِعِيَّةُ: يَحْرُمُ صَوْمُ النِّصْفِ الْأَخِيرِ مِنْ شَعْبَانَ الَّذِي مِنْهُ يَوْمُ الشَّكِّ، إِلَّا لِوِرْدٍ بِأَنْ اعْتَادَ صَوْمَ الدَّهْرِ أَوْ صَوْمَ يَوْمٍ وَفِطْرَ يَوْمٍ أَوْ صَوْمَ يَوْمٍ مُعَيَّنٍ كَالِاثْنَيْنِ فَصَادَفَ مَا بَعْدَ النِّصْفِ، أَوْ نَذْرٍ مُسْتَقِرٍّ فِي ذِمَّتِهِ، أَوْ قَضَاءٍ لِنَفْلٍ أَوْ فَرْضٍ، أَوْ كَفَّارَةٍ، أَوْ وَصَلَ صَوْمَ مَا بَعْدَ النِّصْفِ بِمَا قَبْلَهُ، وَلَوْ بِيَوْمِ النِّصْفِ.  (وهبة الزحيلي (ت ١٤٣٦هـ)، الفِقْهُ الإسلاميُّ وأدلَّتُهُ: ج ٢، ص ٥٨٣)

"Ulama Syafi'iyah berpendapat: Haram hukumnya berpuasa pada separuh terakhir bulan Sya'ban (termasuk didalamnya hari syak/ragu), kecuali jika terdapat sebab-sebab berikut: Karena Wirid (Kebiasaan): Seperti orang yang terbiasa puasa dahr (setahun penuh), puasa Daud (sehari puasa sehari tidak), atau puasa pada hari tertentu seperti hari Senin lalu bertepatan dengan masa setelah pertengahan Sya'ban tersebut. Nazar: Puasa nazar yang memang sudah menjadi kewajiban dalam tanggungannya. Qadha: Baik mengqadha puasa sunnah maupun puasa wajib (Ramadhan). Kafarat: Puasa untuk membayar denda. Waqaf (Menyambung): Menyambung puasa setelah pertengahan Sya'ban dengan puasa sebelumnya, meskipun penyambungannya dimulai tepat pada hari ke-15 (hari pertengahan)." (Wahbah al-Zuhaili (W. 1436 H), al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu: Juz 2, Hal. 583).

وَقَالَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ: يَجُوزُ الصَّوْمُ تَطَوُّعًا بَعْدَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَضَعَّفُوا الْحَدِيثَ الْوَارِدَ فِيهِ، وَقَالَ أَحْمَدُ وَابْنُ مَعِينٍ: إِنَّهُ مُنْكَرٌ. (أبو الفضل أحمد بن علي بن محمد بن أحمد بن حجر العسقلاني (ت ٨٥٢ هـ)، فتح الباري شرح صحيح البخاري: ج ٤، ص ١٦٥)

“Mayoritas ulama berpendapat: Boleh hukumnya melakukan puasa sunnah (tathawwu') setelah pertengahan bulan Sya'ban. Mereka menilai lemah (dhaif) hadis yang melarang hal tersebut. Imam Ahmad dan Ibnu Ma'in berkata: Sesungguhnya hadis tersebut adalah hadis munkar." (Abu al-Fadhil Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar al-Asqolani (W. 802 H), Fath al-Bari Syarh Shohih al-Bukhori: Juz 4, Hal. 165).


  1. SUNNAH

Disunnahkan berpuasa karena Nabi Muhammad pada bulan Sya’ban melakukannya satu bulan penuh.

قَالَتْ: «لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ، وَكَانَ يَقُولُ: «خُذُوا مِنَ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللّٰهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا». وَكَانَ أَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ، وَكَانَ إِذَا صَلَّى صَلَاةً (دَاوَمَ عَلَيْهَا). (السيد محمد بن علوي بن عباس المالكي المكي الحسني(ت ١٤٢٥  هـ)، ماذا في شعبان: ص ١٩)

“Beliau (Aisyah) berkata:  “Nabi Saw tidak pernah berpuasa pada suatu bulan yang lebih banyak daripada bulan Sya'ban, karena beliau dulu berpuasa Sya'ban sebulan penuh. Beliau (Nabi) juga bersabda: Ambillah amal perbuatan yang mampu kalian kerjakan, karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan (memberi pahala) sampai kalian sendiri yang bosan (beramal).” (al-Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas al-Maliki al-Makki al-Hasani (W. 1425 H), Madza fi Sya’ban: Hal. 19).


Daftar Pustaka:

al-Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas al-Maliki al-Makki al-Hasani (W. 1425 H), Madza fi Sya’ban, Jami’ al-Huquq Mahfudhoh, Cet. Pertama, 1424 H.

Wahbah al-Zuhaili (W. 1436 H), al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Dar al-Fikr, Tanpa Tahun, Sebanyak 8 Jilid.

Abu al-Fadhil Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar al-Asqolani (W. 802 H), Fath al-Bari Syarh Shohih al-Bukhori, Dar al-Salam, Riyadh, cet. Pertama, 2000 M, Sebanyak 14 Jilid.




Penulis                : M. Muslihul Ulum
Penyunting        : Ahmad Muzammilul Hannan

==================
==================


=================


Posting Komentar untuk "Hukum Puasa Sya’ban"