Antara Nikmat Dan Istidraj


ANTARA NIKMAT DAN ISTIDRAJ

LATAR BELAKANG

Dalam pandangan masyarakat, kelapangan hidup sering dianggap sebagai nikmat dan tanda keridhaan Allah. Namun dalam Islam, tidak semua kesenangan duniawi adalah nikmat hakiki, sebab bisa jadi itu adalah istidraj, yaitu pemberian yang Allah gunakan untuk menjerumuskan seseorang karena ia terus berada dalam kelalaian. Di zaman modern, ukuran kesuksesan yang hanya berfokus pada materi membuat banyak orang keliru menilai diri dan orang lain, sehingga terjebak dalam perasaan aman dari murka Allah atau, sebaliknya, putus asa dari rahmat-Nya. Al-Qur’an dan ulama, termasuk Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din, memperingatkan bahwa kelapangan tanpa ketaatan dapat menjadi bentuk istidraj. Karena itu, penting memahami perbedaan antara nikmat dan istidraj agar manusia dapat bersyukur dengan benar, waspada terhadap kelalaian, dan menilai keadaan dirinya secara jujur.

PEMBAHASAN

Definisi Nikmat yang Hakiki 

Dalam bahasa dan persepsi manusia, segala sesuatu yang diinginkan seperti harta, kesehatan, kedudukan, kenyamanan, dan kesenangan dunia disebut sebagai nikmat. Ini adalah penggunaan umum dalam kehidupan sehari-hari. Namun, menurut ulama yang berorientasi pada akhirat (seperti imam al-Ghazali dan Syekh Abdul al-Rahman, bin Abi Hasan Ali al-Jauzi), nikmat yang sejati adalah kebahagiaan akhirat, yaitu keselamatan dari siksa, kedekatan dengan Allah, dan mendapatkan ridhonya. 

Sebab nikmat dunia bersifat sementara dan bisa menipu. Nikmat dunia tidak menjamin keselamatan di akhirat. Nikmat akhirat adalah kekal, tidak hilang, dan merupakan tujuan hidup seorang mukmin. Ketika sesuatu yang hanya bermanfaat di dunia (seperti kekayaan atau kedudukan) disebut “nikmat”, penyebutan itu secara majazi, bukan hakikat. Artinya: Itu memang bisa menjadi nikmat jika digunakan untuk kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah, tetapi bisa berubah menjadi bencana jika membuat manusia lalai. Syekh Abdul al-Rahman, bin Abi Hasan Ali al-Jauzi menyebutkan:

اِعْلَمْ أَنَّ كُلَّ مَطْلُوْبٍ يُسَمَّى نِعْمَةً، وَلَكِنَّ النِّعْمَةَ بِالْحَقِيْقَةِ هِيَ السَّعَادَةُ الْأُخْرَوِيَّةُ، وَتَسْمِيَةُ مَا عَدَاهَا نِعْمَةً تَجَوُّزٌ، كَتَسْمِيَةِ السَّعَادَةِ الدُّنْيَوِيَّةِ الَّتِيْ لَا تُعِيْنُ عَلَى الْآخِرَةِ نِعْمَةً، فَإِنَّ ذٰلِكَ غَلَطٌ مَحْضٌ، وَتَسْمِيَةُ مَا يُوْصِلُ إِلَى السَّعَادَةِ الْأُخْرَوِيَّةِ نِعْمَةً صَحِيْحٌ.(مِنْهَاجِ القَاصِدِينْ:ج ٣، ص ١٠٨٨)

“Ketahuilah bahwa setiap sesuatu yang diinginkan disebut nikmat. Namun nikmat yang sebenarnya adalah kebahagiaan akhirat. Menyebut selain itu sebagai nikmat hanyalah secara majazi (kiasan), seperti menyebut kebahagiaan duniawi yang tidak membantu menuju akhirat sebagai nikmat maka itu adalah kesalahan murni. Adapun menyebut sesuatu yang mengantarkan kepada kebahagiaan akhirat sebagai nikmat, maka itu benar.” (Minhaj al-Qashidin, 3: 1088)

Nikmat dan bala (musibah) tidak selalu sesuai dengan apa yang dirasakan manusia secara langsung. Ada empat jenis keadaan yang sering disalahpahami manusia: Benar-benar nikmat: Sesuatu yang bermanfaat di dunia dan akhirat, seperti ilmu dan akhlak mulia.  Benar-benar bala: Sesuatu yang merugikan di dunia dan akhirat. Nampak nikmat tetapi sebenarnya bala: Kenikmatan duniawi yang sesaat dan mengikuti hawa nafsu. Orang bodoh mengira ini nikmat, padahal merusak akhirnya. Nampak bala tetapi sebenarnya nikmat: Hal yang terasa menyakitkan sekarang tetapi membawa manfaat besar di kemudian hari, seperti obat atau tindakan pengobatan. Intinya nilai suatu hal tidak ditentukan oleh rasanya sekarang, tetapi oleh akibatnya di akhir. Karena itu, orang berakal menilai berdasarkan manfaat akhirat, bukan kenikmatan sesaat. Imam al-Ghazali menyebutkan dalam kitab Ihya’:

