HUKUM DRY CLEANING, BISAKAH MENSUCIKAN NAJIS?
Dry cleaning adalah metode mencuci pakaian yang tidak menggunakan air murni, melainkan menggunakan cairan kimia tertentu seperti hidrokarbon. hidrokarbon sendiri terdiri dari senyawa kimia yang tersusun dari unsur karbon dan hidrogen, berbentuk cairan organik non-air yang memiliki kemampuan melarutkan minyak, lemak, dan kotoran. Metode ini biasanya digunakan untuk bahan yang sensitif, seperti wol, sutra, kulit, dan bulu. Contohnya, seorang muslim memiliki jas sutra yang terkena najis lalu dibawa ke tempat dry cleaning. Setelah selesai, jas itu tampak bersih dan wangi. tetapi muncul keraguan apakah pakaian itu benar-benar suci menurut syariat atau hanya bersih secara fisik ?
Apakah dry cleaning dapat mensucikan pakaian dalam islam?
Tidak Dapat Mensucikan
Menurut Mazhab Syafi’i Dry cleaning tidak dapat mensucikan pakaian yang terkena najis, sebab proses tersebut tidak menggunakan air dan hanya membersihkan secara fisik, bukan mensucikan secara syar‘i.
Dapat Mensucikan
Dry cleaning dapat mensucikan pakaian menurut Imam Abu Hanifah, Imam Abu Yusuf, dan Imam Daud, jika najis dihilangkan dengan cairan apa pun yang suci dan mengalir, ketika proses mencuci.
قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ إِزَالَةَ النَّجَاسَةِ لَا تَجُوْزُ عِنْدَنَا وَعِنْدَ الْجُمْهُوْرِ إِلَّا بِالْمَاءِ، فَلَا تَجُوْزُ بِخَلٍّ وَلَا بِمَائِعٍ آخَرَ، وَمِمَّنْ نُقِلَ هٰذَا عَنْهُ مَالِكٌ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ وَزُفَرْ وَإِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ، وَهُوَ أَصَحُّ الرِّوَايَتَيْنِ عَنْ أَحْمَدَ. وَقَالَ أَبُو حَنِيْفَةَ وَأَبُوْ يُوْسُفَ وَدَاوُدُ : يَجُوْزُ إِزَالَةُ النَّجَاسَةِ مِنَ الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ بِكُلِّ مَائِعٍ يَسِيْلُ إِذَا غُسِلَ بِهِ ثُمَّ عُصِرَكَالْخَلِّ وَمَاءِ الْوَرْدِ، وَلَا يَجُوْزُ بِدُهْنٍ وَمَرَقٍ، وَعَنْ أَبِيْ يُوْسُفَ رِوَايَةٌ : أَنَّهُ لَا يَجُوْزُ فِي الْبَدَنِ بِغَيْرِ الْمَاءِ، (المجموع شرح المهذب: ج ٢، ص ٣٧)
“Telah kami sebutkan bahwa menghilangkan najis menurut kami (mazhab Syafi‘i) dan menurut jumhur (mayoritas ulama) tidak sah kecuali dengan air. Maka tidak sah dengan cuka dan tidak pula dengan cairan lain. Pendapat ini juga diriwayatkan dari Imam Malik, Muhammad bin al-Hasan, Zufar, dan Ishaq bin Rahawaih. Dan ini merupakan riwayat yang lebih kuat dari dua riwayat Imam Ahmad. Adapun Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan Daud (azh-Zhahiri) berpendapat: boleh menghilangkan najis dari pakaian dan tubuh dengan setiap cairan yang mengalir jika dicuci dengannya kemudian diperas, seperti dengan cuka atau air mawar. Namun, tidak diperbolehkan menggunakan minyak atau kuah (kaldu) karena keduanya bersifat kental dan tidak dapat mengalir. Dari Abu Yusuf juga terdapat riwayat lain yang menyatakan bahwa membersihkan najis pada tubuh tidak sah kecuali dengan air.” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 2:37).
وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ لَا تَصِحُّ الطَّهَارَةُ إِلَّا بِالْمَاءِ. وَحُكِيَ عَنِ ابْنِ أَبِيْ لَيْلَى، وَالْأَصَمِّ جَوَازُ الطَّهَارَةِ بِسَائِرِ الْمَائِعَاتِ. وَكَذَلِكَ لَا تَزَالُ النَّجَاسَةُ إِلَّا بِالْمَاءِ عِنْدَ مَالِكٍ، وَالشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ. وَقَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ : تَزَالُ بِكُلِّ مَائِعٍ طَاهِرٍ. (رحمة الأمة في اختلاف الأئمة : ص ٣٧)
“Para ulama telah sepakat bahwa bersuci tidak sah kecuali dengan air. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Laila dan al-Asham bahwa keduanya membolehkan bersuci dengan selain air di antara cairan-cairan. Demikian pula, najis tidak dapat dihilangkan kecuali dengan air menurut pendapat Imam Malik, asy-Syafi‘i, dan Ahmad. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat: najis dapat dihilangkan dengan setiap cairan yang suci.” (Rahmat al-Ummah fi Ikhtilaf al-A’immah, 37).
Penulis : Windari
Contact Person : 085856904587
e-Mail : windari1909@gmail.com
Perumus : M. Faisol, S.Pd.
Mushohih : M. Faisol, S.Pd.
Penyunting : M. Muslihul Ulum
Daftar Pustaka
Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi (W. 676), al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzab, Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, Cetakan Pertama, 1428 H/2007 M, Sebanyak 27 jilid.
Syekh Muhammad bin ‘Abdurrahman al-Dimasyqi al-Syafi‘i (W. 871 H/1467 M), Rahmat al-Ummah fi Ikhtilaf al-A’immah, Mu'assasah al-Riyan, Beirut, Lebanon, Cetakan Pertama, 1443 H/2021 M.




Posting Komentar untuk "Hukum Dry Cleaning, Bisakah Mensucikan Najis?"