Sabar Atau Syukur Ketika Tertimpa Musibah

 

SABAR ATAU SYUKUR KETIKA TERTIMPA MUSIBAH

LATAR BELAKANG

Setiap perjalanan hidup manusia pasti diwarnai oleh dua warna utama kebahagiaan (nikmat) dan penderitaan (musibah). Kita semua pasti pernah merasakan pukulan telak yang membuat hati hancur mulai dari kerugian besar, penyakit berkepanjangan, hingga kehilangan orang yang dicintai. Dalam momen kritis ini, naluri pertama kita mungkin adalah mengeluh, marah, atau bahkan menyerah. Namun, sebagai seorang yang beriman, kita dihadapkan pada sebuah pilihan spiritual yang sangat penting tentang bagaimana cara terbaik kita merespons takdir yang menyakitkan ini. Apakah kita cukup bersikap Sabar dengan menahan diri dan pasrah menerima keadaan? Atau, adakah derajat yang lebih tinggi, yaitu Syukur, di mana kita mampu melihat kebaikan dan hikmah di balik musibah itu sendiri? Melalui panduan dari hadits Rasulullah SAW dan ajaran mendalam para ulama sufi yang ada pada pembahasan dibawah nanti, artikel ini akan membedah hakikat sabar dan syukur, mencari tahu manakah yang paling utama, dan bagaimana kita dapat menyatukan keduanya untuk mengubah pahitnya ujian hidup menjadi tangga spiritual yang mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.

PEMBAHASAN

Pengertian Musibah

Secara etimologis, musibah المصيبة berasal dari kata asaaba أصاب yang berarti mengenai atau menimpa, di mana dalam konteks syariat sebagaimana dijelaskan dalam kitab Faidh al-Qadir musibah mencakup segala sesuatu yang tidak menyenangkan, bahkan sekadar gangguan kecil yang melintasi hati. Namun, Syekh Ibnu Athaillah dalam al-Hikam memberikan perspektif yang lebih mendalam, saat Allah SWT., memberimu nikmat, Dia sedang memperlihatkan kebaikan-Nya agar engkau bersyukur, dan saat Dia menahan nikmat atau memberi musibah, Dia sedang memperlihatkan kekuasaan-Nya agar engkau bersabar. Sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Faidh al-Qadir,  Hal 295 

(وَالْمُصِيبَاتُ) هِيَ كُلُّ مَا يُصِيبُ الْإِنْسَانَ مِنْ مَكْرُوهٍ، وَكُلُّ شَيْءٍ سَاءَهُ فَهُوَ مُصِيبَةٌ. (وَمَنْ بَثَّ) أَيْ أَذَاعَ وَنَشَرَ وَشَكَا مُصِيبَتَهُ لِلنَّاسِ (لَمْ يَصْبِرْ) لِأَنَّ الشَّكْوَى مُنَافِيَةٌ لِلصَّبْرِ.(فيض القدير: ج ٣ ، ص: ٢٩٥ ).

“Musibah adalah segala sesuatu yang menimpa manusia berupa hal yang tidak disukai. Apa saja yang menyusahkannya maka itu adalah musibah. barangsiapa mengadukan serta menyebarkan musibahnya kepada manusia, maka ia tidak sabar, karena mengeluh itu bertentangan dengan sikap sabar.” (Faidh al-Qadir, 3: 296)

Penjelasan ini memperlihatkan bahwa musibah tidak terbatas pada bencana besar seperti kematian, penyakit berat, atau kehilangan harta, tetapi juga mencakup gangguan-gangguan kecil yang mengusik ketenangan manusia. Bahkan kata-kata yang menyakiti, kegagalan kecil dalam pekerjaan, rasa lelah, hingga derita psikis seperti kekecewaan dan kecemasan, semuanya masuk dalam cakupan musibah apabila menimbulkan rasa tidak enak atau kesusahan pada diri seseorang.

Untuk mengatasi kendala yang disebabkan oleh musibah dan kesulitan hidup, cukup dengan bersabar. Bersabarlah dalam semua ihwal kehidupan. Pentingnya bersabar ini disebabkan oleh dua alasan. Pertama, agar sampai kepada hakikat dan tujuan ibadah. Sebab, pondasi dari ibadah adalah kesabaran dan tahan terhadap berbagai kesulitan hidup. Siapa saja yang tidak mampu bersabar, maka tidak akan sampai kepada hakikat dan tujuan ibadahnya. Sebab, orang yang beribadah kepada Allah SWT pasti menghadapi berbagai kesulitan, ujian dan musibah. Kedua, karena di dalam kesabaran terkandung nilai kebaikan dunia dan akhirat. Di antaranya ialah keselamatan serta kesuksesan. 

Kesabaran tersebut lahir dari pemahaman bahwa segala kondisi yang menimpa manusia merupakan bentuk perkenalan Allah kepada hamba-Nya Sebagaimana perkataan syekh Ibnu `Athaillah: 

مَتَى أَعْطَاكَ أَشْهَدَكَ بِرَّهُ، وَمَتَى مَنَعَكَ أَشْهَدَكَ قَهْرَهُ، وَهُوَ فِي ذَلِكَ كُلِّهِ مُتَعَرِّفٌ إِلَيْكَ، وَمُقْبِلٌ بِوُجُوْدِ لُطْفِهِ عَلَيْكَ. ( الحكم العطائية ص: ١٨) 

"Kapan pun Allah memberimu (nikmat), Dia seolah ingin memperlihatkan kebaikan-Nya kepadamu. Dan kapan pun Allah menahan (nikmat/memberi musibah), Dia seolah memperlihatkan kekuasaan-Nya padamu. Dalam kedua kondisi itu, sebenarnya Allah sedang memperkenalkan diri-Nya kepadamu dan menghampirimu dengan kelembutan-Nya." (Al-Hikam al-`Athoiyyah : 18)

Jika nikmat membuat kita lupa maka kita gagal melihat kebaikan-Nya dan terjebak pada "bendanya". Inilah musibah dalam bentuk nikmat. Jika Musibah membuat kita kembali maka kita berhasil melihat kekuasaan-Nya dan bersimpuh di hadapan-Nya. Inilah nikmat dalam bentuk musibah.