اِعْلَمْ أَنَّ كُلَّ خَيْرٍ وَلَذَّةٍ وَسَعَادَةٍ بَلْ كُلَّ مَطْلُوْبٍ وَمُؤَثَّرٍ فَإِنَّهُ يُسَمَّى نِعْمَةً، وَلَكِنَّ النِّعْمَةَ بِالْحَقِيْقَةِ هِيَ السَّعَادَةُ الْأُخْرَوِيَّةُ.(إحياء علوم الدين: ج ٤، ص ١٤٤١)

“Hakikat nikmat dalam Ihya’ Ulum al-Din. Ketahuilah: setiap kebaikan, kenikmatan, kebahagiaan bahkan setiap hal yang diinginkan disebut nikmat. Namun nikmat yang sesungguhnya adalah kebahagiaan akhirat. Kenikmatan dunia yang tidak membantu menuju akhirat hanyalah penyebutan keliru. Segala sebab yang mengantarkan kepada kebahagiaan akhirat adalah nikmat yang benar. “(Ihya’ Ulum al-Din, 4: 1441).

Macam-Macam Nikmat Menurut Pembagian Para Ulama

setelah mengetahui apa itu nikmat, kami akan  menyebutkan pembagian dari nikmat. syekh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi, juga menyebutkan dalam Kitab Mukhtashar Minhaj al-Qashidin: 

  1. Yang bermanfaat di dunia dan akhirat

أَحَدُهَا: مَا هُوَ نَافِعٌ فِيْ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ جَمِيْعًا، كَالْعِلْمِ، وَحُسْنِ الْخُلُقِ، وَهُوَ النِّعْمَةُ الْحَقِيْقِيَّةُ.

“Pertama: yang bermanfaat di dunia dan akhirat sekaligus, seperti ilmu dan akhlak mulia; inilah nikmat hakiki.”

  1. Yang berbahaya di dunia dan akhirat

الثَّانِيْ: مَا هُوَ ضَارٌّ فِيْهِمَا جَمِيْعًا، وَهُوَ الْبَلَاءُ حَقِيْقَةً.

“Kedua: apa yang berbahaya di dunia dan di akhirat; inilah hakikat bencana.”

  1. Yang terasa nikmat sekarang tetapi berbahaya kelak

الثَّالِثُ: مَا يَنْفَعُ فِيْ الْحَالِ، وَيَضُرُّ فِيْ الْمَآلِ، كَالتَّلَذُّذِ، وَاتِّبَاعِ الشَّهَوَاتِ.

“Ketiga: sesuatu yang bermanfaat saat ini tetapi berbahaya pada akhirnya, seperti kenikmatan syahwat dan kesenangan dunia.”

Contohnya: orang lapar yang mendapati madu bercampur racun; orang bodoh menganggapnya nikmat, tetapi ketika tahu hakikatnya ia memandangnya sebagai bencana.

  1. Yang terasa pahit sekarang tetapi bermanfaat kelak

القِسْمُ الرَّابِعُ: الضَّارُّ فِيْ الْحَالِ، النَّافِعُ فِيْ الْمَآلِ، وَهُوَ نِعْمَةٌ عِنْدَ ذَوِيْ الْأَلْبَابِ، بَلَاءٌ عِنْدَ الْجُهَّالِ. وَمِثَالُهُ: الدَّوَاءُ الشَّنِيْعُ مَذَاقُهُ فِيْ الْحَالِ، الشَّافِيْ فِيْ الْمَآلِ مِنَ الْأَسْقَامِ، فَالصَّبِيُّ الْجَاهِلُ، إِذَا كُلِّفَ شُرْبَهُ ظَنَّهُ بَلَاءً، وَالْعَاقِلُ يَعُدُّهُ نِعْمَةً. (مُخْتَصَرُ مِنْهَاجِ القَاصِدِينْ: ص ٢٨٢-٢٨١)

“keempat: sesuatu yang mudharat pada saat ini, tetapi memberikan manfaat pada akhirnya. Ini adalah nikmat menurut orang-orang yang berakal, namun dianggap bencana oleh orang-orang yang bodoh. Contohnya adalah obat yang rasanya sangat buruk saat diminum, tetapi menyembuhkan berbagai penyakit pada akhirnya. Anak kecil yang bodoh, jika diperintahkan untuk meminumnya, akan mengira itu adalah musibah. Tetapi orang yang berakal menganggapnya sebagai nikmat.” (Mukhtasar Minhaj al-Qashidin: 281-282 )

Antara Syukur dan Kufur dalam Nikmat

Dalam menyikapi nikmat seringkali kita mendengar istilah syukur dan kufur. selanjutnya kami akan menuturkan apa itu syukur dan kufur, serta apa hubungannya dengan istidraj. pengertian syukur dan kufur:

