KONSEP UZLAH DALAM PERSPEKTIF TASAWUF
LATAR BELAKANG
Uzlah merupakan praktik spiritual mendalam dalam tradisi tasawuf, di mana seorang salik berupaya memutuskan atau membatasi interaksi dengan hal-hal duniawi dan keramaian manusia untuk mengalihkan fokus hati sepenuhnya kepada Allah SWT.
Uzlah dalam tradisi sufisme atau tarekat sering disalahpahami atau selalu ditempatkan dalam pengertian yang negatif yaitu mengasingkan diri ke tempat-tempat sepi untuk kepentingan pribadi berupa pendekatan diri kepada Allah SWT. di satu sisi, dan meninggalkan tanggung jawabnya sebagai bagian dari anggota keluarga dan masyarakat di sisi lain. Tidak heran, banyak pihak, terutama di luar pelaku tarekat, yang apatis terhadap praktik dan urgensi uzlah dalam kehidupan seseorang.
Namun, pandangan ini sering kali mengabaikan dimensi holistik dan temporer dari praktik uzlah yang sesungguhnya diajarkan. Uzlah bukanlah tindakan pasif atau penolakan total terhadap dunia, melainkan sebuah penarikan diri secara terkontrol, yang tujuannya adalah untuk muhasabah dan melakukan pendalaman spiritual. Dengan menjauh sebentar dari hiruk pikuk urusan duniawi, seorang salik berkesempatan membersihkan hati dari kotoran batin dan fokus pada kualitas dzikir dan ibadahnya. Hasil dari uzlah seharusnya berupa kembalinya individu ke tengah masyarakat dengan membawa jiwa yang lebih stabil, visi yang lebih jernih, dan kemampuan yang lebih besar untuk menjalankan tanggung jawab sosial secara lebih efektif dan ikhlas. Oleh karena itu, uzlah harus dilihat sebagai sarana untuk memperkuat peran sosial, bukan sebagai penghindaran darinya.
PEMBAHASAN
Pengertian Uzlah
Uzlah adalah praktik mengasingkan diri atau menjauhkan jiwa dan raga dari keramaian makhluk untuk memfokuskan seluruh perhatian hanya kepada Allah SWT. sebuah kondisi batin yang penuh ketulusan dimana dzikir, taubat, dan istighfar dilakukan secara konsisten sebagai sarana pembersihan jiwa. Lebih dari sekadar pemisahan fisik dari keramaian,
بَيَانُ الْعُزْلَةِ. (وَأَمَّا الْعُزْلَةُ) فَإِنَّكَ إِذَا أَرَدْتَ الْوُصُوْلَ إِلَى اللّٰهِ فَاسْتَعِنُ بِااللّٰهِ وَاجْلِسْ عَلَى بِسَاطِ الْصِّدْقِ مُشَاهِدًا ذَاكِرًا اللّٰهِ ، وَارْبُطْ قَلْبَكَ بِالْعُبُوْدِيَّةِ الْمَحْضَةِ عَلَى سَبِيْلِ الْمَعْرِفَةِ وَلَازِمِ الذِّكْرَ وَالْمُرَاقَبَةَ وَالتَّوْبَةَ وَاْلِاسْتِغْفَارَ. (جامع الأصول في الأولياء: ص ٣٩)
Penjelasan tentang Uzlah. Adapun mengenai uzlah, sesungguhnya jika Anda menginginkan wushul kepada Allah, maka mintalah pertolongan kepada Allah. Duduklah di atas "hamparan kejujuran" sembari terus memandang (dengan mata batin) dan berdzikir kepada Allah. Ikatkanlah hati Anda pada penghambaan yang murni melalui jalan makrifat, serta rutinkanlah dzikir, muraqabah, tobat, dan istigfar.(Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’: 39)
Uzlah dalam pandangan Syekh Ziyauddin Ahmad bin Mushthafa bin Isma’il bin Utsman al-Kamusykhunawi al-Naqsyabandi al-Mujaddidi. bukanlah sekadar tindakan mengasingkan diri secara fisik, melainkan sebuah metode aktif untuk mencapai wushul kepada Allah dengan mengintegrasikan disiplin lahiriah dan batiniah secara harmonis. Inti dari praktek ini adalah menempatkan diri pada "hamparan kejujuran", sebuah metafora bagi ketulusan niat yang mendalam, di mana seorang hamba memperkuat ikatan penghambaan murni melalui pengenalan makrifat kepada Tuhannya. Uzlah tersebut dihidupkan melalui sinergi antara kesadaran batin yang terus-menerus merasa diawasi Allah, penyucian diri melalui taubat dan istighfar, serta konsistensi dzikir yang mengubah kesunyian menjadi ruang dialog spiritual yang intim.
Uzlah menurut Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi al-Syafi'i.
