ANTARA ADAB SPIRITUAL DAN KEPATUHAN SYARIAT
LATAR BELAKANG
Dalam tradisi tasawuf, hubungan antara seorang salik (penempuh jalan spiritual) dan mursyid (pembimbing rohani) merupakan pilar utama. Mursyid bukan sekadar pengajar, melainkan pembimbing batin menuju tazkiyah al-nafs (penyucian jiwa). Namun, di era modern, sering muncul dinamika dimana salik merasa tidak cocok atau menolak perintah mursyid. Fenomena ini menuntut pemahaman yang jernih: kapan seorang murid harus patuh total, dan pada titik mana syariat memberikan batasan?
PEMBAHASAN
Prinsip Ketaatan dan Larangan Bertanya "Mengapa"
Dalam perkara yang bersifat pendidikan rohani, seorang murid dilarang keras membantah tindakan gurunya. Hal ini didasarkan pada ibaroh dalam kitab Tanwir al-Qulub:
(وَمِنْهَا) أَنْ لَا يَعْتَرِضَ عَلَيْهِ فِيْمَا فَعَلَهُ وَلَوْ كَانَ ظَاهِرُهُ حَرَامًا، وَلَا يَقُوْلَ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا؟ لِأَنَّ مَنْ قَالَ لِشَيْخِهِ: "لِمَ"، لَا يُفْلِحُ أَبَدًا. فَقَدْ تَصْدُرُ مِنَ الشَّيْخِ صُوْرَةٌ مَذْمُوْمَةٌ فِيْ الظَّاهِرِ وَهِيَ مَحْمُوْدَةٌ فِيْ الْبَاطِنِ، كَمَا وَقَعَ لِلْخَضِرِ مَعَ مُوْسَى عَلَيْهِمَا السَّلَامُ. (تنوير القلوب في معاملة علام الغيوب. ص: ٥٨٠)
“Diantara adab murid terhadap guru tidak boleh mengingkari gurunya atas apa yang gurunya lakukan, sekalipun secara lahir tampak seperti perbuatan yang haram, dan jangan berkata kepadanya: ‘Mengapa engkau melakukan itu?’ Sebab siapa yang berkata kepada gurunya ‘mengapa’, maka ia tidak akan pernah berhasil. Terkadang dari seorang guru muncul suatu perbuatan yang dalam lahirnya tercela, namun dalam batinnya terpuji sebagaimana yang terjadi antara nabi Khidir A.s dan nabi Musa A.s.” (Tanwir al-Qulub fī Mu‘amalah ‘allam al-Ghuyub, hlm. 580)
Ketaatan ini bukan tanpa alasan, melainkan karena guru dipandang sebagai pintu menuju kehadiran Allah. Kitab Al-Anwar al-Qudsiyah menegaskan:
وَمِنْ شَأْنِهِ أَنْ لَا يَقُوْلَ لِشَيْخِهِ قَطُّ: لِمَ، فَقَدْ أَجْمَعَ اْلْأَشْيَاخُ عَلَى أَنَّ كُلَّ مُرِيْدٍ قَالَ لِشَيْخِهِ: لِمَ، لَا يُفْلِحُ فِيْ الطَّرِيْقِ. وكَانَ الشَّيْخُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ الْجَلِيْلِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُوْلُ: رُبَّمَا مُنِعَ الْمُرِيْدُ مِنَ الزِّيَادَةِ فِيْ الْمَقَامَاتِ لِأَجْلِ قَوْلِهِ لِشَيْخِهِ: لِمَ؟ فَإِنَّهُ ذَنْبٌ عِنْدَ أَهْلِ الطَّرِيْقِ وَلَا يَشْعُرُ بِهِ غَيْرُهُمْ، فَإِنَّ الطَّرِيْقَ كُلَّهَا أَدَبٌ وَتَأْدِيْبٌ، فَمَنْ تَأَدَّبَ مَعَ حَضْرَةِ شَيْخِهِ، تَأَدَّبَ مَعَ حَضْرَةِ اللهِ تَعَالَى، وَمَنْ أَسَاءَ الْأَدَبَ مَعَ حَضْرَةِ شَيْخِهِ، أَسَاءَ الْأَدَبَ مَعَ حَضْرَةِ اللهِ تَعَالَى، وَلَا يَكْمُلُ شَيْخٌ فِيْ مَقَامِ التَّرْبِيَةِ حَتَّى يُنَاقِشَ الْمُرِيْدَ فِيْ الْأَدَبِ مَعَهُ أَوْ مَعَ اللهِ تَعَالَى مُنَاقَشَةَ الْجَلِيْسِ جَلِيْسَهُ، وَالصَّاحِبِ صَاحِبَهُ، لِأَنَّ الْأَشْيَاخَ بَوَّابُوْنَ لِحَضْرَةِ الْحَقِّ تَعَالَى، فَهُمْ يُعَلِّمُوْنَ كُلَّ مَنْ أَرَادَ دُخُوْلَ الْحَضْرَةِ مِنَ الْحَضَرَاتِ آدَابَ تِلْكَ الْحَضْرَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ، فَمَا نَفَرَتْ نَفْسُهُ مِنْ مُنَاقَشَةِ شَيْخِهِ إِلَّا مَنْ أَشْقَاهُ اللهُ تَعَالَى. (الأنوار القدسيه. ص: ٢٦)
