HUKUM TRANSAKSI WANITA SAAT SHALAT JUM’AT DAN BATASAN WAKTU LARANGANNYA
Shalat Jum’at merupakan ibadah yang wajib bagi setiap laki-laki muslim yang memenuhi syarat, dengan tujuan memperoleh pahala, mendekatkan diri kepada Allah, serta memperkuat ukhuwah umat Islam melalui khutbah. Dalam praktik kehidupan sehari-hari, terdapat sebagian masyarakat yang tetap melaksanakan kegiatan ekonomi, termasuk wanita yang melakukan transaksi jual beli, pada saat shalat jum’at berlangsung. Misalnya, seorang wanita pedagang di pasar tetap melayani pembeli atau menerima pembayaran dari pelanggan pada waktu shalat jum’at.
Bagaimana hukum seorang wanita yang melakukan transaksi jual beli saat terlaksananya shalat jum’at dan sampai kapan batasan waktunya, seperti pada deskripsi diatas?
A. Tidak Boleh
Tidak boleh jika wanita tersebut melakukan transaksi jual beli dengan orang yang wajib melaksanakan shalat jum’at.
B. Boleh
Boleh jika transaksi jual beli dilakukan dengan orang yang tidak diwajibkan melaksanakan sholat jum’at
وَخَرَجَ بِقَوْلِهِ مَنْ تَلْزَمُهُ الْجُمُعَةُ مَنْ لَا تَلْزَمُهُ فَلَا حُرْمَةَ عَلَيْهِ وَلَا كَرَاهَةَ لَكِنْ إِذَا تَبَايَعَ مَعَ مَنْ هُوَ مِثْلُهُ أَمَّا اِذَا تَبَايَعَ مَعَ مَنْ تَلْزَمُهُ حَرُمَ عَلَيْهِ أَيْضًا لِاِعَانَتِهِ عَلَى الْحَرَامِ وَقِيْلَ كُرِهَ لَهُ ذَلِكَ. (إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين: ج ٢، ص ٩٥)
“Dengan ungkapan ‘orang yang wajib jum‘at’, maka keluar darinya orang yang tidak wajib jum‘at, sehingga baginya tidak ada hukum haram dan tidak pula makruh. Namun hal itu jika ia berjual beli dengan orang yang sepadan dengannya (yang juga tidak wajib jum‘at). Adapun jika ia berjual beli dengan orang yang wajib jum‘at, maka hukumnya haram juga, karena berarti ia membantu dalam perbuatan haram. Ada pula pendapat yang mengatakan: hukumnya makruh baginya.” (‘Ianah al-Tholibin ‘Ala Halli al-fazh Fath al-Mu‘īn 2:95).
Batasannya
Haram menyibukkan diri seperti melakukan jual beli bagi orang yang wajib menjalankan shalat jumat ketika sudah memasuki adzan kedua shalat jumat.
Makruh bagi orang yang wajib shalat jumat ketika setelah zawal (matahari tergelincir) sebelum adzan kedua.
Boleh bagi orang yang wajib shalat jumat menyibukkan diri saat shalat jumat ketika dalam keadaan darurat.
(وَيَحْرُمُ عَلَى ذِيْ الْجُمُعَةِ) أَيْ مَنْ لَزِمَتْهُ (التَّشَاغُلُ) عَنِ السَّعْيِ إِلَيْهَا (بِالْبَيْعِ) أَوِ الشِّرَاءِ لِغَيْرِ مَا يُضْطَرُّ إِلَيْهِ (وَغَيْرِهِ) مِنْ كُلِّ الْعُقُوْدِ وَالصَّنَائِعِ وَغَيْرِهِمَا مِنْ كُلِّ مَا فِيْهِ شُغْلٌ عَنِ السَّعْيِ إِلَيْهَا وَإِنْ كَانَ عِبَادَةً (بَعْدَ الشُّرُوْعِ)، نَعَمْ مَنْ يَلْزَمُهُ السَّعْيُ قَبْلَ الْوَقْتِ يَحْرُمُ عَلَيْهِ التَّشَاغُلُ مِنْ حِيْنَئِذٍ (فِيْ الْأَذَانِ) الثَّانِيْ وَهُوَ الَّذِيْ (بَيْنَ يَدَيِ الْخَطِيْبِ)؛ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلَى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ﴾ [الجمعة: ٩]، فَيَحْرُمُ الْفِعْلُ وَقِيْسَ بِهِ كُلُّ شَاغِلٍ، وَيَحْرُمُ أَيْضًا عَلَى مَنْ لَمْ تَلْزَمْهُ مُبَايَعَةُ مَنْ تَلْزَمُهُ؛ لِإِعَانَتِهِ لَهُ عَلَى الْمَعْصِيَةِ . وَخَرَجَ بِالتَّشَاغُلِ فِعْلُ ذَلِكَ فِيْ الطَّرِيْقِ إِلَيْهَا وَهُوَ مَاشٍ أَوِ الْمَسْجِدِ وَإِنْ كُرِهَ فِيْهِ وَيُلْحَقُ بِالْمَسْجِدِ كُلُّ مَحَلٍّ يُعْلَمُ وَهُوَ فِيْهِ وَقْتَ الشُّرُوْعِ فِيْهَا وَيَتَيَسَّرُ لَهُ لُحُوْقُهَا، وَخَرَجَ بِذِيْ الْجُمُعَةِ مَنْ لَا تَلْزَمُهُ مَعَ مِثْلِهِ فَيُبَاحُ لَهُمَا (فَإِنْ بَاعَ صَحَّ)؛ لِأَنَّ النَّهْيَ لِمَعْنًى خَارِجٍ عَنِ الْعَقْدِ، (وَيُكْرَهُ قَبْلَ الْأَذَانِ بَعْدَ الزَّوَالِ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ)؛ لِدُخُوْلِ الْوَقْتِ فَرُبَّمَا فَوَّتَ، نَعَمْ إِنْ فَحُشَ التَّأْخِيرُ عَنْهُ كَمَا فِيْ مَكَّةَ لَمْ يُكْرَهْ؛ لِلضَّرُوْرَةِ. (مختصر تحفة المحتاج بشرح المنهاج: ج ٤، ص ٣٣٨).
