Prespektif Fikih Tentang Tarawih: Keutamaan Salat Tarawih Berjamaah Dan Sendiri

 

PERSPEKTIF FIKIH TENTANG TARAWIH: KEUTAMAAN SALAT TARAWIH BERJAMAAH DAN SENDIRI 

Salat Tarawih adalah salat sunnah yang disyariatkan pada bulan Ramadan. Salat Tarawih boleh dikerjakan secara berjamaah di masjid maupun secara sendiri (munfarid) di rumah, dan keduanya sah menurut syariat. Namun demikian, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan keutamaan antara keduanya.

Manakah yang lebih utama menurut fikih Islam: melaksanakan salat Tarawih secara berjamaah di masjid atau melaksanakannya secara sendiri (munfarid) di rumah?

Jawaban:

Dalam perspektif fikih, salat Tarawih termasuk sunnah muakkadah, yaitu amalan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan di bulan Ramadan. Pelaksanaannya bisa dilakukan secara berjamaah maupun secara sendiri (munfarid), dan keduanya tetap sah serta berpahala. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Syafi’i:

وَصَلَاةُ التَّرَاوِيحِ إِنَّمَا تُشْرَعُ فِي رَمَضَانَ خَاصَّةً، وَتُسَنُّ فِيهَا الْجَمَاعَةُ وَتَصِحُّ فُرَادَى. (الفقه المنهجي على المذهب الشافعي: ج ١، ص ٢٣٧).

“Dan salat Tarawih itu disyariatkan hanya pada bulan Ramadan semata, dianjurkan pelaksanaannya secara berjamaah, namun sah pula apabila dikerjakan secara sendiri.” (al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Syafi’i, Juz 1, hal. 237).

  1. Keutamaan Salat Tarawih secara Berjamaah


Menurut madzab Syafi‘i, salat Tarawih secara berjamaah lebih utama. Hal ini berdasarkan pendapat yang paling kuat dan disepakati mayoritas ulama madzab Syafi‘i sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab. 

أَمَّا حُكْمُ الْمَسْأَلَةِ: فَصَلَاةُ التَّرَاوِيحِ سُنَّةٌ بِإِجْمَاعِ الْعُلَمَاءِ، وَمَذْهَبُنَا أَنَّهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيمَاتٍ وَتَجُوزُ مُنْفَرِدًا وَجَمَاعَةً، وَأَيُّهُمَا أَفْضَلُ ؟ فِيهِ وَجْهَانِ مَشْهُورَانِ كَمَا ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ، وَحَكَاهُمَا جَمَاعَةٌ قَوْلَيْنِ:

الصَّحِيحُ : بِاتِّفَاقِ اْلأَصْحاَبِ أَنَّ الْجَمَاعَةَ أَفْضَلُ، وَهُوَ الْمَنْصُوصُ فِي الْبُوَيْطِيِّ، وَبِهِ قَالَ أَكْثَرُ أَصْحَابِنَا الْمُتَقَدِّمِينَ. (المجموع شرح المهذب: ج ٥، ص ٣٩).

‘’Adapun hukum permasalahan ini, maka salat Tarawih adalah sunnah berdasarkan kesepakatan para ulama. Menurut mazhab kami, jumlah rakaat salat Tarawih adalah 20 rakaat dengan 10 salam, dan boleh dilaksanakan secara sendiri maupun berjamaah. Adapun mengenai mana yang lebih utama antara keduanya, terdapat dua pendapat yang masyhur sebagaimana disebutkan oleh para ulama dan dinukil oleh sejumlah imam. Pendapat yang paling kuat, menurut kesepakatan para ulama dari kalangan mazhab kami, adalah bahwa salat Tarawih secara berjamaah lebih utama. Hal ini juga merupakan pendapat yang ditegaskan dalam kitab al-Buwaiti, dan dipegang oleh mayoritas ulama terdahulu dari kalangan mazhab kami.’’ (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 5: 39).

  1. Keutamaan Salat Tarawih secara Sendiri (Munfarid)


Salat Tarawih secara sendiri juga sah dan tetap berpahala. Bagi orang yang hafal Al-Qur’an dan bisa lebih khusyuk saat salat di rumah, Tarawih sendiri bisa menjadi lebih utama. Namun, jika hal itu membuat ibadah berkurang atau lalai, maka berjamaah tetap lebih baik.


اَلثَّانِيْ: اَلِْانْفِرَادُ أَفْضَلُ، وَقَدْ ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ دَلِيلَهُمَا. قَالَ أَصْحَابُنَا الْعِرَاقِيُّونَ وَالصَّيْدَلَانِيُّ وَالْبَغَوِيُّ وَغَيْرُهُمَا مِنَ الْخُرَاسَانِيِّينَ: اَلْخِلَافُ فِيمَنْ يَحْفَظُ الْقُرْآنَ وَلَا يَخَافُ الْكَسَلَ عَنْهَا لَوِ انْفَرَدَ، وَلَا تَخْتَلِّ الْجَمَاعَةُ فِي الْمَسْجِدِ لِتَخَلُّفِهِ. فَإِنْ فُقِدَ أَحَدُ هَذِهِ الْأُمُورِ فَالْجَمَاعَةُ أَفْضَلُ بِلَا خِلَافٍ، (المجموع شرح المهذب: ج ٥، ص ٣٩).

‘’Adapun pendapat yang kedua menyatakan bahwa melakukannya secara sendiri lebih utama, dan pengarang kitab telah menyebutkan dalil bagi masing-masing pendapat tersebut. Para ulama kami dari kalangan Irak, seperti al-Saydalani, al-Baghawi, dan para ulama Khurasan lainnya menjelaskan bahwa perbedaan pendapat ini berlaku bagi orang yang menghafal Al-Qur’an serta tidak khawatir menjadi malas jika melaksanakannya sendirian, dan ketiadaan dirinya dari salat berjamaah tidak menyebabkan jamaah di masjid menjadi berkurang atau kacau. Namun, apabila salah satu dari dua hal tersebut tidak terpenuhi, maka salat Tarawih secara berjamaah lebih utama tanpa ada perbedaan pendapat.’’ (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 5: 39).


Penulis : Siti Aisah Fitri Handayani

Contact Person : 082234201646

e-Mail : aisah.fitri2203@gmail.com


Perumus : M. Faisol., S. Pd.

Mushohih : M. Faisol., S. Pd.


Penyunting            : M. Muslihul Ulum




Daftar Pustaka

Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf al-Nawawi (W. 676 H), al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzab: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon: Cetakan Pertama, 1428 H/2007 M, sebanyak 27 jilid.

Mustafa al-Khin (W. 1429 H), Mustafa al-Bugha, dan Ali al-Syarbaji, al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzab al-Syafi‘i: Dar al-Qalam li al-Thiba‘ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi‘, Damaskus, Suriah: Cetakan keempat, 1413 H/1992 M, sebanyak 8 jilid.

=======================

=======================

=======================

Posting Komentar untuk "Prespektif Fikih Tentang Tarawih: Keutamaan Salat Tarawih Berjamaah Dan Sendiri"