Syukur, menurut Imam al-Ghazali, merupakan salah satu maqam penting dalam perjalanan spiritual para salik. Hakikat syukur tidak berdiri pada satu aspek saja, melainkan tersusun dari tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu ilmu, keadaan hati, dan amal. Ilmu menjadi pondasi utama yang melahirkan keadaan batin, sedangkan keadaan batin tersebut kemudian mendorong lahirnya perbuatan nyata. Ilmu yang dimaksud ialah ma‘rifat, yakni pengenalan bahwa setiap nikmat yang diterima hakikatnya berasal dari Sang Pemberi nikmat. Dari pengetahuan ini tumbuh keadaan hati berupa kegembiraan dan kebahagiaan batin atas anugerah Allah, bukan semata-mata kegembiraan terhadap nikmat itu sendiri.

Keadaan batin tersebut kemudian menuntut pembuktian dalam bentuk amal, yaitu menjalankan segala sesuatu yang menjadi tujuan dan yang dicintai oleh Allah Ta‘ala. Amal syukur ini mencakup seluruh dimensi manusia: hati, lisan, dan anggota badan. Secara khusus, syukur melalui anggota badan diwujudkan dengan menggunakan seluruh nikmat Allah dalam ketaatan kepada-Nya serta menjaga diri dari memanfaatkan nikmat tersebut untuk bermaksiat. Dengan demikian, syukur tidak berhenti pada pengakuan dan perasaan batin semata, tetapi terjelma secara nyata dalam orientasi hidup dan perilaku yang selaras dengan kehendak Sang Pemberi nikmat. 

kufur (khususnya kufr al-ni‘mah) menurut Imam al-Ghazali bukan sekadar penolakan lisan, tetapi kegagalan syukur pada tiga unsurnya: ilmu, keadaan hati, dan amal. Kufur terjadi ketika seseorang tidak mengenali nikmat sebagai berasal dari Allah (kerusakan pada aspek ilmu), sehingga kegembiraannya tertuju pada nikmat itu sendiri, bukan kepada Sang Pemberi nikmat (kerusakan pada aspek hal), dan akhirnya menggunakan nikmat Allah tidak untuk tujuan dan kecintaan-Nya, bahkan menjadikannya sarana maksiat (kerusakan pada aspek ‘amal), sebagaimana lawan dari 

اسْتِعْمَالُ نِعَمِ اللهِ تَعَالَى فِيْ طَاعَتِهِ، وَالتَّوَقِّيْ مِنَ الْإِسْتِعَانَةِ بِهَا عَلَىٰ مَعْصِيَتِهِ

Dengan demikian, kufur adalah terputusnya hubungan nikmat dengan Allah dalam pengetahuan, perasaan, dan perbuatan, sehingga nikmat tidak lagi mengantarkan kepada ketaatan, melainkan menjadi hijab yang menjauhkan dari-Nya. Beliau menjelaskan dalam kitab Ihya’:

اِعْلَمْ أَنَّ الشُّكْرَ مِنْ جُمْلَةِ مَقَامَاتِ السَّالِكِيْنَ، وَهُوَ أَيْضًا يَنْتَظِمُ مِنْ عِلْمٍ وَحَالٍ وَعَمَلٍ، فَالْعِلْمُ هُوَ الْأَصْلُ فَيُوْرِثُ الْحَالَ، وَالْحَالُ يُوْرِثُ الْعَمَلَ، فَأَمَّا الْعِلْمُ فَهُوَ مَعْرِفَةُ النِّعْمَةِ مِنَ الْمُنْعِمِ، وَالْحَالُ هُوَ الْفَرَحُ الْحَاصِلُ بِإِنْعَامِهِ، وَالْعَمَلُ هُوَ الْقِيَامُ بِمَا هُوَ مَقْصُوْدُ الْمُنْعِمِ وَمَحْبُوْبُهُ، وَيَتَعَلَّقُ ذَلِكَ الْعَمَلُ بِالْقَلْبِ وَبِالْجَوَارِحِ وَبِاللِّسَانِ.(إحياء علوم الدين: ج ٤، ص ١٤٢٢)

“Ketahuilah bahwa syukur termasuk salah satu maqam (tingkatan spiritual) para salik (penempuh jalan menuju Allah). Syukur juga tersusun dari unsur ilmu, keadaan hati, dan amal. Ilmu merupakan dasar yang melahirkan keadaan hati, dan keadaan hati melahirkan amal. Adapun ilmu ialah mengenal nikmat sebagai berasal dari Sang Pemberi nikmat. Keadaan hati adalah rasa gembira yang muncul karena anugerah-Nya. Sedangkan amal adalah melaksanakan apa yang menjadi tujuan dan yang dicintai oleh Sang Pemberi nikmat. Amal tersebut berkaitan dengan hati, anggota badan, dan lisan”. (Ihya’ Ulum al-Din, 4: 1422).

