BAGAIMANA BATASAN MENYIA-NYIAKAN HARTA
Pembahasan mengenai batasan menyia-nyiakan harta menjadi penting dalam konteks pengelolaan keuangan. Masalah ini muncul karena seringkali harta yang dimiliki tidak digunakan secara bijak, sehingga menimbulkan dampak negatif baik bagi individu maupun lingkungan sekitar. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang jelas mengenai bagaimana batasan dalam menyia-nyiakan harta agar kita bisa lebih bijak dan bertanggung jawab dalam mengelolah apa yang kita punya.
A. Tabdzir atau Israf (mengeluarkan harta untuk hal-hal yang bukan pada haknya)
Dalam hal ini menyia-nyiakan harta yaitu mengeluarkan harta untuk hal-hal yang bukan pada haknya yakni dalam hal kebaikan yang membawa pada manfaat. Sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir al-Qurthubi Qs. al-Isra’ (17): 26-27.
الثَّانِيَةُ: قَوْله تَعَالَى:(وَلَا تُبَذِّرْ) أَيْ: لَا تُسْرِفْ فِي الْإِنْفَاقِ فِي غَيْرِ حَقٍّ. قَالَ الشَّافِعِيُّ: وَالتَّبْذِيْرُ: إِنْفَاقُ الْمَالِ فِي غَيْرِ حَقِّهِ، وَلَا تَبْذِيرَ فِي عَمَلِ الْخَيْرِ. وَهَذَا قَوْلُ الْجُمْهُوْرِ. وَقَالَ أَشْهَبُ عَنْ مَالِكٍ: التَّبْذِيرُ: هُوَ أَخْذُ الْمَالِ مِنْ حَقِّهِ وَوَضْعُهُ فِي غَيْرِ حَقِّهِ، وَهُوَ الْإِسْرَافُ، وَهُوَ حَرَامٌ؛ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: (إنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إخْوَانَ الشَّيَاطِينِ). وَقَوْلُهُ (إخْوَانٌ) يَعْنِي أَنَّهُمْ فِي حُكْمِهِمْ؛ إِذْ الْمُبَذِّرُ سَاعٍ فِي فَسَادٍ كَالشَّيَاطِينِ، أَوْ أَنَّهُمْ يَفْعَلُونَ مَا تُسَوِّلُهُ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ، أَوْ أَنَّهُمْ يَقْرِنُونَ بِهِمْ غَدًا فِي النَّارِ. (تفسير القرطبي الجامع لأحكام القرآن، ج ١٣،ص ٦٤-٦٥).
“Kedua: Firman Allah SWT وَلَا تُبَذِّرْ "Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu)." Maksudnya, jangan boros dalam membelanjakan harta pada jalan yang tidak benar (haq). Asy-Syafi'i RA berkata, "Tabdzir adalah mengeluarkan harta untuk hal-hal yang bukan haknya, namun tidak ada tabdzir di dalam amal-kebaikan." Ini juga menjadi pendapat jumhur. Asyhab mengatakan dari Malik, "Tabdzir adalah mengambil harta dari haknya, lalu meletakkannya pada yang bukan haknya". Itulah tabdzir dan haram hukumnya. Berdasarkan firman Allah SWT إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan." (Qs. Al Isra [17]: 27) lafadz: (إخْوَانَ) saudara-saudara( adalah bahwa pemboros-pemboros itu menjadi sama hukumnya dengan setan, karena pemboros berusaha membuat kehancuran sebagaimana para setan. Atau mereka melakukan apa-apa yang dibuat indah oleh setan. Atau setan menemani mereka kelak di dalam neraka.” (Tafsir al-Qurthubi al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 13:64-65).
Dalam kitab I’anah al-Thalibin juga dijelaskan perihal menyia-nyiakan harta atau dalam artian pula sebagai pemborosan.
