Hukum Mentahlili Orang Murtad

HUKUM MENTAHLILI ORANG MURTAD

Dalam agama Islam, sangat tidak asing lagi dengan istilah tahlilan, yang mana tahlilan adalah ritual selamatan yang dilakukan semua umat Islam khususnya di Indonesia yang bertujuan untuk memperingati dan mendoakan orang Islam yang telah meninggal yang biasanya dilakukan pada hari pertama kematian hingga ketujuh, dan selanjutnya pada hari ke 40, ke 100 dan seterusnya, sudah sewajarnya orang muslim di Indonesia melakukan kegiatan tahlilan kepada orang Islam yang telah meninggal.

Kasuistik : 

Ayah Dani merupakan seorang muslim dahulunya, namun 1 tahun sebelum meninggal dia memutuskan untuk berpindah keyakinan (agama) lain dan meninggal dalam keadaan memeluk agama lain (murtad). Dani seorang muslim yang mengetahui bahwa ayahnya sudah keluar dari agama islam, namun Dani tetap ingin berbakti dan ingin mendoakan orang tuanya dengan mengadakan tahlilan di rumahnya.

Lantas bagaimana hukum mentahlili orang murtad?

Tidak boleh

Karena mentahlili orang  murtad tersebut sama halnya dengan memintakan pengampunan dan memintakan rahmat (kasih sayang) kepada Allah SWT.  

وَتَحْرُمُ صَلَاَةٌ عَلَى كَافِرٍ لِحُرْمَةِ الدُّعَاءِ لَهُ بِالْمَغْفِرَةِ قَالَ تَعَالَى وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ اَبَدًا وَمِنْهُمْ اَطْفَالُ الْكُفَّارِ سَوَاءٌ أَنْطَقُوْا بِالشَّهَدَتَيْنِ أَمْ لَا فَتَحْرُمُ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمْ.(فتح المعين: ص ٢٢٥)

“Haram mensholati orang kafir karena larangan mendoakan ampunannya Allah SWT berfirman: ” Janganlah engkau mendoakan meminta ampun bagi seorangpun di antara mereka yang mati selama-lamanya.” Diantaranya adalah anak-anak orang kafir baik yang membaca dua kalimat syahadat atau tidak. Maka diharamkan mensholati mereka”. (Fath al-Mu’in: 225)

(وَتَحْرُمُ صَلَاَةٌ عَلَى كَافِرٍ)أى بِسَائِرِ أَنْوَاعِهِ حَرْبِيًّا كَانَ أَوْذِمِّيًّا أَوْمُعَاهِدًا أَوْمُسْتَأْمِنًا(قَوْلُهُ لِحُرْمَةِ الدُّعَاءِ لَهُ)أى لِلْكَافِرِ (وَقَوْلُهُ بِالْمَغْفِرَةِ) أى وَالصَّلَاةُ تَتَضَمَّنُ الدُّعَاءَ لَهُ بِهَا( قَوْلُهُ قَالَ تَعَالَى الخ)اِسْتِدْلَالٌ عَلَى حُرْمَةِ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ أَمَّا دَليْلُ حُرْمَةِ الدُّعَاءِ لَهُ بِالْمَغْفِرَةِ فَقَوْلُهُ تَعَالَى: "إِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُشْرِكَ بِهِ" والسَّبَبُ فِي نُزُوْلِ الْآيَةِ الْأُوْلَى مَا أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ وَغَيْرُهُمَا عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمَّا تُوُفِّيَ عَبْدُ اللّٰهِ ابْنِ أَبِي ابْنِ سَلُوْلَ أَتَى ابْنُهُ عَبْدُ اللّٰهِ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ أَنْ يُعْطِيَهُ قَمِيْصَهُ لِيَكْفِنَهُ فِيْهِ فَأَعْطَاهُ ثُمَّ سَأَلَهُ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَيْهِ فَقَامَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ عُمَرُ فَأَخَذَ ثَوْبَهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللّٰهِ أَتُصَلِّي عَلَيْهِ وَقَدْ نَهَاكَ اللّٰهُ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى الْمُنَافِقِينَ فَقَالَ إِنَّ اللّٰهَ خَيَّرَنِي وَقَالَ  "اِسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللّٰهُ لَهُمْ" وَسَأَزِيْدُ عَلَى السَّبْعِيْنَ. فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ فَصَلَّى عَلَيْهِ فَأَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا الْآيَةَ فَتَرَكَ الصَّلَاةَ عَلَيْهِمْ. (إعانة الطالبين: ج ٢، ص ٢٢٥-٢٢٤)