Seorang salik harus mengetahui bahwa tidak benar jika kita menetapkan bahwa uzlah itu selalu lebih baik atau selalu lebih buruk. Semuanya harus dilihat dari situasinya, siapa orangnya, bagaimana keadaannya, siapa teman yang akan bergaul dengannya, dan apa manfaat atau mudarat dari pergaulan tersebut. Dari sanalah seorang salik bisa melihat mana yang paling tepat untuk dirinya.
وَحَقُرَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ النَّظَرَ إِلَى مَتَاعِ الدُّنْيَا وَزَهْرَتِهَا حَتَّى اغْتَبَطَ بِعُزْلَتِهِ كُلُّ مَنْ طُوِيَتْ الْحُجُبُ عَنْ مَجَارِيْ فِكْرَتِهِ فَاسْتَأْنَسَ بِمُطَالَعَةِ سُبُحَاتِ وَجْهِهِ تَعَالَى فِيْ خَلْوَتِهِ. (إحياء علوم الدين: ج ٢، ص ٢٢٥)
Ia menghinakan dalam hati mereka untuk melihat kepada harta benda dan kembang dunia. Sehingga bergembiralah dengan uzlah itu tia-tiap orang yang telah terlipat hijab dari tempat jalan pemikirannya. Maka ia merasa jinak dan tentram, dengan membaca tasbih bagi wajah-Nya Allah Ta’ala dalam tempat kesunyiannya. (Ihya’ Ulum Ad-Din, 2: 225)
Ketika seseorang mulai merasakan kebahagiaan dalam kedekatan dengan Allah, harta dan kemewahan dunia yang biasanya terlihat menyilaukan akan menjadi tampak kecil dan tidak berarti lagi di mata hati mereka. Orang-orang ini merasa sangat bahagia dalam kesunyiannya karena penghalang batin yang selama ini menutupi pikiran mereka telah terbuka. Dalam keadaan tenang dan jauh dari kebisingan dunia, mereka tidak lagi merasa kesepian. Sebaliknya, mereka merasa sangat nyaman dan tentram karena seolah-olah bisa merasakan kehadiran Allah dan keagungan-Nya secara langsung di dalam hati mereka.
Uzlah menurut Imam Abu al-Qasim Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi
Menurut Imam Abu al-Qasim Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi, uzlah adalah salah satu tanda bahwa hati seseorang mulai tersambung erat dengan Allah SWT. Bagi seorang pemula dalam perjalanan spiritual, langkah awal yang sebaiknya dilakukan adalah uzlah, yaitu menarik diri dari hal-hal duniawi dan pergaulan yang melalaikan. Setelah ia semakin mendalam dalam perjalanannya, ia bisa berpindah ke khalwat di akhir perjalanannya. Tujuannya adalah agar hatinya bisa merasakan kelembutan, ketenangan, dan keakraban yang mendalam dengan Allah SWT. sehingga sifat-sifat baik dalam dirinya bisa tercapai sepenuhnya.
إِنَّ الْخَلْوَةَ صِفَةُ أَهْلِ الصَّفْوَةِ ؛ وَالْعُزْلَةُ مِنْ أَمَارَاتِ الْوَصْلَةِ، وَلَا بُدَّ لِلْمُرِيْدِ فِيْ ابْتِدَاءِ حَالِهِ مِنَ الْعُزْلَةِ عَنْ أَبْنَاءِ جِنْسِهِ ، ثُمَّ فِيْ نِهَايَتِهِ مِنَ الْخَلْوَةِ لِتَحَقُّقِهِ بِأُنْسِهِ. (الرسالة القشيرية: ص ١٠١)
Khalwat merupakan sifat ahli sufi. Sedangkan uzlah merupakan bagian dari tanda bahwa seseorang bersambung dengan Allah Swt. Seharusnya bagi murid pemula agar uzlah dari bentuk-bentuk eksistensial kemudian di akhir perjalanannya melakukan khalwat sehingga sikap lemah lembut dapat tercapai. (Risalah Al-Qusyairiyah: 101)
Menyendiri dari keramaian atau uzlah adalah langkah awal yang sangat penting bagi seseorang yang ingin fokus mendekatkan diri kepada Allah. Dengan menjauh sejenak dari gangguan duniawi, hati menjadi lebih tenang dan siap untuk memasuki tahap khalwat, yaitu kesunyian yang penuh makna di mana seseorang merasa sangat dekat dan nyaman hanya dengan kehadiran Sang Pencipta. Praktik ini bukan sekadar mengasingkan diri, melainkan cara para penempuh jalan spiritual untuk membersihkan batin sehingga mereka bisa merasakan kelembutan cinta Allah secara nyata di dalam hidupnya.