(Dan di antara adabnya) adalah bahwa ia tidak pernah berkata kepada gurunya: "Mengapa?" Sesungguhnya para guru (Masyayikh) telah bersepakat bahwa setiap murid yang berkata kepada gurunya: "Mengapa?" tidak akan berhasil (beruntung) dalam Jalan (Tarekat/Suluk). Syekh Abdul Rahman Al-Jalili Radhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Boleh jadi seorang murid terhalang dari peningkatan dalam maqam-maqam (kedudukan spiritual) hanya karena ucapannya kepada gurunya: 'Mengapa?'" Karena sesungguhnya itu adalah dosa di sisi Ahli Tarekat, dan tidak disadari oleh selain mereka. Sesungguhnya seluruh Jalan (Tarekat) itu adalah Adab (etika) dan Pembinaan Adab. Maka, barangsiapa yang beradab di hadapan gurunya, ia telah beradab di hadapan Allah Ta’ala. Dan barangsiapa yang berbuat buruk adab di hadapan gurunya, ia telah berbuat buruk adab di hadapan Allah Ta’ala. Seorang Syekh (guru) tidak akan sempurna dalam maqam Tarbiyah (pembinaan spiritual) hingga ia mendiskusikan adab murid bersamanya atau bersama Allah Ta’ala, seperti diskusinya seorang teman dengan temannya, dan seorang sahabat dengan sahabatnya. Hal itu karena para guru adalah Penjaga Pintu (Bawwabun) bagi Kehadiran Allah (Hadhrat al-Haqq) Ta’ala. Mereka mengajarkan kepada setiap orang yang ingin memasuki Kehadiran dari Kehadiran-kehadiran itu adab-adab dari Kehadiran tersebut. Semoga Allah meridhai mereka semua. Maka, tidaklah jiwanya menjauh dari diskusi (pembinaan adab) gurunya melainkan orang yang dicelakakan oleh Allah Ta’ala. (Al-Anwar al-Qudsiyah, halaman 26)
Batasan Syariat: Standar Mutlak Ketaatan
Meskipun kedudukan mursyid sangat tinggi, ketaatan kepada makhluk dibatasi oleh hukum Sang Pencipta. Jika perintah tersebut mengandung kemaksiatan, maka salik wajib mendahulukan hak Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ: مَنِ اسْتُرْعِيَ رَعِيَّةً فَلَمْ يُحِطْهَا بِالنَّصِيْحَةِ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ. وَيَقُوْلُ: إِنِّي رُبَّمَا قَبَضْتُ مِنْ عَطَائِهِمْ إِرَادَةَ صَلَاحِهِمْ وَاسْتِصْلَاحِهِمْ وَأَنْ يَرْجِعُوْا إِلَى طَاعَتِهِمْ، فَيَبْلُغُ أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ أَنِّي قَبَضْتُهَا عَلَى ذَلِكَ النَّحْوِ فَيَكْتُبُ إِلَيَّ أَنْ لَا تَرُدَّهَا فَلَا أَسْتَطِيْعُ رَدَّ أَمْرِهِ وَلَا أَسْتَطِيْعُ إِنْفَاذَ كِتَابِهِ، وَحَقُّ اللهِ أَلْزَمُ مِنْ حَقِّ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَاللهُ أَحَقُّ أَنْ يُطَاعَ، وَلَا طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ فَأُعْرِضُ كِتَابَ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَى كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. (إحياء علوم الدين. ج٢.ص:٣٠٩)
"Rasulullah SAW bersabda: ‘Barang siapa diberi amanah untuk memimpin suatu rakyat, lalu ia tidak memelihara mereka dengan nasihat (yang tulus), maka Allah mengharamkan surga atasnya.’ Dan ia berkata: Sesungguhnya terkadang aku menahan sebagian pemberian mereka (ʿata’) dengan tujuan untuk memperbaiki mereka, membenahi keadaan mereka, dan agar mereka kembali kepada ketaatan. Lalu sampai kepada Amir al-Mu’minin bahwa aku menahannya dengan tujuan seperti itu, maka beliau menulis kepadaku agar tidak menahannya. Namun aku tidak mampu menolak perintah beliau, dan aku juga tidak mampu melaksanakan surat tersebut. Hak Allah lebih wajib (untuk dipenuhi) daripada hak Amir al-Mu’minin, dan Allah lebih berhak untuk ditaati. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam (hal yang mengandung) maksiat kepada Sang Pencipta. Maka aku menghadapkan surat Amir al-Mu’minin kepada Kitab Allah ‘azza wa jalla (untuk diuji kesesuaiannya).’” (Ihya’ ‘Ulum al-Din: Juz 2, Hal 309)
