Pandangan Tasawuf Tentang Bai'at Thariqah Yang Dilakukan Dengan Terpaksa

 

PANDANGAN TASAWUF TENTANG BAIAT THARIQAH YANG DILAKUKAN DENGAN  TERPAKSA

LATAR BELAKANG

Baiat dalam thariqah adalah tanda kesungguhan seorang murid (salik) untuk mengikuti bimbingan seorang mursyid dalam mendekatkan diri kepada Allah. Baiat seharusnya dilakukan dengan hati yang rela, ikhlas, dan penuh kesadaran. Dalam pandangan tasawuf, keikhlasan dan kerelaan sangat penting dalam setiap ibadah dan perjalanan spiritual, karena tanpa keduanya, tujuan utama seperti penyucian jiwa dan kedekatan dengan Allah sulit tercapai, Namun, dalam praktiknya, ada juga baiat yang dilakukan bukan karena kerelaan pribadi, melainkan karena tekanan sosial, dorongan lingkungan, atau bahkan paksaan. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah baiat yang dilakukan dengan paksaan dapat dianggap sah atau dibenarkan dalam pandangan tasawuf?

PEMBAHASAN

Pengertian Baiat atau al-’Ahd

Di dalam kitab Hadrah Maulana Khalid dijelaskan bahwa kata al-‘ahd (العهد) dalam bahasa Arab memiliki banyak makna, seperti amanah, sumpah, perjanjian yang kuat, tanggungan, penjagaan, dan wasiat. Semua makna ini menunjukkan adanya tanggung jawab dan kewajiban untuk menjaga sesuatu yang telah disepakati. Dalam kitab Al-Mukhtar dan At-Ta‘rifat ditegaskan bahwa makna asal al-‘ahd adalah menjaga dan memperhatikan sesuatu secara terus-menerus, lalu lafal tersebut digunakan untuk makna perjanjian yang mengikat dan wajib dipelihara. Dalam konteks tasawuf, al-‘ahd dipahami sebagai ikatan batin yang kuat, baik antara murid dengan guru maupun antara hamba dengan Allah. Ikatan ini bukan sekadar janji lisan, tetapi komitmen lahir dan batin yang menuntut kesungguhan, konsistensi adab, dan kesetiaan dalam menjalani perjalanan spiritual.

اَلْعَهْدُ فِي اللُّغَةِ يُطْلَقُ عَلَىٰ مَعَانٍ، قَالَ فِي الْمُخْتَارِ: الْعَهْدُ الْأَمَانُ، وَالْيَمِينُ، وَالْمُوَثَّقُ، وَالذِّمَّةُ، وَالْحِفْظُ، وَالْوَصِيَّةُ، وَعَهِدَ إِلَيْهِ مِنْ بَابِ فَهِمَ أَيْ أَوْصَاهُ. وَفِي «التَّعْرِيفَاتِ»: الْعَهْدُ حِفْظُ الشَّيْءِ وَمُرَاعَاتُهُ حَالًا بَعْدَ حَالٍ، هٰذَا أَصْلُهُ، ثُمَّ اسْتُعْمِلَ فِي الْمُوَثَّقِ الَّذِي يَلْزَمُ مُرَاعَاتُهُ، وَهُوَ الْمُرَادُ. اِنْتَهَىٰ. (مكتوبات حضرة مولانا خالد، ص:٣٦ ) 

“Kata al-‘ahd (العهد) dalam bahasa Arab memiliki beberapa makna. Dalam kitab Al-Mukhtar disebutkan: Al-‘ahd berarti amanah, sumpah, perjanjian yang kuat, tanggungan (dzimmah), penjagaan, dan wasiat. Dikatakan pula: ‘ahida ilayhi dari bab fahima, artinya ‘ia berwasiat kepadanya’. Dalam kitab At-Ta‘rīfāt disebutkan: Al-‘ahd adalah menjaga sesuatu dan memperhatikannya dari waktu ke waktu; inilah makna asalnya. Kemudian kata ini digunakan untuk makna perjanjian yang mengikat dan wajib dijaga, dan inilah makna yang dimaksud (dalam pembahasan ini).”(Maktubat Hadrah Maulana Khalid: 36)

Rukun Baiat

Rukun baiat mencakup dua hal utama. Pertama, komitmen murid untuk mengamalkan wirid dan zikir yang diberikan oleh syekh. Amalan ini menjadi kebutuhan ruhani harian yang menjaga kesinambungan hubungan spiritual antara murid, guru, dan Allah. Tanpa komitmen ini, baiat tidak terwujud secara nyata dalam amal. Kedua, komitmen menjaga adab dan akhlak thariqah. Murid wajib bersikap jujur, rendah hati, sabar, serta menjauhi perbuatan maksiat. Adab ini menjadi bukti kesungguhan baiat, karena baiat tidak hanya berupa janji lisan, tetapi diwujudkan dalam perilaku dan akhlak sehari-hari.

