Rabithah Dan Tawajjuh Dalam Pandangan Tarekat Naqsyabandiyah

 


RABITHAH DAN TAWAJJUH DALAM PANDANGAN TAREKAT NAQSYABANDIYAH

LATAR BELAKANG

Zikir adalah salah satu amalan penting dalam ajaran tasawuf. Tujuannya bukan hanya mengucapkan kalimat-kalimat tertentu dengan lisan, tetapi juga menghadirkan hati kepada Allah dan membersihkan diri dari kelalaian. Dalam banyak tarekat, zikir dipahami sebagai proses mendekatkan diri kepada Allah melalui bimbingan seorang mursyid. Karena itu, ada dua konsep yang dianggap sangat penting, yaitu rabithah dan tawajjuh.

Rabithah dan tawajjuh sendiri merupakan unsur penting dalam tarekat Naqsyabandiyah, namun dalam kenyataannya, ada beberapa pengikut tarekat Naqsyabandiyah yang ikut zikir secara rutin tidak paham apa itu rabithah dan tawajjuh. Mereka sering hanya mengikuti amalan secara mekanis, mengucapkan zikir tanpa mengetahui makna atau fungsi batin di baliknya. Ada pula yang mengira rabithah hanyalah aturan sopan santun sebelum zikir, bukan bagian penting yang harus dilakukan dengan kesadaran. Akibatnya, zikir sering dilakukan hanya dengan mulut tanpa kehadiran hati.

Kurangnya pemahaman ini bisa membuat zikir tidak memberikan manfaat spiritual secara maksimal. Murid menjadi kurang fokus, kurang disiplin, dan tidak merasakan kedekatan yang seharusnya muncul melalui zikir. Selain itu, ketidaktahuan tentang rabithah dan tawajjuh juga bisa menyebabkan salah paham tentang peran seorang mursyid serta cara menjalani perjalanan rohani dalam tarekat.

Kondisi inilah yang membuat penting adanya kajian mengenai apa sebenarnya rabithah dan tawajjuh dalam zikir, serta bagaimana caranya agar dua konsep tersebut bisa mempengaruhi kualitas zikir seseorang. Harapannya, kajian ini dapat membantu memberikan pemahaman yang lebih jelas dan sederhana, sehingga para pengikut tarekat bisa menjalankan zikir dengan lebih benar, sadar, dan membawa manfaat bagi penyucian jiwa.

PEMBAHASAN

Pengertian Rabithah 

Sebelum membahas inti permasalahan, perlu diketahui bahwa secara bahasa, rabithah berasal dari kata “رَبَطَ yang berarti mengikat atau menghubungkan. Dalam konteks tasawuf, rabithah adalah ikatan hati antara murid (salik) dan mursyid-nya sebagai jalan untuk menyerap faydh ilahi/curahan rahmat melalui perantara rohani mursyid. Hal ini dijelaskan dalam kitab Tanbih Al-Salikin, hal. 451:


الرَّابِطَةُ وَهِيَ طَرِيقَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ لِلوُصُوْلِ، وَعِبَارَةٌ عَنْ رَبْطِ الْقَلْبِ بِالشَّيْخِ الْوَاصِلِ إِلَى مَقَامِ الْمُشَاهَدَةِ، الْمُتَحَقِّقِ بِالصِّفَاتِ الذَّاتِيَّةِ، وَحِفْظِ صُوْرَتِهِ فِيْ الْخَيَالِ وَلَوْ بِغَيْبَتِهِ، فَرُؤْيَتُهُ بِمُقْتَضَى: الَّذِيْنَ إِذَا رُئُوْا ذُكِرَ اللهُ، تَحْصُلُ بِهَا الْفَائِدَةُ كَمَا تَحْصُلُ مِنَ الذِّكْرِ بِمُوْجِبِ: هُمْ جُلَسَاءُ اللهِ تَعَالَى. وَلَا يَخْفَى مَا وَرَدَ مِنَ الْأَحَادِيْثِ فِيْ الْحِثِّ عَلَى الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ، وَالشَّيْخُ كَالْمِيْزَابِ يَنْزِلُ الْفَيْضُ مِنْ بَحْرِهِ الْمُحِيْطِ إِلَى قَلْبِ الْمُرِيْدِ الْمُرَابِطِ. (تنبيه السالكين. ص: ٤٥١)

