Konsep Takhalli, Tahalli, dan Tajalli

KONSEP TAKHALLI, TAHALLI, DAN TAJALLI

LATAR BELAKANG

Penyucian jiwa merupakan bagian penting dalam ajaran Islam yang bertujuan membentuk manusia beriman, berakhlak mulia, dan dekat dengan Allah Swt. Islam tidak hanya menekankan aspek lahiriah berupa ibadah dan hukum, tetapi juga menaruh perhatian besar pada pembinaan hati dan perilaku. Hati yang bersih dan terdidik menjadi kunci diterimanya amal serta lahirnya akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Para ulama menjelaskan bahwa proses pembinaan batin manusia tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan harus melalui tahapan yang terarah dan berkesinambungan. Dalam ilmu tasawuf, dikenal tiga konsep utama yang menggambarkan proses tersebut, yaitu takhalli, tahalli, dan tajalli. Ketiga konsep ini menjelaskan perjalanan spiritual manusia dari tahap membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, hingga memperoleh ketenangan dan pencerahan batin sebagai karunia dari Allah Swt.

Konsep takhalli, tahalli, dan tajalli memiliki relevansi yang kuat dalam kehidupan individu maupun sosial. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi landasan pembentukan karakter, pengendalian diri, serta peningkatan kualitas ibadah dan moral. Oleh karena itu, pembahasan mengenai konsep takhalli, tahalli, dan tajalli menjadi penting sebagai upaya memahami proses penyempurnaan diri manusia menurut ajaran Islam secara utuh dan seimbang.

PEMBAHASAN

Takhalli

  1. Pengertian Takhalli

Takhalli secara bahasa berarti mengosongkan atau membersihkan. Dalam konteks pembinaan diri, takhalli dimaknai sebagai upaya membersihkan hati dan perilaku dari sifat-sifat tercela yang dapat menghalangi kedekatan seseorang kepada Allah, seperti sombong, iri hati, riya’, cinta dunia berlebihan, dan mengikuti hawa nafsu.

Para ulama mendefinisikan takhalli

Sebagai proses mengosongkan diri dari segala penghalang menuju Allah. 

Di dalam kitab al-Ta'rifat dijelaskan tentang takhalli:

التَّخَلِّي: اخْتِيَارُ الْخَلْوَةِ وَالْإِعْرَاضُ عَنْ كُلِّ مَا يَشْغَلُ عَنِ الْحَقِّ. (التعريفات،ص:٥٧)

“Takhalli adalah memilih untuk berkhalwat (menyendiri) dan berpaling dari segala sesuatu yang dapat menyibukkan dari (mengingat dan mendekat kepada) Allah Yang Maha Benar.” (al-Ta’rifat: 57)

Penjelasan ini kemudian diperdalam dalam kitab Musthalahah at-tasawuf al-islami

التَّخَلِّي: هُوَ الإِعْرَاضُ عَنِ الأَشْغَالِ المَانِعَةِ لِلْعَبْدِ عَنِ اللهِ: وَأَوَّلُهَا مَشَاغِلُ الدُّنْيَا، بِحَيْثُ يُخَلِّي يَدَهُ مِنْهَا بِحُكْمِ تَشْرِيفِ العِنَايَةِ، وَثَانِيهَا: أَنْ يَقْطَعَ عَنْ قَلْبِهِ إِرَادَةَ العُقْبَى. وَثَالِثُهَا: أَنْ يُخَلِّيَ السِّرَّ مِنْ مُتَابَعَةِ الهَوَى. وَرَابِعُهَا: أَنْ يُعْرِضَ عَنْ صُحْبَةِ الخَلْقِ، وَيُخَلِّيَ القَلْبَ مِنَ التَّفْكِيرِ فِيهِمْ.(مصطلحات التصوف الإسلامي،ص:١٦٩)