Sikap Dalam Menghadapi Musibah

Sangatlah wajar bagi seseorang untuk merasa sedih atau putus asa saat menghadapi musibah besar. Akan tetapi, untuk melaluinya, ajaran agama menekankan pentingnya penerapan sikap sabar (pengendalian diri) atau syukur sebagai jalan keluar dari masa sulit tersebut.. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadits  dalam pada kitab Bulugh al-Maram, halaman 141 juz: 2 bab janaiz :

وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ، فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا فَلْيَقُلِ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. : (بلوغ المرام ج: ٢ ص: ١٤١)

“Anas r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, "Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya. Jika ia memang harus mengharapkannya, hendaklah ia berdoa: Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku." (HR. Bukhari dan Muslim). ( Bulugh al-Maram, 2 : 141)

Hadits diatas menerangkan apabila terkena musibah langkah yang diambil sebaiknya bersabar dan menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT dengan cara berdo’a meminta kebaikan. Sehingga segala sesuatu yang menimpa manusia bisa diterima dengan lapang dada. Akan tetapi, manusia juga memiliki nafsu yang menyebabkan sulit untuk menerima takdir Allah SWT., dan sulit untuk bersabar menghadapi ujian tersebut. Oleh karena itu, kita semua perlu mengetahui hakikat sabar dan bagaimana cara mengolahnya. Sehingga kita semua bisa menerapkan apa yang telah dianjurkan oleh Allah SWT dan Rasulnya. 

Maka dari itu, muncul sebuah pilihan bagaimana cara kita menentukan sikap yang harus dilakukan ketika menghadapi musibah. Namun, sebelum menentukan sikap, penting bagi kita mengetahui pengertian sabar dan syukur terlebih dahulu.

Pengertian Sabar 

Imam al-Ghozali dalam Iḥya’ ‘Ulum al-Din menjelaskan bahwa sabar adalah menahan jiwa dari gelisah ketika menghadapi cobaan, menahan lisan dari keluhan, dan menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak diridhai. Maka, sabar tidak hanya tampak dalam diam, tetapi dalam keteguhan hati untuk terus berbuat baik meskipun keadaan tidak bersahabat. Ia adalah cahaya batin yang menuntun seorang hamba agar tidak goyah di tengah badai kehidupan, karena di balik setiap kesabaran tersimpan janji pertolongan dan kasih sayang Allah SWT.

اَلصَّبْرُ عِبَارَةٌ عَنْ ثَبَاتِ بَاعِثِ الدِّينِ فِي مُقَابَلَةِ بَاعِثِ الشَّهْوَة (إِحْيَاءُ عُلُومِ الدِّينِ ج: ٤ ص: ٥٥)

"Sabar adalah ungkapan dari keteguhan motivasi agama dalam menghadapi motivasi hawa nafsu”. ( Ihya` Ulum al-Din, 4 : 55 ) 

Pengertian ini menegaskan bahwa sabar bukanlah sekadar diam atau pasrah, melainkan sebuah pertarungan di dalam jiwa. Imam Al-Ghozali menggambarkan batin manusia sebagai medan pertempuran antara dua kekuatan besar Bais ad-Din (dorongan agama/akal) dan Bais asy-Syahwah (dorongan nafsu). Ketika seorang hamba tetap berdiri kokoh di atas prinsip syariat dan tidak goyah oleh tarikan keinginan rendah, di situlah ia sedang mempraktikkan hakikat sabar yang sesungguhnya.

Kedudukan Sabar Menjadi Pondasi Jalan Ibadah

Setelah memahami pengertian sabar sebagai keteguhan dorongan agama dalam menghadapi hawa nafsu, penting untuk melihat kedudukan sabar dalam kehidupan ibadah seorang hamba. Dalam pandangan Imam al-Ghozali, sabar bukan hanya sikap yang dianjurkan ketika tertimpa musibah, tetapi merupakan dasar utama yang menentukan keberlangsungan ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT.

فَقَالَ تَعَالَى لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ  ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ  فَكَأَنَّهُ يَقُولُ: وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ عَلَى أَنَّهُ لَا بُدَّ لَكُمْ مِنْ أَنْوَاعِ الْبَلَايَا، فَإِنْ تَصْبِرُوا فَأَنْتُمُ الرِّجَالُ، وَعَزَائِمُكُمْ عَزَائِمُ الرِّجَالِ. فَإِذَنْ مَنْ عَزَمَ عَلَى عِبَادَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ يَجِبُ أَوَّلًا أَنْ يَعْزِمَ عَلَى الصَّبْرِ الطَّوِيلِ، وَيُوَطِّنَ نَفْسَهُ عَلَى احْتِمَالِ الْمَشَاقِّ الْعَظِيمَةِ الْمُتَوَالِيَةِ إِلَى الْمَوْتِ، وَإِلَّا فَقَدْ قَصَدَ الْأَمْرَ بِغَيْرِ آلَتِهِ، وَأَتَاهُ مِنْ غَيْرِ وَجْهِهِ. (منهاج العابدين ص: ٥٤-٥٥)

Allah Ta'ala berfirman: “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”  (QS. Ali Imran: 186). Seakan-akan Allah berfirman: Siapkanlah (mentalkanlah) diri kalian bahwa kalian pasti akan menghadapi berbagai macam cobaan. Jika kalian bersabar, maka kalianlah laki-laki sejati (yang kuat), dan tekad kalian adalah tekad para ksatria. Maka dari itu, siapa pun yang bertekad untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, wajib baginya pertama kali untuk bertekad melakukan kesabaran yang panjang, dan mempersiapkan dirinya untuk menanggung kesulitan-kesulitan besar yang datang bertubi-tubi hingga ajal menjemput. Jika tidak demikian, maka ia telah menginginkan sesuatu tanpa memiliki alatnya (persiapannya), dan mendatanginya bukan dari jalan yang benar.” (Minhaj al-Abidin: 54-55)

Allah SWT. menegaskan bahwa manusia pasti akan diuji dalam harta, diri, dan berbagai gangguan dari sesama manusia. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan peringatan agar seorang hamba menyiapkan diri sejak awal untuk menghadapi berbagai cobaan. Ujian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari jalan ibadah, sehingga seseorang yang ingin beribadah dengan sungguh-sungguh harus terlebih dahulu membekali dirinya dengan kesabaran. setiap bentuk ibadah selalu mengandung unsur kesulitan, karena di dalamnya terdapat upaya menahan hawa nafsu dan melawan kecenderungan jiwa yang mengarah pada kemalasan atau kelalaian. Oleh karena itu, sabar berperan sebagai penopang yang menjaga seorang hamba tetap istiqomah dalam menjalankan ibadah, meskipun menghadapi rasa lelah, tekanan, dan ujian yang terus berulang.