(فَائِدَةٌ ) السَّرَفُ مُجَاوَزَةُ الحَدِّ، وَيُقَالُ فِي النَّفَقَةِ: التَّبْذِيرُ، وَهُوَ الإِنْفَاقُ فِي غَيْرِ حَقٍّ. فَالمُسْرِفُ: المُنْفِقُ فِي مَعْصِيَةٍ، وَإِنْ قَلَّ إِنْفَاقُهُ. وَغَيْرُهُ: المُنْفِقُ فِي الطَّاعَةِ، وَإِنْ أَفْرَطَ. قال ابن عباس رضى الله عنه: لَيْسَ فِي الحَلَالِ إِسْرَافٌ، وَإِنَّمَا السَّرَفُ فِي ارْتِكَابِ المَعَاصِي. قَالَ الحَسَنُ بْنُ سَهْلٍ: لَا سَرَفَ فِي الخَيْرِ، كَمَا لَا خَيْرَ فِي السَّرَفِ وَقَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ: الحَلَالُ لَا يَحْتَمِلُ السَّرَفَ. (حاشية إعانة الطالبين، ج ٢، ص ٢٦٢). و
"As-Saraf (berlebihan/pemborosan) adalah melampaui batas. Sedangkan dalam masalah pengeluaran harta, saraf disebut juga At-Tabdzīr (pemborosan), yaitu membelanjakan harta pada hal yang tidak benar (tidak dibenarkan syariat). Maka, Al-Musrif (orang yang boros) adalah: orang yang membelanjakan hartanya untuk perbuatan maksiat, meskipun jumlah yang ia keluarkan sedikit. Sementara selain Musrif (orang yang tidak dihukumi boros/tercela) adalah: orang yang membelanjakan hartanya untuk kebaikan, meskipun jumlah yang ia keluarkan sangat banyak. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata: 'Tidak dikatakan israf jika dikeluarkan dalam hal kebaikan, karena israf itu hanya ada dalam hal kemaksiatan. Tidak ada yang namanya isrāf (pemborosan) dalam perkara kebaikan, sesungguhnya saraf itu hanya terjadi pada perkara maksiat. Al-Hasan bin Sahl berkata: 'Tidak ada saraf (pemborosan) dalam kebaikan, sebagaimana tidak ada kebaikan dalam saraf (pemborosan). Sufyan Ats-Tsauri berkata: 'Perkara yang halal tidak mengandung saraf (pemborosan).” (Hasyiyah I’anah al-Thalibin, 2:262).
Melalui penjelasan di atas dapat dipahami bahwa boros adalah mengeluarkan uang untuk maksiat, jika harta tersebut dikeluarkan untuk kebaikan, maka tidak terdapat israf. Perkara yang halal (seperti sedekah, berhaji, menafkahi keluarga) tidak mengenal istilah saraf. Saraf yang sesungguhnya adalah melanggar batas syariat dengan menggunakan harta untuk dosa.
B. Perbedaan Pendapat Tabdzir dan Israf
(قَوْلُهُ: وَالسَّرَفُ مُجَاوَزَةُ الْحَدِّ) عِبَارَةُ الْكَرْمَانِيِّ عَلَى الْبُخَارِيِّ فِي أَوَّلِ كِتَابِ الْوُضُوءِ نَصَّهَا: الْإِسْرَافُ هُوَ صَرْفُ الشَّيْءِ فِيمَا يَنْبَغِي زَائِدًا عَلَى مَا يَنْبَغِي، بِخِلَافِ التَّبْذِيرِ فَإِنَّهُ صَرْفُ الشَّيْءِ فِيمَا لَا يَنْبَغِي اهـ . وَعَلَيْهِ فَالصَّرْفُ فِي الْمَعْصِيَةِ يُسَمَّى تَبْذِيرًا وَمُجَاوَزَةُ الثَّلَاثِ فِي الْوُضُوءِ يُسَمَّى إسْرَافًا. (نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج، ج ٣، ص ٩٥). د
“(Perkataannya: "Dan as-saraf adalah melampaui batas") Ungkapan Al-Kirmānī dalam syarahnya atas kitab Al-Bukhārī di awal Kitab Al-Wudhu' (Bersuci) adalah sebagai berikut: "Al-Isrāf (pemborosan) adalah membelanjakan sesuatu pada hal yang seharusnya dibelanjakan, namun melebihi kadar yang seharusnya. Berbeda dengan At-Tabdzīr (pemborosan), karena ia adalah membelanjakan sesuatu pada hal yang tidak seharusnya dibelanjakan." Dan berdasarkan hal itu (definisi Al-Kirmānī), maka: Membelanjakan harta untuk maksiat disebut tabdzīr. Melebihi tiga kali basuhan dalam wudhu disebut isrāf.” (Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Manhaj, 3:95)
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat diketahui perbedaan antara Israf dan Tabdzir yakni, Menurut Al-Kirmani:
Israf adalah berlebihan (melampaui batas) dalam hal yang benar (boros air saat wudhu).