مِنَ الْأَرْكَانِ الْمُهِمَّةِ أَيْضًا الِالْتِزَامُ بِالْأَوْرَادِ وَالْأَذْكَارِ الَّتِي يُعْطِيهَا الشَّيْخُ لِلْمُرِيدِ، وَهِيَ بِمَثَابَةِ غِذَاءٍ رُوحِيٍّ يَوْمِيٍّ. كَذٰلِكَ يَجِبُ عَلَى الْمُرِيدِ أَنْ يَتَأَدَّبَ بِآدَابِ الطَّرِيقَةِ، مِثْلَ الصِّدْقِ، وَالتَّوَاضُعِ، وَالْحِلْمِ، وَتَجَنُّبِ الْمَعَاصِي. (نحو النور والبركة الإلهية مع الطريقة الكسنزانية)

“Termasuk rukun yang penting juga adalah berkomitmen menjalankan wirid dan zikir yang diberikan oleh guru (syekh) kepada murid, karena wirid dan zikir tersebut ibarat makanan ruhani harian. Demikian pula, seorang murid wajib beradab dengan adab-adab thariqah, seperti jujur, rendah hati, penyabar, serta menjauhi perbuatan maksiat.”

Dalam kitab Maktubat  juga dijelaskan bahwa rukun baiat bertumpu pada rukun qalbi yakni berpalingnya hati dari segala selain Allah dan menghadap sepenuhnya kepada-Nya.

 وَأَمَّا أَرْكَانُهَا: فَإِلْإِعْرَاضُ الْقَلْبِيُّ عَمَّا سِوَى اللَّهِ تَعَالَى وَالتَّوَجُّهُ إِلَيْهِ وَالتَّوَكُّلُ عَلَيْهِ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا، وَقَدْ سُمِّيَتْ هَذِهِ السِّلْسِلَةُ ذَهَبِيَّةً لِكَمَالِ لَطَافَتِهَا وَنَظَافَتِهَا مِنْ جِهَةِ أَنَّ أَهْلَ الْبَيْتِ النَّبَوِيِّ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ يَتَّصِفُونَ بِهَا وَيُنْسَبُونَ أَيْضًا إِلَى النِّسْبَةِ الصِّدِّيقَةِ الْخَفِيَّةِ. (مكتوبات حضرة مولانا خالد، ص: ٤٠) 

“Adapun rukun-rukun baiat: berpalingnya hati dari segala sesuatu selain Allah Ta‘ala, menghadap sepenuhnya kepada-Nya, dan bertawakal kepada-Nya dalam seluruh urusan. Thariqah ini disebut Silsilah Dzahabiyyah (rantai emas) karena kelembutan dan kesuciannya, sebab para pengamalnya meneladani Ahlul Bait dan nasab Shiddiqiyyah yang tersembunyi.” (Maktubat Hadrah Maulana Khalid: 40)

Ibarah ini menegaskan bahwa hakikat baiat tidak semata-mata terletak pada lafaz janji atau pengucapan sumpah, tetapi pada berpalingnya hati dari selain Allah dan kesungguhan untuk bertawakal kepada-Nya. Jika baiat dilakukan dengan hati yang terpaksa dan tanpa penyucian niat, maka nilai ruhaniahnya belum sempurna.

Adab Baiat

Adab baiat yang utama adalah menjaga adab syariat dalam seluruh keadaan. Seorang murid dituntut untuk berhati-hati dalam perbuatannya, bahkan menjauhi perkara makruh, meskipun makruh tanzih, karena hal itu dinilai lebih utama daripada sekadar memperbanyak zikir, tafakur, dan muraqabah tanpa adab.