فَعَلَيْكَ بِالصَّبْرِ فِي الْمَوَاطِنِ كُلِّهَا، وَإِنَّمَا ذَلِكَ لِأَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا: الْوُصُولُ إِلَى الْعِبَادَةِ وَحُصُولُ الْمَقْصُودِ مِنْهَا، فَإِنَّ مَبْنَى أَمْرِ الْعِبَادَةِ كُلِّهَا عَلَى الصَّبْرِ وَاحْتِمَالِ الْمَشَقَّاتِ. فَمَنْ لَمْ يَكُنْ صَبُورًا لَمْ يَصِلْ إِلَى شَيْءٍ مِنْهَا بِالْحَقِيقَةِ. وَذَلِكَ أَنَّ مَنْ قَصَدَ عِبَادَةَ اللَّهِ تَعَالَى وَتَجَرَّدَ لَهَا مُحِقًّا، اسْتَقْبَلَتْهُ شَدَائِدُ وَمِحَنٌ وَمَصَائِبُ مِنْ وُجُوهٍ. أَحَدُهَا أَنَّهُ لَا عِبَادَةَ إِلَّا وَفِي نَفْسِهَا مَشَقَّةٌ، وَذَلِكَ كَانَ كُلُّ هَذَا التَّرْغِيبِ فِيهِ وَوَعْدِ الثَّوَابِ عَلَيْهِ، إِذْ لَا يَتَأَتَّى فِعْلُ الْعِبَادَةِ إِلَّا بِقَمْعِ الْهَوَى وَقَهْرِ النَّفْسِ إِذْ هِيَ زَاجِرَةٌ عَنِ الْخَيْرِ، وَمُخَالَفَةُ الْهَوَى وَقَهْرُ النَّفْسِ مِنْ أَشَدِّ الْأُمُورِ عَلَى الْإِنْسَانِ وَالثَّانِي مِنَ الْأَمْرَيْنِ مَا فِي الصَّبْرِ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، فَمِنْ ذَلِكَ النَّجَاةُ وَالنَّجَاحُ. قَالَ تَعَالَى وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.(منهاج العابدين ص: ٥٤)

“Maka, wajib atasmu (hendaknya kamu berpegang teguh) kepada kesabaran dalam semua situasi (tempat/keadaan). Dan hal itu (pentingnya sabar) adalah karena dua perkara: Pertama Tercapainya ibadah dan diperolehnya tujuan dari ibadah tersebut. Karena sesungguhnya, dasar dari segala urusan ibadah seluruhnya adalah atas kesabaran dan menanggung kesulitan. Maka, barangsiapa yang tidak sabar, ia tidak akan mencapai sesuatu pun dari ibadah itu secara hakikat. Hal ini karena siapa pun yang sungguh-sungguh bertujuan beribadah kepada Allah SWT., dan mengkhususkan diri untuk itu secara benar, pasti ia akan disambut oleh kesulitan, cobaan, dan musibah dari berbagai sisi. Salah satunya (dari sisi ibadah): Bahwasanya tidak ada ibadah melainkan di dalamnya terdapat kesulitan. Oleh karena itu, semua anjuran (motivasi) di dalamnya dan janji pahala atasnya (ibadah) ada; karena pelaksanaan ibadah tidak akan terlaksana kecuali dengan menundukkan hawa nafsu dan mengalahkan diri (syahwat). Sebab, (nafsu) itu menghalangi dari kebaikan. Sedangkan menentang hawa nafsu dan mengalahkan diri sendiri adalah termasuk perkara yang paling berat bagi manusia. Dan yang Kedua dari dua perkara itu: Apa yang ada pada kesabaran berupa kebaikan dunia dan akhirat. Di antara kebaikan itu adalah keselamatan (dari keburukan) dan keberhasilan (kesuksesan). Allah Ta'ala berfirman (yang artinya): Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (2) dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya (QS. At-Talaq: 2-3).”(Minhaj al-Abidin hal: 54)

Tanpa kesabaran, ibadah sering dilakukan secara terpaksa atau bahkan ditinggalkan ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya, dengan kesabaran yang kuat, seorang hamba mampu menjalankan ibadah secara konsisten dan memperoleh nilai kebaikan di sisi Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwa sabar bukan sekadar sikap pasif, tetapi kekuatan batin yang menentukan kualitas dan keberlanjutan ibadah. Dengan demikian, sabar adalah pondasi utama dalam ibadah sekaligus modal terpenting untuk menghadapi berbagai ujian hidup. Dengan memahami pentingnya sabar, kita memiliki dasar yang kuat untuk mulai belajar bagaimana melatih kesabaran dalam aktivitas sehari-hari. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa sabar bukanlah tujuan akhir. Dalam perjalanan spiritual, kesabaran justru menjadi pintu masuk menuju tingkatan yang lebih tinggi, yaitu syukur.


Pengertian Syukur

Syukur bukanlah sekadar kata terima kasih yang diucapkan di lisan, melainkan sebuah sikap hidup yang melibatkan seluruh diri kita. Hakikat syukur dimulai dari keyakinan penuh di dalam hati bahwa segala kebaikan dan karunia, sekecil apa pun itu, datangnya semata-mata dari Allah SWT Puncak dari syukur diwujudkan melalui perbuatan nyata, di mana kita wajib menggunakan setiap nikmat yang Allah SWT berikan mulai dari kesehatan, waktu luang, harta, hingga kemampuan berpikir untuk tujuan yang diridhai-Nya, bukan untuk hal-hal yang melanggar perintah-Nya. Dengan demikian, orang yang bersyukur adalah orang yang senantiasa menggunakan semua yang ia miliki sebagai bukti terima kasihnya kepada Sang Pemberi Nikmat.

الشُّكْرُ اللُّغَوِيُّ: هُوَ الْوَصْفُ بِالْجَمِيلِ عَلَى جِهَةِ التَّعْظِيمِ وَالتَّبْجِيلِ عَلَى النِّعْمَةِ، مِنَ اللِّسَانِ وَالْجَنَانِ وَالْأَرْكَانِ (التَّعْرِيفَاتُ ص: ١١٣)

"Syukur secara bahasa (etimologis) adalah penggambaran kebaikan dengan tujuan memuliakan dan mengagungkan (Pemberi Nikmat) atas nikmat yang diterima, melalui lisan, hati (sanubari), dan anggota badan (gerak/perbuatan)." (Al-Ta'rifat : 113)

Praktik syukur ini menuntut kita untuk memahami hakikat nikmat itu sendiri. Sebab, pandangan seorang hamba terhadap apa yang menimpanya baik berupa karunia maupun kesulitan sangat menentukan kualitas syukurnya. Oleh karena itu, perlu kita sadari bahwa kenikmatan duniawi ini bisa berpotensi menjadi bencana, dan musibah atau bencana bisa berpotensi menjadi kenikmatan. Syukur tidak ditentukan oleh banyaknya nikmat, tetapi oleh cara seseorang memandang setiap peristiwa. Syukur yang baik lahir dari kesadaran bahwa suatu keadaan tidak selalu dinilai dari bentuk luarnya, melainkan dari hikmah yang ada di baliknya. Karena itu, kenikmatan dunia tidak selalu membawa kebaikan, dan musibah tidak selalu bermakna keburukan. Penjelasan ini menjadi pengantar untuk membahas syukur atas musibah. Musibah dapat menjadi sarana penguatan iman dan pendekatan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, bersyukur atas musibah merupakan bentuk kesadaran terhadap hikmah di balik ketetapan Allah SWT.

