Hukum Membuang, Menggunting, Dan Menggunakan Sebagai Sampul Kalender, Pamflet Atau Poster Bergambar Ulama Yang Sudah Tidak Terpakai

 


HUKUM MEMBUANG, MENGGUNTING, DAN MENGGUNAKAN SEBAGAI SAMPUL KALENDER, PAMFLET ATAU POSTER BERGAMBAR ULAMA YANG SUDAH TIDAK TERPAKAI

Setiap tahun, sebuah pesantren besar biasanya menerbitkan kalender atau poster yang memuat informasi kegiatan rutin mereka. Pada lembaran-lembaran tersebut sering tercetak foto para tokoh yang sangat dihormati, seperti para kiai, para habaib, ulama dan orang-orang saleh. Ketika kalender atau poster itu sudah tidak berlaku lagi, muncul berbagai perlakuan dari para santri terhadapnya. Ada yang membuangnya begitu saja, ada yang mengguntingnya untuk kebutuhan tertentu, dan ada pula yang memanfaatkannya sebagai sampul kitab.

  1. Apakah foto ulama dalam kalender termasuk sesuatu yang wajib dimuliakan (muadzom/muhtarom)?

  2. Bagaimana hukum membuang, menggunting dan menggunakan sebagai sampul kitab? 

  1. Foto ulama dalam kalender termasuk kategori muadzom (sesuatu yang dimuliakan) 

Dikarenakan foto tersebut menunjukkan sosok yang harus dihormati sebagaimana nama ulama' menunjukkan sosok Ulama yang mempunyai nama tersebut.

قَوْلُهُ : (مَا عَلَيْهِ مُعَظَّمٌ) لَيْسَ الْمُرَادُ مُطْلَقَ التَّعْظِيْمِ بَلْ مَا يَقْتَضِيْ الْعِصْمَةَ اهـ شَوْبَرِيُّ. وَفِيْ ق ل عَلَى الْمَحَلِّى وَمِنَ الْمُعَظَمِ أَسْمَاءُ اللهِ الْخَاصَّةُ بِهِ، أَوِ الْمُشْتَرَكَةُ بِقَصْدِهِ وَأَسْمَاءُ اْلاَ نْبِيَاءِ وَالْمَلَائِكَةِ وَلَوْ عَوَامَهُمْ قَالَ شَيْخُنَا وَكَذَا أَسْمَاءُ صُلَحَاءِ الْمُؤْمِنِيْنَ كَالصُّلَحَاءِ، وَاْلاَوْلِيَاءِ فَإِنْ دَخَلَ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ غَيَّبَهُ فِيْ نَحْوِ عِمَامَتِهِ وَيَحْرُمُ تَنْجِيْسُهُ وَلَوْ فِيْ غَيْرِ اْلاِسْتِنْجَاءِ فَرَاجِعُهُ اه. ( حاشية الجمل : ١ ، ص١٣٢).

“(Ucapannya: Sesuatu yang diagungkan) yang dimaksud bukan segala bentuk penghormatan secara umum, tetapi sesuatu yang menuntut untuk dijaga dari penghinaan, sebagaimana dijelaskan oleh asy-Syawbarī. Dan dalam Qālyūbī ‘alā al-Maḥallī disebutkan bahwa yang termasuk dalam kategori lafaz yang diagungkan adalah: Nama-Nama Allah yang khusus bagi-Nya, atau Nama-Nama yang digunakan secara bersama tetapi dimaksudkan merujuk kepada-Nya, serta Nama-Nama para Nabi dan para Malaikat, meskipun mereka adalah Malaikat yang umum. Guru kami menambahkan, "Demikian juga" termasuk di dalamnya adalah Nama-Nama orang saleh dari kaum Mukminin, seperti para orang-orang yang sangat saleh dan para kekasih Allah. Apabila seseorang terpaksa masuk (ke tempat buang hajat) dengan membawa sesuatu dari lafaz yang diagungkan itu, maka wajib baginya menyembunyikannya, misalnya dengan menutupnya di balik sorban, saku, atau sejenisnya. Dan diharamkan menajiskan lafaz yang diagungkan tersebut, meskipun tidak dalam konteks istinjā’. Oleh karena itu, hendaknya hal ini dirujuk kembali. “(Hasyiah al-Jamal, 1 : 132)

  1. Hukum membuang, menggunting dan menggunakan sebagai sampul kitab adalah tafsil : 

  1. Hukum membuang kalender ke tempat sampah adalah haram sebab perbuatan tersebut secara 'urf merupakan bentuk pelecehan. 

