STATUS DARAH SEORANG WANITA SETELAH
MENGALAMI KEGUGURAN
Keguguran adalah peristiwa yang tidak jarang dialami oleh perempuan pada usia kehamilan yang berbeda-beda. Keadaan ini menimbulkan permasalahan khususnya berkaitan dengan penentuan status darah yang keluar setelah keguguran. Sebagian perempuan mengalami keguguran ketika janin telah terbentuk, sementara sebagian lainnya mengalaminya pada tahap awal kehamilan yaitu ketika janin belum terbentuk secara sempurna.
Bagaimanakah status hukum darah yang keluar setelah keguguran, apakah ada perbedaan antara janin yang sudah terbentuk dan tidak?
Jawaban:
A. Darah Nifas
Darah yang keluar setelah keguguran, baik janin sudah berbentuk manusia maupun masih berupa gumpalan darah, sama-sama dihukumi sebagai darah nifas. Hal ini karena, sudah termasuk permulaan penciptaan manusia. Maka, darah yang keluar setelahnya dihukumi nifas.
أَكْثَرُهُ، سِتُّونَ يَوْمًا عَلَى الْمَشْهُوْرِ. وَحَكَى أَبُوْ عِيْسَى التِّرْمِذِيُّ عَنِ الشَّافِعِيِّ: أَنَّهُ أَرْبَعُوْنَ. وَغَالِبُهُ: أَرْبَعُوْنَ. وَلَا حَدَّ لِأَقَلِّهِ؛ بَلْ يَثْبُتُ حُكْمُ النِّفَاسِ لِمَا وَجَدَتْهُ، وَإِنْ قَلَّ. وَقَالَ الْمُزَنِيُّ: أَقَلُّهُ: أَرْبَعَةُ أَيَّامٍ. وَسَوَاءٌ فِي حُكْمِ النِّفَاسِ، كَانَ الْوَلَدُ كَامِلَ الْخِلْقَةِ، أَوْ نَاقِصَهَا، حَياًّ أَوْ مَيْتًا. وَلَوْ أَلْقَتْ مُضْغَةً، أَوْ عَلَقَةً، وَقَالَ الْقَوَابِلُ: إِنَّهُ مُبْتَدَأُ خَلْقِ آدَمِيٍّ، فَالدَّمُ الْمَوْجُودُ بَعْدَهُ، نِفَاسٌ. (روضة الطالبين: ج ۱، ص ۱٧٤).
“Maksimal masa nifas adalah enam puluh hari menurut pendapat yang masyhur. Imam Abu ‘Isa al-Tirmidzi meriwayatkan dari Imam al-Syafi‘i bahwa masa nifas adalah empat puluh hari. Umumnya masa nifas berlangsung selama empat puluh hari. Tidak ada batasan minimalnya, tetapi hukum nifas tetap berlaku selama ada darah yang keluar (setelah melahirkan) meskipun sedikit. Al-Muzani berkata: masa nifas paling sedikit adalah empat hari. Dalam hukum nifas, tidak ada perbedaan bayi yang dilahirkan itu sempurna bentuknya, atau belum sempurna, hidup atau mati, demikian pula jika yang keluar berupa segumpal daging (mudhghah) atau segumpal darah (‘alaqah). Para bidan menyatakan bahwa yang keluar itu merupakan awal penciptaan manusia, maka darah yang keluar setelahnya dihukumi sebagai darah nifas.” (Raudhah al-Thalibin , 1: 439).
B. Bukan Darah Nifas
Darah yang keluar setelah keguguran tidak dihukumi nifas, jika janin yang keluar masih berupa air mani (nuthfah) atau segumpal darah (‘alaqah), hal ini sesuai penjelasan Ibn Qudamah dalam kitab al-Mughni.
وَالثَّانِي، لَيْسَ بِنِفَاسٍ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَتَبَيَّنْ فِيْهَا خَلْقُ آدَمِيٍّ، فَأَشْبَهَتِ النُّطْفَةَ. (المغني: ج ۱، ص ٤۳١).
Pendapat kedua: darah itu bukan nifas, karena belum tampak padanya bentuk manusia, maka dihukumi seperti nutfah (air mani).” (al-Mughni, 1:431).
Penulis : Dina Khalimatus Sa’diyah
Contact Person : 085850228296
e-Mail : dinakhalimatussadiyah@gmail.com
Perumus : Rif’at Athoillah, S.Pd
Mushohih :Durrotun Nasikhin, M.Pd
Penyunting : Ahmad Muzammilul Hannan
Daftar Pustaka
Al-Imam al-’Allamah Abu Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi (W. 676 H), Raudhah al-Thalibin, Dar al-Faihka’, Dar al-Mutaha Batrun, Jeddah, cet. Pertama, (1433 H/2012 M.), sebanyak 12 jilid.
Al-Muwaffaq al-Din Abu Muḥammad ʿAbd Allah ibn Aḥmad ibn Muḥammad ibn Qudamah al-Maqdisi al-Jamaʿili al-Dimasyqi al-Shalihi al-Hanbali (W. 620 H), al-Mughni, Dar ʿAlam al-Kutub, Riyadh, sebanyak 10 jilid.
========================================
========================================
========================================


%20Dina%20Khalimatus%20Sa'diyah.png)
%20Dina%20Khalimatus%20Sa'diyah%20(1).png)
Posting Komentar untuk "Status Darah Seorang Wanita Setelah Mengalami Keguguran"