“Takhalli ialah menjauhkan diri dari segala kesibukan yang menghalangi seorang hamba dari Allah. Yang pertama adalah kesibukan dunia: yakni ia melepaskan keterikatan dirinya terhadap urusan dunia karena ia dimuliakan oleh perhatian (Allah) untuk fokus kepada-Nya. Yang kedua ialah memotong dari hatinya keinginan akan balasan akhirat (pahala dan kenikmatan), sehingga ibadahnya murni karena Allah, bukan karena mengharap imbalan. Yang ketiga ialah mengosongkan batinnya dari kecenderungan mengikuti hawa nafsu. Yang keempat ialah berpaling dari terlalu banyak bergaul dengan manusia, dan membersihkan hati dari terlalu memikirkan urusan mereka.” (Musthalahah at-tasawuf al-islami: 169)

Kedua ibaroh di atas menunjukkan satu prinsip:

takhalli adalah membersihkan, bukan sekadar meninggalkan maksiat dhahir tetapi memutus keterikatan hati dari dunia, dari hawa nafsu, dari obsesi balasan akhirat, hingga dari kesibukan manusia.

  1. Penerapan Takhalli

 Penerapan takhalli dilakukan setelah seseorang melaksanakan taubat yang sungguh-sungguh. Taubat menjadi pintu awal kesadaran spiritual, sedangkan takhalli merupakan langkah praktis lanjutan berupa pengosongan diri dari sifat-sifat tercela yang melekat dalam hati dan perilaku. keterangan ini berdasarkan dalam kitab Tanwir al-Qulub,

اِعْلَمْ أَيُّهَا المُرِيدُ أَنَّهُ يَنْبَغِي لَكَ بَعْدَ التَّوْبَةِ أَنْ تَتَخَلَّى عَنِ الأَوْصَافِ الذَّمِيمَةِ؛ لِأَنَّهَا نَجَاسَاتٌ مَعْنَوِيَّةٌ لَا يُمْكِنُ التَّقَرُّبُ بِهَا إِلَى الحَضْرَةِ القُدْسِيَّةِ الإِلٰهِيَّةِ، كَمَا لَا يُمْكِنُ التَّقَرُّبُ بِالنَّجَاسَاتِ الصُّورِيَّةِ إِلَى العِبَادَاتِ الإِلٰهِيَّةِ. (تنوير القلوب،ص:٤٥٧)

"Ketahuilah wahai para murid (orang yang menempuh perjalanan menuju Allah), seyogyanya bagimu untuk mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela, karena ia merupakan najis maknawi yang tidak kasat mata. Karenanya, mendekat kepada kehadirat Tuhan Yang Maha Suci menjadi suatu yang mustahil, sebagaimana juga tidak mungkin mendekatkan diri kepada Allah dengan cara beribadah ketika masih ada najis.” (Tanwir al-Qulub: 457)

Ibarah tersebut menunjukkan bahwa takhalli bukan sekadar anjuran, melainkan sebuah keharusan bagi setiap orang yang ingin memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah. Sifat-sifat tercela dipandang sebagai najis maknawi, yaitu kotoran batin yang tidak terlihat secara fisik, namun memiliki dampak yang sangat besar dalam menghalangi hubungan spiritual seorang hamba dengan Tuhannya.

Lebih lanjut, syekh Amin al-Qurdi mengibaratkan sifat-sifat tercela seperti najis fisik yang menghalangi sahnya ibadah. Sebagaimana seseorang tidak dapat melaksanakan ibadah dengan sempurna ketika masih membawa najis lahiriah, demikian pula seseorang tidak dapat mendekat kepada Allah apabila hatinya masih dipenuhi sifat-sifat buruk. Analogi ini menegaskan bahwa kebersihan batin memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan kebersihan lahiriah dalam ajaran Islam.

Dalam praktiknya, penerapan takhalli menuntut seorang muslim untuk melakukan muhasabah secara berkelanjutan, mengenali penyakit-penyakit hati yang ada dalam dirinya, seperti sombong, iri hati, riya’, dengki, dan cinta dunia berlebihan. Setelah itu, ia berusaha menghilangkannya melalui pengendalian hawa nafsu, memperbanyak dzikir, serta menjaga perilaku agar tidak terjerumus kembali pada sifat-sifat tercela tersebut.

Tahalli

  1. Pengertian Tahalli

Tahalli berarti menghiasi diri. Setelah hati dibersihkan melalui takhalli, tahap berikutnya adalah menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji seperti ikhlas, jujur, sabar, syukur, tawadhu’, dan amanah. Tahalli menekankan pembiasaan akhlak mulia sebagai wujud nyata dari keimanan.

