HUKUM MELAKSANAKAN SALAT FARDHU DI PESAWAT
Dalam perjalanan jarak jauh menggunakan pesawat, sering kali waktu salat tiba saat pesawat masih berada di udara. Kondisi seperti ruang yang terbatas, sulit berdiri, dan arah kiblat yang tidak pasti menimbulkan persoalan tersendiri dalam melaksanakan ibadah. Dari keadaan tersebut kemudian muncul pertanyaan, apakah ibadah salat yang dilakukan dalam kondisi seperti itu tetap dianggap sah secara syariat.
Apakah salat fardhu yang dilaksanakan didalam pesawat sah menurut hukum islam ?
Tidak Sah
Salat di dalam pesawat terbang tidak sah, baik salat fardhu maupun salat sunnah. Hal ini karena tidak adanya ittiṣāl (ketersambungan) antara orang yang melaksanakan salat dengan permukaan bumi, baik secara langsung maupun melalui perantara yang dianggap sah dalam syariat.
وَقَالَ شَيْخُنَا العَلَّامَةُ الفَقِيْهُ الشَّيْخُ إِسْمَاعِيْلُ عُثْمَانَ زَيْنٌ المَكِّيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِيْ رِسَالَتِهِ إِعْلَامُ الزُّمْرَةِ السَّيَّارَةِ : إِنَّهُ لَا تَصِحُّ الصَّلَاةُ عَلَى الطَّيَّارَةِ فَرْضًا أَوْ نَفْلًا لِعَدَمِ اتِّصَالِهِ بِقَرَارِ الأَرْضِ مُبَاشَرَةً أَوْ بِوَاسِطَةً، قَالَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى: وَعِبَارَةُ شَرْحِ الرَّوْضِ الجُزْءِ الأَوَّلِ صَفْحَةَ (١٣٦) : فَرْعٌ يُشْتَرَطُ فِيْ صِحَّةِ صَلَاةِ الفَرِيْضَةِ الاسْتِقْرَارُ إلَخ قَالَ المُحَشِّيْ قَوْلُهُ (يُشْتَرَطُ فِيْ صِحَّةِ صَلَاةِ الفَرِيْضَةِ الاسْتِقْرَارُ) فَلَوْ حَمَلَهُ رَجُلَانِ وَوَقَفَا فِيْ الهَوَاءِ، أَوْ صَلَّى عَلَى دَابَّةٍ سَائِرَةٍ فِيْ هَوْدَجٍ لَمْ تَصِحَّ صَلَاتُهُ اهـ. (ارشاد المريد : ص ١١-١٢)
Guru kita yaitu al-Alamah al-Faqih al-Syaikh Ismail Utsman Zain al-Makiy, pada risalahnya yang bernama “I’lamu zumroti sayyaroh”: sesungguhnya shalat di-pesawat terbang itu tidak sah, baik fardlu maupun sunnah, karena tidak ada ketersambungan antara musholli dengan permukaan bumi secara langsung atau secara perantara. Rokhimahullahu ta’ala berkta, Dalam Syarḥ ar-Rauḍ, jilid pertama halaman (136), disebutkan: “Cabang: Disyaratkan dalam sahnya salat fardu adanya keadaan stabil (tidak bergerak), dan seterusnya”. Kemudian sang pemusyiḥ (pemberi catatan pinggir) berkata: “Perkataan beliau: ‘Disyaratkan dalam sahnya salat fardu adanya keadaan stabil’, maka jika seseorang diangkat oleh dua orang lalu keduanya berdiri di udara, atau ia salat di atas hewan yang berjalan di dalam tandu, maka salatnya tidak sah”. (Irsyadul al-Murid : Hal. 11-12)
Catatan :
Dalam hal ini melaksanakan salat tetap terjadi dengan ketentuan li hurmatil waqti (untuk memuliakan waktu shalat) dan wajib untuk di-qadha’ kembali shalat tersebut ketika telah sampai di tempat tujuan. Seperti yang dijelaskan dalam kitab Taqrirat as-Sadidah:
وَمِثْلَ ذَلِكَ: الصَّلَاةُ فِيْ الطَّائِرَةِ، فَتَجُوْزُ مَعَ الصِّحَّةِ صَلَاةُ النَّفْلِ، وَأَمَّا صَلَاةُ الفَرْضِ إِنْ تَعَيَّنَتْ عَلَيْهِ أَثْنَاءَ الرِّحْلَةِ، وَكَانَتِ الرِّحْلَةُ طَوِيْلَةً، بِأَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ الصَّلَاةَ قَبْلَ صُعُودِهَا أَوْ إِنْطِلَاقِهَا أَوْ بَعْدَ هُبُوْطِهَا فِيْ الوَقْتِ، وَلَوْ تَقْدِيْمًا أَوْ تَأْخِيْرًا، فَفِيْ هَذِهِ الحَالَةِ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُصَلِّيَ لِحُرْمَةِ الوَقْتِ مَعَ اسْتِقْبَالِ القِبْلَةِ، (التقريرات السديدة : ص ٢٠١)
"Seperti halnya shalat di kendaraan adalah shalat di pesawat, melaksanakannya diperbolehkan pada shalat sunnah. Sedangkan pada shalat fardhu, jika ia hanya bisa melakukan di tengah perjalanan karena perjalanan jauh dengan ketentuan ia tidak mampu melaksanakan shalat pada waktunya, baik sebelum take off pesawat atau setelah landing pesawat, meskipun dengan cara jama' takdim ataupun jama' ta'khir, maka dalam keadaan demikian wajib baginya untuk shalat Ii hurmatil waqti dengan tetap menghadap pada arah kiblat." (al-Taqrirat al-Sadidah : Hal. 201)
Penulis : Rosnella Dwi Cahyani
Contact Person : 081247357770
e-Mail : rosnelladwi1309@gmail.com
Perumus : M. Faisol, S.Pd.
Mushohih : M. Faisol, S.Pd.
Penyunting : Ahmad Muzammilul Hannan
Daftar Pustaka
Ahmad Ghazali Muhammad Fathullah, Irsyadul al-Murid, Lajnah Falakiyah al-Mubarak Lanbulan, Ponpes al-Mubarok, Lanbulan, Sampang, Madura, cet. Keenam, 1445 H.
Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim Al-Kaf (W. 1420 H), al-Taqrirat al-Sadidah, Dar al-Ulum al-Islamiyah, Beirut, Lebanon: 1416 h1427 H / 2006 M.
===============================
==============================
==============================


%20Rosnella%20Dwi%20Cahyani%20(5).png)
%20Rosnella%20Dwi%20Cahyani%20(6).png)
Posting Komentar untuk "Hukum Melaksanakan Salat Fardhu Di Pesawat"