Hukum Aqiqah Untuk Bayi Yang Keguguran



HUKUM AQIQAH UNTUK BAYI YANG KEGUGURAN

Aqiqah adalah menyembelih hewan dalam syariat islam sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas kelahiran seorang anak. Contoh kasus seorang ibu hamil yang usia kandungannya sudah tujuh bulan telah mengetahui kondisi janinnya melalui pemeriksaan dokter. Namun sebelum melahirkan, ia mengalami keguguran. Padahal sebelumnya, keluarga sudah menyiapkan seekor kambing untuk aqiqah sebagai bentuk rasa syukur atas anak tersebut.

Bagaimana hukum mengaqiqahi bayi yang keguguran? 

Jawaban

  1. Tidak Disunnahkan 

Menurut Imam al-Hasan al-Bashri dan Imam Malik, aqiqah tidak disunnahkan jika bayi meninggal sebelum hari ketujuh, karena bayi tersebut sudah wafat sebelum masuk waktu dianjurkannya aqiqah.

 فَرْعٌ: لَوْ مَاتَ الْمَوْلُودُ قَبْلَ السَّابع اسْتُحِبَّتْ الْعَقِيْقَةُ عِنْدَنَا وَقَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَمَالِكٌ : لَاَتُسْتَحَبُّ (المجموع شرح المهذب: ج ۸، ص ۳٤۰).


“Menurut madzhab Syafi’i, jika bayi yang dilahirkan meninggal dunia sebelum hari ketujuh, maka aqiqah tetap dianjurkan. Sementara menurut al-Hasan al-Bashri dan imam Malik aqiqah tidak disunnahkan. (al- Majmu’ Syarh al- Muhadzzab, 8: 340)

  1. Sunnah 

Aqiqah disunnahkan apabila janin yang keguguran sudah dalam usia janin yang ditiupkannya ruh, apabila belum ditiupkan ruh maka tidak disunnahkan untuk melakukan aqiqah.

( الْعَقِيْقَةُ : سُنَّةٌ ) مُؤَكَّدَةٌ : لِمَا مَرَّ ، وَيَحْصُلُ بِهَا اَصْلُ السُّنَّةِ وَلَوْ قَبْلَ اِنْفِصَالِ الْوَلَدِ بَعْدَ اِمْكَانِ نَفْخِ الرُّوْحِ ، فَتُسَنُّ عَنْ سَقَطٍ بَلَغَ ذَلِكَ . وَالْمُخَاطَبُ بِهَا مَنْ عَلَيْهِ نَفَقَةُ الْوَلَدِ لَوْ كَانَ فَقِيْرًا ، وَاِنَّمَا يَعِقُّ الَاصْلُ مِنْ مَالِ نَفْسِهِ : لِانَّهَا تَبَرُّعٌ ، وَهُوَ لَايَجُوْزُ مِنْ مَالِ الْوَلَدِ ، وَيَبْقَى طَلَبُهَا مِنْ الْمُوْسِرِ الَى بُلُوْغِ الْوَلَدِ ، وَهَذَا اِنْ كَانَ الَاصْلُ مُوْسِرًا بِمَا مَرَّ فِيْ الْفِطْرَةِ فِيْ اَيَّامِ اَكْثَرِ النِّفَاسِ ، فَاِنْ اَيْسَرَ بَعْدَ ذَلِكَ . لَمْ تَصِحَّ مِنْهُ كَمَا فِيْ "الإيِْعَابِ". (بشرى الكريم شرح مسائل التعليم: ص  ٧۰٤).

“Aqiqah termasuk sunnah muakkadah, dan hukum pelaksanaannya bisa dimulai bahkan sebelum bayi lahir, asalkan sudah melewati tahap ketika janin diyakini telah ditiupkan ruh. Maka disunnahkan aqiqah atas janin yang gugur yang telah mencapai usia tersebut. Orang yang terkena beban hukum aqiqah adalah orang wajib menafkahi anak tersebut meskipun orang tersebut fakir. Sesungguhnya yang melaksanakan aqiqah adalah orang tua dari hartanya sendiri, karena aqiqah adalah akad tabarru (sedekah/pemberian sukarela), dan hal itu tidak boleh diambil dari harta anak. Anjuran aqiqah berlaku bagi orang musir (mampu) hingga anak itu mencapai usia baligh Hal ini berlaku jika orang tua musi (mampu) dengan ketentuan yang telah lewat pada (pembahasan) zakat fitrah pada hari-hari yang paling banyak masa nifas. Jika ia mampu setelah itu (lewat masa nifas), maka aqiqah tidak sah darinya, sebagaimana disebutkan dalam kitab “al-I’ab”.” (Busyrah al-karim Syarh Masail Ta’lim: 704).


Penulis : Intan Dwi Rahmawati

Contact Person : 085695601355

e-Mail : rahmawatiintan747@gmail.com


Perumus : Rif’at Athoillah, S.Pd.

Mushohih : Syafi’uddin Fauzi, M. Pd.


Penyunting            : Salman Al-farizi


Daftar Pustaka

Yahya bin Syarif al-Nawawi (W. 676 H), al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Daar al-Fikr, Lebanon, cet. pertama (1441-1442 H /2021 M), Sebanyak 22 jilid. 

Sa’id bin Muhammad Ba’ali Ba‘asyin al-Daw’ani al-Hadhrami (W. 127  H), Busyrah al-Karim Syarh Masail Ta’lim, Daar al-Minhaj,  Lebanon, Beirut, Pakis, cet pertama (2004 M / 1425 H).





Posting Komentar untuk "Hukum Aqiqah Untuk Bayi Yang Keguguran"