“Rabithah adalah sebuah metode tersendiri dalam perjalanan menuju Allah. Hakikatnya adalah menghubungkan hati murid dengan seorang syekh yang telah mencapai maqam musyahadah dan telah tercapai dalam dirinya sifat-sifat dzati (ketuhanan). Rabithah dilakukan dengan menjaga gambaran syekh dalam imajinasi, meskipun syekh tidak hadir secara fisik. Melihat (atau menghadirkan) syekh dengan cara demikian memberikan manfaat spiritual, sesuai dengan ungkapan para ulama: “Mereka yang apabila dilihat membuat orang lain teringat kepada Allah.” Dengan sebab itulah rabithah dapat menghasilkan faedah sebagaimana faedah zikir, berdasarkan sabda Nabi mengenai orang-orang saleh: “Mereka adalah teman duduk Allah Ta‘ala.” Tidak samar lagi berbagai hadits yang memerintahkan untuk memilih teman duduk yang saleh. Dalam konteks ini, syekh diibaratkan seperti sebuah talang air yang menurunkan limpahan (faydh) dari lautan spiritualitasnya yang luas ke dalam hati murid yang sedang melakukan rabithah”. (Tanbih Al-Salikin, Hal. 451)

Dalam ibarah tersebut rabithah diartikan sebagai sebuah metode khusus untuk mencapai tujuan spiritual, yaitu menghubungkan hati murid dengan syekh yang telah mencapai maqam musyahadah. Bentuknya adalah menghadirkan gambaran syekh dalam hati, meskipun tidak hadir secara fisik. Hal ini dianggap bermanfaat karena para syekh termasuk orang yang “jika dilihat mengingatkan kepada Allah,” sehingga menghadirkan mereka dalam hati memberikan pengaruh spiritual sebagaimana zikir. banyak hadis menganjurkan untuk bersahabat dengan orang saleh, sebab pengaruh mereka sangat besar. Karena itu, syekh diibaratkan seperti mizab atau talang yang menurunkan faydh yakni limpahan rohani dan bimbingan ke hati murid yang melakukan rabithah.

Sedangkan menurut syekh Abu bakar syatha dalam kitab Kifayah al-Atqiya’ adalah Menghadirkan atau mengimajinasikan sosok mursyid dalam hati untuk menjadi perantara seorang murid dalam perjalanan menuju Allah SWT.

وَيَضُمُّ أَيْضًا إِلَى ذَلِكَ اسْتِحْضَارَ شَيْخِهِ الْمُرْشِدِ لِيَكُوْنَ رَفِيْقَهُ فِيْ السَّيْرِ إِلَى اللهِ تَعَالَى (شرح كفاية الأتقياء ومنهاج الأصفياء. ص: ١٠٧)

“Dan termasuk juga di dalamnya adalah menghadirkan/mengingat/mengimajinasikan mursyidnya, agar ia (Syekh) menjadi pendampingnya dalam perjalanan menuju Allah Ta'ala.” (Syarah Kifayah al-Atqiya’ wa Minhaj al-Ashfiya’: halaman 107). 

Berdasarkan penjelasan dalam ibarah tersebut dapat disimpulkan bahwa rabithah merupakan metode spiritual yang sangat penting dalam perjalanan seorang murid menuju Allah. Hakikatnya adalah menghubungkan hati murid dengan mursyid yang telah mencapai maqam musyahadah, sehingga hati murid dapat tersinari oleh cahaya rohani dan keteladanan batin sang mursyid. Sehingga hati murid dimudahkan untuk selalu ingat kepada Allah. 