“Diharamkan bagi orang yang terkena kewajiban shalat Jumat untuk menyibukkan diri dari bersegera menuju shalat Jumat dengan jual beli, atau pembelian, kecuali untuk perkara yang sangat darurat. Termasuk pula (yang haram dilakukan) semua akad-akad lainnya, pekerjaan-pekerjaan, dan seluruh aktivitas yang dapat menyibukkan dari bersegera menuju Jumat meskipun aktivitas itu berupa ibadah setelah adzan kedua dimulai. Adapun seseorang yang sudah wajib berangkat sebelum masuk waktu, maka ia juga haram menyibukkan diri sejak saat itu. Yang dimaksud azan kedua adalah azan yang dilakukan di hadapan khatib, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah menuju dzikir kepada Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al-Jumu‘ah: 9). Maka haram hukumnya melakukan perbuatan tersebut (jual beli), dan diqiyaskan (disamakan hukumnya) dengan jual beli adalah segala hal yang menyibukkan/melalaikan (dari salat Jumat). Diharamkan juga bagi orang yang tidak berkewajiban Jumat untuk melakukan transaksi dengan orang yang berkewajiban Jumat; karena hal itu termasuk menolong orang lain dalam kemaksiatan.
Dikecualikan dari kategori 'menyibukkan yang terlarang' adalah melakukan transaksi tersebut di tengah perjalanan menuju tempat Jumat sambil berjalan, atau di dalam masjid meskipun hukumnya makruh di sana. Disamakan dengan masjid adalah setiap tempat yang mana seseorang (ketika bertransaksi) dapat mengetahui waktu dimulainya salat Jumat dan memungkinkan baginya untuk menyusul jamaah. Dikecualikan pula dari kategori 'orang yang berkewajiban Jumat' adalah orang-orang yang sama-sama tidak wajib Jumat, maka diperbolehkan bagi keduanya untuk bertransaksi. (Maka jika ia menjual, (transaksinya) tetap sah), sebab larangan itu terkait dengan makna eksternal, bukan pada (esensi) akad. Makruh melakukan jual beli setelah zawal (matahari tergelincir) sebelum adzan kedua, karena waktu sudah masuk dan dikhawatirkan seseorang akan melewatkan Jumat. Namun, bila keterlambatannya sangat parah seperti yang terjadi di Makkah, maka tidak makruh, karena keadaan darurat.” (Mukhtasar Tuhfah al-Muhtaj bi Syarh al-Minhaj: 4, 338).
Penulis : Rohma Ningsih
Contact Person : 085852661342
e-Mail : rohmaningsih0112@gmail.com
Perumus : M. Faisol, S.Pd.
Mushohih : M. Faisol, S.Pd.
Daftar Pustaka
Abu Bakar (dikenal Sebagai al-Bakri) Utsman bin Muhammad Syatha al-Dimyati al-Syafi’i (W. 1310 H), I'anah al-Thalibin ‘Ala Halli al-fazh Fath al-Mu‘īn , Daar Ihya al-Kutub, Cet. Pertama, 1997M / 1418 H, Sebanyak 4 Jilid.
Mustafa bin Hamid bin Hasan bin Smith, Mukhtasar Tuhfah al-Muhtaj bi Syarh al-Minhaj, Markaz al-Nur li al-Dirasat wa al-Abhath Al-Tab‘ah, Hadramaut, Yaman, Cet. 2008 M, Sebanyak 4 jilid.
========================
========================
========================


%20Rohma%20Ningsih%20(4).png)
%20Rohma%20Ningsih%20(5).png)
Posting Komentar untuk "Hukum Transaksi Wanita Saat Shalat Jum’at Dan Batasan Waktu Larangannya "