Syukur Atas Musibah  

Syukur atas musibah merupakan salah satu bentuk syukur yang paling tinggi dan mendalam dalam ajaran Islam. Pada umumnya, syukur lebih mudah dilakukan ketika seseorang menerima kenikmatan, sedangkan bersyukur saat menghadapi musibah memerlukan pemahaman dan keimanan yang lebih kuat. Dalam kajian keislaman, musibah tidak dipandang semata-mata sebagai keburukan, tetapi sebagai bagian dari ketetapan Allah SWT yang mengandung hikmah. Oleh karena itu, syukur atas musibah mencerminkan sikap batin seorang hamba yang mampu menerima ujian dengan kesadaran, ketenangan, dan keyakinan bahwa setiap ketetapan Allah SWT memiliki tujuan yang baik bagi kehidupan dan keimanannya.

وَتَشْكُرُهُ عَلَى سَبَبِ الْفَرَحِ، فَكُلُّ بَلَاءٍ فِي الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ مِثَالُهُ الدَّوَاءُ الَّذِي يُؤْلِمُ فِي الْحَالِ وَيَنْفَعُ فِي الْمَآلِ. بَلْ مَنْ دَخَلَ دَارَ مَلِكٍ لِلنُّزْهَةِ، وَعَلِمَ أَنَّهُ يَخْرُجُ مِنْهَا لَا مَحَالَةَ، فَرَأَى وَجْهًا حَسَنًا لَا يَخْرُجُ مَعَهُ مِنَ الدَّارِ، كَانَ ذٰلِكَ وَبَالًا وَبَلَاءً عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ يُورِثُهُ الْأُنْسَ بِمَنْزِلٍ لَا يُمْكِنُهُ الْمُقَامُ فِيهِ. وَلَوْ كَانَ عَلَيْهِ فِي الْمُقَامِ خَطَرٌ مِنْ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ الْمَلِكُ فَيُعَذِّبَهُ، فَأَصَابَهُ مَا يَكْرَهُ حَتَّى نَفَّرَهُ عَنِ الْمُقَامِ، كَانَ ذٰلِكَ نِعْمَةً عَلَيْهِ. وَالدُّنْيَا مَنْزِلٌ، وَقَدْ دَخَلَهَا النَّاسُ مِنْ بَابِ الرَّحِمِ، وَهُمْ خَارِجُونَ عَنْهَا مِنْ بَابِ اللَّحْدِ. فَكُلُّ مَا يُحَقِّقُ أُنْسَهُمْ بِالْمَنْزِلِ فَهُوَ بَلَاءٌ، وَكُلُّ مَا يُزْعِجُ قُلُوبَهُمْ عَنْهَا وَيَقْطَعُ أُنْسَهُمْ بِهَا فَهُوَ نِعْمَةٌ. فَمَنْ عَرَفَ هَذَا، تُصُوِّرَ مِنْهُ أَنْ يَشْكُرَ عَلَى الْبَلَايَا، وَمَنْ لَمْ يَعْرِفْ هٰذِهِ النِّعَمَ فِي الْبَلَاءِ، لَمْ يُتَصَوَّرْ مِنْهُ الشُّكْرُ، لِأَنَّ الشُّكْرَ يَتْبَعُ مَعْرِفَةَ النِّعْمَةِ بِالضَّرُورَةِ. (إحياء علوم الدين ج: ٤ ص: ١٣٠)

“Dan ia bersyukur kepada-Nya atas sebab terjadinya kegembiraan. Setiap cobaan dalam urusan dunia perumpamaannya seperti obat yang menimbulkan rasa sakit pada saat itu juga, tetapi memberi manfaat pada akhirnya. Seseorang yang memasuki istana seorang raja hanya untuk bersenang-senang, sementara ia mengetahui bahwa ia pasti akan keluar darinya, lalu melihat sesuatu yang indah namun tidak dapat dibawanya keluar dari istana tersebut, maka hal itu justru menjadi bencana dan musibah baginya, karena menimbulkan rasa nyaman terhadap tempat yang tidak mungkin ia tinggali. Sebaliknya, apabila dalam istana itu terdapat bahaya, yaitu kemungkinan raja mengetahui keberadaannya lalu menyiksanya, kemudian ia mengalami sesuatu yang tidak disukainya sehingga membuatnya menjauh dari tempat itu, maka keadaan tersebut justru menjadi nikmat baginya. Dunia ini adalah tempat singgah. Manusia memasukinya melalui pintu rahim dan keluar darinya melalui pintu liang lahat. Maka segala sesuatu yang menumbuhkan rasa nyaman dan keterikatan mereka terhadap dunia adalah cobaan, sedangkan segala sesuatu yang mengusik hati mereka dari dunia dan memutus keterikatan dengannya adalah nikmat. Barangsiapa memahami hal ini, maka dapat dibayangkan darinya adanya sikap bersyukur atas berbagai musibah. Namun, orang yang tidak mengenali nikmat-nikmat yang terkandung dalam musibah tidak mungkin mampu bersyukur, karena syukur secara pasti mengikuti pengetahuan dan pengenalan terhadap nikmat.”(Ihya` Ulum al-Din, 4 : 130)

Ibarah ini menjelaskan bahwa musibah tidak selalu buruk, tetapi bisa menjadi nikmat jika dipahami dengan iman. Musibah diibaratkan seperti obat yang terasa sakit saat diminum, tetapi memberikan manfaat di kemudian hari. Artinya, nilai suatu peristiwa tidak diukur dari rasa atau kenyamanan sesaat, melainkan dari kebaikan yang dihasilkan untuk hidup dan iman seseorang. Dunia digambarkan sebagai tempat singgah sementara. Sesuatu yang membuat manusia terlalu nyaman dan terikat pada dunia justru bisa menjadi cobaan, karena bisa melalaikan dari tujuan akhirat. Sebaliknya, hal yang mengguncang keterikatan hati pada dunia, meskipun terasa sulit, sebenarnya merupakan nikmat karena membantu manusia melepaskan diri dari kecintaan berlebihan pada dunia. Dengan begitu, kemampuan bersyukur atas musibah bergantung pada pemahaman seseorang terhadap hikmah di baliknya. Syukur tidak hanya muncul saat menerima kebaikan, tetapi juga saat mampu melihat manfaat dan pelajaran dari musibah. Syukur merupakan sikap spiritual yang lahir dari kesadaran dan pemahaman yang benar terhadap ketetapan Allah SWT.

Sabar dan Syukur

Sabar dan syukur sering digambarkan sebagai dua sisi yang saling melengkapi. Sabar adalah kekuatan saat menghadapi kesulitan, sedangkan syukur adalah kesadaran saat menerima kenikmatan. Namun, muncul sebuah diskusi menarik di kalangan para ulama mengenai mana di antara keduanya yang memiliki kedudukan lebih mulia di sisi Allah. Pembahasan ini sangat penting karena berkaitan dengan cara kita memandang setiap ketetapan Tuhan. Sebagian ulama berpendapat bahwa syukur memiliki derajat yang lebih tinggi karena sifatnya yang sulit dicapai dan hanya mampu dilakukan oleh sedikit hamba pilihan. Di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa sabar jauh lebih utama karena membutuhkan perjuangan batin yang lebih besar (masyaqqah), sehingga balasan yang dijanjikan pun tidak terbatas.