وَأَمَّا بِالْجَوَارِحِ فَاسْتِعْمَالُ نِعَمِ اللهِ تَعَالَى فِيْ طَاعَتِهِ، وَالتَّوَقِّيْ مِنَ الِاسْتِعَانَةِ بِهَا عَلَىٰ مَعْصِيَتِهِ. (إحياء علوم الدين: ج ٤، ص ١٤٢٥)

“Adapun (syukur) dengan anggota badan, maka dengan menggunakan nikmat-nikmat Allah Ta‘ala untuk menaatinya, serta menjaga diri dari memanfaatkan nikmat tersebut untuk bermaksiat kepada-Nya.”(Ihya’ Ulum al-Din, 4: 1425).


Sikap hati

Perlakuan nikmat

Dampak 

Syukur

nikmat digunakan untuk ketaatan

tambah dekat dengan Allah

Kufur

nikmat digunakan untuk mengikuti hawa nafsu (bukan untuk ketaatan)

terhijab(tambah jauh dari Allah)

Kufur berlanjut

jika nikmat terus mengalir

Istidraj


Definisi Istidraj 

Istidraj adalah ketika Allah melapangkan kehidupan seorang hamba di dunia sementara ia tetap dalam kelalaian dan maksiat, lalu kelapangan itu secara bertahap menjerumuskannya kepada kebinasaan dan azab tanpa ia sadari. Seperti yang diterangkan oleh syekh Ali bin Muhammad bin Ali az-Zain al-Syarif al-Jurjani dalam kitab al-Ta’rifat

الإِسْتِدْرَاجُ: أَنْ يَجْعَلَ اللهُ تَعَالَى الْعَبْدَ مَقْبُوْلَ الْحَاجَةِ وَقْتًا فَوَقْتًا إِلَى أَقْصَى عُمُرِهِ لِلْإِبْتِلَاءِ بِالْبَلَاءِ وَالْعَذَابِ، وَقِيْلَ: الْإِهَانَةُ بِالنَّظَرِ إِلَى الْمَآلِ.

الإِسْتِدْرَاجُ: هُوَ أَنْ تَكُوْنَ بَعِيْدًا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ تَعَالَى، وَقَرِيْبًا إِلَى الْعِقَابِ تَدْرِيْجِيًّا.

الإِسْتِدْرَاجُ: الدُّنُوُّ إِلَى عَذَابِ اللهِ بِالْإِمْهَالِ قَلِيْلًا قَلِيْلًا.

الإِسْتِدْرَاجُ: هُوَ أَنْ يَرْفَعَهُ الشَّيْطَانُ دَرَجَةً إِلَى مَكَانٍ عَالٍ، ثُمَّ يَسْقُطَ مِنْ ذَلِكَ الْمَكَانِ حَتَّى يَهْلِكَ هَلَاكًا.

الإِسْتِدْرَاجُ: هُوَ أَنْ يُقَرِّبَ اللهُ الْعَبْدَ إِلَى الْعَذَابِ وَالشِّدَّةِ وَالْبَلَاءِ فِيْ يَوْمِ الْحِسَابِ، كَمَا حُكِيَ عَنْ فِرْعَوْنَ لَمَّا سَأَلَ اللهَ تَعَالَى قَبْلَ حَاجَتِهِ لِلْإِبْتِلَاءِ بِالْعَذَابِ وَالْبَلَاءِ فِيْ الْآخِرَةِ.( كتاب التعريفات: ص ٢٤)

“Istidraj adalah ketika Allah menjadikan seorang hamba tercukupi kebutuhannya dari waktu ke waktu hingga akhir umurnya, sebagai bentuk penyiapan menuju ujian dan azab. Ada pula yang mengatakan: ia adalah bentuk penghinaan jika dilihat dari ujung (akhir akibat)nya. Istidraj adalah keadaan ketika seseorang jauh dari rahmat Allah, dan semakin dekat kepada azab secara bertahap. Istidraj adalah mendekatkan seseorang kepada azab Allah melalui penangguhan (pemberian kelonggaran) sedikit demi sedikit. Istidraj adalah ketika setan mengangkat seseorang setahap demi setahap ke tempat yang tinggi (menurut sang hamba), lalu menjatuhkannya dari tempat itu sehingga ia binasa dengan kebinasaan yang dahsyat. Istidraj adalah ketika Allah mendekatkan seorang hamba kepada azab, kesengsaraan, dan cobaan pada hari perhitungan, sebagaimana dikisahkan tentang Fir’aun yang meminta kepada Allah sebelum kebutuhannya, lalu ia diuji dengan azab dan berbagai penderitaan di akhirat.”(al-Ta’rifat: 24).