Cara Rabithah Dalam Zikir

Dalam kitab Tanbih al-Salikin dijelaskan bahwa Rabithah memiliki beberapa cara. Diantaranya : 

Cara pertama: Seorang murid membayangkan rupa gurunya yang sempurna berada di antara kedua matanya, kemudian ia mengarahkan perhatiannya kepada ruhaniyyah (spiritualitas) gurunya dalam rupa tersebut. Ia tidak berpaling dari tawajjuh (pemusatan perhatian) itu hingga ia memperoleh keadaan ghaibah (terserap) atau pengaruh jadzbah (tarikan spiritual).

وَاعْلَمْ أَنَّ اسْتِحْضَارَ الرَّابِطَةِ عَلَى أَقْسَامٍ : الأَوَّلُ : أَنْ يَتَصَوَّرَ الْمُرِيْدُ صُوْرَةَ شَيْخِهِ الْكَامِلِ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، ثُمَّ يَتَوَجَّهَ إِلَى رُوْحَانِيَّتِهِ فِيْ تِلْكَ الصُّوْرَةِ ، وَلَا يَزُوْلُ عَنِ التَّوَجُّهِ إِلَيْهَا حَتَّى يَحْصُلَ لَهُ الْغَيْبَةُ أَوْ أَثَرُ الْجَذْبَةِ. (تنبيه السالكين.ص:٤٥٣)

“Ketahuilah bahwa menghadirkan rabithah itu memiliki beberapa tingkatan: Pertama: Seorang murid membayangkan surah (rupa) gurunya yang sempurna diantara kedua matanya, lalu ia mengarahkan perhatian batinnya kepada ruhaniyyah (spiritualitas) sang guru melalui rupa tersebut. dan ia tidak berpaling dari arah perhatian itu sampai ia memperoleh keadaan al-ghaybah (terlena dalam kehadiran batin) atau munculnya pengaruh al-jadzbah (tarikan spiritual ilahiah). (Tanbih al-Salikin: halaman 453)

Cara kedua: Seorang murid membayangkan rupa gurunya di antara kedua sisi tubuhnya, lalu ia mengarahkan perhatiannya kepada ruhaniyyah gurunya dalam rupa tersebut sebagaimana sebelumnya, hingga ia memperoleh keadaan ghaibah atau pengaruh jadzbah. Setelah kedua keadaan itu diperoleh dalam dua cara tersebut, ia meninggalkan rabithah dan menyibukkan diri dengan keadaan yang telah dihasilkan, baik berupa ghaibah maupun jadzbah. Setiap kali keadaan yang dihasilkan dari rabithah itu hilang darinya, ia kembali kepada rabithah hingga keadaan tersebut kembali kepadanya.