 وَأَمَّا آدَابُهَا: فَهِيَ آدَابُ الشَّرْعِ فِي جَمِيعِ الْأَحْوَالِ وَالِاجْتِنَابُ عِنْدَهُمْ مِنْ كَرَاهَةٍ وَلَوْ تَنْزِيهِيَّةٌ أَفْضَلُ مِنَ الذِّكْرِ وَالْفِكْرِ وَالْمُرَاقَبَةِ وَالتَّوَجُّهِ بِمَرَاتِبَ، نَعَمْ إِذَا جَمَعَ هَذِهِ الْأُمُورَ مَعَ رِعَايَةِ آدَابِ الشَّرِيعَةِ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. وَمِنْهَا: الِاتِّصَافُ بِالْأَخْلَاقِ الْحَمِيدَةِ وَالِاجْتِنَابُ عَنِ الْأَوْصَافِ الذَّمِيمَةِ. (مكتوبات حضرة مولانا خالد، ص: ٤٠) 

“Menjalankan adab syariat dalam segala keadaan, dan menjauhi hal-hal yang makruh meskipun makruh tanzih lebih utama bagi mereka daripada sekadar zikir, tafakur, dan muraqabah. Namun, barang siapa mampu menggabungkan hal-hal itu dengan menjaga adab syariat, maka ia telah meraih kemenangan yang agung. Termasuk di dalamnya berakhlak mulia dan menjauhi sifat-sifat tercela.” (Maktubat Hadrah Maulana Khalid: 40)

Dari dua ibarah ini dapat dipahami bahwa kesempurnaan baiat bergantung pada dua sisi yaitu:

  1. Rukun batin (الإعراض القلبي) berpaling dari selain Allah dan tawakal sepenuhnya. 

  2. Adab syar‘i (آداب الشرع) menjaga akhlak dan menjauhi makruh. 

Tanpa dua hal ini, baiat hanya menjadi bentuk lahir tanpa makna ruhani.

Keabsahan Baiat 

Sahnya Baiat Ditinjau dari Talqin dan Sanad, baiat dalam thariqah tidak dipahami sebagai ikatan formal semata, melainkan sebagai pengikatan diri seorang murid kepada jalan ruhani yang sah. Berdasarkan penjelasan di dalam kitab Jami‘ al-usul fi al-auliya’, sahnya baiat sangat bergantung pada keberadaan talqin yang benar dan sanad yang bersambung. Hal ini karena baiat pada hakikatnya lahir dari proses suhbah (pendampingan spiritual), dan suhbah merupakan unsur yang melekat serta menjadi syarat dalam perjalanan ruhani seorang salik.

Di dalam kitab Jami‘ al-usul fi al-uuliya’ dijelaskan bahwa keterikatan seorang murid kepada seorang syekh tidak sah hanya dengan niat atau pengakuan lisan, tetapi harus terwujud melalui talqin dan pengajaran dari syekh yang ma’dzun (memiliki izin). Talqin inilah yang menjadi bentuk nyata baiat, sebab di dalamnya terdapat penyerahan diri murid untuk dibimbing serta pemberian izin ruhani dari syekh. Tanpa talqin, baiat kehilangan substansi dan hanya menjadi simbol kosong tanpa dampak batin yang utuh.

Keabsahan baiat juga ditentukan oleh sanad syekh yang membaiat, Ijazah syekh harus sah dan bersandar kepada syekh pemilik jalan (sahib al-ṭariq), yang sanadnya bersambung hingga Rasulullah. Dengan demikian, baiat dinilai sah apabila dilakukan oleh syekh yang:

  1. Diberi izin (ma’dzun)

  2. Memiliki ijazah yang benar

  3. Sanad thariqahnya muttashil sampai Nabi Muhammad Saw.

Tanpa sanad yang jelas dan bersambung, baiat tidak memiliki pengakuan spiritual, karena terputus dari sumber asal ajaran Islam, hal ini dijelaskan dalam kitab Jami‘ al-usul fi al-auliya’ sebagai berikut:

وَأَمَّا التَّلْقِينُ وَسَنَدُهُ، فَلَمَّا كَانَتِ الصُّحْبَةُ مِنْ لَوَازِمِهِ وَشُرُوطِهِ، وَكَانَ الِانْتِسَابُ إِلَى شَيْخٍ إِنَّمَا يَحْصُلُ بِالتَّلْقِينِ وَالتَّعْلِيمِ مِنْ شَيْخٍ مَأْذُونٍ، إِجَازَتُهُ صَحِيحَةٌ، مُسْتَنِدَةٌ إِلَى شَيْخٍ صَاحِبِ طَرِيقٍ، وَهُوَ إِلَى النَّبِيِّ عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَكَانَ الذِّكْرُ لَا يُفِيدُ فَائِدَةً تَامَّةً إِلَّا بِالتَّلْقِينِ وَالْإِذْنِ، بَلْ جَعَلَهُ الأَكْثَرُ شَرْطًا (جامع الأصول في الأولياء، ص:٤٦)