Bahaya Istidraj 

Nikmat dunia tidak selalu menjadi tanda bahwa Allah menyayangi seseorang. Bahkan, bisa jadi nikmat itu justru merupakan istidraj, yaitu proses ketika seseorang diberi banyak kemudahan dan kenikmatan, tetapi sebenarnya sedang ditarik perlahan menuju azab karena ia terus-menerus dalam dosa. Allah sendiri menegaskan dalam ayat-ayat yang dikutip bahwa: Allah membuka pintu segala kenikmatan bagi suatu kaum, lalu ketika mereka lalai dan bangga, Allah menimpakan azab secara tiba-tiba. Allah menangguhkan dan membiarkan orang berdosa, supaya dosanya semakin bertambah. Seperti perumpamaan:

Ada seorang tuan yang mengabaikan hambanya, membiarkannya bersenang-senang, makan apa saja, dan bertingkah sesuka hati. Si hamba yang bodoh malah mengira tuannya mencintainya. Padahal justru sebaliknya: kelonggaran itu adalah bentuk penghinaan, krisis, atau hukuman yang ditunda.

Kalau pada hubungan manusia saja seorang hamba tidak boleh tertipu dengan “kelonggaran” dari majikannya, maka lebih pantas lagi bagi manusia untuk tidak tertipu oleh nikmat dunia dari Allah, karena Allah sudah memperingatkan bahwa nikmat bisa menjadi istidraj.

وَأَمَّا مَعْرِفَتُهُ بِطَرِيْقِ التَّقْلِيْدِ وَالتَّصْدِيْقِ، فَهُوَ أَنْ يُؤْمِنَ بِكِتَابِ اللهِ تَعَالَى وَيُصَدِّقَ رَسُولَهُ، وَقَدْ قَالَ تَعَالَى: ﴿أَيَحْسَبُوْنَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِيْنَ • نُسَارِعُ لَهُمْ فِيْ الْخَيْرَاتِ بَلْ لَا يَشْعُرُوْنَ﴾ [المؤمنون: ٥٥–٥٦] وَقَالَ تَعَالَى: ﴿سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ﴾ [الأعراف: ١٨٢] وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ﴾ [الأنعام: ٤٤] وَفِيْ تَفْسِيْرِ قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ﴾ [الأعراف: ١٨٢] أَنَّهُمْ كُلَّمَا أَحْدَثُوا ذَنْبًا أَحْدَثْنَا لَهُمْ نِعْمَةً لِيَزْدَادَ غُرُوْرُهُمْ. وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَإِنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا﴾ [آل عمران: ١٧٨] وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ اللهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُوْنَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيْهِ الْأَبْصَارُ﴾ [إبراهيم: ٤٢] إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا وَرَدَ فِيْ كِتَابِ اللهِ تَعَالَى وَسُنَّةِ رَسُولِهِ ﷺ، فَمَنْ آمَنَ بِهِ تَخَلَّصَ مِنْ هَذَا الْغُرُورِ، فَإِنَّ مَنْشَأَ هَذَا الْغُرُوْرِ الْجَهْلُ بِاللهِ وَبِصِفَاتِهِ، فَإِنَّ مَنْ عَرَفَهُ لَا يَأْمَنُ مَكْرَهُ وَلَا يَغْتَرُّ بِأَمْثَالِ هَذِهِ الْخَيَالَاتِ الْفَاسِدَةِ. وَيَنْظُرُ إِلَى فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَقَارُوْنَ وَإِلَى مُلُوْكِ الْأَرْضِ، وَمَا جَرَى لَهُمْ، كَيْفَ أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْهِمْ ابْتِدَاءً ثُمَّ دَمَّرَهُمْ تَدْمِيْرًا، فَقَالَ تَعَالَى: ﴿هَلْ تُحِسُّ مِنْهُمْ مِنْ أَحَدٍ﴾ [مريم: ٩٨] وَقَدْ حَذَّرَ اللهُ تَعَالَى مِنْ مَكْرِهِ وَاسْتِدْرَاجِهِ فَقَالَ: ﴿فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُوْنَ﴾ [الأعراف: ٩٩] وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَكَرُوْا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ﴾ [النمل: ٥٠] وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللهُ وَاللهُ خَيْرُ الْمَاكِرِيْنَ﴾ [آل عمران: ٥٤] وَقَالَ تَعَالَى: ﴿إِنَّهُمْ يَكِيْدُوْنَ كَيْدًا وَأَكِيْدُ كَيْدًا فَمَهِّلِ الْكَافِرِيْنَ أَمْهِلْهُمْ رُوَيْدًا﴾ [الطارق: ١٥–١٧] فَكَمَا لَا يَجُوْزُ لِلْعَبْدِ الْمُهْمِلِ أَنْ يَسْتَدِلَّ بِإِهْمَالِ السَّيِّدِ إِيَّاهُ وَتَمْكِيْنِهِ مِنَ النِّعَمِ عَلَى حُبِّ السَّيِّدِ، بَلْ يَنْبَغِيْ أَنْ يَحْذَرَ أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ مَكْرًا مِنْهُ وَكَيْدًا، مَعَ أَنَّ السَّيِّدَ لَمْ يُحَذِّرْهُ مَكْرَ نَفْسِهِ، فَبِأَنْ يُحَذِّرَ ذَلِكَ فِيْ حَقِّ اللهِ تَعَالَى مَعَ تَحْذِيْرِهِ مِنَ اسْتِدْرَاجِهِ أَوْلَى. فَإِذًا: مَنْ أَمِنَ مَكْرَ اللهِ فَهُوَ مُغْتَرٌّ، وَمَنْشَأُ هَذَا الْغُرُورِ أَنَّهُ اسْتَدَلَّ بِنِعَمِ الدُّنْيَا عَلَى أَنَّهُ كَرِيْمٌ عِنْدَ ذَلِكَ الْمُنْعِمِ، وَاحْتَمَلَ أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ دَلِيْلَ الْهَوَانِ، وَلَكِنَّ ذَلِكَ الِاحْتِمَالَ لَا يُوَافِقُ الْهَوَى، فَالشَّيْطَانُ بِوَاسِطَةِ الْهَوَى يَمِيْلُ بِالْقَلْبِ إِلَى مَا يُوَافِقُهُ، وَهُوَ التَّصْدِيْقُ بِدَلَالَتِهِ عَلَى الْكَرَامَةِ، وَهَذَا هُوَ حَدُّ الْغُرُوْرِ.(إحياء علوم الدين:ج ٣، ص ١٣٠٢)