Setelah diri kosong dari penghalang, seorang hamba dapat masuk ke tahap tahalli. Ini dijelaskan dalam kitab Musthalahah al-Tasawuf al-islami:

التَّحَلِّي: التَّحَلِّي هُوَ الاِنْتِسَابُ إِلَى قَوْمٍ مَحْمُودِينَ فِي القَوْلِ وَالعَمَلِ. (مصطلحات التصوف الإسلامي،ص:١٦٨)

“Tahalli adalah menisbatkan diri (mengikuti) kaum yang terpuji dalam ucapan dan perbuatan.” (Musthalahah al-Tasawuf al-Islami: 168).

Dengan kata lain, tahalli adalah meniru akhlak orang-orang saleh. di dalam kitab Lawaqih al-Anwar al-Qudsiyyah juga dijelaskan:

قَالَ القَاشَانِيُّ: التَّحَلِّي يَعْنِي بِهِ الِاتِّصَافَ بِالأَخْلَاقِ الإِلٰهِيَّةِ، وَقَالَ شَيْخُنَا: هُوَ الِاتِّصَافُ بِأَخْلَاقِ العُبُودِيَّةِ دَائِمًا، وَهَذَا هُوَ الصَّحِيحُ، فَإِنَّهُ أَتَمُّ وَأَزْكَى. (لَوَاقِحُ الأَنْوَارِ القُدْسِيَّةِ،ص:١٩٠)

“Al-Qasyani berkata bahwa at-tahalli adalah berhias dengan akhlak-akhlak ketuhanan. Sedangkan guru kami berpendapat bahwa tahallî adalah berakhlak dengan akhlak kehambaan secara terus-menerus. Dan pendapat inilah yang benar, karena ia lebih sempurna dan lebih suci.” (Lawaqih al-Anwar al-Qudsiyyah: 190)

Ibarah ini menjelaskan tentang konsep dalam tasawuf, yaitu tahap setelah seseorang membersihkan dirinya dari sifat-sifat tercela (takhalli). Tahalli merupakan usaha menghiasi jiwa dengan sifat-sifat terpuji.

  1. Penerapan Tahalli

Tahalli adalah tahap menghiasi diri dengan akhlak-akhlak terpuji setelah seseorang membersihkan dirinya dari sifat-sifat tercela. Pada tahap ini, seorang murid berusaha membiasakan sikap dan perilaku baik dalam hati, ucapan, dan perbuatan agar semakin dekat kepada Allah. Tahalli tidak cukup hanya diketahui, tetapi harus diamalkan secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam kitab Tanwir al-Qulub di jelaskan:

وَأَمَّا الْأَوْصَافُ الْحَمِيدَةُ فَكَثِيرَةٌ أَيْضًا، مِثْلَ الْعَقِيدَةِ الصَّحِيحَةِ، وَالتَّوْبَةِ، وَالْإِعْرَاضِ عَنِ الْمَعْصِيَةِ، وَالنَّدَمِ عَلَى فِعْلِهَا، وَالْحَيَاءِ مِنَ اللَّهِ، وَالطَّاعَةِ، وَالصَّبْرِ، وَالْوَرَعِ، وَالزُّهْدِ، وَالْقَنَاعَةِ، وَالرِّضَا، وَالشُّكْرِ، وَالثَّنَاءِ، وَصِدْقِ الْحَدِيثِ، وَالْوَفَاءِ، وَأَدَاءِ الْأَمَانَةِ، وَتَرْكِ الْخِيَانَةِ، وَحِفْظِ حَقِّ الْجِوَارِ، وَبَذْلِ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءِ السَّلَامِ، وَحُسْنِ الْعَمَلِ، وَحُبِّ الْآخِرَةِ، وَبُغْضِ الدُّنْيَا، وَالْجَزَعِ مِنَ الْحِسَابِ، وَخَفْضِ الْجَنَاحِ، وَكَفِّ الْأَذَى، وَاحْتِمَالِ الْبَلَاءِ، وَمُرَاقَبَةِ الْحَقِّ، وَالْإِعْرَاضِ عَنِ الْخَلْقِ، وَطُمَأْنِينَةِ الْقَلْبِ، وَكَسْرِ النَّفْسِ عَنْ هَوَاهَا وَقُوَاهَا، وَحَجْرِهَا عَنْ لَذَّاتِهَا وَشَهَوَاتِهَا، وَالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ، وَالْجُودِ، وَالصَّفْحِ، وَالْمَوَدَّةِ، وَالْغَيْرَةِ، وَالْمُوَاسَاةِ، وَالْمُدَارَاةِ، وَالْإِيثَارِ، وَالنَّصِيحَةِ، وَالْعِفَّةِ، وَالتَّسْلِيمِ، وَالتَّوَكُّلِ، وَالشَّجَاعَةِ، وَالْمُرُوءَةِ، وَمَحَبَّةِ اللَّهِ تَعَالَى، وَرَجَاءِ الْوُصُولِ إِلَيْهِ، وَخَوْفِ الْفِرَاقِ مِنْهُ، وَالْأَدَبِ، وَالتَّأَمُّلِ، وَالتَّأَنِّي، وَمُحَاسَبَةِ النَّفْسِ، وَالْإِنْصَافِ، وَحُسْنِ الظَّنِّ، وَالْمُجَاهَدَةِ، وَتَرْكِ الْمِرَاءِ وَالْجِدَالِ، وَذِكْرِ الْمَوْتِ، وَقِصَرِ الْأَمَلِ، وَالتَّفَقُّهِ فِي الْقُرْآنِ، وَنَفْيِ الْخَوَاطِرِ، وَتَرْكِ السِّوَى، وَدَوَامِ الِافْتِقَارِ وَالِالْتِجَاءِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالْإِخْلَاصِ فِي كُلِّ حَالٍ؛ فَإِذَا تَخَلَّقَ الْمُرِيدُ بِهَذِهِ الْأَخْلَاقِ، يَتَقَرَّبُ بِهَا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَرَسُولِهِ، فَتَحْصُلُ لَهُ السَّعَادَةُ فِي الدَّارَيْنِ. (تنوير القلوب ،ص:٤٦٧-٤٦٦)

“Adapun sifat-sifat terpuji (al-awṣaf al-ḥamidah) juga sangat banyak, di antaranya ialah: akidah yang benar, tobat, berpaling dari perbuatan maksiat, menyesali perbuatannya, rasa malu kepada Allah, ketaatan, kesabaran, wara‘, zuhud, qana‘ah, rida, syukur, pujian kepada Allah, kejujuran dalam berbicara, menepati janji, menunaikan amanah, meninggalkan pengkhianatan, menjaga hak tetangga, memberi makanan, menyebarkan salam, memperbaiki amal, mencintai akhirat, membenci dunia, merasa takut terhadap hisab, bersikap rendah hati, menahan diri dari menyakiti orang lain, tabah menghadapi cobaan, senantiasa mengawasi Allah (muraqabah), berpaling dari ketergantungan kepada makhluk, ketenteraman hati, menundukkan nafsu dari hawa dan kekuatannya, membatasi diri dari kenikmatan dan syahwatnya, rasa takut dan harapan, kedermawanan, pemaafan, kasih sayang, kecemburuan (dalam menjaga agama), saling membantu, bersikap lembut dan bijaksana dalam pergaulan, mendahulukan orang lain (itsar), memberi nasihat, menjaga kesucian diri (‘iffah), berserah diri, bertawakal, keberanian, kemuliaan akhlak (muru’ah), mencintai Allah Ta‘ala, berharap dapat sampai (wushul) kepada-Nya, takut berpisah dari-Nya, adab, perenungan, kehati-hatian, introspeksi diri (muhasabah), bersikap adil, berprasangka baik, bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu (mujahadah), meninggalkan perdebatan dan pertengkaran, mengingat kematian, memendekkan angan-angan, mendalami Al-Qur’an, menolak lintasan-lintasan hati yang buruk, meninggalkan selain Allah (al-siwā), senantiasa merasa fakir dan bergantung kepada Allah ‘Azza wa Jalla, serta ikhlas dalam setiap keadaan. Apabila seorang murid berakhlak dengan akhlak-akhlak ini dan menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya, maka ia akan memperoleh kebahagiaan di dua negeri: dunia dan akhirat.” (Tanwir al-Qulub: 466-467)

Ibarah tersebut menjelaskan bahwa sifat-sifat terpuji dalam tahalli sangat banyak dan mencakup akidah, ibadah, akhlak pribadi, serta hubungan sosial. Seorang murid menghiasi dirinya dengan iman yang benar, taubat, ketaatan, kesabaran, dan pengendalian hawa nafsu. Ia juga dibimbing untuk bersikap jujur, amanah, rendah hati, sabar menghadapi cobaan, dan berbuat baik kepada sesama.