Tabdzir adalah membelanjakan harta untuk hal yang salah (membelanjakan harta untuk maksiat).
Pendapat tersebut bertentangan dengan pendapat sebelumnya, yakni pendapat Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa saraf sama dengan tabdzir yakni berlebihan dalam membelanjakan harta untuk hal yang tidak benar.
C. Batasan Menyia-nyiakan harta
Dijelaskan pula di dalam Tafsir al-Qurthubi Qs. al-Furqan(25):67, terkait batasan-batasan dalam menyia-nyiakan harta.
قَوْلُهُ تَعَالَى: (وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا) اِخْتَلَفَ المُفَسِّرُوْنَ فِي تَأْوِيْلِ هَذِهِ الْآيَةِ. فَقَالَ النَّحَّاسُ: وَمِنْ أَحْسَنِ مَا قِيلَ فِي مَعْنَاهُ أَنَّ مَنْ أَنْفَقَ فِي غَيْرِ طَاعَةِ اللَّهِ فَهُوَ الإِسْرَافُ، وَمَنْ أَمْسَكَ عَنْ طَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ الإِقْتَارُ، وَمَنْ أَنْفَقَ فِي طَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى فَهُوَ الْقَوَامُ. وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: مَنْ أَنْفَقَ مِئَةَ أَلْفٍ فِي حَقٍّ فَلَيْسَ بِسَرَفٍ، وَمَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا فِي غَيْرِ حَقِّهِ فَهُوَ سَرَفٌ، وَمَنْ مَنَعَ مِنْ حَقٍّ عَلَيْهِ فَقَدْ قَتَرَ. وَقَالَهُ مُجَاهِدٌ وَابْنُ زَيْدٍ وَغَيْرُهُمَا. (تفسير القرطبي الجامع لأحكام القرآن، ج ١٥، ص ٤٧٣-٤٧٤).
“Firman Allah SWT وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا "Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan. " Para mufassir berbeda pendapat tentang takwil ayat ini. An-Nuhas berkata, "Perkataan yang paling baik tentang maknanya, bahwa orang yang menginfakkan selain untuk ketaatan kepada Allah, maka ini termasuk berlebih-lebihan. Dan, orang yang menahan diri dari menginfakkan untuk ketaatan kepada Allah, maka dia adalah orang kikir. Orang yang menginfakkan untuk ketaatan kepada Allah, maka dia adalah orang yang seimbang diantara yang demikian. Ibnu Abbas berkata: "Barangsiapa yang menginfakkan seratus ribu dalam kebenaran, maka tidak termasuk berlebih-lebihan. Akan tetapi orang yang menginfakkan satu dirham bukan di jalan yang benar, maka dia telah berlebih-lebihan. Orang yang menghalangi hak seseorang, maka dia adalah orang yang kikir." Demikian juga yang dikatakan oleh Mujahid, Ibnu Zaid, dan lainnya." (Tafsir al-Qurthubi al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 15:473-474).
Berdasarkan penjelasan di atas menyatakan bahwa, seseorang dikatakan tidak boros ketika ia menginfakkan hartanya untuk ketaatan kepada Allah, seperti: sedekah, nafkah wajib untuk keluarga, membangun masjid. Seseorang dikatakan berlebih-lebihan ketika ia menginfakkan hartanya selain untuk ketaatan kepada Allah, seperti: sikap konsumtif berlebihan dalam gaya hidup, membelanjakan harta untuk hal-hal maksiat.