Adapun mengenal-Nya melalui jalan taqlid dan pembenaran, maka hal itu adalah dengan beriman kepada Kitab Allah Ta‘ala dan membenarkan Rasul-Nya. Allah Ta‘ala berfirman: “Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu berarti Kami menyegerakan kebaikan bagi mereka? Bahkan mereka tidak menyadari.” Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Akan Kami tarik mereka secara berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka ketahui.” Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Kami bukakan untuk mereka pintu-pintu segala sesuatu, hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka seketika itu mereka terdiam putus asa.” Dalam tafsir firman Allah Ta‘ala: “Akan Kami tarik mereka secara berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka ketahui,” dijelaskan bahwa setiap kali mereka melakukan dosa, Kami berikan kepada mereka suatu kenikmatan agar bertambah kesesatan dan tipu daya mereka. Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya Kami memberi mereka penangguhan hanyalah agar dosa mereka bertambah.” Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Janganlah engkau mengira bahwa Allah lalai terhadap apa yang dilakukan oleh orang-orang zalim; sesungguhnya Dia hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata terbelalak.” Dan selain itu masih banyak lagi yang terdapat dalam Kitab Allah Ta‘ala dan sunnah Rasulnya. Maka barangsiapa beriman kepadanya, ia akan terbebas dari tipu daya ini. Sesungguhnya sumber tipu daya ini adalah kebodohan terhadap Allah dan sifat-sifat-Nya, karena orang yang mengenal Allah tidak akan merasa aman dari makar-Nya dan tidak akan tertipu oleh khayalan-khayalan rusak semacam ini. Ia akan melihat kepada Fir‘aun, Haman, Qarun, dan para raja di muka bumi, serta apa yang menimpa mereka; sebagaimana Allah berbuat baik kepada mereka pada awalnya, lalu menghancurkan mereka sehancur-hancurnya. Maka Allah Ta‘ala berfirman: “Adakah engkau melihat seorangpun dari mereka?” Allah Ta‘ala telah memperingatkan dari makar dan istidraj-Nya, maka Dia berfirman: “Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali kaum yang merugi.” Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Mereka melakukan tipu daya, dan Kami pun membalas dengan tipu daya, sedangkan mereka tidak menyadarinya.” Dan Allah berfirman: “Mereka berbuat makar, dan Allah pun membalas makar, dan Allah sebaik-baik pembalas makar.” Dan Allah Ta‘ala berfirman:  “Sesungguhnya mereka merencanakan tipu daya, dan Aku pun merencanakan tipu daya. Maka berilah penangguhan kepada orang-orang kafir itu, beri tangguhlah mereka sebentar.” Sebagaimana tidak boleh bagi seorang hamba yang lalai menyimpulkan bahwa kelalaian tuannya dan pemberian kenikmatan kepadanya merupakan tanda cinta tuannya, bahkan seharusnya ia khawatir bahwa hal itu merupakan tipu daya dan siasat, padahal sang tuan tidak memperingatkannya dari makar dirinya sendiri; maka terlebih lagi tidak layak hal itu terjadi dalam hak Allah Ta‘ala, padahal Dia telah memperingatkan dari istidraj-Nya. Maka kesimpulannya: barang siapa merasa aman dari makar Allah, maka ia adalah orang yang tertipu. Sumber tipu daya itu adalah ia menjadikan kenikmatan dunia sebagai dalil bahwa ia mulia di sisi Sang Pemberi nikmat, padahal ada kemungkinan bahwa kenikmatan itu justru merupakan tanda kehinaan. Namun kemungkinan ini tidak sesuai dengan hawa nafsu. Maka setan melalui hawa nafsu membelokkan hati kepada apa yang disukainya, yaitu membenarkan bahwa kenikmatan itu adalah tanda kemuliaan. Inilah hakikat dari ghurur (tipu daya).(Ihya’ Ulum al- Din, 3: 1302)