الثَّانِيْ : أَنْ يَتَصَوَّرَ صُوْرَتَهُ بَيْنَ جَنْبَيْهِ ، ثُمَّ يَتَوَجَّهَ إِلَى رُوْحَانِيَّتِهِ فِيْ تِلْكَ الصُّوْرَةِ كَذَلِكَ حَتَّى يَحْصُلَ لَهُ الْغَيْبَةُ أَوْ أَثَرُ الْجَذْبَةِ، فَبَعْدَ حُصُوْلِ الأَمْرَيْنِ فِيْ الْوَجْهَيْنِ يَتْرُكُ الرَّابِطَةَ وَيَشْتَغِلُ بِذَلِكَ الأَمْرِ الْحَاصِلِ بِالْغَيْبَةِ أَوْ بِالْجَذْبَةِ، وَكُلَّمَا يَزُوْلُ عَنْهُ ذَلِكَ الْحَاصِلُ مِنَ الرَّابِطَةِ يَعُوْدُ إِلَيْهَا حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْهِ ذَلِكَ الْحَالُ، فَهَكَذَا يُدَاوِمُ عَلَى الرَّابِطَةِ حَتَّى يَفْنَى عَنْ ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ فِيْ صُوْرَةِ الشَّيْخِ، فَعِنْدَ ذَلِكَ يُشَاهِدُ رُوْحَانِيَّةَ الشَّيْخِ مَعَ كَمَالَاتِهِ فِيْ صُوْرَتِهِ، لِأَنَّ الْكَمَالَاتِ لَا تُفَارِقُ الرُّوْحَانِيَّةَ، فَتُرَبِّيْهِ رُوْحَانِيَّةُ الشَّيْخِ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى أَنْ تُوْصِلَهُ إِلَى اللهِ تَعَالَى، فَيَكُوْنَ مِنَ الْوَاصِلِيْنَ الْكَامِلِيْنَ فَبِالرَّابِطَةِ يَتَرَبَّى الْمُرِيْدُ مِنَ الشَّيْخِ وَلَوْ كَانَ أَحَدُهُمَا فِيْ الْمَشْرِقِ وَالآخَرُ فِيْ الْمَغْرِبِ. (تنبيه السالكين.ص:٤٥٤-٤٥٣)

Kedua: Seorang murid membayangkan rupanya sang guru berada di antara kedua sisi tubuhnya. Lalu ia mengarahkan perhatiannya kepada ruhaniyyah gurunya melalui gambaran gurunya, hingga ia merasakan ghaybah atau jadzbah. Setelah kedua keadaan itu tercapai melalui dua cara tersebut, ia meninggalkan rabitah dan memanfaatkan pada keadaan spiritual yang telah diperolehnya melalui ghaybah atau jadzbah. Setiap kali keadaan itu sirna darinya, ia kembali melakukan rabithah hingga keadaan itu kembali hadir. Demikianlah ia terus-menerus melazimi rabithah sampai ia fana’ dari dirinya dan sifat-sifatnya dalam gambaran sang guru. Pada saat itu ia akan menyaksikan ruhaniyyah sang guru beserta segala kesempurnaannya dalam gambaran tersebut, sebab kesempurnaan-kesempurnaan itu tidak pernah terpisah dari ruhaniyyah. Setelah itu, ruhaniyyah sang guru akan mendidiknya hingga mengantarkannya menuju Allah Ta‘ala. Maka ia pun termasuk golongan orang-orang yang sampai (al-wasilun) dan sempurna (al-kamilun). Dengan rabithah, seorang murid dapat terdidik dari gurunya meskipun salah satu berada di timur dan lainnya di barat. (Tanbih al-Salikin: halaman 453-454)

Cara ketiga: Seorang murid membayangkan rupa gurunya di dahi (kening)nya, dan meneguhkannya di tengah dahi. Cara ini lebih kuat dalam menolak lintasan-lintasan khayalan dibandingkan dua cara sebelumnya.

الثَّالِثُ : أَنْ يَتَخَيَّلَ صُوْرَةَ شَيْخِهِ فِيْ جَبْهَتِهِ، وَيُقَرِّرَهَا وَسْطَ الْجَبْهَةِ، وَهُوَ أَقْوَى لِدَفْعِ الْمُخَيِّلَاتِ مِنَ الْقِسْمَيْنِ اللَّذَيْنِ قَبْلَهُ. (تنبيه السالكين.ص:٤٥٤)

Ketiga: Ia membayangkan rupa gurunya berada di keningnya dan menetapkannya di tengah-tengah dahi. Cara ini lebih kuat dalam menolak gambaran-gambaran pikiran dibanding dua cara sebelumnya. (Tanbih al-Salikin: halaman 454)

Cara keempat: Seorang murid menghadirkan rupa gurunya di tengah hatinya. Cara ini lebih membantu dalam menolak lintasan-lintasan hati.