قَوْلُهُ : (كَإِلْقَاءِ مُصْحَفٍ أَوْ نَحْوِهِ مِمَّا فِيْهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ بَلْ اِسْمٌ مُعَظَّمٍ مِنَ الْحَدِيْثِ قَالَ الرُّؤْيَانِيْ : أَوْ مِنْ عِلْمٍ شَرْعِيٍ وَاْلإِلْقَاءُ لَيْسَ بِقَيْدٍ بَلْ الْمَدَارُ عَلَى مُمَاسَّتِهِ بِقَذَرٍ وَلَوْ طَاهِرًا وَالْحَدِيْثُ فِيْ كَلَامِهِ شَامِلٌ لِلضَّعِيْفِ وَهُوَ ظَاهِرُ ؛ ِلأَنَّ فِيْ إِلْقَائِهِ اِسْتِخْفَافًا بِمَنْ نُسِبَ إِلَيْهِ وَخَرَجَ بِالضَّعِيْفِ الْمَوْضُوعُ ا هـ ع ش وَعِبَارَةُ ق ل كَإِلْقَاءُ مُصْحَفِ بِالْفِعْلِ أَوْ بِالْعَزْمِ بِهِ وَأَلْحَقَ بِهِ بَعْضُهُمْ وَضْعَ رِجْلِهِ عَلَيْهِ وَنُوْزِعَ فِيْهِ قَوْلُهُ : (بِقَاذُوْرَةٍ) أَيْ قَذَرٍ وَلَوْ طَاهِرًا كَبُصَاقٍ وَمُخَاطٍ وَمَنِيٍّ عَلَى وَجْهِ اْلاِسْتِخْفَافِ لَا لِخَوْفِ أَخْذِ نَحْوِ كَافِرٍ لَهُ وَإِنْ حَرُمَ وَكَإِلْقَاءِ ذَلِكَ عَلَى الْقَذَرِ إِلْقَاءُ الْقَذَرِ عَلَيْهِ قَالَ شَيْخُنَا الرَّمْلِى : وَلَا بُدَّ فِيْ غَيْرِ الْقُرْآنِ مِنْ قَرِيْنَةٍ تَدُلُّ عَلَى اْلاِهَانَةِ وَإِلَّا فَلَا.(حاشية البجيرمي،  ج ٤ : ص ٢٤٠)

“Perkataan beliau: “Seperti melempar (membuang) mushaf atau yang semisalnya dari sesuatu yang di dalamnya terdapat sebagian dari Al-Qur’an, bahkan (juga) sebuah nama yang dimuliakan dari hadis.” Ar-Ruwayānī berkata: “Atau (juga) ilmu syariat.” Dan melempar bukanlah syarat, tetapi acuannya adalah terjadinya persentuhan dengan sesuatu yang najis, meskipun najis itu hanya tampak lahirnya saja. Dan hadis dalam ucapannya mencakup hadis dha‘if, dan ini jelas; karena dalam melemparnya terdapat unsur meremehkan terhadap yang dinisbahkan kepadanya (yaitu Rasulullah). Yang dikecualikan dari hadis dhaif adalah hadis maudhu’. Adapun lafaz dari Wala: “Seperti melempar mushaf, baik dengan perbuatan maupun dengan tekad untuk melakukannya, dan sebagian ulama mengqiyaskan kepadanya perbuatan meletakkan kaki di atas mushaf.” Dan dalam ucapan beliau terdapat frasa: “Dengan kotoran” yaitu benda najis, meskipun hanya tampak lahirnya, seperti ludah, ingus, atau mani, dengan tujuan meremehkan, bukan karena takut mushaf tersebut diambil oleh orang kafir, meskipun hal itu (membuangnya) tetap haram. Dan sebagaimana melempar mushaf tersebut ke atas benda najis, demikian pula melempar najis ke atas mushaf. Syaikh kami Ar-Ramlī berkata: “Dan untuk selain al-Qur’an, harus ada indikasi yang menunjukkan adanya penghinaan (ihānah); jika tidak, maka tidak dianggap demikian.” (Hasyiyah al-Bujairomi, 4: 240)

  1. Menggunting kalender atau poster bergambar ulama diperbolehkan selama tidak menunjukkan unsur istihanah atau istikhfaf menurut ‘urf. Namun, apabila cara pengguntingannya mengarah pada pelecehan, maka hukumnya haram.