وَقَدْ يَغْتَرُّ الْكَافِرُ بِأَنْ يَقُوْلَ: إِنْ كَانَ ثَمَّ مَعَادٌ فَأَنَا أَحَقُّ بِهِ مِنْ غَيْرِيْ. كَقَوْلِ ذٰلِكَ الْقَائِلِ: ﴿وَّلَىِٕنْ رُّدِدْتُّ اِلٰى رَبِّيْ لَاَجِدَنَّ خَيْرًا مِّنْهَا مُنْقَلَبًا ۝٣٦﴾ [الْكَهْف: ٣٦]، وَقَوْلِ الْآخَرِ: ﴿لَاُوْتَيَنَّ مَالًا وَّوَلَدًاۗ ۝٧٧﴾ [مَرْيَم: ٧٧]، وَسَبَبُ هٰذَا الِاغْتِرَارِ أَنَّهُمْ رَأَوْا نِعَمَ الدُّنْيَا مُتَوَفِّرَةً عَلَيْهِمْ وَالْعَذَابَ بَعِيْدًا عَنْهُمْ، فَقَاسُوا أَمْرَ الْآخِرَةِ عَلَى ذٰلِكَ، وَزَعَمُوا أَنَّ الْإِحْسَانَ يَقْتَضِي الْمَحَبَّةَ، وَلَوْلَا أَنَّهُ يُحِبُّنَا مَا أَعْطَانَا، وَمَنْ أَحْسَنَ فِيْ الْمَاضِي أَحْسَنَ فِيْ الْمُسْتَقْبَلِ، وَلَوْ عَلِمُوْا أَنَّ مَا أُعْطُوْهُ عَلَيْهِمْ لَا لَهُمْ لَمَا قَالُوْا هٰذَا، قَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿اِنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ لِيَزْدَادُوْٓا اِثْمًاۚ﴾ [آلِ عِمْرَانَ: ١٧٨]، وَمَا مُنِعَهُ الْمُؤْمِنُ مِنَ الدُّنْيَا فَحِمْيَةٌ، وَقَدْ كَشَفَ هٰذَا قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿فَاَمَّا الْاِنْسَانُ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ رَبُّهٗ فَاَكْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَكْرَمَنِۗ ۝١٥ وَاَمَّآ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ ەۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَهَانَنِۚ ۝١٦ كَلَّا﴾ [الْفَجْر: ١٥–١٧]. أَيْ لَيْسَ هٰذَا بِكَرَامَةٍ وَلَا هٰذَا بِهَوَانٍ.(منهاج القاصدين لابن الجوزي: ج ٢، ص ٩٤٦-٩٤٧)

Terkadang orang kafir tertipu dengan berkata: ‘Jika benar ada hari kebangkitan, maka aku lebih berhak mendapat kebaikan itu daripada selainku.’ Seperti ucapan orang yang berkata: ‘Dan sungguh, jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan memperoleh tempat kembali yang lebih baik daripada ini.’ (QS. Al-Kahfi: 36), dan ucapan orang lain: ‘Aku pasti akan diberi harta dan anak.’ (QS. Maryam: 77). Sebab dari ketertipuan ini adalah karena mereka melihat berbagai nikmat dunia diberikan berlimpah kepada mereka, sementara azab terasa jauh dari mereka. Lalu mereka menyamakan perkara akhirat dengan keadaan dunia itu. Mereka mengira bahwa pemberian (nikmat) berarti tanda cinta: ‘Kalau Allah tidak mencintai kami, tentu Dia tidak akan memberi kami. Dan siapa yang berbuat baik di masa lalu, tentu akan berbuat baik di masa depan.’ Padahal seandainya mereka mengetahui bahwa apa yang diberikan itu sesungguhnya menjadi bumerang bagi mereka, bukan keuntungan bagi mereka, niscaya mereka tidak akan berkata seperti itu. Allah Yang Maha Perkasa berfirman: ‘Sesungguhnya Kami memberi mereka kelonggaran hanyalah agar mereka semakin bertambah dosa.’ (QS. Ali ‘Imran: 178). Adapun apa yang Allah cegah dari seorang mukmin berupa kenikmatan dunia, maka itu adalah penjagaan baginya. Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya: ‘Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, ia berkata: Rabbku telah memuliakanku. Namun apabila Rabbnya mengujinya dan membatasi rezekinya, ia berkata: Rabbku telah menghinakanku. Sekali-kali tidak!’ (QS. Al-Fajr: 15–17). Maksudnya: perkara yang pertama bukanlah tanda kemuliaan, dan yang kedua bukanlah tanda kehinaan.(Minhaj al-Qashidin, 2: 946-947)

