Hukum Membongkar Kembali Makam Karena Lupa Melepas Tali Pocong

HUKUM MEMBONGKAR KEMBALI MAKAM KARENA LUPA MELEPAS TALI POCONG

Dalam tradisi penguburan jenazah, biasanya jenazah dikafani dengan kain dan diikat menggunakan tali kafan atau bisa disebut tali pocong. Umumnya tali kafan tersebut dalam islam dianjurkan untuk melepaskannya. Namun terkadang seseorang lupa melepas tali pocong sehingga tali pocong masih terikat pada jenazah saat dikubur, hal ini menimbulkan kekhawatiran bila suatu saat nanti makam tersebut dibongkar orang lain untuk diambil tali pocongnya dan disalahgunakan untuk kepentingan ritual yang bertentangan dengan syariat.

Bagaimana hukum membongkar kembali makam untuk melepas tali pocong?

JAWABAN

  1. TIDAK BOLEH

Menurut ulama’ mazhab imam Syafi’i, karena tidak termasuk kategori hal-hal yang mewajibkan/diperbolehkannya membongkar kembali kuburan, dan jika membongkar kuburan hanya untuk melepas tali pocong maka tidak diperbolehkan. 

(وَ)لَا يَجُوْزُ نَبْشُ الْقَبْرِ بَعْدَ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَبْلَ الْبِلَى عِنْدَ أَهْلِ الْخُبْرَةِ بِتِلْكَ الْأَرْضِ لِلنَّقْلِ وَلَوْ لِنَحْوِ مَكَّةَ أَوْ غَيْرِهَ، كَالصَّلَاةِ عَلَيْهِ وَتَكْفِيْنِهِ إِلَّا لِوَاحِدٍ مِنْ خَمْسَةٍ: الأَوَّلُ: مَا إِذَا دُفِنَ بِلَا غُسْلٍ وَلَا تَيَمُّمٍ بِشَرْطِهِ وَهُوَ مِمَّنْ يَجِبُ غُسْلَهُ فَحِيْنَئِذٍ (نَبْشُ) وُجُوبًا (لِغُسْلِ) تَدَارُكًا لِلطُّهْرِ الْوَاجِبِ مَا لَمْ يَتَغَيَّرْ ثُمَّ يُصَلَّى عَلَيْهِ. الثَّانِي: مَا إِذَا دُفِنَ بِأَرْضٍ أَوْ ثَوْبٍ مَغْصُوْبَيْنِ وَطَالَبَ بِهِمَا مَالِكُهُمَا فَيَجِبُ نَبْشُهُ وَإِنْ تَغَيَّرَ إِذَا وُجِدَ مَا يُكَفَّنُ فِيْهِ غَيْرُ الثَّوْبِ الْمَغْصُوْبِ، وَإِلَّا فَلَا يَجُوْزُ. الثَّالِثُ: مَا إِذَا وَقَعَ فِي الْقَبْرِ مَالٌ وَإِنْ قَلَّ، كَخَاتَمٍ وَطَلَبَهُ مَالِكُهُ فَيَجِبُ النَّبْشُ وَإِنْ تَغَيَّرَ. الرَّابِعُ: مَا لَوْ بَلَعَ مَالًا لِغَيْرِهِ وَطَلَبَهُ مَالِكُهُ وَلَمْ يَضْمَنْ مِثْلَهُ أَوْ قِيْمَتَهُ أَحَدٌ مِنَ الْوَرَثَةِ أَوْ غَيْرِهِمْ يُنْبَشُ وَيُشَقُّ جَوْفُهُ وَيُخْرَجُ مِنْهُ وَيُرَدُّ لِصَاحِبِهِ. الْخَامِسُ: إِذَا دُفِنَ لِغَيْرِ الْقِبْلَةِ يَجِبُ نَبْشُهُ وَيُوَجَّهُ لِلْقِبْلَةِ مَا لَمْ يَتَغَيَّرَ.(نهاية الزين في إرشاد المبتدئين: ص١٥٢) 

“Tidak diperbolehkan membongkar (menggali kembali) kubur setelah mayit dikuburkan dan sebelum jasadnya hancur (binasanya tubuh), menurut keterangan para ahli yang mengetahui kondisi daerah tersebut meskipun hanya untuk memindahkan (mayit) sekalipun ke arah Makkah atau tempat lain. Sebagaimana tidak diperbolehkan pula (membongkar) hanya karena hendak menyalatkannya lagi atau mengkafani ulang. Kecuali dalam lima keadaan berikut:

  1. Jika mayit dikuburkan tanpa dimandikan atau ditayamumkan sesuai ketentuannya, padahal ia termasuk orang yang wajib dimandikan. Maka dalam hal ini wajib dibongkar kuburnya untuk dimandikan, guna menyempurnakan kesucian yang wajib selama jasadnya belum berubah (membusuk). Setelah itu dishalatkan kembali.

  2. Jika mayit dikubur di tanah atau dengan kain kafan yang merupakan barang rampasan (ghasab), lalu pemiliknya menuntut kembali haknya, maka wajib membongkar kuburnya meskipun jasadnya telah berubah selama masih ditemukan kain kafan lain yang suci untuk menggantikan kain rampasan itu. Tetapi jika tidak ada penggantinya, maka tidak boleh dibongkar.