Selain itu, tahalli menanamkan cinta kepada Allah dan akhirat, rasa takut akan hisab, serta keikhlasan dalam setiap keadaan. Jika akhlak-akhlak ini benar-benar diamalkan, maka seorang murid akan semakin dekat kepada Allah dan Rasul-Nya serta memperoleh kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Tajalli

  1. Pengertian Tajalli

Tajalli berarti tampak atau tersingkap. Tajalli merupakan kondisi batin ketika seseorang merasakan ketenangan, kejernihan hati, dan kedekatan kepada Allah sebagai hasil dari proses takhalli dan tahalli yang dijalani dengan sungguh-sungguh. Keadaan ini bukan hasil usaha semata, melainkan karunia Allah kepada hamba-Nya. Di dalam kitab Musthalahah al-Tasawuf al-islami dijelaskan:

التَّجَلِّي: هُوَ تَأْثِيرُ أَنْوَارِ الْحَقِّ بِحُكْمِ الْإِقْبَالِ عَلَى قُلُوبِ الْمُقْبِلِينَ الْجَدِيرِينَ بِأَنْ يَرَوُا الْحَقَّ بِقُلُوبِهِمْ. وَالْفَرْقُ بَيْنَ هَذِهِ الرُّؤْيَةِ وَرُؤْيَةِ الْعِيَانِ هُوَ أَنَّ الْمُتَجَلِّيَ إِذَا أَرَادَ يَرَى، وَإِذَا أَرَادَ لَا يَرَى، أَوْ يَرَى وَقْتًا وَلَا يَرَى آخَرَ. (مصطلحات التصوف الإسلامي،ص: ١٦١)

“At-tajalli adalah pengaruh cahaya-cahaya Tuhan Yang Maha Benar (Anwar al-Ḥaqq) yang muncul karena sikap menghadap dan kesiapan hati, pada hati orang-orang yang benar-benar layak untuk menyaksikan kebenaran dengan hati mereka. Perbedaan antara penyaksian ini dengan penglihatan secara langsung (indra mata) adalah bahwa orang yang mengalami tajalli, jika ia berkehendak maka ia dapat melihat, dan jika ia berkehendak maka ia tidak melihat; atau ia melihat pada suatu waktu dan tidak melihat pada waktu yang lain.” (Musthalahah al-Tasawuf al-islami: 161)

Tajalli dalam konteks ini bukanlah melihat Allah dengan mata kepala, melainkan penyaksian batin berupa hadirnya cahaya Ilahi dalam hati seorang hamba yang telah memiliki kesiapan spiritual. Kesiapan ini muncul dari kesungguhan dalam menghadap kepada Allah (al-iqbal) serta kebersihan hati. Cahaya Ilahi tersebut memberi kemampuan kepada hati untuk menyadari dan mengenali kebenaran secara mendalam. Namun, tajalli tidak bersifat permanen, melainkan datang dan pergi sesuai kehendak Allah dan kondisi spiritual hamba itu sendiri. Perbedaannya dengan penglihatan indrawi (ru’yat al-‘iyan) sangat jelas. Penglihatan dengan mata fisik terjadi secara otomatis selama objek terlihat dan mata berfungsi. Sedangkan dalam tajalli, penyaksian batin tidak selalu berlangsung terus-menerus terkadang seorang hamba merasakan kehadiran cahaya tersebut, dan di waktu lain tidak merasakannya sama sekali.