الرَّابِعُ : أَنْ يَسْتَحْضِرَ صُوْرَةَ شَيْخِهِ فِيْ وَسَطِ قَلْبِهِ، وَهُوَ أَغْوَنُ عَلَى دَفْعِ الْخَطَرَاتِ الْقَلْبِيَّاتِ. (تنبيه السالكين.ص:٤٥٤)

Keempat: Ia menghadirkan rupa gurunya di tengah hatinya. Cara ini lebih ampuh dalam menolak bisikan-bisikan hati . (Tanbih al-Salikin: halaman 454)

Cara kelima: Seorang murid membayangkan rupa itu di dahinya, lalu menurunkannya ke tengah hatinya, dan membayangkan bahwa hati itu adalah sebuah serambi yang luas, lalu ia memutus seluruh lintasan pikiran sekaligus. Tingkatan ini adalah yang paling bermanfaat dari seluruh tingkatan sebelumnya, namun juga yang paling sulit.

الْخَامِسُ : أَنْ يَتَخَيَّلَ الصُّوْرَةَ فِيْ جَبْهَتِهِ، وَيُنَزِّلَ بِهَا إِلَى وَسَطِ قَلْبِهِ، وَيُقَدِّرَ أَنَّ الْقَلْبَ دِهْلِيْزٌ وَاسِعٌ، وَيَقْطَعَ الْخَوَاطِرَ جُمْلَةً وَاحِدَةً، وَهَذَا الْقِسْمُ أَنْفَعُ الْأَقْسَامِ الَّتِي قَبْلَهُ وَأَصْعَبُهَا. (تنبيه السالكين.ص:٤٥٤)

Kelima: Ia membayangkan rupa guru di keningnya, kemudian menurunkannya ke tengah hatinya, seraya menganggap bahwa hati itu seperti sebuah serambi yang luas, dan ia memutus semua bisikan sekaligus. Cara ini adalah yang paling bermanfaat di antara cara-cara sebelumnya dan sekaligus yang paling sulit. (Tanbih al-Salikin: halaman 454)

Cara keenam: Seorang murid menafikan dirinya dan menetapkan gurunya. Cara ini paling kuat untuk mengangkat berbagai bencana.

السَّادِسُ : أَنْ يَنْفِيَ نَفْسَهُ وَيُثْبِتَ شَيْخَهُ، وَهُوَ أَقْوَى لِرَفْعِ الْبَلِيَّاتِ. (تنبيه السالكين.ص:٤٥٤)

Keenam: Ia meniadakan dirinya (nafy al-nafs) dan menetapkan gurunya (itsbat al-shaykh). Cara ini lebih kuat dalam mengangkat berbagai bencana dan gangguan spiritual. (Tanbih al-Salikin: halaman 454)

Enam cara rabithah di atas pada hakikatnya bukanlah tujuan yang berdiri sendiri, melainkan tahapan latihan batin bagi seorang murid agar hatinya terarah, terkendali, dan siap menerima limpahan rohani. Seluruh cara tersebut bermuara pada satu tujuan utama, yaitu memusatkan kesadaran murid dari dirinya sendiri menuju bimbingan ruhani sang guru, hingga ia mengalami keadaan spiritual seperti ghaibah atau jadzbah.

Perbedaan cara-cara itu menunjukkan bahwa setiap murid memiliki kondisi batin yang berbeda, sehingga diperlukan metode yang beragam, mulai dari yang lebih mudah (menghadirkan rupa guru) hingga yang lebih dalam (menafikan diri). Semakin ke dalam tingkatannya, semakin kuat pengaruhnya dalam membersihkan lintasan pikiran dan hati, namun juga semakin menuntut kesiapan batin.

Apabila keadaan spiritual telah tercapai, rabithah tidak lagi menjadi fokus utama, melainkan sarana yang ditinggalkan sementara, karena yang diutamakan adalah menjaga dan menyempurnakan keadaan rohani tersebut. Namun ketika keadaan itu melemah atau hilang, murid kembali menggunakan rabithah sebagai jalan untuk menghidupkannya kembali.