Imam Ghozali menjelaskan dalam kitab Minhajul Abidin tentang manakah yang lebih utama, apakah sabar atau syukur

فَإِنْ قُلْتَ : فَالشَّاكِرُ أَفْضَلُ أَمِ الصَّابِرُ ؟ فَاعْلَمْ أَنَّهُ قِيلَ : إِنَّ الشَّاكِرَ أَفْضَلُ بِدَلِيلِ قَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ﴾ فَجَعَلَهُمْ أَخَصَّ الْخَوَاصِّ، وَقَالَ فِي مَدْحِ نُوحٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ : ﴿إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا﴾، وَقَالَ فِي إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ : ﴿شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ﴾، وَلِأَنَّهُ فِي مَنْزِلَةِ الْإِنْعَامِ وَالْعَافِيَةِ، وَلِذَلِكَ قِيْلَ : لَأَنْ أُنْعِمَ فَأَشْكُرَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُبْتَلَى فَأَصْبِرَ، وَقِيلَ : بَلِ الصَّابِرُ أَفْضَلُ، لِأَنَّهُ أَعْظَمُ مَشَقَّةً، فَيَكُونُ أَعْظَمَ ثَوَابًا وَأَرْفَعَ مَنْزِلَةً، قَالَ اللهُ تَعَالَى : ﴿إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ﴾. وَقَالَ تَعَالَى : ﴿إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾، وَقَالَ تَعَالَى : ﴿وَاللهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ﴾. (منهاج العابدين ص: ٨٥)

Apabila engkau berkata: “Manakah yang lebih utama, orang yang bersyukur atau orang yang bersabar?” Maka ketahuilah bahwa ada yang mengatakan: “Sesungguhnya orang yang bersyukur lebih utama.” Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’ [34]: 13). Maka Allah menjadikan mereka termasuk golongan yang paling khusus. Allah juga memuji Nabi Nuh ‘alaihissalam dengan firman-Nya: “Sesungguhnya dia adalah seorang hamba yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 3). Dan Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalm: “(Ibrahim adalah) orang yang bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya.” (QS. An-Nahl [16]: 121). Karena bersyukur berada pada kedudukan nikmat dan kesejahteraan, maka dikatakan: “Sesungguhnya aku lebih suka diberi nikmat lalu aku bersyukur daripada diuji lalu aku bersabar.” Namun ada pula yang berkata: “Bahkan orang yang sabar itu lebih utama, karena kesabaran itu lebih berat, sehingga pahalanya lebih besar dan derajatnya lebih tinggi.” Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya Kami mendapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Sebaik-baik hamba.” (QS. Shad [38]: 44). Allah Ta‘ala juga berfirman: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar [39]: 10). Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 146).  (Minhaj al-’Abidin: 85).

Dalam ibaroh ini terdapat perbedaan pendapat mengenai manakah yang lebih utama antara bersyukur dan bersabar. Orang yang bersyukur dianggap sangat mulia karena jumlahnya sedikit dan ia mampu mengingat Allah saat sedang senang. Sementara itu, orang yang bersabar dianggap sangat istimewa karena ia mampu bertahan di tengah ujian yang berat, sehingga Allah menjanjikan pahala tanpa batas dan rasa cinta-Nya. Dari perbedaan tersebut, keduanya memiliki keunggulan masing-masing. 

Menurut kitab Manaqib Nurul Burhan, keutamaan dinilai berdasarkan status dan respons hati, di mana orang fakir yang sabar dianggap lebih utama daripada orang kaya yang bersyukur. Namun, di atas keduanya adalah orang fakir yang bersyukur, menunjukkan derajat spiritual yang lebih tinggi karena mampu mensyukuri karunia di tengah keterbatasan. Keutamaan tertinggi dicapai oleh orang fakir yang sabar dan bersyukur, yang menggabungkan respon terbaik terhadap kesulitan (sabar) dan kenikmatan (syukur). Kutipan tersebut ditutup dengan penegasan bahwa puncak makrifat adalah ketika seseorang dapat mencintai dan merasakan kenikmatan dari ujian/bencana, suatu kedudukan yang hanya dapat dicapai oleh hamba yang telah mencapai pengenalan mendalam (makrifat) terhadap Sang Pemberi Ujian, yaitu Allah SWT Orang yang mensyukuri setiap pemberian allah SWT terutama berupa musibah, maka beranggapan musibah adalah nikmat yang harus disyukuri, tetapi jika orang yang sabar terhadap pemberian allah SWT walaupun itu berupa nikmat sekalipun, maka beranggapan musibah atau nikmat tersebut adalah ujian yang harus dijalani dengan kesabaran.

اَلْفَقِيْرُ الصَّابِرُ أَفْضَلُ مِنَ الْغَنِيِّ الشَّاكِرِ، وَالْفَقِيْرُ الشَّاكِرُ أَفْضَلُ مِنْهُمَا، وَالْفَقِيْرُ الصَّابِرُ الشَّاكِرُ أَفْضَلُ مِنَ الْكُلِّ. وَمَا أَحَبَّ الْبَلَاءِ وَالتَّلَذَّذَ بِهِ إِلَّا مَنْ عَرَفَ الْمُبْلِي.(مَنَاقِبُ نُورَ الْبُرْهَانِ : ص٥٠)

“Orang fakir yang sabar lebih utama daripada orang kaya yang bersyukur. Dan orang fakir yang bersyukur lebih utama dari keduanya (fakir sabar dan kaya syukur). Dan orang fakir yang sabar dan bersyukur lebih utama dari semuanya. Dan tidak ada yang mencintai ujian/bencana serta merasakan kenikmatan dengannya, kecuali orang yang telah mengenal Sang Pemberi Ujian (Allah)." (Manaqib Nurul al-Burhan, 2 : 50).

Syukur dan sabar dapat dipahami sebagai dua sikap yang saling berkaitan dan tidak terpisahkan. Keduanya merupakan bentuk respons manusia terhadap ketentuan Allah SWT, baik dalam keadaan senang maupun sulit. Syukur tidak hanya berarti berterima kasih atas nikmat, tetapi juga menerima keadaan dengan lapang dada tanpa mengeluh. Sikap ini menuntut pengendalian diri dan keteguhan hati, yang merupakan inti dari sabar. Oleh karena itu, ketika seseorang bersyukur, pada dasarnya ia sedang bersabar dalam menjaga sikap dan kesadarannya terhadap nikmat yang diterima. Sebaliknya, sabar bukan sekadar bertahan dalam kesulitan, tetapi juga mengandung penerimaan terhadap hikmah di balik setiap peristiwa. Penerimaan ini melahirkan rasa syukur, karena seseorang menyadari bahwa setiap keadaan memiliki nilai dan tujuan yang ditetapkan oleh Allah SWT. Dengan demikian, sabar yang benar akan mengarah pada sikap syukur.

