HUKUM JASA TITIP DOA
Doa adalah bentuk ibadah yang mulia, sama halnya seperti ungkapan seorang hamba yang memohon, berharap, dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah, namun ditengah masyarakat yang semakin berkembang praktik meminta doa kepada orang yang sedang beribadah, yang mana pada dasarnya dibolehkan bahkan dianjurkan dalam Islam yang sama. muncul fenomena, di mana sebagian orang mengaitkan praktik keagamaan dengan tujuan duniawi, seperti menjadikan ibadah termasuk doa, tilawah, atau amalan lain sebagai sarana untuk memperoleh keuntungan materi atau meningkatkan status sosial. Hal ini menimbulkan kebingungan dimana batas antara meminta doa yang dibolehkan dan praktik ibadah yang menjadi terlarang karena tidak lagi ikhlas.
Dari deskripsi di atas munculah suatu pertanyaan: Bagaimana hukum membuka jasa “titip doa” semacam ini dalam perspektif syariat Islam?
Tidak Boleh
Tidak boleh ada tujuan lain selain mencari keridhaan Allah. Ini termasuk tidak bertujuan untuk mendapatkan harta duniawi atau kedudukan. Ibadah harus dilakukan semata-mata untuk mengharap balasan dari Allah dan karena takut akan azab-Nya.
وَقَالَتِ اللَّجْنَةُ الدَّائِمَةُ لِلْإِفْتَاءِ السُّعُوْدِيَّةِ: تِلَاوَةُ الْقُرْآنِ مِنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ، وَالْأَصْلُ فِيْ الْعِبَادَاتِ أَنْ تَكُوْنَ خَالِصَةً لِوَجْهِ اللهِ، لَا يُقْصَدُ بِهَا سِوَاهُ، مِنْ دُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ وِجَاهَةٍ يَحْظَى بِهَا، إِنَّمَا يُرْجَى بِهَا اللهُ وَيُخْشَى عَذَابُهُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: (فَاعْبُدِ اللهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّيْنَ أَلَا لِلَّهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ) سُورَةُ الزُّمَرِ الْآيَتَانِ ٢-٣(رسالة إنقاذ الهالكين، ص ١٣)
“Lajnah Daimah untuk Fatwa Kerajaan Saudi Arabia berkata: “Membaca Al-Qur’an adalah salah satu ibadah yang paling utama. Hukum asal ibadah adalah bahwa ia harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah semata, tidak dimaksudkan untuk selain-Nya baik untuk memperoleh keuntungan dunia maupun kedudukan yang ingin diraih. Ibadah itu seharusnya hanya untuk mengharapkan (keridhaan) Allah dan takut akan azab-Nya. Allah Ta‘ala berfirman: ‘Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni.” (QS. Az-Zumar ayat 2–3).” (Risalah Inqadz al-Halikin, hal 13)
Boleh
Boleh melakukan akad ijarah (sewa atau upah) untuk segala pekerjaan yang tidak disyaratkan adanya niat ibadah
يَصِحُّ الْاِسْتِئْجَارُ لِكُلِّ مَا لَا تَجِبُ لَهُ نِيَّةٌ؛ عِبَادَةً كَانَ؛ كَأَذَانٍ وَتَعْلِيْمِ قُرْآنٍ وَإِنْ تَعَيَّنَ وَتَجْهِيْزِ مَيِّتٍ، أَوْ لَا ؛ كَغَيْرِهِ مِنَ الْعُلُوْمِ تَدْرِيْسًا وَإِعَادَةً ؛ بِشَرْطِ تَعْيِيْنِ الْمُتَعَلِّمِ وَالْقَدْرِ الْمُتَعَلَّمِ مِنَ الْعِلْمِ، (بُغْيَةُ الْمُسْتَرْشِدِيْنَ، ج ٢، ص ٢١٩)
“Sah melakukan akad ijarah (sewa atau upah) untuk segala sesuatu yang tidak wajib adanya niat ibadah, seperti adzan, mengajarkan Al-Qur’an, dan mengurus jenazah , demikian pula mengajarkan berbagai ilmu (selain ibadah murni), baik dalam bentuk mengajar maupun mengulang pelajaran, dengan syarat: harus di tentukan siapa muridnya dan bagian ilmu apa yang diajarkan”.( Bughya al-Mustarsyidin, juz 2, hal 219 )
Catatan:
Meminta Doa (Tanpa Bayaran): Diperbolehkan bahkan disunnahkan, sebagaimana Nabi SAW meminta 'Umar mendoakannya. Ini dilakukan dengan niat kebaikan dan persaudaraan.
وَرُوِيَ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيْهِ، عَنْ عُمَرَ، قَالَ: اسْتَأْذَنْتُ النَّبِيَّ ﷺ فِي الْعُمْرَةِ فَأَذِنَ لِيْ، وَقَالَ: «يَا أَخِيْ أَشْرِكْنَا فِيْ دُعَائِكَ وَلا تَنْسَنَا»، فَقَالَ كَلِمَةً مَا يَسُرُّنِيْ أَنَّ لِيْ بِهَا الدُّنْيَا.( شرح السنة، ج ٥، ص ١٩٩ )
“Dan diriwayatkan dari Sālim bin 'Abdullāh, dari ayahnya, dari 'Umar (bin al-Khattab), ia berkata: Aku meminta izin kepada Nabi SAW untuk (melaksanakan) umrah, lalu beliau mengizinkanku, dan beliau bersabda :"Wahai saudaraku, sertakan kami dalam doamu dan jangan lupakan kami."(Umar melanjutkan:) "Maka beliau (Umar) mengucapkan suatu kalimat yang aku tidak senang jika aku harus menukarnya dengan dunia seisinya." ( Sharḥ al-Sunnah, juz 5, Halaman 199 )
Penulis : M Alfan Syahril Kirom
Contact Person : 085706069754
e-Mail : alfansyahril2002@gmail.com
Perumus : Alfandi Jaelani, MT.
Mushohih : Alfandi Jaelani, MT.
Penyunting : M. Irvan Masfani
Daftar Pustaka
Abd al-Rahman ibn Muhammad al-Mashhur (W 1075 M), Bughyah al-Mustarsyidin, Dar al-Minhaj, Tanpa tahun.
al-Barkawi, Taqi al-Din Muḥammad ( W. 981 H ), Risalah Inqadh al-Halikin (fi hukm akhdh al-ujrah 'ala tilawat al-Qur'an), Edisi pertama: 1423 H - 2002 M, Al-Quds Palestina
al-Baghawi, al-Husayn ibn Mas‘ud (W. 516 H), Sharḥ al-Sunnah, al-Maktab al-Islami, Damaskus Beirut, cetakan ke 2, 1403 H/1983 M.
===================================
===================================
===================================
===================================
.jpeg)
.jpeg)
%20M.Alfan%20Syahril%20KIROM%20%20(4).png)
%20M.Alfan%20Syahril%20KIROM%20%20(5).png)
%20M.Alfan%20Syahril%20KIROM%20%20(6).png)
Posting Komentar untuk "Hukum Jasa Titip Doa"