Hukum Menjahit Kain Kafan Jenazah


HUKUM MENJAHIT KAIN KAFAN JENAZAH

Kain kafan adalah kain suci yang digunakan dalam proses pengkafanan jenazah, dan pengafanan jenazah termasuk kewajiban fardu kifayah bagi umat Islam. Dalam ketentuan fikih, kafan dianjurkan menggunakan kain yang sederhana tanpa unsur berhias, sebagaimana dicontohkan dalam praktik Rasulullah saw. dan dijelaskan oleh para ulama. Dalam praktik pengurusan jenazah di masyarakat, ditemukan penggunaan kain kafan yang dijahit hingga menyerupai qamis (gamis tanpa kancing). Bentuk ini dimaksudkan untuk memudahkan proses pengkafanan dan memastikan seluruh tubuh jenazah tertutup dengan rapi. Praktik tersebut dikenal dalam literatur fikih sebagai salah satu bentuk pengafanan yang pernah dibahas oleh para ulama. Pembahasan fikih mengenai kafan berjahit tidak dimaksudkan untuk menilai sah atau tidaknya pengafanan, melainkan untuk menjelaskan kedudukannya dalam hukum syariat dan tingkat keutamaannya dibandingkan bentuk kafan yang dianjurkan. Oleh karena itu, diperlukan penjelasan fikih mengenai hukum menjahit kain kafan menjadi qamis serta kedudukannya dalam perspektif keutamaan ibadah.

Bagaimana pandangan fikih Islam mengenai hukum menjahit kain kafan menjadi qamis (gamis tanpa kancing) dan kedudukannya dalam keutamaan pengkafanan jenazah?


Jawaban:

Khilaf al-awla 

Menjadikan kain kafan dalam bentuk qamis (pakaian berjahit tanpa kancing) termasuk perbuatan khilaf al-awla, karena yang lebih utama dalam mazhab Syafi‘i adalah kafan tidak berbentuk qamis dan tidak pula ‘imamah. Namun, apabila dibuat dalam bentuk qamis, maka tidak dimakruhkan, sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Nawawi dalam kitab al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzab, sehingga perbuatan tersebut hanya sebatas Khilaf al-awla dan tidak termasuk perkara yang diharamkan.

وَإِنْ كُفِّنَ الرَّجُلُ فِي أَرْبَعَةٍ أَوْ خَمْسَةٍ لَمْ يُكْرَهْ، وَلَمْ يُسْتَحَبْ. وَإِنْ كُفِّنَ فِي زِيَادَةٍ عَلَى خَمْسَةٍ قَالَ الْمُصَنِّفُ وَاْلأَصْحَابُ: يُكْرَهُ لِأَ نَّهُ سَرَفٌ. وَلَمْ يَقُولُوْا اِنَّ الزِّيَادَةَ حَرَامٌ، مَعَ أَنَّهَا إضَاعَةُ مَالِ غَيْرِ مَأْذُونٍ فِيهِ. وَلَوْ قَالَ بِهِ قَائِلٌ لَمْ يَبْعُدْ، وَاْلأَفْضَلُ أَنْ لَا يَكُونَ فِي الْكَفَنِ قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ، فَإِنْ كَانَا لَمْ يُكْرَهْ، لَكِنَّهُ خِلَافُ اْلأَوْلَى لِمَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ، هَذَا هُوَ الصَّوَابُ الْمَعْرُوفُ فِي الْمَذْهَبِ، وَبِهِ قَطَعَ اْلأَصْحَابُ. (المجموع شرح المهذب: ج ٥، ص ١٥٠).


“Apabila seorang laki-laki dikafani dengan empat atau lima lapis kain, maka hal itu tidak dianggap makruh dan tidak pula disunnahkan. Namun jika dikafani dengan lebih dari lima lapis kain, maka menurut pendapat al-Musannif dan para ulama mazhab, hukumnya makruh karena termasuk perbuatan berlebihan (israf). Mereka tidak menyatakan bahwa hal itu haram, meskipun pada hakikatnya termasuk pemborosan harta yang tidak diperbolehkan penggunaannya tanpa izin syar‘i. Seandainya ada yang berpendapat bahwa hal itu haram, maka pendapat tersebut tidaklah jauh dari kebenaran. Yang paling utama (afdhal) adalah tidak menggunakan kain kafan berupa gamis (baju berjahit) dan tidak pula menggunakan sorban (imamah). Namun, jika digunakan, maka hukumnya tidak makruh, tetapi termasuk perbuatan yang menyelisihi keutamaan (khilaf al-awla), sebagaimana telah dijelaskan oleh al-Muṣannif. Inilah pendapat yang benar dan paling dikenal dalam mazhab Syafi‘i, serta telah dipastikan oleh para ulama pengikut mazhab ini.”(al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzab, 5: 150).

Catatan:

Bila meninggal dalam keadaan ihram maka hukumnya haram. 

وَلَا يُطَيِّبُ الْمُحْرِمُ مُطْلَقًا لاَ فِي كَفَنِهِ وَلَا فِي بَدَنِهِ وَلَا فِي مَاءِ غَسْلِهِ، كَمَا تَقَدَّمَ، كَمَا لَا يَجُوزُ تَكْفِينُهُ بِشَيْءٍ يَحْرُمُ عَلَيْهِ لُبْسُهُ فِي حَالِ إِحْرَامِهِ، كَالْمُخِيطِ. (الفقه على المذاهب الأربعة: ج ١، ص ٤٦٧).

‘’Dan tidak diperbolehkan memberikan wewangian kepada orang yang sedang berihram, baik pada kain kafannya, pada tubuhnya, maupun pada air yang digunakan untuk memandikannya, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Demikian pula, tidak diperbolehkan mengkafaninya dengan sesuatu yang haram dipakainya ketika dalam keadaan ihram, seperti pakaian yang berjahit.’’ (al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba‘ah, 1: 467).


Penulis : Siti Aisah Fitri Handayani

Contact Person : 082234201646

e-Mail : aisah.fitri2203@gmail.com


Perumus : M. Faisol., S. Pd.

Mushohih : M. Faisol., S. Pd.


Penyunting            : M. Muslihul Ulum


Daftar Pustaka

Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi (W. 676 H), al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab: Dar al-Fikr, Beirut, Lebanon: Cetakan Pertama, 1428 H/2007 M, sebanyak 27 jilid.

Abdurrahman bin Muhammad ‘Awwad al-Jazairi (W. 1360 H), al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba‘ah: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon: Cetakan Kedua, 1424 H/ 2003 M, sebanyak 5 jilid.

==================

==================


==================



Posting Komentar untuk "Hukum Menjahit Kain Kafan Jenazah"