Khalwat adalah tradisi dalam tarekat untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menyepi. Mereka yang menjalani khalwat adalah para pelaku suluk, meskipun esensinya harus dilakukan oleh umat Islam dan kaum beriman secara keseluruhan. Khalwat secara bahasa berasal dari akar kata khala yang berarti sepi, dan dari akar kata ini praktek khalwat adalah praktik menyepi untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Tujuan uzlah menurut Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi al-Syafi'i.
Menurut Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i., tujuan utama dari uzlah adalah untuk mencapai derajat keikhlasan mutlak dan kekhusyukan abadi yang sulit dicapai di tengah keramaian. Uzlah berfungsi melindungi hati dari berbagai penyakit spiritual yang ditimbulkan oleh interaksi sosial, seperti riya', ghibah , hasad, dan segala bentuk dosa lisan yang merusak amal. Sebagai pembangunan diri, uzlah memberikan waktu yang hening dan fokus untuk menyibukkan diri dengan tafakur tentang keagungan Allah, serta melatih jiwa agar senantiasa berdzikir, sehingga meningkatkan makrifat kepada Sang Pencipta dan merasakan kenikmatan ibadah yang sebenarnya. Dengan demikian, uzlah adalah metode yang sangat efektif untuk memastikan keselamatan agama seseorang, terutama ketika lingkungan sekitarnya dipenuhi fitnah dan kemaksiatan
وَلِهَذَا قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: لَا يَتَمَكَّنُ أَحَدٌ مِنَ الْخَلْوَةِ إِلَّا بِالتَّمَسُّكِ بِكِتَابِ اللّٰهِ تَعَالَى، وَالْمُتَمَسِّكُونَ بِكِتَابِ اللّٰهِ تَعَالَى هُمُ الَّذِينَ اسْتَرَاحُوا مِنَ الدُّنْيَا بِذِكْرِ اللّٰهِ، الذَّاكِرُوْنَ اللّٰهِ بِاللّٰهِ عَاشُوْا بِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَاتُوْا بِذِكْرِ اللّٰهِ وَلَقُوْا اللّٰهُ بِذِكْرِ اللّٰهِ، وَلَا شَكَّ فِيْ أَنَّ هَؤُلَاءِ تَمْنَعُهُمُ الْمُخَالَطَةُ عَنِ الْفِكْرِ وَالذِّكْرِ، فَالْعُزْلَةُ أَوْلَى بِهِمْ.(إحياء علوم الدين : ج ٢، ص ٢٣١)
"Dan karena itulah sebagian ahli hikmah berkata: 'Tidak seorang pun mampu melakukan khulwah kecuali dengan berpegang teguh pada Kitab Allah Ta'ala,' dan orang-orang yang berpegang teguh pada Kitab Allah Ta'ala adalah mereka yang beristirahat dari dunia dengan dzikir kepada Allah. Orang-orang yang mengingat Allah, dengan pertolongan Allah, mereka hidup dengan dzikir kepada Allah, mereka mati dengan dzikir kepada Allah, dan mereka bertemu Allah dengan dzikir kepada Allah, dan tidak diragukan lagi bahwa pergaulan akan menghalangi mereka dari berpikir dan berdzikir, maka dari itu uzlah adalah lebih utama bagi mereka." (Ihya' Ulum Ad-Din, 2:231)
Menyendiri dalam kesunyian bukanlah hal yang mudah dilakukan kecuali jika seseorang menjadikan Al-Qur'an sebagai pegangan hidupnya. Bagi mereka yang mencintai Allah, berdzikir adalah cara terbaik untuk beristirahat dari rasa lelah menghadapi urusan dunia. Seluruh hidup mereka mulai dari saat mereka bernapas, wafat, hingga kelak bertemu dengan Sang Pencipta selalu diisi dengan mengingat Allah. Karena interaksi yang terlalu sering dengan orang lain terkadang bisa mengganggu fokus dan ketenangan batin dalam beribadah, maka memilih untuk sedikit menjauh dari keramaian (uzlah) menjadi jalan terbaik agar mereka bisa tetap fokus menjaga hubungan spesial dengan Allah tanpa gangguan.
Tujuan uzlah menurut Imam Abu al-Qasim Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi
Menurut Imam Abu al-Qasim Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi, tujuan utama dari uzlah adalah untuk menjamin keselamatan batin dan memelihara keikhlasan hakiki seorang salik. Beliau memandang uzlah sebagai tindakan preventif yang esensial, bertujuan untuk melindungi diri dari berbagai bahaya dan fitnah yang muncul dari interaksi sosial terutama keluputan lisan seperti ghibah dan penyakit hati seperti hasad dan riya'. Dengan menyendiri, hati dapat dengan mudah mencapai ketenangan dan khusyuk yang diperlukan untuk dzikir, muhasabah, dan muraqabah, memastikan bahwa seluruh amal ibadah dilakukan hanya karena Allah tanpa terpengaruh oleh pandangan atau pujian manusia. Oleh karena itu, bagi Imam al-Qusyairi, uzlah menjadi pilihan yang lebih utama dan aman jika pergaulan hanya mendatangkan kerugian dan melalaikan dari ketaatan.