Dengan demikian, rabithah adalah alat pendidikan jiwa, bukan tujuan akhir, yang berfungsi menuntun murid dari kesadaran lahir menuju kedalaman batin secara bertahap, tertib, dan berada dalam bimbingan guru.

Pengertian Tawajjuh

Secara bahasa, kata tawajjuh berasal dari akar kata تَوَجَّهَ yang bermakna “menghadapkan” atau “memusatkan perhatian.” tawajjuh dalam istilah tasawuf memiliki arti perhatian dan pengarahan spiritual para guru kepada para murid. sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tanbih al-Salikin:

وَأَمَّا التَّوَجُّهُ، أَيْ تَوَجُّهُ الْمَشَايِخِ إِلَى الْمُرِيْدِيْنَ، فَهَذَا أَيْضًا أَمْرٌ مَسْنُوْنٌ؛ مَخْصُوْصٌ كَمَالُهُ بِأَهْلِ الطَّرِيْقَةِ وَأَرْبَابِ الْحَقِيْقَةِ، وَنَفْعُهُ مَشْهُوْدٌ لِأَهْلِهِ، لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ: (جَالِسُوا الْعُلَمَاءَ وَزَاحِمُوْهُمْ بِرُكَبِكُمْ، فَإِنَّ اللهَ يُحْيِيْ الْقُلُوْبَ الْمَيِّتَةَ بِنُوْرِ الْحِكْمَةِ كَمَا يُحْيِيْ الْأَرْضَ بِوَابِلِ السَّمَاءِ). (تنبيه السالكين. ص: ٥٥٢)

Adapun tawajjuh, yaitu perhatian (pengarahan rohani) para masyayikh kepada para murid, maka hal itu juga merupakan suatu perkara yang disunnahkan, kesempurnaannya secara khusus hanya dimiliki oleh para ahli thariqah dan para pemilik hakikat. Dan manfaatnya dapat disaksikan oleh orang-orang yang mengalaminya. Hal ini berdasarkan sabda beliau SAW: ‘Duduklah kalian bersama para ulama dan rapatkanlah lutut-lutut kalian dengan mereka, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati-hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan bumi dengan hujan lebat dari langit.’ (Tanbih al-Salikin: halaman 552)

Dalam kitab tersebut juga dijelaskan faedah bertawajjuh kepada guru diantaranya adalah hidupnya hati yang mati dengan cahaya hikmah dari guru tersebut. dengan alasan ini tawajjuh merupakan perkara yang dianjurkan dalam dunia tasawuf agar hati seorang murid selalu berada dalam pengawasan guru dan membuahkan hati yang hidup dengan selalu mengingat Allah SWT.  Tawajjuh secara umum bukan hanya menghadapnya seorang murid dihadapan guru, akan tetapi menghadapnya hati secara yakin kepada Allah SWT dengan mengikuti ajaran-ajaran rasul, yang mana wasilahnya adalah seorang guru, sebagaimana diterangkan dalam kitab Ma’arijul Qudsi fi Madariji Ma’rifati an-Nafsi:

وَبِهٰذَا يَتَبَيَّنُ سِرُّ أَنْوَارِ اِتِّبَاعِ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ فِيْ حَرَكَاتِهِ وَسَكَنَاتِهِ وَأَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ فَإِنَّ لَهُ خَاصِّيَّةً عَظِيْمَةً فِيْ تَنْوِيْرِ الْقَلْبِ فَإِنَّ الْقَلْبَ إِنَّمَا يَتَجَلَّى فِيْهِ جَلَايَا الْحَقَائِقِ بِأَنْ يَكُوْنَ مُعَدَّلًا مُصْقَلًا مُنَوَّرًا وَتَصْقِيْلُهُ بِالتَّوَجُّهِ إِلَى جَنَابِ الْقُدْسِ وَبِالْإِعْرَاضِ عَنْ مُقْتَضَى الشَّهَوَاتِ وَتَعْدِيْلُهُ بِالْأَخْلَاقِ الْحَسَنَةِ الْمُوَافِقَةِ لِلسُّنَّةِ وَتَنْوِيْرُهُ بِالذِّكْرِ وَوَظَائِفِ الْعِبَادَاتِ وَلَا دَلِيْلَ أَقْوَى فِيْ هٰذَا مِنَ التَّجْرِبَةِ وَالْوِجْدَانِ فَكُلُّ مَنْ لَيْسَ لَهُ سَبِيْلٌ إِلَيْهِ بِالْعِرْفَانِ وَلَا بِالْوِجْدَانِ فَيَنْبَغِيْ أَنْ يُصَدِّقَ بِهِ فَإِنَّهُ دَرَجَةُ الْإِيْمَانِ وَاللهُ الْمُوَفِّقُ. (معارج القدس في معرفة النفس. ص: ٧٥)

Maka dengan hal ini tampak jelas rahasia cahaya mengikuti Rasulullah SAW dalam gerak-geriknya, diamnya, perkataannya, dan perbuatannya. Sesungguhnya mengikuti beliau memiliki kekhususan yang agung dalam menerangi hati. Sebab hati itu hanya dapat tersingkap padanya pancaran hakikat-hakikat apabila ia menjadi hati yang lurus, berkilau, dan bercahaya. kilauannya adalah dengan menghadapkan diri kepada Janab al-Quds (Keagungan Tuhan Yang Maha Suci), dan dengan berpaling dari tuntutan hawa nafsu. Pelurusannya adalah melalui akhlak yang baik yang selaras dengan sunnah. Dan pencahayaannya adalah dengan zikir dan berbagai amalan ibadah. Tidak ada dalil yang lebih kuat mengenai hal ini selain pengalaman langsung (tajribah) dan perasaan batin (wijdan). Maka setiap orang yang belum sampai kepadanya dengan ma’rifat ataupun pengalaman batiniah, hendaknya membenarkannya, sebab hal itu merupakan tingkatan iman. Dan Allah-lah Dzat yang memberi taufik. (Ma’arij al-Qudsi fi Ma’rifat al-Nafsi: halaman 75)

Di salah satu aliran tarekat ada sebuah kegiatan yang dinamakan “Tawajjuhan” yakni kegiatan berkumpulnya para murid dengan mursyid dalam satu majelis zikir. kegiatan ini didasarkan pada istilah tawajjuh dalam dunia tasawuf secara umum, yakni menghadap kepada guru. Praktik ini merupakan salah satu metode guru membimbing muridnya secara langsung. kegiatan ini biasanya dilakukan di dalam waktu-waktu tertentu yang telah ditentukan oleh mursyid. salah satu manfaatnya adalah melatih murid untuk memiliki dzauq atas maqam yang telah diberikan oleh mursyid. sebagaimana diterangkan oleh Imam al-Ghazali:

فَظَهَرَ لِيْ أَنَّ أَخَصَّ خَوَاصِّهِمْ مَا لَا يُمْكِنُ الْوُصُوْلُ إِلَيْهِ بِالتَّعَلُّمِ، بَلْ بِالذَّوْقِ وَالْحَالِ وَتَبَدُّلِ الصِّفَاتِ. (المنقذ من الضلال. ص:٥١)

Maka tampak bagiku bahwa kekhususan paling khusus dari mereka adalah sesuatu yang tidak dapat dicapai dengan belajar, melainkan dengan dzauq (rasa spiritual), hal (keadaan batin), dan perubahan sifat-sifat. (Munqidz min al-Dhalal: halaman 51)

Mursyid dan murid tidak hanya bertumpu pada bimbingan lahiriah berupa nasihat atau talqin. Lebih dari itu, terdapat perhatian batiniah yang menjadi inti perjalanan rohani seorang salik, yaitu tawajjuh arah perhatian spiritual seorang syekh yang telah mencapai maqam musyahadah kepada hati muridnya. Para ulama tasawuf memandang tawajjuh sebagai sarana pembuka kesiapan batin, penguat harapan, dan penyucian hati dari hijab. Karena itu, para ahli tarekat menjelaskan bahwa tawajjuh merupakan amal yang memiliki landasan dalam sunnah keilmuan para ulama dan telah terbukti manfaatnya dalam mendidik rohani para murid.