“Adapun talqin beserta sanadnya, maka karena suhbah (kebersamaan dan pendampingan rohani) termasuk unsur yang melekat dan menjadi syaratnya. Hubungan pengikatan diri kepada seorang syekh hanya terwujud melalui talqin dan pengajaran dari seorang syekh yang diberi izin (ma’dzūn), yang ijazahnya sah dan bersambung kepada seorang syekh pemilik jalan (tariqah), dan sanadnya terus bersambung hingga Nabi Muhammad Saw. Dan zikir tidak memberikan manfaat yang sempurna kecuali dengan adanya talqin dan izin. Bahkan, mayoritas ulama tasawuf menjadikannya sebagai syarat.” (Jami‘ al-Usul fi al-Auliya’: 46).

Tata cara baiat atau talqin

Tata cara baiat atau talqin dalam tradisi tasawuf yang dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian setelah terbukti kejujuran serta kesungguhan seorang murid dalam menempuh jalan ruhani. Proses ini diawali dengan istikharah, baik oleh murid maupun oleh guru, sebagai bentuk penyerahan keputusan kepada Allah agar langkah yang diambil benar-benar membawa kebaikan spiritual. Jika hasil istikharah menunjukkan kecocokan, murid dipersiapkan secara lahir dan batin melalui mandi taubat, salat taubat, dan sedekah, yang semuanya bertujuan untuk membersihkan diri dari dosa dan menguatkan niat.

Setelah itu, baiat dilaksanakan dalam suasana khidmat dan penuh adab, dengan posisi duduk yang melambangkan kedekatan ruhani antara guru dan murid. Pegangan tangan menjadi simbol penyerahan diri murid untuk dibimbing, sementara ikrar taubat dan janji yang diambil mencakup komitmen untuk meninggalkan dosa, menyelesaikan hak-hak sesama manusia, serta berpegang teguh pada sunnah Nabi dengan menjauhi bid‘ah dan sifat-sifat tercela. Pembacaan istighfar dan ayat Al-Qur’an menegaskan bahwa baiat tersebut pada hakikatnya adalah perjanjian dengan Allah, bukan semata hubungan personal antara guru dan murid.

Puncak talqin ditandai dengan penanaman dzikir di dalam hati murid oleh guru, yang dilakukan dalam keheningan dan konsentrasi batin. Doa penutup, pengusapan wajah, serta sikap hormat murid kepada guru melengkapi proses baiat sebagai sebuah ikatan spiritual yang sakral. Sejak saat itu, murid dituntut untuk setia pada janji baiat, menjaga adab, melaksanakan amalan yang diberikan, dan memelihara hubungan batin dengan gurunya hingga akhir hayat, karena baiat dalam tasawuf dipahami sebagai komitmen ruhani seumur hidup yang harus dijaga dengan kesungguhan dan keikhlasan. Hal ini di jelaskan dalam kitab Jami‘ al-Usul fi al-Auliya’ sebagai berikut:

وَكَيْفِيَّةُ التَّلْقِينِ بَعْدَ ثُبُوتِ صِدْقِ الْمُرِيدِ أَنْ يَأْمُرَهُ الشَّيْخُ بِالِاسْتِخَارَةِ، وَأَنْ يَسْتَخِيرَ هُوَ أَيْضًا، فَإِنْ وَافَقَتِ اسْتِخَارَتُهُمَا يَأْمُرِ الشَّيْخُ الْمُرِيدَ أَنْ يَغْتَسِلَ غُسْلَ التَّوْبَةِ، ثُمَّ يُصَلِّيَ الْمُرِيدُ صَلَاةَ التَّوْبَةِ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ يَتَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ، ثُمَّ يَجِيءَ عِنْدَ الشَّيْخِ فَيُجْلِسَهُ الشَّيْخُ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَيُلْصِقَ رُكْبَتَيْهِ بِرُكْبَتَيْهِ، ثُمَّ يَأْخُذَ الشَّيْخُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى يَدَ الْمُرِيدِ كَالْمُصَافِحِ لَهُ، ثُمَّ يَسْتَتِيبَهُ عَنْ جَمِيعِ الْمَعَاصِي وَالْمُخَالَفَاتِ الَّتِي أَضَاعَ عُمْرَهُ بِهَا، وَيَأْخُذَ عَلَيْهِ الْعَهْدَ عَلَى الِاسْتِحْلَالِ مَعَ أَرْبَابِ الْحُقُوقِ، وَرَدِّ الْمَظَالِمِ، وَاسْتِرْضَاءِ الْخُصُومِ، وَيَأْخُذَ الْعَهْدَ عَلَى التَّقَيُّدِ بِمُتَابَعَةِ السُّنَّةِ، وَالْعَمَلِ بِالْعَزِيمَةِ، وَالِاجْتِنَابِ عَنْ كُلِّ رُخْصَةٍ، وَالتَّبَاعُدِ عَنْ كُلِّ بِدْعَةٍ، وَالْإِعْرَاضِ عَنْ جَمِيعِ الْقَبَائِحِ مِنَ الْمُنْكَرَاتِ وَالصِّفَاتِ الْمَذْمُومَاتِ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ هُوَ وَالْمُرِيدُ بِهٰذَا الِاسْتِغْفَارِ وَهُوَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ بَدِيعَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا مِنْ جَمِيعِ جُرْمِي وَظُلْمِي وَمَا جَنَيْتُ عَلَى نَفْسِي وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، ثُمَّ يَقْرَأُ الشَّيْخُ هٰذِهِ الْآيَةَ ﴿إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ﴾ الْآيَةَ، ثُمَّ يَضَعُ الشَّيْخُ وَالْمُرِيدُ أَيْدِيَهُمَا عَلَى رُكْبَتَيْهِمَا وَيُغْمِضَانِ عَيْنَيْهِمَا، ثُمَّ يَذْكُرُ الشَّيْخُ بِقَلْبِهِ اسْمَ الذَّاتِ عَلَى نِيَّةِ التَّعْلِيمِ وَالتَّلْقِينِ لِقَلْبِ الْمُرِيدِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ يَرْفَعَانِ مَعًا أَيْدِيَهُمَا لِلدُّعَاءِ فَيَدْعُو الشَّيْخُ لَهُ وَيُؤَمِّنُ الْمُرِيدُ، ثُمَّ يَمْسَحَانِ بِأَيْدِيهِمَا وُجُوهَهُمَا، وَبَعْدَهُ يُقَبِّلُ الْمُرِيدُ رُكْبَةَ الشَّيْخِ، وَيَقُومُ مِنْ مَحَلِّهِ وَيَسْتَأْذِنُ الشَّيْخَ وَيَذْهَبُ، وَيَشْتَغِلُ بِمَا أَمَرَهُ بِهِ الشَّيْخُ، وَيَحْفَظُ نِسْبَةَ الشَّيْخِ فِي كُلِّ حَالٍ وَوَقْتٍ، وَيُوفِي الْعَهْدَ وَالْمِيثَاقَ وَلَا يَنْقُضُهُ إِلَى أَنْ يَمُوتَ، (جامع الأصول في الأولياء، ص: ٢٠٦)