 Hal ini menunjukkan bahwa tajalli adalah karunia Ilahi, bukan sesuatu yang bisa dikuasai sepenuhnya oleh manusia. Seorang hamba hanya dapat menyiapkan diri melalui penyucian hati dan keikhlasan, sementara muncul atau hilangnya tajalli sepenuhnya berada dalam kehendak Allah.

  1. Penerapan Tajalli

Penerapan tajalli dalam kehidupan seorang salik tidak berarti menuntut pengalaman spiritual yang luar biasa, melainkan menghidupkan kesadaran Ilahi dalam sikap, batin, dan perilaku sehari-hari. Tajalli terwujud sesuai dengan tingkat kesiapan rohani seseorang dan tampak dalam bentuk perubahan sikap batin yang nyata.

Pada tajalli melalui perbuatan, seorang hamba mulai menyaksikan bahwa seluruh peristiwa yang terjadi dalam hidupnya baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan merupakan perbuatan Allah semata. Kesadaran ini diterapkan dengan menerima takdir tanpa keluh kesah, berusaha maksimal tanpa menggugat hasil, serta menjaga adab dalam menghadapi ujian. Dalam praktiknya, salik membiasakan ridha terhadap keputusan Allah dan berserah diri setelah ikhtiar, sehingga hatinya menjadi jernih dan tidak dikuasai kegelisahan. Inilah bentuk tajalli yang paling awal dan paling nyata dalam kehidupan sosial dan personal.

Pada tajalli melalui sifat-sifat, penerapannya tampak ketika seorang hamba mulai menyadari kehadiran sifat-sifat Allah dalam kehidupannya. Ia melihat kekuasaan, ilmu, keadilan, dan kasih sayang Allah bekerja dalam setiap keadaan. Kesadaran ini melahirkan keseimbangan antara rasa takut yang penuh penghormatan (haybah) dan rasa kedekatan yang menentramkan (uns). Dalam praktiknya, salik menjadi lebih berhati-hati dalam bertindak karena menyadari keagungan Allah, sekaligus merasa dekat dan dicintai oleh-Nya. Hal ini tercermin dalam ibadah yang khusyuk, akhlak yang lembut, dan interaksi sosial yang penuh kasih.

Adapun tajalli melalui dzat merupakan tingkat terdalam yang penerapannya bukan berupa klaim pengalaman, melainkan hilangnya ego dan kepentingan diri dalam beramal. Seorang hamba tidak lagi memandang dirinya sebagai pelaku utama, melainkan menyadari bahwa segala daya dan kebaikan berasal dari Allah. Keadaan ini melahirkan fana’, yakni lenyapnya kesadaran akan diri dan kepentingan pribadi, serta baqa’, yaitu bertahannya hamba dalam ketaatan, adab, dan pengabdian yang murni. Dalam kehidupan nyata, penerapan tajalli ini tampak pada kerendahan hati yang mendalam, keikhlasan yang konsisten, dan kesungguhan beramal tanpa menuntut pengakuan. Di dalam kitab Musthalahah al-Tasawuf al-islami dijelaskan:

اَلتَّجَلِّي بِطَرِيقِ الأَفْعَالِ يُحْدِثُ صَفْوَ الرِّضَا وَالتَّسْلِيمِ، وَالتَّجَلِّي بِطَرِيقِ الصِّفَاتِ يُكْسِبُ الْهَيْبَةَ وَالأُنْسَ، وَالتَّجَلِّي بِالذَّاتِ يُكْسِبُ الْفَنَاءَ وَالْبَقَاءَ. (مصطلحات التصوف الإسلامي،ص: ١٦١)

“Tajalli melalui jalan perbuatan (af‘al) melahirkan kejernihan sikap rida dan kepasrahan. Tajalli melalui jalan sifat-sifat (sifat) menumbuhkan rasa kewibawaan (haybah) dan keakraban batin (uns). Tajalli melalui dzat melahirkan keadaan fana’ dan baqa’” (Musthalahah al-Tasawuf al-islami: 161)

Dengan demikian, penerapan tajalli bukanlah tujuan yang berdiri sendiri, melainkan buah dari proses penyucian jiwa melalui takhalli dan penghiasan diri dengan tahalli. Tajalli af‘al mengajarkan ridha dan pasrah, tajalli sifat membentuk keseimbangan antara takut dan cinta, sedangkan tajalli dzat menyempurnakan perjalanan ruhani dengan fana’ dan baqa’. Keseluruhan proses ini mengantar seorang hamba kepada kedekatan sejati dengan Allah serta akhlak yang matang dalam kehidupan dunia dan akhirat.