Harmonisasi Adab dan Kepatuhan yang Terarah
Kitab Ta‘lim al-Muta‘allim merangkum bahwa murid harus mencari ridha guru selama dalam koridor yang benar:
(فَالْحَاصِلُ أَنَّهُ يَطْلُبُ رِضَاهُ) أيْ رِضَا الْْأُسْتَاذِ (ويَجْتَنِبُ سَخَطَهُ) أيْ مَا يُوْجِبُ سَخَطَهُ (ويَمْتَثِلُ أَمْرَهُ فِيْ غَيْرِ مَعْصِيَةِ اللهِ تَعَالَى، ولَا طَاعَةَ لِلْمَخْلُوْقِ) أيْ وَلَا طَاعَةَ جَائِزَةَ لِلْمَخْلُوْقِ (فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ) أيْ فِيْ مَادَّةٍ يَلْزَمُ أَنْ يُطِيْعَ لِلْمَخْلُوْقِ أَنْ يَعْصِيَ الْخَالِقَ، وهَذِهِ الْجُمْلَةُ بِمَنْزِلَةِ التَّعْلِيْلِ لِمَا سَبَقَ (ومِنْ تَوْقِيْرِهِ تَوْقِيْرُ أَوْلَادِهِ وَمَنْ يَتَعَلَّقُ بِهِ) كَائِنًا مَنْ كَانَ، سَوَاءً كَانَ تَعَلُّقُهُ بِالنَّسَبِ أَوْ بِالسَّبَبِ. (تعليم المتعلم. ص: ١٧)
“Maka kesimpulannya adalah bahwa seorang murid harus mencari keridhaan gurunya yaitu keridhaan sang ustadz dan menjauhi kemurkaannya, yaitu segala hal yang dapat membuatnya marah. Ia juga harus melaksanakan perintah gurunya selama tidak mengandung maksiat kepada Allah Ta‘ala. Tidak ada ketaatan yang dibenarkan kepada makhluk dalam keadaan yang menyebabkan seseorang bermaksiat kepada Sang Pencipta dan kalimat ini merupakan penjelasan (alasan) bagi ketentuan yang telah disebutkan sebelumnya. Dan termasuk bentuk memuliakan guru adalah memuliakan anak-anaknya dan orang-orang yang memiliki hubungan dengannya, siapapun mereka, baik hubungan itu melalui keturunan maupun sebab lain.” (Ta‘lim al-Muta‘allim, hlm. 17)
KESIMPULAN
Hubungan salik dan mursyid dibangun di atas fondasi adab yang sangat kuat. Seorang salik dilarang menolak perintah mursyid dalam perkara pembinaan spiritual karena hal itu merupakan kunci keberkahan. Namun, ketaatan ini tidaklah buta. Syariat Islam tetap menjadi standar tertinggi.
Sikap ideal bagi seorang salik adalah:
Taat sepenuhnya dalam perkara tarbiyah yang tidak melanggar agama.
Menolak dengan adab apabila perintah tersebut secara nyata mengandung kemaksiatan.
Tetap menjaga kehormatan mursyid meskipun terjadi perbedaan pandangan, karena adab kepada guru adalah cerminan adab kepada Allah.
Dengan demikian, ketaatan dalam tasawuf adalah ketaatan yang berilmu, yang menempatkan syariat sebagai kompas utama dalam perjalanan menuju Allah SWT.
Penulis : M. Lutfi Ramadhani
Contact Person : 085739277899
e-Mail : snga4752@gmail.com
Perumus : M. Ulul M. S.Psi.
Mushohih : Khoirun Ni’am
Daftar Pustaka
Al-Allamah Syekh Muhammad Amin al-kurdi (W. 1332 H), Tanwir al-Qulub, Daar Kotob al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon, Cet. pertama (1995 M-1416 H).
Sayyid Abdu al-Wahab Bin Ahmad al-Sya’rani (W. 1316 H), al-Anwar Al-Qudsiyah. Daar Al-Kotob Al-Ilmiyah, Beirut, , Lebanon, Cet. Ketiga (2021 M-1422 H).
Imam Abi Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (W. 505 H), Ihya’ Ulum ad-Din. Jilid 2. Dara al-Kotob al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon: 1426 H-2005 M, Sebanyak 4 jilid.
Syekh al-Zarnuji (W. 1223 H), Ta’lim al-Muta’alim, Maktabah Nur al-Saniyah, Indonesia, Tanpa tahun.


%20M.%20Lutfi%20Ramadhani%20(8).png)
%20M.%20Lutfi%20Ramadhani%20(9).png)
%20M.%20Lutfi%20Ramadhani%20(10).png)
%20M.%20Lutfi%20Ramadhani%20(11).png)
Posting Komentar untuk "Antara Adab Spiritual Dan Kepatuhan Syariat"