“Adapun tata cara talqin dilakukan setelah terbukti kejujuran dan kesungguhan seorang murid dalam menempuh jalan spiritual. Pada tahap ini, sang guru terlebih dahulu memerintahkan murid untuk melaksanakan salat istikharah, dan guru pun melakukan istikharah pula. Apabila hasil istikharah keduanya menunjukkan kecocokan dan kesesuaian, maka guru memerintahkan murid untuk mandi sebagai mandi taubat. Setelah itu murid melaksanakan salat taubat dua rakaat, kemudian bersedekah sebagai bentuk penyucian diri dan penebusan kesalahan. Selanjutnya murid datang menghadap guru. Guru mendudukkannya tepat di hadapannya, hingga kedua lutut mereka saling bersentuhan. Guru lalu memegang tangan kanan murid sebagaimana orang berjabat tangan. Dalam keadaan itu, guru membimbing murid untuk bertaubat dari seluruh dosa dan pelanggaran yang pernah ia lakukan, terutama perbuatan-perbuatan yang telah menyia-nyiakan umur dan kehidupannya. Guru juga mengambil janji yang kuat dari murid agar ia meminta kehalalan kepada para pemilik hak, mengembalikan segala kezaliman, meridhakan pihak-pihak yang pernah ia sakiti, serta berkomitmen untuk mengikuti sunnah Nabi, beramal dengan jalan kehati-hatian, menjauhi segala bentuk keringanan yang berlebihan, menghindari setiap bid‘ah, dan berpaling sepenuhnya dari berbagai kemungkaran serta sifat-sifat tercela. Setelah janji tersebut diikrarkan, guru dan murid bersama-sama membaca istighfar dengan lafaz tertentu, memohon ampunan kepada Allah atas seluruh dosa, kezaliman, dan kesalahan yang telah dilakukan terhadap diri sendiri. Kemudian guru membaca ayat Al-Qur’an yang berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang yang berbaiat kepadamu…” sebagai penegasan bahwa baiat tersebut hakikatnya adalah ikatan dengan Allah Ta‘ala. Sesudah itu guru dan murid meletakkan tangan mereka di atas lutut masing-masing dan memejamkan mata. Dalam keadaan hening tersebut, guru menyebut Nama Zat Allah di dalam hatinya dengan niat mengajarkan dan menalqinkan dzikir kepada hati murid, sebanyak tiga kali. Setelah proses talqīn selesai, keduanya mengangkat tangan untuk berdoa; guru memanjatkan doa sementara murid mengaminkannya. Kemudian mereka mengusap wajah dengan tangan masing-masing. Sebagai bentuk adab dan penghormatan, murid mencium lutut guru, lalu bangkit dari tempat duduknya, meminta izin, dan meninggalkan majelis. Sejak saat itu murid berkewajiban melaksanakan semua amalan yang diperintahkan oleh guru, menjaga hubungan batin dengan gurunya dalam setiap keadaan dan waktu, serta menepati janji dan ikatan baiat yang telah diikrarkan. Ia tidak diperkenankan mengingkari perjanjian tersebut hingga akhir hayatnya.” (Jami‘ al-Usul fi al-Auliya’: 206)

Ikhlas sebagai Ruh dan Kesempurnaan Baiat

Inti dari baiat adalah keikhlasan (الإخلاص) yang menjadi ruh setiap amal. Dalam ajaran tasawuf, ikhlas diartikan sebagai kemurnian niat semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharap keridhaan-Nya.

وَمَعْنَى الْإِخْلَاصِ أَنْ يَكُونَ قَصْدُ الْإِنْسَانِ فِي جَمِيعِ طَاعَاتِهِ وَأَعْمَالِهِ مُجَرَّدَ التَّقَرُّبِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَإِرَادَةَ قُرْبِهِ وَرِضَاهُ دُونَ غَرَضٍ آخَرَ مِنْ مُرَآتِ النَّاسِ أَوْ طَلَبِ مَحْمَدَةٍ مِنْهُمْ أَوْ طَمَعٍ فِيهِمْ. (كفاية الأتقياء،ص:٣٢)

“Makna ikhlas ialah bahwa tujuan seseorang dalam semua ketaatan dan amalnya semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala, mengharap kedekatan dan keridaan-Nya, bukan karena tujuan lain seperti pamer di hadapan manusia, mencari pujian, atau mengharap keuntungan dari mereka.” (Kifayah al-Atqiya’: 32)

Ibarah ini menegaskan bahwa keikhlasan adalah penyaring batin dari segala motif selain Allah. Maka, meskipun baiat terpaksa tetap sah secara lahir, namun nilainya di sisi Allah sangat bergantung pada kadar keikhlasan hati sang murid. Tanpa ikhlas, baiat menjadi sekadar formalitas, sedangkan dengan ikhlas, baiat menjadi jembatan ruhani yang menghubungkan hamba dengan Rabb-nya. 

وَالرَّابِعُ الْإِخْلَاصُ عِنْدَ فَرَاغِهِ، لِأَنَّ الْعَمَلَ لَا يُقْبَلُ بِغَيْرِ إِخْلَاصٍ، فَإِذَا عَمِلْتَ بِالْإِخْلَاصِ يَتَقَبَّلُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْكَ وَتُقْبِلُ قُلُوبُ الْعِبَادِ إِلَيْكَ. ( تنبيه الغافلين، ص: ١٤ )

“Keempat, ikhlas saat menyelesaikan amal, karena amal tidak akan diterima tanpa keikhlasan. Jika engkau beramal dengan ikhlas, niscaya Allah Ta‘ala akan menerimanya darimu, dan hati manusia pun akan cenderung kepadamu.” (Tanbih al-Ghofilin: 14)

Ibarah ini menjelaskan bahwa allah tidak akan menerima amal tanpa adanya keikhlasan hati dari seorang yang melakukan sebuah amal.