(وَحَاصِلُ أَكْثَرَ تِلْكَ الْعِبَارَاتِ) الَّتِى ذَكَرَهَا ذَانِكَ اْلاِمَامَانِ (يَرْجِعُ إِلَى كُلِّ عَقْدٍ) بِفَتْحِ أَوَّلِهِ وَسُكُوْنِ ثَانِيْهِ أَيْ اِعْتِقَادٍ (أَوْ فِعْلٍ أَوْ قَوْلٍ ) مَوْصُوْفٍ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا بِكَوْنِهِ (يَدُلُّ عَلَى اِسْتِهَانَةِ) مِمَّنْ صَدَرَ مِنْهُ (أَوِ اسْتِخْفَافٍ بِاللهِ ) سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى (أَوْ) بِشَيْءٍ مِنْ (كُتُبِهِ) الْمِائَةِ وَاْلاَرْبَعَةِ الْمَارَّةِ (أَوْ) بِأَحَدٍ مِنْ (أَنْبِيَائِهِ) وَفِيْ نُسْخَةٍ بِخَطٍ الْمُؤَلِّفِ أَوْ رُسُلِهِ وَاْلاَوْلَى أَعَمُّ (أَوْ مَلَائِكَتِهِ) الْمُجْمَعِ عَلَيْهِمْ كَمَا مَرَّ (أَوْ) بِشَيْءٍ مِنْ ( شَعَائِرِهِ) جَمْعُ شَعِيْرَةٍ وَهِيَ الْعَلَامَةُ أَيْ عَلَامَاتِ دِيْنِهِ كَالْكَعْبَةِ وَالْمَسَاجِدِ فَقَوْلُهُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى (أَوْ مَعَالِمِ) دِيْنِهِ بِمَعْنَى الشَّعَائِرِ كَمَا قَالَهُ السُّيُوْطِىْ (أَوْ) بِشَيْءٍ مِنْ (أَحْكَامِهِ) تَعَالَى أَيْ أَحْكَامِ دِيْنِهِ كَالصَّلَاةِ وَالصَّوْمِ وَالحَجِّ وَالزَّكَاةِ (أَوْ) بِشَيْءٍ مِنْ (وَعْدِهِ) بِالثَّوَابِ لِلْمُطِيْعِ (أَوْ) مِنْ (وَعِيْدِهِ) بِالْعِقَابِ لِمَنْ كَفَرَ بِهِ وَعَصَاهُ ( كُفْرٌ) خَبَرُ أَنَّ أَيْ إِنْ قَصَدَ قَائِلُ ذَلِكَ اْلاِسْتِخْفَافِ أَوِ الاِسْتِهْزَاءِ بِذَلِكَ (أَوْ مَعْصِيَّةٌ) مُحَرَّمَةٌ شَدِيْدَةً التَّحْرِيْمِ إِنْ لَمْ يَقْصِدُ ذَلِكَ.(إسعاد الرفيق : ج ١، ص ٦١)

“Kesimpulan dari kebanyakan ungkapan yang disebutkan oleh dua imam tersebut kembali kepada setiap ‘aqd dengan membuka huruf pertamanya dan mensukunkan huruf keduanya maksudnya keyakinan, perbuatan, atau ucapan apa pun yang ditetapkan (diniatkan atau diarahkan) sehingga menunjukkan adanya penghinaan dari orang yang mengucapkannya, atau meremehkan Allah Subhanahu wa Ta‘ala, atau meremehkan sesuatu dari kitab-kitab-Nya yang seratus empat (yakni kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi terdahulu, sebagaimana telah disebutkan), atau meremehkan salah seorang nabi atau rasul-Nya dalam sebagian naskah disebut “bihaqqi rusulihi” dan yang pertama (lafadz anbiya’ihi) lebih umum maknanya. Atau meremehkan malaikat-malaikat-Nya yang telah disepakati keberadaannya sebagaimana telah dijelaskan, atau meremehkan salah satu dari syiar-syiar-Nya jamak dari sya‘irah yang berarti tanda, yakni tanda-tanda agama-Nya seperti Ka‘bah dan masjid-masjid. Maka ucapan beliau “aw ma‘alimi dinihi” atau tanda-tanda agama-Nya memiliki makna yang sama dengan sya‘airihi, sebagaimana dijelaskan oleh As-Suyuti. Atau meremehkan salah satu dari hukum-hukum-Nya Ta‘ala, yaitu hukum-hukum agama-Nya seperti shalat, puasa, haji, dan zakat, atau meremehkan janji-Nya al-wa‘d berupa pahala bagi orang yang taat, atau meremehkan ancaman-Nya  berupa siksa bagi orang yang kafir dan bermaksiat kepada-Nya maka itu termasuk perbuatan kufur, apabila orang yang mengatakannya bermaksud merendahkan atau memperolok-olok hal-hal tersebut. Namun, bila tidak bermaksud demikian, maka perbuatannya adalah maksiat yang sangat besar dosanya (sangat diharamkan), tetapi tidak sampai kufur.” (is’ad al-Rofiq, 1:61)