وَمِنْ حَقِّ الْعَبْدِ إِذَا آثَرَ الْعُزْلَةَ أَنْ يَعْتَقِدَ بِاعْتِزَالِهِ عَنِ الْخَلْقِ سَلَامَةَ النَّاسِ مِنْ شَرِّهِ، وَلَا يَقْصِدَ سَلَامَتَهُ مِنْ شَرِّ الْخَلْقِ. فَإِنَّ اْلْأَوَّلَ مِنَ الْقِسْمَيْنِ: نَتِيْجَةُ اسْتِصْغَارِ نَفْسِهِ، وَالثَّانِيْ: شُهُوْدُ مَزِيَّتِهِ عَلَى الْخَلْقِ. وَمَنِ اسْتَصْغَرَ نَفْسَهُ فَهُوَ مُتَوَاضِعٌ، وَمَنْ رَأَى لِنَفْسِهِ مَزِيَّةً عَلَى أَحَدٍ فَهُوَ مُتَكَبِّرٌ. (الرسالة القشيرية: ص ١٠٢)
Hakikat seorang hamba yang melaksanakan ‘uzlah hendaknya diniatkan karena Allah dengan maksud menjaga keselamatan orang lain dari niat buruknya kepadanya. Dan jangan bermaksud menjaga keselamatan dirinya sendiri dari niat buruk orang lain. Karena pernyataan pertama merupakan kesimpulan dari sikap rendah diri. Sedangkan pernyataan kedua merupakan penonjolan sikap istimewa dari diri sendiri. Orang yang rendah diri adalah orang yang tawadhu’. Sedangkan orang yang memandang dirinya istimewa adalah orang yang sombong. (Ar-Risalah Al-Qusyairiyah: 102)
Tujuan Uzlah adalah meninggalkan sebagian pergaulan untuk menjaga agama, memperbaiki hati, dan menghindari hal-hal yang dapat merusak amalan. bukan penarikan diri total dari masyarakat, tetapi penyendirian yang terukur, dilakukan pada waktu dan kondisi yang tepat, dengan niat memperbaiki kualitas batin.
Para ulama berbeda pendapat mengenai keutamaannya, karena uzlah memiliki dua sisi:
sisi keselamatan dan penjagaan diri
sisi potensi kehilangan manfaat dakwah dan interaksi sosial
Tata Cara Uzlah
Untuk mencapai wushul kepada Allah dengan cara ber uzlah ada tata cara atau adab yang harus dilakukan oleh murid. Imam Abu al-Qasim Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi menjelaskan bahwa tata cara uzlah yang paling utama bukanlah sekadar pengasingan fisik secara total, melainkan lebih kepada uzlah batin yang dilakukan dengan syarat dan adab yang ketat.
وَمِنْ آدَابِ الْعُزْلَةِ أَنْ يُحَصِّلَ مِنَ الْعُلُوْمِ عَلَى مَا يُصَحِّحُ بِهِ عَقْدَ تَوْحِيْدِهِ، لِكَيْ لَا يَسْتَهْوِيَهُ الشَّيْطَانُ بِوَسَاوِسِهِ ، ثُمَّ يُحَصِّلَ مِنْ عُلُوْمِ الشَّرْعِ عَلَى مَا يُؤَدِّيْ بِهِ فَرْضَهُ لِيَكُوْنَ بِنَاءُ أَمْرِهِ عَلَى أَسَاسٍ مُحْكَمٍ، وَالْعُزْلَةُ فِيْ الْحَقِيْقَةِ اِعْتِزَالُ الْخِصَالِ الذَّمِيْمَةِ، فَالتَّأْثِيْرُ لِتَبْدِيْلِ الصِّفَاتِ لَا لِلتَّنَائِيْ عَنِ اْلْأَوْطَانِ، وَلِهَذَا قِيْلَ : مَنِ الْعَارِفُ؟ قَالُوْا : كَائِنٌ بَائِنٌ ، يَعْنِيْ : كَائِنٌ مَعَ الْخَلْقِ ، بَائِنٌ عَنْهُمْ بِالسِّرِّ. (الرسالة القشيرية: ص ١٠٢)
Sebagian dari tata cara uzlah adalah untuk memperoleh ilmu-ilmu yang dibenarkan oleh akidah tauhid agar dia tidak diganggu oleh setan. Selain itu untuk memperoleh ilmu-ilmu syariat atas dasar kewajiban sehingga bentuk perintahnya menjadi pondasi yang kuat dan akurat. Uzlah secara esensial menghindarkan dari perilaku tercela. Sedangkan urgensinya dapat direalisasikan untuk menggantikan berbagai sifat, bukan untuk menjauhkan diri dari tanah air. Dalam konteks seperti ini dapat diajukan pertanyaan, "Siapakah orang yang ma'rifat itu?" jawabnya, "Orang yang selalu ada tetapi jauh, yakni dia selalu bersama dengan orang lain, tetapi hatinya jauh dari mereka". (Risalah Al-Qusyairiyah:102)
Dalam kitab al-Risalah al-Qusyairiyah, dijelaskan bahwa tata cara uzlah yang benar harus didasari oleh pemahaman agama yang kuat, yaitu memiliki dasar tauhid agar tidak mudah tersesat oleh godaan setan serta memahami ilmu syariat agar ibadahnya memiliki pondasi yang kokoh. Namun, hakikat uzlah yang sebenarnya bukanlah sekadar menjauh secara fisik dari tempat tinggal atau keramaian, melainkan upaya untuk menjauhkan diri dari sifat-sifat buruk dan mengubah karakter menjadi lebih baik. Oleh karena itu, orang yang sudah mencapai tingkat makrifat sejati dijuluki sebagai sosok yang "ada tetapi jauh", yang artinya secara fisik ia tetap berada di tengah-tengah masyarakat dan bergaul dengan orang lain, namun secara batiniah hatinya tetap terjaga dan hanya terhubung sepenuhnya dengan Allah.