"(Haram mensholati orang kafir) yaitu untuk semua golongannya, orang kafir yang memerangi, orang kafir yang berdamai, atau orang kafir yang membuat perjanjian, atau orang kafir yang dapat dipercaya. (adapun dalil larangan mendoakannya)  artinya salat diharamkan untuknya karena doa yang dimohonkan baginya adalah ampunan. Allah Ta'ala berfirman: "Dan janganlah engkau mendoakan (meminta ampun) bagi seorangpun di antara mereka yang mati selama-lamanya." (Surah At-Taubah: 84). Dalam ayat ini, Allah menggambarkan larangan untuk berdoa memohonkan ampunan bagi orang kafir. Sebab diturunkannya ayat pertama adalah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim dan lain-lainnya atas dasar kejadian yang disampaikan oleh Ibn Umar, bahwa saat Abdullah bin Abi Salul meninggal, putranya Abdullah bin Abdullah meminta jubah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengkafaninya. Setelah diberikan, dia meminta agar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendoakan kematian ayahnya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri untuk shalat jenazah, tetapi Umar bin Khattab mengambil jubah Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah, apakah engkau akan mendoakan (shalat) atasnya? Padahal Allah telah melarangmu untuk mendoakan (shalat) atas orang munafik." Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Allah memberi saya pilihan, dan Dia berfirman, 'Mohonlah ampunan bagi mereka atau tidak mohon ampunan bagi mereka; walaupun engkau memohonkan ampunan bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan mengampuni mereka.' Dan aku akan berdoa lebih dari tujuh puluh kali." Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Dia adalah seorang munafik." Lalu beliau melaksanakan shalat jenazah atasnya, dan Allah menurunkan ayat: "Dan janganlah engkau mendoakan (meminta ampun) bagi seorangpun di antara mereka yang mati selama-lamanya." (Surah At-Taubah: 84). Maka, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkan shalat jenazah bagi mereka." (I’anah al-Thalibin, 2: 224-225)

الرِّدَّةُ لُغَةً الرُّجُوعُ وَهِيَ أَفْحَشُ أَنْوَاعِ الْكُفَّارِ وَيُحْبَطُ بِهَا الْعَمَلُ إِنِ اتَّصَلَتْ بِالْمَوْتِ فَلَا يَجِبُ إِعَادَةُ عِبَادَاتِهِ الَّتِي قَبْلَ الرِّدَّةِ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ تَجِبُ. وَشَرْعًا قَطْعُ مُكَلَّفٍ مُخْتَارٍ فَتَلْغُوْ مِنْ صَبِيٍّ وَمَجْنُونٍ وَمُكْرَهٍ عَلَيْهَا إذَا كَانَ قَلْبُهُ مُؤْمِنًا إِسْلَامًا بِكُفْرٍ عَزْمًا حَالًا أَوْ مَآلًا فَيَكْفُرُ بِهِ حَالًا أَوْ قَوْلًا أَوْ فِعْلًا بِاِعْتِقَادٍ.(فتح المعين: ص ٥٧٠)

"Riddah menurut lughat artinya kembali. Perbuatan murtad adalah bentuk perbuatan kufur yang paling jelek. Sebab kemurtadan, hancurlah semua amal manusia bila bersambung dengan kematian. (Seseorang) tidak wajib mengulang ibadah-ibadahnya yang sebelum murtad (setelah ia kembali Islam lagi), sedangkan menurut Abu Hanifah wajib mengulanginya. Murtad menurut syara’ adalah: Memutus keislaman (dalam keadaan ikhtiar, Maka tidaklah murtad anak kecil, orang gila, dan orang yang dipaksa jika dalam hatinya masih beriman) dengan bermaksud kufur seketika atau dalam waktu akan datang maka kufurlah seketika, atau mengucapkan kekufuran/melakukannya, yang kesemuanya disertai iktikad terhadap perbuatannya/ucapannya."(Fath al-Mu’in: 570)

Dari ibaroh diatas orang murtad termasuk dalam kategori kafir. Maka hukum mendoakan atau mentahlili orang murtad tidak diperbolehkan sama halnya tidak diperbolehkan mensholatinya. 

Penulis : Mukhamad Jamaludin 

Perumus : Ust. Alfandi Jaelani, S.T.

Mushohih : Ust. H. Afif Dimyati, S.Pd.




Penyunting :  M. Salman al-Farizi

DAFTAR PUSTAKA

Syaikh Zainudin bin Abdul Aziz al-Malibari, Fath al-Mu’in, Dar Ibn Hazm, Beirut, Lebanon, Cet. Pertama, 2004 M, Sebanyak 1 Jilid.

Abu bakar bin Muhammad Syato al-Dimyati al-Syafi’i, I’anatut Tholibin, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon, Cet. Pertama, 1995 M, Sebanyak 4 Jilid.

=========================
========================
=========================


Posting Komentar untuk "Hukum Mentahlili Orang Murtad"