KESIMPULAN  

Rabithah, tawajjuh, dan zikir merupakan tiga unsur utama yang saling berkaitan dalam proses pembinaan spiritual dalam tradisi tasawuf. Ketiganya tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk suatu sistem yang bertahap dan terarah dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Rabithah berfungsi sebagai langkah awal untuk menyiapkan kondisi batin murid dengan cara menghadirkan hubungan rohani dengan mursyid, sehingga hati menjadi lebih fokus, tertib, dan siap menerima limpahan cahaya zikir.

Tawajjuh berperan sebagai proses pemusatan perhatian batin yang menghubungkan antara hati mursyid dan hati murid. Melalui tawajjuh, kekuatan spiritual dapat mengalir secara lebih efektif sehingga zikir tidak hanya berhenti pada gerak lisan, tetapi benar-benar menghidupkan hati. Proses ini menegaskan bahwa kebangkitan spiritual tidak semata-mata bergantung pada usaha individu, tetapi juga memerlukan bimbingan, kebersamaan rohani, dan pengaruh dari orang-orang yang telah lebih dahulu menempuh jalan kedekatan kepada Allah.

Zikir merupakan puncak dari rangkaian rabithah dan tawajjuh, yaitu aktualisasi kesadaran rohani dalam menyebut dan mengingat Allah SWT. Zikir yang dilandasi rabithah dan diperkuat dengan tawajjuh akan lebih mudah menghadirkan kekhusyukan, membersihkan hati dari gangguan batin, serta menumbuhkan ketenangan dan kedekatan dengan Allah.

Dengan demikian, hubungan rabithah, tawajjuh, dan zikir membentuk suatu sistem pembinaan spiritual yang memiliki nilai yang sangat tinggi. Rabithah sebagai pengkondisi batin agar bisa fokus dalam zikir, tawajjuh sebagai alat untuk menggetarkan hati karena ada pemusatan energi dari mursyid kepada murid, dan zikir sebagai aktualisasi dari kedua metode tersebut yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Penulis                     : M. Lutfi Ramadhani

Contact Person : 085739277899

e-Mail : snga4752@gmail.com


Perumus : M. Ulul Albab M. S.Psi.

Mushohih : Khoirun Ni’am, M.Ag 


Daftar Pustaka

Hasan Bin Muhammad Hilmi an-Naqsyabandi (W. 1356 H), Tanbih al-Salikin, al-Idarah al-Diniyah, Daghestan, Rusia. cet. Pertama. Tanpa tahun.

Abi Hamid bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali  (W. 561 H), Ma’arij al-Qudsi Fi Madarij Ma’rifah al-Nafsi, hal. 51, Dar al-Afaq al-Jadidah, beirut, Lebanon:. Tanpa tahun.

Abi Hamid bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali  (W. 561 H), al-Munqidz Min Al-dholal, hal. 51, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Jakarta, Indonesia:. Tanpa tahun.

Al-Sayyid Abi Bakar al-Ma’ruf Bi al-Sayyid al-Bakri al-Makki Ibnu al-Sayyid Muhammad Syatha al-Dimyati (W. 1892 H), Kifayah al-Atqiya’, Nurul Huda, Surabaya. Cet. Pertama. Tanpa tahun.











Posting Komentar untuk "Rabithah Dan Tawajjuh Dalam Pandangan Tarekat Naqsyabandiyah"