KESIMPULAN

Berdasarkan penjelasan para ulama dan ayat-ayat Al-Qur’an, dapat disimpulkan bahwa nikmat sejati bukanlah kesenangan dunia, melainkan segala hal yang mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan akhirat, seperti ilmu, akhlak mulia, dan amal saleh. Adapun kesenangan dunia yang tidak mendekatkan kepada Allah hanyalah nikmat semu yang sering menipu manusia. Bahkan kelapangan hidup yang terus bertambah sementara seseorang tetap lalai dan bermaksiat dapat berubah menjadi istidraj, yaitu proses di mana Allah memberikan kenikmatan secara bertahap untuk menjerumuskan seseorang ke dalam azab tanpa ia sadari.

Karena itu, manusia tidak boleh menilai dirinya mulia hanya karena mendapatkan rezeki dan kenikmatan dunia. Sebaliknya, ia harus mewaspadai kemungkinan bahwa kelapangan tersebut adalah ujian atau bahkan istidraj, sebagaimana diperingatkan dalam Al-Qur’an dan dijelaskan oleh Imam al-Ghazali. Inti dari semua pembahasan ini adalah bahwa nilai sebuah nikmat ditentukan oleh akibat akhirnya, bukan oleh rasa enaknya di dunia. Maka orang berakal akan selalu melihat segala hal dengan ukuran akhirat, bersyukur ketika diberi nikmat, bersabar saat diuji, dan tidak pernah merasa aman dari makar Allah. 

Tabel Ghurur Nikmat dan Istidraj

Aspek

Perilaku/Kondisi

Contoh dari ibarat

Dampak Spiritualitas

Hubungan dengan Istidraj

Sikap Hati

Mengira nikmat dunia adalah tanda keridhaan Allah

“Orang kafir melihat nikmat dunia diberikan berlimpah… lalu mereka menyamakan perkara akhirat dengan keadaan dunia itu”

Hati tertipu, merasa aman dari murka Allah

Awal dari istidraj, karena hati lalai terhadap perintah Allah

Perlakuan  Terhadap Nikmat

Menggunakan nikmat untuk hawa nafsu, bukan ketaatan

“Nikmat digunakan untuk mengikuti hawa nafsu, bukan untuk ketaatan”

Menjadikan nikmat sarana maksiat

Menjadi pintu istidraj karena nikmat tidak membawa kedekatan dengan Allah

Perlakuan Terhadap Nikmat

Mengira kelapangan dan kemudahan sebagai kemuliaan

“Jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan memperoleh tempat kembali lebih baik” (QS. Al-Kahfi: 36)

Kesombongan, merasa berhak atas rahmat Allah

Terjerumus dalam istidraj karena menilai dunia sebagai ukuran akhirat

Dampak / Hasil

Terhijab dari Allah 

“Dan Kami bukakan kepada mereka pintu segala sesuatu… lalu Kami siksa mereka secara tiba-tiba”

Nikmat menjadi hijab, menjauhkan dari Allah

Istidraj hakiki: nikmat berlimpah tetapi menjerumuskan ke azab

Kesadaran & Hikmah

Tidak muhasabah, merasa aman dari makar Allah

“Siapa pun yang merasa aman dari makar Allah, sungguh ia adalah orang yang tertipu”

Tidak sadar sedang diuji

Menambah derajat ghurūr, memudahkan Allah menjadikan hamba jatuh ke istidraj



Penulis : M. Alvin Hidayatulloh

Contact Person : 085739425604

e-Mail : apinbongek07@gmail.com 


Perumus : Muhammad Abilul Masykur S.Pd

Mushohih : Khoirun Ni’am M. Ag



Daftar Pustaka

Syekh Abdurrohman, bin Abi Hasan Ali al-Jauzi(W 597 H), Minhaj al-Qashidin,, Dar al-Taufiq, Damasyqus, Syuriah, cet. Pertama 2010 M . Sebanyak 3 jilid.

Ali bin Muhammad bin Ali az-Zain asy-Syarif al-Jurjani (W. 816 H), Kitab al-Ta’rifat, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon, cet. Pertama, Tahun 1403 H/1983 M. Sebanyak satu Jilid.

Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi, (W 689 H), Kitab Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, Dar al-Bayan, Beirut, Lebanon, terbit: 1398 H / 1978 M. Sebanyak satu jilid.

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusy (W. 505 H), Ihya’ Ulum al-Din, Dar Ibn Hazm, Beirut, Lebanon, cet. Pertama, 2005 M, sebanyak 4 Juz dalam 1 jilid. 
















Posting Komentar untuk "Antara Nikmat Dan Istidraj"