  3. Jika di dalam kubur ada harta milik orang lain, sekalipun sedikit seperti cincin, dan pemiliknya menuntut kembali, maka wajib dibongkar kuburnya dan diambil barang tersebut, meskipun jasad telah berubah.

  4. Jika mayit menelan harta milik orang lain dan pemiliknya menuntut kembali, sedangkan tidak ada yang menjamin mengganti nilainya dari pihak ahli waris atau orang lain, maka kuburnya dibongkar dan perutnya dibedah untuk mengambil harta tersebut lalu dikembalikan kepada pemiliknya.

  5. Jika mayit dikuburkan tidak menghadap ke kiblat, maka wajib dibongkar dan diarahkan ke kiblat selama jasadnya belum berubah.” (Nihayatu al-Zain fi Irsyad al-Mubtadi’in, hal. 152)

  1. BOLEH

Menurut ulama’ mazhab Imam hambali, boleh menggali kembali makam yang sudah terlanjur tertimbun tanah dalam waktu yang masih singkat, karena melepaskan tali pocong tersebut adalah sunnah, sehingga diperbolehkan menggali kubur demi melaksanakan kesunnahannya.

(ثُمَّ يَعْقِدُهَا) أَيْ اللَّفَائِفَ (إِنْ خَافَ انْتِشَارَهَا. ثُمَّ تُحَلُّ الْعُقَدُ فِي الْقَبْرِ) لِقَوْلِ ابْنِ مَسْعُودٍ: «إِذَا أَدْخَلْتُمُ الْمَيِّتَ اللَّحْدَ فَحُلُّوا الْعُقَدَ» رَوَاهُ الْأَثْرَمُ (زَادَ أَبُو الْمَعَالِي وَغَيْرُهُ: وَلَوْ نَسِيَ) الْمُلْحِدُ أَنْ يَحُلَّهَا نُبِشَ وَلَوْ كَانَ (بَعْدَ تَسْوِيَةِ التُّرَابِ قَرِيبًا. لِأَنَّهُ) أَيْ حَلَّهَا (سُنَّةٌ) فَيَجُوزُ النَّبْشُ لِأَجْلِهِ، كَإِفْرَادِهِ عَمَّنْ دُفِنَ مَعَهُ. (وَلَا يُحَلُّ الْإِزَارُ) فِي الْقَبْرِ إِذَا كُفِّنَ فِي إِزَارٍ وَقَمِيصٍ وَلَفَافَةٍ، نَصَّ عَلَيْهِ. (كشاف القناع عن متن الإقناع: ج ١،  ص٥٧٢)

“(Kemudian ia mengikatnya) yaitu: kain-kain kafan tersebut (jika ia khawatir kainnya akan terurai, kemudian ikatan-ikatan tersebut dilepaskan di dalam kubur) berdasarkan perkataan Ibnu Mas'ud: "Jika kalian memasukkan mayat ke dalam liang lahad, maka lepaskanlah ikatan-ikatannya." (Diriwayatkan oleh Al-Athram). (Abu al-Ma'ali dan ulama lainnya menambahkan: Seandainya) orang yang memakamkan (lupa) untuk melepas ikatan tersebut, maka makam tersebut digali kembali (nabasy) meskipun hal itu terjadi (setelah meratakan tanah dalam waktu yang masih singkat; karena) tindakan (melepaskan ikatan tersebut adalah sunnah). Maka diperbolehkan menggali kembali makam demi tujuan tersebut, sebagaimana diperbolehkan menggali makam untuk memisahkan jenazah dari orang lain yang dikuburkan bersamanya (jika dikubur dalam satu lubang tanpa darurat). (Dan kain sarung/izar tidak dilepas) di dalam kubur jika jenazah dikafani dengan menggunakan kain sarung (izar), baju kurung (qamis), dan kain pembungkus (lifafah). Hal ini telah ditegaskan (oleh Imam Ahmad).” (Kasyaf al-Qina‘ ‘an Matn al-Iqna‘, 1 : 572 )


Penulis : Muhammad Maqin

Contact Person : 081515790078

e-Mail : makin.mkn00@gmail.com


Perumus : Rifat Athoillah, S.Pd.

Mushohih : Syafi’udin Fauzi, M.Pd


Penyunting            : M. Salman Alfarizi


Daftar Pustaka

Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi al-Bantani, (W. 1316 H), Nihayah al-Zayn fī Irsyad al-Mubtadi’in, Dar al-Fikr, Beirut, cetakan pertama, 2002 M.

Mansur bin Yunus al-Buhuti al-Hanbali, (W. 1051 H), Kasyaf al-Qina‘ ‘an Matn al-Iqna‘, Alim al-Kutub, Kairo, Mesir: Tanpa tahun. Sebanyak 5 Jilid.

===============================

================================


================================


Posting Komentar untuk "Hukum Membongkar Kembali Makam Karena Lupa Melepas Tali Pocong"