  1. Hukum menggunakan sebagai sampul kitab hukumnya haram. 

(فَرْعٌ) يَجُوْزُ كِتَابَةُ الْقُرْآنِ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ، وَلَهَا حُكْمُ الْمُصْحَفِ فِيْ الْمَسِّ وَالْحَمْلِ، جَوَّزَ قِرَاءَتَهُ، وَيَحْرُمُ أَوْرَاقُهُ وِقَايَةً لِغَيْرِهِ، نَعَمْ لَا يَحْرُمُ الْوِقَايَةُ بِوَرَقَةٍ مَكْتُوْبٍ فِيْهَا نَحْوُ الْبَسْمَلَةِ وَفِيْهِ، وَلِظَاهِرٍ أَنَّ مَحَلَّهُ إِذَا لَمْ يُقْصَدْ امْتِهَانَهُ، أَوْ أَنَّهُ يُصِيْبُهَا الْوَسَخُ لَا مَا فِيْهَا، وَإِلَّا حَرُمَ بَلْ قَدْ يَكْفُرُ. س.م عَلَى التُّحْفَةِ. اِنْتَهَى. (الغرر البهية فى شرح البهجة الوردية، ج ١ : ص ٤٠٢ ).

“(Cabang pembahasan) Diperbolehkan menulis Al-Qur’an dengan selain bahasa Arab, dan tulisan tersebut memiliki hukum seperti mushaf dalam hal menyentuh dan membawanya. Membacanya pun diperbolehkan. Namun haram menjadikan kertasnya sebagai pelindung (misalnya pembungkus atau alas) bagi lainnya. Ya, tidak haram menggunakan kertas yang tertulis padanya seperti lafaz basmalah dan semisalnya sebagai pelindung. Dan yang tampak, ketentuan ini berlaku apabila tidak dimaksudkan untuk merendahkannya, atau jika yang terkena kotoran adalah kertasnya, bukan tulisan yang ada padanya. Jika tidak demikian, maka hukumnya haram, bahkan bisa sampai kepada kekufuran. (Dinukil dari) Syaikh Sulaiman al-Malibari dalam Tuhfah. Selesai. (al-Ghurar al-Bahiyyah fi Syarh al-Bahjah al-Wardiyyah,1 : 402).

Penulis : Huriatul Latifah

Contact Person : 085895264144

e-Mail : huriatullatifah@gmail.com


Perumus : Alfandi Jaelani, MT.

Mushohih : H. Muhammad Afif Dimyati, S.Pd


Penyunting             : Ahmad Irfan Masfani


Daftar Pustaka

Sulaiman bin Umar bin Mansur al-Ujaili al-Azhari al-Jamal (W. 1204 H), Hasyiyah al-Jamal ala Syarh al-Minhaj, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon, (1418 H/1997 M). Cetakan pertama, sebanyak 8 jilid.

Muhammad bin Salim bin Sa‘id Ba Basil al-Syafi‘i, Is‘ad al-Rafiq, al-Haramain, Singapura, Jeddah. (1351 H / 1931 M) Sebanyak 1 jilid.

Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairomi al-Misri al-Syafi‘i (w. 1221 H), Hasyiyah al-Bujairomi ‘ala al-Khatib, Dar al-Fikr, Beirut, Lebanon. (1415 H/1995 M) Sebanyak 4 jilid.

Zakariya bin Muhammad bin Ahmad bin Zakariya al-Ansari (W. 926 H), al-Ghorar al-Bahiyyah fi Syarh al-Bahjah al-Wardiyyah, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, (1418 H/1997 M). Cetakan pertama, sebanyak 11 jilid.







Posting Komentar untuk "Hukum Membuang, Menggunting, Dan Menggunakan Sebagai Sampul Kalender, Pamflet Atau Poster Bergambar Ulama Yang Sudah Tidak Terpakai"