Penyebab keterpaksaan baiat seseorang dikarenakan masih terdapat banyak dosa, maka dari itu syekh Abdul wahab as-sya’roni menjelaskan dalam kitab anwar al-qudsiyyah tentang adab seorang murid sebelum berbaiat seharusnya bertaubat dari segala dosa lahir maupun batin.

 وَمِنْ شَأْنِهِ أَنْ لَا يَدْخُلَ فِي عَهْدِ شَيْخٍ حَتَّى يَتُوبَ مِنْ سَائِرِ الذُّنُوبِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ كَالْغِيبَةِ ، وَشُرْبِ الْخَمْرِ ، وَالْحَسَدِ ، وَنَحْوِ ذَلِكَ. (الأنوار القدسية،ص:٣٦)

"Dan seyogyanya (bagi seorang murid) untuk tidak masuk dalam perjanjian dengan seorang syekh (baiat thariqah) sebelum ia bertaubat dari seluruh dosa, baik dosa yang tampak maupun yang tersembunyi, seperti ghibah, meminum khamar, hasad, dan semacamnya." (Anwar al-Qudsiyyah: 36)  

KESIMPULAN 

Baiat dalam thariqah adalah ikatan spiritual antara murid dan mursyid untuk menempuh jalan mendekatkan diri kepada Allah, yang pada hakikatnya menuntut kesadaran, kerelaan, dan keikhlasan hati. Secara lahiriah, baiat yang dilakukan dengan terpaksa tetap dapat dinilai sah apabila memenuhi ketentuan thariqah, seperti dilakukan melalui talqin yang benar, oleh mursyid yang ma’dzun, serta memiliki sanad yang bersambung hingga Nabi Muhammad Saw.

Namun dalam pandangan tasawuf, keabsahan lahiriah saja belum mencukupi. Kesempurnaan baiat sangat bergantung pada kesiapan batin murid, yang tercermin dalam berpalingnya hati dari selain Allah, tawakal penuh kepada-Nya, serta komitmen menjaga adab syariat dan akhlak mulia. Keikhlasan menjadi ruh baiat tanpanya, baiat tidak memberikan dampak ruhani yang mendalam. Oleh karena itu, baiat yang dilakukan dengan terpaksa menunjukkan bahwa jiwa murid belum sepenuhnya siap, dan baru akan mencapai kesempurnaan apabila disertai taubat yang sungguh-sungguh, pelurusan niat, serta kesungguhan dalam menjalani bimbingan spiritual secara konsisten.



Penulis : Muhammad Zainul Arifin

Contact Person : 081906288879

e-Mail : arifinzainul.1512@gmail.com

Perumus : M. Ulul Albab M, S. Psi

Mushohih : Khoirun Ni’am, M. Ag


Daftar Pustaka

Muhammad As'ad saheb Zada Al-Utsmani al-Naqsabandi, Maktubah Hadrat Maulana Khalid, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon: cetakan pertama tahun 2012 M/ 1433 H.

https://qadiri-kasnazani.com/ar/sufi-bayah-ar/

Syekh Diya’ al-Din Abu Muḥammad Mutafa bin ‘Abd al-Rahman al-Qustantini al-Hanafi al-Khalidi (w. 1033 H), Jami‘ al-Usul fi al-Auliya’, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, tanpa tahun terbit, 1 jilid.

Abu Bakr Utsman bin Muhammad Syatha al-Dimyati (W. 1310 H), Kifayah al-Atqiyaʼ wa Minhaj al-Asfiyaʼ, Al-Khayriyyah, Kairo, Mesir, (1303 H).

Syekh nasr bin Muhammad bin Muhammad bin Ibrohim as samarqondi (w.373H), Tanbih al-ghofilin, maktabah al-aiman bil mansuroh, Mesir, cetakan pertama tahun 1445 H/ 1993 M, sebanyak 1 jilid.

Syekh Abdul Wahab As-Sya'roni, (W. 973 H), Anwar al-qudsiyyah, haromain, Singapura, Jeddah, indonesia, tanpa tahun.

===========================












Posting Komentar untuk "Pandangan Tasawuf Tentang Bai'at Thariqah Yang Dilakukan Dengan Terpaksa"