KESIMPULAN

Konsep takhalli, tahalli, dan tajalli merupakan satu kesatuan tahapan yang tidak dapat dipisahkan dalam proses penyucian jiwa menurut ajaran tasawuf Islam. Ketiganya menggambarkan perjalanan spiritual manusia secara bertahap, sistematis, dan seimbang antara usaha manusia dan karunia Allah Swt.

Takhalli menempati tahap awal sebagai proses pengosongan diri dari sifat-sifat tercela yang menjadi penghalang kedekatan kepada Allah, baik berupa maksiat lahiriah maupun keterikatan batin seperti cinta dunia, hawa nafsu, dan riya’. Takhalli menegaskan bahwa kebersihan batin memiliki kedudukan yang sangat penting, bahkan disamakan dengan kebersihan lahiriah dalam sahnya ibadah. Tanpa takhalli, perjalanan spiritual tidak memiliki landasan yang kokoh.

Setelah hati dibersihkan, tahap berikutnya adalah tahalli, yaitu menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji. Tahalli menekankan pembentukan akhlak mulia secara konsisten, baik dalam aspek akidah, ibadah, maupun hubungan sosial. Nilai-nilai seperti ikhlas, jujur, sabar, amanah, tawakal, dan cinta kepada Allah menjadi ciri utama tahap ini. Tahalli bukan sekadar pemahaman teoritis, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku nyata sebagai cerminan keimanan yang matang.

Adapun tajalli merupakan buah dari keberhasilan takhalli dan tahalli, berupa tersingkapnya cahaya Ilahi dalam hati seorang hamba sesuai kadar kesiapan rohaninya. Tajalli bukan hasil usaha manusia semata, melainkan karunia Allah yang hadir dalam bentuk ketenangan batin, kejernihan hati, dan kedalaman kesadaran Ilahi. Tajalli melalui af‘al melahirkan ridha dan pasrah, tajalli melalui sifat menumbuhkan keseimbangan antara rasa takut dan kedekatan, sedangkan tajalli melalui dhat menyempurnakan perjalanan ruhani dengan fana’ dan baqa’.

Dengan demikian, konsep takhalli, tahalli, dan tajalli tidak hanya relevan dalam ranah spiritual individual, tetapi juga memiliki implikasi nyata dalam pembentukan karakter dan akhlak sosial. Ketiganya mengarahkan manusia menuju kepribadian yang bersih hatinya, luhur akhlaknya, dan dekat kepada Allah Swt, sehingga mampu meraih kebahagiaan sejati di dunia dan di akhirat.       

        

           Penulis : Muhammad Zainul Arifin

Contact Person : 081906288879

e-Mail : arifinzainul.1512@gmail.com

Perumus : M. Ulul Albab M, S. Psi

Mushohih : Khoirun Ni’am, M. Ag


 

DAFTAR PUSTAKA

Sayyid al-Syarif Abi al-Hasan Ali bin Muhammad bin 'Ali (W. 816 H), al-Ta'rifat, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon: cetakan kedua, 2003 M/ 1423 H, sebanyak 1 jilid.

Rofiq al-'Ajm, Mushtholahah al-tasawuf al-Islamiy, maktabah Lebanon naasyirun, Beirut, Lebanon: cetakan pertama tahun 1999 H.

Abdul wahab as-sya'roni, (W. 973 H), Lawaqih al-Anwar al-Qudsiyyah, Dar al-ilmiyah, Beirut, Lebanon, tanpa tahun, sebanyak 2 jilid.

Syaikh Muhammad amin al-Qurdi (W. 1332 H), Tanwir al-Qulub, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon: cetakan pertama 1416 H/ 1995 M, sebanyak 1 jilid.

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-thusi (W. 505 H), Ihya ulum al-Din, Dar al-Ma'rifat, Beirut, Lebanon, 1982 M/1402 H.

================================












Posting Komentar untuk "Konsep Takhalli, Tahalli, dan Tajalli"