Manfaat Uzlah
Uzlah juga memiliki banyak manfaat dalam perjalanan menuju wushul kepada Allah. Uzlah juga memberikan serangkaian manfaat mendalam yang langsung menyentuh kualitas batin dan pengembangan diri seseorang. Banyak sekali manfaat yang akan didapatkan ketika beruzlah. Tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri, orang lain juga akan merasakan manfaatnya apabila kita beruzlah dengan cara bergaul dengan orang lain.
Manfaat yang dapat diperoleh dari uzlah, seperti:
Mampu menjalankan ketaatan kepada Allah dalam kesendirian.
(اَلْفَائِدَةُ اْلْأُوْلَىٰ) التَّفَرُّغُ لِلْعِبَادَةِ وَالْفِكْرِ وَاْلِاسْتِئْنَاسِ بِمُنَاجَاةِ اللّٰهِ تَعَالَى عَنْ مُنَاجَاةِ الْخَلْقِ وَاْلِاشْتِغَالُ بِاسْتِكْشَافِ أَسْرَارِ اللّٰهِ تَعَالَى فِيْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَاْلْآخِرَةِ وَمَلَكُوْتِ السَّمَاوَاتِ وَاْلْأَرْضِ فَإِنَّ ذَلِكَ يَسْتَدْعِيْ فَرَاغًا وَلَا فَرَاغَ مَعَ الْمُخَالَطَةِ فَالْعُزْلَةُ وَسِيْلَةٌ إِلَيْهِ.(إحياء علوم الدين: ج ٢، ص ٢٣٠-٢٣١)
(Faedah yang pertama) Mengosongkan diri untuk beribadah, berfikir, mencari kejinakan hati dengan bermunajat dengan Allah Ta'ala daripada berbisik-bisik dengan manusia, menyibukkan diri dengan menyingkap rahasia-rahasia Allah Ta'ala tentang urusan dunia dan akhirat, kerajaan langit dan bumi, maka sesungguhnya demikian itu meminta kekosongan dan tiada kekosongan beserta mukhalathah. Maka uzlah adalah perantara kepadanya. (Ihya' Ulum Ad-Din, 2:230-231)
Manfaat pertama dari uzlah adalah agar seseorang memiliki waktu dan pikiran yang benar-benar fokus untuk beribadah dan merenung tanpa gangguan. Dengan menjauh sejenak dari keramaian manusia, hati menjadi lebih tenang dan merasa nyaman saat berkomunikasi langsung dengan Allah melalui doa dan munajat. Kondisi yang sunyi ini sangat diperlukan untuk memahami rahasia kebesaran Allah, baik yang ada di bumi maupun di langit, serta mendalami hakikat kehidupan dunia dan akhirat. Karena fokus yang mendalam seperti ini mustahil bisa didapatkan jika kita terus-menerus sibuk bergaul dengan orang lain, maka menyendiri menjadi jalan utama untuk mencapai kedekatan spiritual yang berkualitas tersebut.
