Hukum Memberikan Mahar Nikah Berupa Barang Yang Masih Dicicil

 


HUKUM MEMBERIKAN MAHAR NIKAH BERUPA BARANG YANG MASIH DICICIL

Dalam pernikahan, mahar merupakan hak istri yang wajib diberikan oleh suami, baik berupa uang maupun barang yang bernilai. Namun, lantas bagaimana ketika calon suami memberikan mahar berupa barang yang masih dalam status cicilan, contohnya seorang suami memberikan mahar sebuah motor atau perhiasan emas yang ia beli secara kredit dan masih dalam proses cicilan.

Apakah sah memberikan mahar nikah berupa barang yang masih dalam status cicilan?

Sah

Boleh/sah memberikan mahar kepada istri berupa utang, barang, pembayaran tunai, atau mahar yang masih ditangguhkan. Penundaan pembayaran mahar, baik sebagian maupun seluruhnya, meskipun mahar yang diberikan berupa barang yang masih memiliki cicilan.


فَصْلٌ : وَيَجُوْزُ أَنْ يَكُوْنَ الصَّدَاقُ دَيْنًا، وَعَيْنًا، وَحَالاً، وَمُؤَجَّلاً؛ لِأَ نَّهُ عَقْدٌ عَلَى الْمَنْفَعَةِ، َفجَازَ بِمَا ذَكَرْنَاهُ، كَالْإِجَارَةِ. ( المجموع شرح المهذب: ج ٢٠، ص ١٢)

“Pasal: Mahar (maskawin) boleh berupa utang maupun barang nyata (tunai), bisa juga dibayarkan segera (kontan) atau ditangguhkan (diajukan pembayarannya di waktu tertentu). Hal ini dibolehkan karena akad nikah merupakan akad atas suatu manfaat, sehingga boleh menggunakan bentuk pembayaran sebagaimana yang telah disebutkan, seperti halnya dalam akad sewa (ijarah).” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 20:12).

(وَمَلَكَ مُقْتَرِضٌ) شَيْئًا مُقْرَضًا (بِقَبْضٍ) بِإِذْنِ مُقْرِضٍ وَإِنْ لَمْ يَتَصَرَّفْ فِيْهِ بِمَا يُزِيْلُ الْمِلْكَ فَيُنْفِقُهُ.(نهاية الزين: ص ٢٣٧)

"Orang yang berhutang berhak memiliki barang yang dihutang dengan diterimanya (barang tersebut), atas izin orang yang menghutanginya meskipun ia belum melakukan tindakan apapun yang menghilangkan kepemilikan itu, seperti membelanjakannya”. (Nihayah al-Zain, 237)

إِذَا ثَبَتَ هٰذَا: فَإِنْ كُلَّ مَا يَصِحُّ أَنْ يَكُوْنَ مَبِيْعًا عِوَضًا أَوْ مُعَوَّضًا عَيْنًا، أَوْ دَيْنًا، أَوْ مَنْفَعَةً، كَثِيْرًا، أَوْ قَلِيْلًا مَا لَمْ يَنْتَهِ فِي الْقِلَّةِ إِلَى حَدٍّ لَا يُتَمَوَّلُ: صَحَّ صَدَاقًا، وَمَا لَا فَلَا، فَإِنْ عُقِدَ بِمَا لَا يُتَمَوَّلُ، وَلَا يُقَابِلُ بِمُتَمَوَّلٍ: فَسَدَتْ التَّسْمِيَةُ، وَرُجِعَ لِمَهْرِ الْمِثْلِ، وَمَثَّلَ لَهُ الصِّيْمَرِيُّ بِالنَّوَاةِ، وَالْحَصَاةِ، وَقِمْعِ الْبَاذِنْجَانَةِ. (المجموع شرح المهذب: ج ٢٠، ص ١٣)

“Jika hal ini telah jelas: maka setiap sesuatu yang sah dijadikan objek jual beli baik berupa barang fisik, utang, atau manfaat, baik banyak maupun sedikit selama tidak terlalu sedikit hingga tidak dianggap sebagai harta maka sah pula dijadikan mahar. Adapun sesuatu yang tidak bernilai atau tidak dianggap harta  maka tidak sah dijadikan mahar dan akadnya kembali kepada Mahar Mitsil. As-Shimari  memberi contoh barang yang tidak bernilai seperti biji kurma, kerikil, atau tangkai terong.” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 20: 13).


Kesimpulan:

Barang yang dibeli secara kredit atau dicicil sah dijadikan mahar karena hak kepemilikan barang tersebut sudah berpindah sepenuhnya kepada pembeli sejak serah terima dilakukan atas izin penjual, dan setiap benda yang bernilai dan sah diperjualbelikan juga sah dijadikan mahar. Jika barang itu tidak bernilai atau tidak dianggap harta, maka mahar tidak sah dan kembali kepada mahar mitsil.


         Penulis : Intan Akmaliyah

Contact Person : 085706662195

e-Mail : Intanakmalia715@gmail.com


          Perumus : Rif’at Athoillah, S.Pd.

         Mushohih : Durrotun Nasikhin M.Pd.


Penyunting : M. Salman Alfarizi


Daftar Pustaka

Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi (W. 676 H), al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon, cetakan pertama: (1391 H / 1971 M), sebanyak 27 jilid.

Syekh Abu Abdul Mu'thi Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani (1316 H),  Nihayah al-Zain: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon, (1971 M).


===========================



===========================



==========================



==========================







Posting Komentar untuk "Hukum Memberikan Mahar Nikah Berupa Barang Yang Masih Dicicil"