قُلْتُ: إِنَّ الشَّاكِرَ بِالْحَقِيقَةِ لَا يَكُونُ إِلَّا صَابِرًا، وَالصَّابِرَ بِالْحَقِيقَةِ لَا يَكُونُ إِلَّا شَاكِرًا. لِأَنَّ الشَّاكِرَ فِي دَارِ الْمِحْنَةِ لَا يَخْلُو مِنْ مِحْنَةٍ يَصْبِرُ عَلَيْهَا لَا مَحَالَةَ، وَلَا يَجْزَعُ، فَإِنَّ الشُّكْرَ تَعْظِيمُ الْمُنْعِمِ عَلَى حَدٍّ يَمْنَعُ مِنْ مَعْصِيَتِهِ، وَالْجَزَعُ مَعْصِيَةٌ. وَالصَّابِرُ لَا يَخْلُو مِنْ نِعْمَةٍ كَمَا ذَكَرْنَا، أَنَّ الشَّدَائِدَ نِعَمٌ بِالْحَقِيقَةِ عَلَى الْمَعْنَى الْمُتَقَدِّمِ، فَإِنَّهُ شَكَرَ بِالْحَقِيقَةِ إِذَا صَبَرَ عَلَيْهَا، لِأَنَّهُ حَبَسَ نَفْسَهُ عَنِ الْجَزَعِ تَعْظِيمًا لِلَّهِ تَعَالَى، وَهَذَا هُوَ الشُّكْرُ بِعَيْنِهِ، إِذْ هُوَ تَعْظِيمٌ يَمْنَعُ عَنِ الْمَعْصِيَةِ. وَلِأَنَّ الشَّاكِرَ يَمْنَعُ نَفْسَهُ عَنِ الْكُفْرَانِ، فَيَصِيرُ عَنِ الْمَعْصِيَةِ، وَحَمَلَ نَفْسَهُ عَلَى الشُّكْرِ، وَصَبَرَ عَلَى الطَّاعَةِ، فَصَارَ صَابِرًا بِالْحَقِيقَةِ. وَالصَّابِرُ عَظَّمَ اللَّهَ تَعَالَى، حَتَّى مَنَعَهُ تَعْظِيمُهُ عَنِ الْجَزَعِ فِيمَا أَصَابَهُ، وَحَمَلَهُ عَلَى الصَّبْرِ، فَقَدْ شَكَرَ اللَّهَ تَعَالَى، فَصَارَ شَاكِرًا بِالْحَقِيقَةِ. وَلِأَنَّ حَبْسَ النَّفْسِ عَنِ الْكُفْرَانِ، مَعَ قَصْدِ النَّفْسِ إِلَيْهِ، شِدَّةٌ يَصْبِرُ عَلَيْهَا الشَّاكِرُ، وَتَوْفِيقُ الصَّابِرِ وَالْعِصْمَةُ نِعْمَةٌ يُشْكَرُ عَلَيْهَا الصَّابِرُ، فَأَحَدُهُمَا لَا يَنْفَكُّ عَنِ الْآخَرِ. وَلِأَنَّ الْبَصِيرَةَ الْبَاعِثَةَ عَلَيْهِمَا وَاحِدَةٌ، وَهِيَ بَصِيرَةُ الِاسْتِقَامَةِ، فِي قَوْلِ بَعْضِ عُلَمَائِنَا. فَمِنْ هَذِهِ الْوُجُوهِ قُلْنَا: إِنَّ أَحَدَهُمَا لَا يَنْفَكُّ عَنِ الْآخَرِ، فَاعْرِفْ هَذِهِ الْجُمْلَةَ، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ.( منهاج العابدين ص:٨٥)

“Aku berkata: sesungguhnya orang yang benar-benar bersyukur tidak akan menjadi apapun kecuali orang yang sabar, dan orang yang benar-benar sabar tidak akan menjadi apapun kecuali orang yang bersyukur. Hal ini karena orang yang bersyukur, ketika berada dalam dunia penuh ujian, pasti tidak lepas dari cobaan yang harus dihadapi dengan sabar dan tanpa keluh kesah. Sebab, syukur adalah mengagungkan Sang Pemberi nikmat dengan cara yang mencegah dari perbuatan maksiat, sedangkan berkeluh kesah merupakan bentuk maksiat. Demikian pula orang yang sabar tidak pernah terlepas dari nikmat, sebagaimana telah dijelaskan bahwa kesulitan dan cobaan pada hakikatnya adalah nikmat. Oleh karena itu, seseorang benar-benar dianggap bersyukur apabila ia bersabar dalam menghadapinya, karena ia menahan dirinya dari keluh kesah sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT. Inilah hakikat syukur itu sendiri, yakni pengagungan yang mencegah dari kemaksiatan.

Orang yang bersyukur menahan dirinya dari kekufuran nikmat, menjauhkannya dari perbuatan maksiat, mendorong dirinya untuk terus bersyukur, dan bersabar dalam ketaatan. Dengan demikian, ia menjadi orang yang sabar secara hakikat. Begitu pula orang yang sabar, ia mengagungkan Allah SWT sehingga pengagungan tersebut mencegahnya dari keluh kesah atas apa yang menimpanya dan mendorongnya untuk bersabar. Dengan sikap itu, ia telah bersyukur kepada Allah SWT dan menjadi orang yang bersyukur secara hakikat. Selain itu, menahan diri dari kekufuran nikmat, padahal jiwa cenderung kepadanya, merupakan kesulitan yang harus dihadapi dengan kesabaran oleh orang yang bersyukur. Sementara itu, taufik dan penjagaan dari dosa yang diberikan kepada orang yang sabar adalah nikmat yang patut disyukuri. Oleh karena itu, salah satu dari keduanya tidak dapat dipisahkan dari yang lain. Hal ini juga disebabkan karena landasan batin yang mendorong syukur dan sabar adalah satu, yaitu ketajaman pandangan menuju sikap istiqamah, sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama kami. Dari berbagai alasan inilah kami menyatakan bahwa syukur dan sabar tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Maka pahamilah kaidah ini, dan hanya kepada Allah-lah segala taufik diberikan.” (Minhaj al-Abidin: 85)

Ibarah tersebut menunjukkan bahwa syukur dan sabar memiliki hubungan yang sangat erat. Syukur yang sejati selalu disertai dengan kesabaran, karena bersyukur menuntut kemampuan menahan diri dari keluh kesah dan perbuatan maksiat. Sebaliknya, sabar yang sejati juga mengandung unsur syukur, karena kesabaran lahir dari kesadaran bahwa setiap keadaan, termasuk kesulitan, merupakan ketetapan Allah SWT yang mengandung hikmah. Penjelasan ini juga menegaskan bahwa dalam setiap kondisi manusia tidak pernah lepas dari nikmat dan ujian. Kesabaran dalam menghadapi ujian pada hakikatnya adalah bentuk syukur, sedangkan syukur atas nikmat memerlukan kesabaran agar nikmat tersebut tidak membawa pada kelalaian. Dengan demikian, syukur dan sabar saling melengkapi dan berjalan bersama dalam membentuk sikap keimanan yang utuh.