Terlepas dari perbuatan maksiat yang dihadapi oleh manusia pada umumnya yang disebabkan oleh mukhalathah (bergaul dengan masyarakat)
(اْلفَائِدَةُ الثَّانِيَةُ) التَّخَلَّصُ بِالْعُزْلَةِ عَنِ الْمَعَاصِيْ الَّتِيْ يَتَعَرَّضُ اْلإِنسَانُ لَهَا غَالِبًا بِالْمُخَالَطَةِ وَيَسْلَمُ مِنْهَا فِيْ الْخَلْوَةِ، وَهِيَ أَرْبَعَةٌ: الْغِيْبَةُ، وَالنَّمِيْمَةُ، وَالرِّيَاءُ، وَالسُّكُوْتُ عَنِ اْلأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَمُسَارَقَةُ الطَّبْعِ مِنَ اْلأَخْلَاقِ الرَّدِيْئَةِ وَاْلأَعْمَالِ اْلخَبِيْثَةِ الَّتِيْ يُوْجِبُهَا الْحِرْصُ عَلَى الدُّنْيَا. (إحياء علوم الدين: ج ٢، ص ٢٣٢)
(Faedah yang kedua) Terlepas dengan uzlah dari perbuatan-perbuatan maksiat yang dihadapi oleh manusia pada umumnya disebabkan mukhalathah dan ia selamat daripadanya di waktu khalwah. Perbuatan-perbuatan maksiat itu ada empat yaitu: mengumpat, mengadu domba, riya dan diam dari amar ma'ruf dan nahi mungkar dan saling mencuri tabiat dari akhlak yang buruk dan perbuatan yang keji yang ditimbulkan oleh kerakusan terhadap dunia. (Ihya' Ulum Ad-Din, 2:232)
Manfaat kedua dari uzlah menurut Imam Al-Ghazali adalah sebagai sarana untuk menjauhkan diri dari berbagai dosa yang biasanya muncul saat kita berkumpul dengan orang lain. Dengan menghindari interaksi yang tidak perlu, seseorang bisa selamat dari maksiat. Serta sikap diam saat melihat kesalahan orang lain. Selain itu, menyendiri juga mencegah kita "menular" atau secara tidak sadar meniru sifat-sifat buruk dan perilaku rakus duniawi dari lingkungan pergaulan yang kurang baik. Intinya, dengan menciptakan jarak sosial, kita sedang memberikan ruang aman bagi jiwa agar tetap bersih dari pengaruh-pengaruh buruk yang sering kali sulit dihindari dalam keramaian.
Terbebas dari fitnah dan permusuhan, terpelihara agama dan jiwanya
(اَلْفَائِدَةُ الثَّالِثَةُ) الْخَلَاصِ مِنَ الْفِتَنِ وَالْخُصُوْمَاتِ وَصِيَانَةُ الدِّيْنِ وَالنَّفْسِ عَنِ الْخَوْضِ. (إحياء علوم الدين: ج ٢، ص ٢٣٦)
(Faedah yang ketiga) Terbebas dari fitnah-fitnah dan permusuhan-permusuhan, terpelihara agama dan jiwa daripada bergelimang padanya dan dari menghadapi segala bahayanya. (Ihya' Ulum Ad-Din, 2: 236)
Faedah ketiga Imam Al-Ghazali ini menekankan bahwa dengan membatasi pergaulan, seseorang dapat menjauhkan diri dari pusaran konflik dan berita bohong yang sering kali merusak kedamaian hidup. Manfaat utamanya adalah untuk memagari kualitas ibadah dan kesehatan mental agar tidak terseret ke dalam pertikaian atau permusuhan yang melelahkan. Dengan menjauhi keributan sosial, kita sebenarnya sedang membentengi diri dari risiko perbuatan dosa dan bahaya yang muncul akibat perselisihan, sehingga hati tetap bersih dan fokus pada jalur ketaatan tanpa terganggu oleh kekacauan di luar sana.