D. Prioritas Mengalokasikan Dana
Seseorang dikatakan tidak boros ketika ia menginfakkan hartanya untuk ketaatan kepada Allah, seperti: sedekah, nafkah untuk keluarga, dll. Berdasarkan beberapa hal tersebut, bagaimanakah prioritas penyaluran sedekah yang paling utama, kepada keluarga terdekat terlebih dahulu atau pada hal kebaikan yang lainnya?
أَجْمَعَتْ الْأُمَّةُ عَلَى أَنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْأَقَارِبِ أَفْضَلُ مِنْ الأَجَانِبِ وَالأَحَادِيْثِ فِي الْمَسْأَلَةِ كَثِيْرَةٌ مَشْهُوْرَةٌ. (المجموع شرح المهذب، ج ٦، ص ٢٣٨ ).
“Ulama’ telah bersepakat bahwa sedekah kepada kerabat (keluarga) lebih utama daripada kepada orang lain (ajânib), dan hadits-hadits mengenai masalah ini sangat banyak dan masyhur.” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, 6:238)
قَالَ الْبَغَوِيُّ دَفْعُهَا إلَى قَرِيبٍ يَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ أَفْضَلُ مِنْ دَفْعِهَا إلَى الأَجْنَبِيِّ. (المجموع شرح المهذب، ج ٦، ص ٢٣٨ ).
“Imam Al-Baghawi berkata: Memberikannya kepada kerabat yang wajib dinafkahi lebih utama daripada memberikannya kepada orang lain.” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, 6:238)
Berdasarkan penjelasan di atas, sedekah yang lebih diprioritaskan yakni kepada keluarga terlebih dahulu kemudian kepada orang lain atau hal kebaikan yang lainnya.
Catatan:
Berdasarkan penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwasanya dikatakan israf ketika menginfakkan harta pada tempatnya namun melebihi batas atau berlebihan, dan dikatakan sebagai tabdzir jika menginfakkan harta dalam hal yang bukan pada tempatnya (maksiat).
Penulis : Intan Nisful Lailanah
Contact Person : 085236204106
e-Mail :intannisfullailana@gmail.com
Perumus : Rif’at Athoillah, S.Pd
Mushohih : Syafi’udin Fauzi, M.Pd
Penyunting : Ahmad Fairuz Nazili
Daftar Pustaka
Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr al-Qurthubi (W. 671 H), juz 13, halaman 64-65, Tafsir al-Qurthubi al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an: al-Risalah, Beirut, Lebanon: Cetakan 1 (1427 H/ 2006 M), Sebanyak 24 jilid.
Abi Bakr Utsman bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi al-Bakr (W. 1300 H), juz 2, halaman 262, Hasyiyah I’anah al-Thalibin: Daar al-Kitab al-’Ilmiyah: Beirut, Lebanon: Cetakan 1 (1415 H/ 1995 M), Sebanyak 4 jilid.
Abi al-Dhiya’ Nuruddin Ali bin Ali al-Syibramalli al-Qahiri (W. 1087 H), Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj: Daar al-Kitab al-’Ilmiyah, Beirut, Lebanon: Cetakan 3 ( 1424 H/ 2003 M), Sebanyak 8 jilid.
Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr al-Qurthubi (W. 671 H), juz 15, halaman 473-474, Tafsir al-Qurthubi al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an: al-Risalah, Beirut, Lebanon: Cetakan 1 (1427 H/ 2006 M), Sebanyak 24 jilid.
Abu Zakaria Muhyiddin bin Syarif an-Nawawi (W. 676 H), juz 6, halaman 238, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab: Idarah at-Thiba’ah al-Muniriyyah, Kairo, Mesir: Cetakan 1(1344 H/1925 M), Sebanyak 12 jilid.


%20Intan%20Nisful%20Lailanah%20(5).png)
%20Intan%20Nisful%20Lailanah%20(6).png)
%20Intan%20Nisful%20Lailanah%20(7).png)
%20Intan%20Nisful%20Lailanah%20(8).png)
%20Intan%20Nisful%20Lailanah%20(9).png)
%20Intan%20Nisful%20Lailanah%20(10).png)
%20Intan%20Nisful%20Lailanah%20(11).png)
Posting Komentar untuk "Bagaimana Batasan Menyia-Nyiakan Harta"