Syukur dan sabar memiliki tingkatan sesuai dengan kedalaman iman seseorang. Keduanya tidak hanya muncul sebagai reaksi atas keadaan, tetapi berkembang menjadi sikap batin yang tetap dan terarah. Semakin baik pemahaman seseorang terhadap makna nikmat dan ujian, semakin tinggi pula kualitas syukur dan sabarnya. Dengan demikian, pembahasan Tingkatan Sabar dan Syukur menunjukkan bahwa kedua sikap ini merupakan proses pembentukan keimanan. Syukur dan sabar saling menguatkan dan berperan penting dalam membentuk pribadi mukmin yang istiqomah dalam berbagai kondisi kehidupan.

Tingkatan Sabar dan Syukur

Sabar dan syukur bukanlah sikap yang statis, melainkan memiliki tingkat yang berbeda sesuai dengan kematangan spiritual seseorang. keduanya merupakan konsep utama dalam ajaran Islam yang sangat berkaitan dengan kehidupan manusia sehari-hari. konsep tersebut menjadi dasar sikap seorang mukmin dalam menghadapi berbagai keadaan, baik ketika memperoleh nikmat maupun saat menghadapi ujian. Karena kehidupan manusia selalu berada di antara dua kondisi tersebut. Dalam kajian Islam, perbedaan tingkat sabar dan syukur menunjukkan proses pembentukan iman. Semakin matang keimanan seseorang, semakin baik pula kualitas sabar dan syukurnya. Oleh karena itu, pembahasan tentang tingkatan sabar dan syukur penting untuk memahami peran keduanya dalam membentuk sikap mukmin yang baik.

Tingkatan Sabar

Tingkatan sabar menunjukkan bahwa sabar tidak hanya dipahami sebagai kemampuan menahan diri secara umum, tetapi memiliki beberapa tingkat sesuai dengan kedalaman iman seseorang. Dalam ajaran Islam, sabar berkembang dengan kualitas ketaatan dan hubungan seorang hamba dengan Allah SWT sabar terbagi menjadi tiga tingkatan. Sabar tingkat umum adalah menahan diri dari perbuatan maksiat. Sabar tingkat khusus adalah kesabaran dalam menjalankan ketaatan. Adapun sabar tingkat paling khusus adalah kesabaran yang disertai kesadaran akan kebersamaan dengan Allah SWT. Pembagian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat sabar seseorang, semakin kuat pula kualitas spiritual dan kedekatannya kepada Allah SWT.

الصَّبْرُ وَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ صَبْرُ الْعَامِّ وَهُوَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ وَصَبْرُ الْخَاصِّ وَهُوَ عَلَى الطَّاعَةِ وَصَبْرُ الْأَخَصِّ مَعَ الْحَقِّ مَعَ الْمَعِيَّةِ. (جامع الأصول في الأولياء ص:  ٢٧١) 

“Sabar itu terbagi menjadi tiga macam: sabarnya orang awam, yaitu menahan diri dari perbuatan maksiat; sabarnya orang khusus, yaitu bersabar dalam menjalankan ketaatan; dan sabarnya orang yang paling khusus, yaitu bersabar bersama Allah dalam kebersamaan (ma‘iyyah).” ( Jami` al-Ushul fi al-Auliya`: 271)

Uraian tersebut menunjukkan bahwa tingkatan sabar mencerminkan perkembangan spiritual seseorang. Sabar pada tingkat orang awam menjadi dasar akhlak, karena berfungsi menahan diri dari perbuatan maksiat dan mengendalikan hawa nafsu agar tetap berada dalam aturan agama. Pada tingkat orang khusus, sabar tidak hanya berkaitan dengan larangan, tetapi juga dengan keteguhan dalam menjalankan ketaatan. Kesabaran pada tahap ini diperlukan agar seseorang mampu tetap konsisten beribadah meskipun menghadapi rasa lelah atau jenuh. Adapun sabar pada tingkat paling khusus menunjukkan kedalaman hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Pada tingkatan ini, sabar berarti menjaga kesadaran hati untuk selalu merasa bersama Allah, sehingga melahirkan ketenangan dan kepasrahan dalam setiap keadaan. Uraian tersebut menunjukkan bahwa sabar memiliki tingkatan yang sejalan dengan perkembangan spiritual seseorang. Dari menahan diri dari maksiat, menjaga keteguhan dalam ketaatan, hingga mencapai kesadaran hati akan kebersamaan dengan Allah SWT, sabar menjadi bagian penting dalam pembentukan iman dan akhlak. Pemahaman ini menjadi pengantar untuk membahas Tingkatan Syukur. Sebagaimana sabar memiliki beberapa tingkatan, syukur juga memiliki tingkatan sesuai dengan kedalaman iman dan pemahaman seorang hamba terhadap nikmat Allah SWT. 

Tingkatan Syukur

Syukur merupakan salah satu sikap utama dalam ajaran Islam yang berkaitan dengan cara seorang hamba menyikapi nikmat yang diterimanya. Syukur tidak hanya dimaknai sebagai ungkapan terima kasih, tetapi juga sebagai sikap batin yang memengaruhi ucapan dan perbuatan. Karena itu, syukur memiliki peran penting dalam membentuk akhlak dan keimanan seorang mukmin. Dalam kajian keilmuan Islam, syukur tidak dipahami sebagai sikap yang bersifat tunggal. Syukur memiliki beberapa tingkatan yang menunjukkan perbedaan kedalaman iman dan kesadaran spiritual seseorang. Perbedaan tingkatan ini menjadi dasar untuk memahami bagaimana syukur diwujudkan, baik melalui ucapan, perbuatan, maupun kesadaran hati yang lebih mendalam, sebagaimana akan dijelaskan pada ibarah berikut.

الشُّكْرُ وَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ شُكْرُ الْعَامِّ بِالْقَوْلِ، وَهُوَ الْحَمْدُ، وَشُكْرُ الْخَاصِّ بِالْفِعْلِ، وَهُوَ الْبَذْلُ، وَشُكْرُ الْأَخَصِّ، وَهُوَ مَعْرِفَةُ النِّعَمِ مِنَ الْمُنْعِمِ. (جامع الأصول في الأولياء ص:٢٤٩ )

“Syukur itu terbagi menjadi tiga macam: syukurnya orang awam dengan ucapan, yaitu memuji, syukurnya orang khusus dengan perbuatan, yaitu memberi dan menginfakkan, dan syukurnya orang yang paling khusus, yaitu mengenal bahwa segala nikmat berasal dari Sang Pemberi nikmat.”( Jami` al-Ushul fi al-Auliya`: 249)

Syukur tidak hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga melalui perbuatan dan kesadaran batin akan Allah SWT sebagai sumber segala nikmat. Setiap tingkatan menunjukkan cara yang berbeda dalam memaknai dan mensyukuri nikmat yang diterima. Dengan demikian, pembahasan tentang tingkatan syukur menegaskan bahwa syukur merupakan bagian dari proses pembinaan spiritual. Semakin tinggi tingkat syukur seseorang, semakin kuat pula kesadarannya kepada Allah SWT. Uraian ini menjadi pengantar akhir sebelum ditarik kesimpulan mengenai hubungan erat antara sabar dan syukur dalam kehidupan seorang mukmin.