Terbebas dari kejahatan manusia
(الْفَائِدَةُ الرَّابِعَةُ) الْخَلَاصِ مِنْ شَرِّ النَّاسِ. فَإِنَّهُمْ يُؤْذُوْنَكَ مَرَّةً بِالْغِيْبَةِ، وَمَرَّةً بِسُوْءِ الظَّنِّ وَالتُّهْمَةِ بِاْلِاقْتِرَاحَاتِ وَاْلأَطْمَاعِ الْكَاذِبَةِ الَّتِيْ يَعْسُرُ الْوَفَاءُ بِهَا، وَتَارَةً بِالنَّمِيْمَةِ أَوِ الْكَذِبِ. فَرُبَّمَا يَرَوْنَ مِنْكَ مِنَ اْلأَعْمَالِ أَوِ اْلأَقْوَالِ مَا لَا تَبْلُغُ عُقُوْلُهُمْ كُنْهَهُ، فَيَتَّخِذُوْنَ ذٰلِكَ ذَخِيْرَةً عِنْدَهُمْ يَدَّخِرُوْنَهَا لِوَقْتٍ تَظْهَرُ فِيْهِ فُرْصَةٌ لِلشَّرِّ. (إحياء علوم الدين: ج ٢، ص ٢٣٧)
(Faedah keempat) Terbebas dari kejahatan manusia, sesungguhnya manusia itu menyakitimu sekali dengan mengumpat, sekali dengan buruk sangka dan tuduhan, sekali dengan pikiran-pikiran dan loba yang palsu yang sulit memenuhinya dan sekali dengan adu domba atau dusta. Kadang-kadang mereka melihat dari padamu dari perbuatan atau perkataan apa yang akal mereka tidak sampai kepada hakekatnya lalu mereka menjadikan demikian itu sebagai simpanan pada mereka, mereka menyimpannya untuk suatu waktu dimana tampak kesempatan untuk berbuat kejahatan. (Ihya' Ulum Ad-Din, 2: 237)
Pada faedah ke empat, Imam Al-Ghazali ini menjelaskan bahwa salah satu manfaat menjaga jarak dari keramaian adalah agar kita selamat dari berbagai gangguan sosial yang menyakitkan hati. Manusia sering kali menyakiti sesamanya melalui ucapan buruk seperti ghibah, prasangka negatif, tuduhan palsu, hingga tuntutan-tuntutan yang sulit dipenuhi. Terkadang, orang lain salah paham terhadap perkataan atau perbuatan kita karena keterbatasan pemikiran mereka, lalu menyimpan kesalahan tersebut sebagai "senjata" untuk menjatuhkan kita di masa depan saat ada kesempatan. Dengan membatasi interaksi yang tidak perlu, kita bisa menjaga ketenangan batin dan terhindar dari lingkaran permusuhan, sehingga fokus kita tidak lagi terganggu oleh komentar atau niat buruk orang lain dan bisa sepenuhnya diarahkan untuk memperbaiki diri di hadapan Allah.
Terbebas dari kerakusan manusia pada seorang dan kerakusan salik kepada manusia.
(اَلْفَائِدَةُ الْخَامِسَةُ) أَنْ يَنْقَطِعَ طَمَعُ النَّاسِ عَنْكَ وَيَنْقَطِعَ طَمَعُكَ عَنِ النَّاسِ. (إحياء علوم الدين: ج ٢، ص ٢٣٨)
(Faedah yang kelima) Bahwa kerakusan manusia dari padamu terputus dan kerakusan mu daripada manusia juga terputus. (Ihya' Ulum Ad-Din, 2: 238)
Menurut Imam Al-Ghazali ini menjelaskan tentang pentingnya memiliki kemandirian hati agar kita bisa hidup lebih tenang dan fokus kepada Allah. Artinya, kita melatih diri agar tidak lagi merasa terbebani oleh ekspektasi atau keinginan orang lain terhadap kita, dan sebaliknya, kita juga berhenti berharap pada pujian, bantuan, atau milik orang lain. Ketika mata rantai "saling berharap" antarmanusia ini putus, hati kita menjadi merdeka dan tidak lagi mudah kecewa. Dengan cara inilah seseorang bisa mencapai keikhlasan yang murni, karena ia tidak lagi mencari penilaian dari sesama makhluk, melainkan hanya mengharapkan ridha dari Allah semata.
Terbebas dari orang-orang yang buruk perangainya
(اَلْفَائِدَةُ السَّادِسَةُ) اَلْخَلَاصُ مِنْ مُشَاهَدَةِ الثُّقَلَاءِ وَالْحَمْقَى وَمُقَاسَاةِ حُمْقِهِمْ وَأَخْلَاقِهِمْ، فَإِنَّ رُؤْيَةَ الثَّقِيْلِ هِيَ الْعَمَى الْأَصْغَرُ. (إحياء علوم الدين: ج ٢، ص ٢٣٩)
(Faedah yang keenam) Terbebas daripada menyaksikan orang-orang yang berat pada perangainya dan orang-orang yang dungu dan daripada kerasnya kedunguan dan akhlak mereka karena melihat orang yang berat perangainya itu adalah buta kecil. (Ihya' Ulum Ad-Din, 2: 239)
Manfaat beruzlah tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri. Manfaat uzlah juga bisa dirasakan oleh orang lain ketika seorang salik ber uzlah dengan cara bergaul dengan masyarakat, yakni dengan cara Mengajar dan belajar, mampu memberi manfaat dan bermanfaat kepada orang lain, mendidik adab dan belajar adab, tawadhu’, melatih sifat-sifat batinnya dan akhlaknya.