Kesimpulan

Kondisi Lahiriah

Respon Ideal (Adab)

Makna Hakiki (Batin)

Contoh dalam Kehidupan

Kesimpulan Spiritual

Kesusahan yang membuat hamba mendekat & ingat Allah SWT.

Sabar & Syukur (Tidak mengeluh kepada manusia).

Allah SWT sedang memperkenalkan kekuasaan-Nya melalui kelembutan-Nya.

Seseorang kehilangan harta atau pekerjaan, lalu ia menjadi rajin Shalat Tahajud dan merasa lebih tenang karena bersandar hanya kepada Allah SWT.

Musibah ini adalah "nikmat" yang menyamar untuk mengangkat derajat.

Kesusahan yang membuat hamba berputus asa atau marah.

Marah / Kufur (Mengeluh & menyebarkan aib takdir).

Hamba hanya merasakan kesulitan tanpa melihat hikmah di baliknya.

Seseorang tertimpa sakit, lalu ia terus-menerus mengeluh di media sosial dan menyalahkan keadaan sehingga kehilangan pahala kesabarannya.

Terjebak dalam penderitaan lahiriah dan kehilangan pahala kesabaran.

Kesenangan yang membuat hamba tetap rendah hati.

Syukur & Berbagi (Menyadari semua pemberian Allah SWT).

Allah  SWT sedang memperlihatkan kebaikan-Nya secara nyata kepada hamba.

Seseorang mendapatkan jabatan tinggi, namun ia justru semakin dermawan dan merasa jabatan itu adalah amanah berat yang harus dipertanggungjawabkan.

Nikmat ini menjadi wasilah (perantara) untuk semakin mengenal Allah SWT.

Kesenangan yang membuat hamba sombong atau lupa diri.

Lalai (Terhijab oleh benda atau rasa senang berlebih).

Allah SWT., membiarkan hamba menjauh dengan kesenangan semu.

Seseorang yang sukses bisnisnya dan hidup mewah, namun ia meninggalkan ibadah dan merasa kesuksesannya adalah murni karena kehebatannya sendiri.

Kenikmatan ini sebenarnya adalah musibah yang paling berbahaya karena mematikan hati.


Kondisi

Unsur Sabar

Unsur Syukur

Saat Tertimpa Musibah

Menahan diri agar tidak protes/marah kepada takdir Allah.

Menyadari bahwa musibah tersebut menghapus dosa dan menjauhkan dari fitnah dunia.

Saat Menerima Nikmat

Menahan diri dari kesombongan, kelalaian, dan penggunaan nikmat untuk maksiat.

Mengakui seluruh nikmat berasal dari Allah dan menggunakannya untuk ketaatan.

Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai suatu kejadian tidak ditentukan oleh bentuk lahiriyahnya (apakah itu musibah atau nikmat), melainkan oleh bagaimana hati meresponnya. Sebuah kesusahan dapat berubah menjadi anugerah besar jika berhasil direspon dengan sabar dan syukur, karena ia berfungsi sebagai pengangkat derajat. Sebaliknya, kesenangan lahiriah justru bisa menjadi musibah yang paling berbahaya jika melahirkan kesombongan dan kelalaian (istidraj). Dalam perjalanan spiritual, sabar berperan sebagai fondasi utama untuk bertahan dan menjaga agar hati tidak hancur saat tertimpa ujian. Namun, syukur merupakan maqam yang lebih tinggi. Syukur bukan hanya sekadar berterima kasih atas kesenangan, tetapi juga kemampuan batin untuk melihat sisi kebaikan Allah di tengah kepahitan musibah. Oleh karena itu, para ulama menyebut bahwa syukur sering kali mencakup kesabaran di dalamnya. Sebagai kesimpulan, respon awal yang harus dimiliki seorang mukmin saat menghadapi ujian adalah kesabaran. Tanpa kesabaran dan keikhlasan untuk menerima ketetapan-Nya, mustahil seseorang bisa naik ke tingkat syukur. Pada akhirnya, tujuan utama dari setiap takdir baik manis maupun pahit—adalah sebagai sarana bagi hamba untuk terus mendekat dan hadir bersama Allah SWT.


Penulis : Asfiyatul Islamiyah

Contact Person : 081235312762

e-Mail : asfiyatulislamiyah@gmail.com


Perumus : Ust. Abidusy Syakur A, S.TP

Mushohih : Ust. Syafi` Dzulhilmi, S.TP



Daftar Pustaka

Muhammad 'Abdur Ra'uf bin Tajil 'Arifin bin 'Ali bin Zainil 'Abidin al-Haddadi al-Munawi (W. 1031 H), Faid al-Qadir, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, 2010 M.

Ibnu Atha'illah As-Sakandari (W. 709 H), Al-Hikam, Tahqiq oleh Dr. Abdul Hamid Saleh Hamdan Maktabah Madbouli, Kairo, Mesir, Tanpa Tahun.

Abu al-Fadl Ahmad bin 'Ali bin Muhammad bin Hajar al-Asqalana (W. 852 H/1449 M), Bulugh al-Maram, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, Tanpa Tahun, sebanyak 2 Jilid.

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghozali (W. 505 H) Ihya` Ulum al-Din, Dar Ibn Hazm, Beirut, Lebanon, 1426 H / 2005 M, Sebanyak 4 jilid

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (W. 505 H), Minhaj al-'Abidin Toko Kitab Imam, Surabaya, Indonesia Tanpa Tahun.

‘Ali ibn Muhammad ibn ‘Ali Al-Husaini al-Jurjani al-Hanafi (W. 816 H). Al-Ta'rifat, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon Cet. Kedua, 1424 H/2003 M.

Abul Luthfi Al-Hakim Muslih bin Abdurrahman Al-Maraqi (W. 1401 H), Manaqib Nurul Burhan Maktabah wa Mathba'ah "Krabata Putra" Semarang:  1382 H Sebanyak 2 Jilid.

Ahmad an-Naqsabandi al-Kholidi (W. 1311 H). Jami‘ al-Ushul fī al-Auliya’, al-Haramain, Surabaya, 2010 M.

================================

















Posting Komentar untuk "Sabar Atau Syukur Ketika Tertimpa Musibah"