فَانْظُرْ إِلَى فَوَائِدِ الْمُخَالَطَةِ وَالدَّوَاعِيْ إِلَيْهَا مَا هِيَ، وَهِيَ التَّعْلِيْمُ وَالتَّعَلُّمُ وَالنَّفْعُ وَاْلِانْتِفَاعُ وَالتَّأْدِيْبُ وَالتَّأَدُّبُ وَاْلِاسْتِئْنَاسُ وَاْلْإِينَاسُ وَنَيْلُ الثَّوَابِ وَإِنَالَتُهُ فِيْ الْقِيَامِ بِالْحُقُوْقِ، وَاعْتِيَادُ التَّوَاضُعِ وَاسْتِفَادَةُ التَّجَارِبِ مِنْ مُشَاهَدَةِ اْلْأَحْوَالِ وَاْلِاعْتِبَارِ بِهَا. (إحياء علوم الدين: ج ٢، ص ٢٤٠)
Maka perhatikanlah kepada faedah-faedah bergaul dan apa-apa yang mendorong kepadanya apa itu? Yaitu mengajar, belajar, memberi manfaat, mendapat manfaat, mendidik adab, belajar adab, memperoleh kejinakan hati, memperoleh pahala, memperolehkan pahala pada melaksanakan hak-hak, membiasakan diri rendah diri, mengambil manfaat, pengalaman dari menyaksikan hal ihwal dan mengambil ibarat dengannya. (Ihya' Ulum Ad-Din, 2: 240)
Dalam melakukan uzlah, seseorang hendaklah bertujuan untuk menghindarkan diri dari akibat tindakan orang-orang, supaya terbebas dan terhindar dari dari kesalahan dan kekurangan dalam memenuhi kewajiban terhadap kaum muslimin.
Kesimpulan
Uzlah dalam perspektif tasawuf bukanlah sebuah tindakan isolasi pasif atau pengabaian terhadap tanggung jawab sosial, melainkan sebuah strategi spiritual yang terkontrol untuk mencapai tingkatan wushul kepada Allah SWT. Berdasarkan pandangan para ulama seperti Syekh Ziyauddin Ahmad bin Mushthafa bin Isma’il bin Utsman al-Kamusykhunawi al-Naqsyabandi al-Mujaddidi, Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi al-Syafi'i, dan Imam Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thalhah bin Muhammad al-Qusyairi al-Naisaburi, uzlah merupakan proses penyucian batin yang mengharuskan seorang salik untuk duduk di atas "hamparan kejujuran" dengan memperkuat dzikir, muraqabah, serta taubat. Hakikat dari praktek ini adalah pemutusan keterikatan hati dengan duniawi untuk memfokuskan seluruh perhatian kepada Sang Pencipta.
Bagi salik, pelaku jalan ruhani yang telah mencapai tingkat sempurna, konsep uzlah yang lebih ditekankan dan lebih utama adalah uzlah qalbu (uzlah hati), atau dalam bahasanya sendiri adalah uzlah ruhiyah, yaitu uzlah yang dilakukan bukan di tempat-tempat sepi, melainkan di tempat-tempat umum, namun hati merasa tetap tertuju kepada Allah Swt. Selain itu, uzlah dapat dilakukan oleh siapa saja karena, pada dasarnya, uzlah adalah praktik permenungan atau pengendapan hati dan pikiran untuk berdzikir kepada Allah Swt. Manfaat dari praktik uzlah mencakup perlindungan menyeluruh terhadap agama dan jiwa dari fitnah, permusuhan, serta sifat rakus manusia. Dengan membatasi interaksi yang tidak perlu, seorang hamba dapat mengosongkan diri dari kebisingan duniawi untuk menyingkap rahasia kebesaran Allah dan mencapai kebahagiaan sejati dalam kemerdekaan hati dari ekspektasi makhluk. Akhirnya, uzlah dipandang sebagai sarana pengisian ulang energi spiritual yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas interaksi sosial melalui pengajaran adab, sikap saling memberi manfaat, dan kemampuan mengambil ibarat dari setiap peristiwa, sehingga keselamatan batin terjaga tanpa kehilangan peluang untuk meraih pahala dalam kehidupan bermasyarakat.
Penulis : Rifda Rifdiana
Contact Person : 081938856378
e-Mail : rifdarifdiana53@gmail.com
Perumus : Abidusy Syakur Almahbub
Mushohih : Syafi` Dzulhilmi, S.TP.
Daftar Pustaka
Ahmad ibn Mustafa al-Kamshikhanawi al-Naqshabandi al-Khalidi (w. 1311 H/1893 M). Jami’ al-Ushul fi al-Auliya. Al-Intishar Al-Arabi. Beirut, Lebanon: Cetakan Pertama, 1997.
Abul Qasim Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thalhah bin Muhammad al-Qusyairi (W.465 H), al-Risalah al-Qusyairiyyah fi 'Ilm al-Tashawwuf, Dar Jawami' Al-Kalim, Kairo, Mesir, tanpa tahun.
Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad Ibn Muhammad al-Ghazali al-Tusy (W. 505 H), Ihya' Ulumuddin, Daar al-Ma'rifat, Beirut, Lebanon (1402 H-1982 M), sebanyak 4 jilid


.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
Posting Komentar untuk "Konsep Uzlah Dalam Perspektif Tasawuf"