HUKUM MENJAMAK SHALAT TETAPI DI TENGAH PERJALANAN DIA PULANG
Menjamak shalat bagi seseorang yang berniat bepergian (musafir) merupakan keringanan (rukhsah). Syarat-syarat bolehnya menjamak shalat: diantaranya telah keluar dari batas wilayah tempat tinggal, perjalanan menempuh jarak 16 farsakh atau 45 mil (80 km), serta masih dalam status musafir ketika sholat dilaksanakan. Seperti contoh Ahmad berencana pergi ke kota lain yang jaraknya lebih dari 80 km. Ia berangkat dari rumah setelah dzuhur dan berniat menjamak dzuhur dengan ashar di masjid dekat rumahnya sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah menjamak sholat dzuhur dan ashar selesai, di tengah perjalanan baru 40 km ia mendapat kabar mendesak sehingga memutuskan kembali ke rumah.
Bagaimana hukum sholat jamak yang telah dilaksanakan sebelum niat pulang?
Tidak sah
Dalam kitab al-Muhadzab Fiqh al-Imam asy-Syafi‘i, Juz 1, Hal. 197, Tidak sah karena menurut pendapat yang lebih sahih itu tidak memenuhi syarat-syarat menjamak shalat yaitu jaraknya lebih dari 16 farsakh (80 km), maka shalatnya harus diulang.
الرَّابِعُ – دَوَامُ السَّفَرِ إِلَى اْلإِحْرَامِ بِالصَّلَاةِ الثَّانِيَةِ، حَتَّى وَلَوِ اِنْقَطَعَ سَفَرُهُ بَعْدَ ذَلِكَ أَثْنَاءَهَا. أَمَّا إِذَا اِنْقَطَعَ سَفَرُهُ قَبْلَ الشُّرُوْعِ فِي الثَّانِيَةِ، فَلَا يَصِحُّ الْجَمْعُ، لِزَوَالِ السَّبَبِ. (الفقه الإسلامي وأدلته: ج ٢، ص ٣٥٦)
“Keempat, Safar masih berlangsung sampai mulai shalat kedua meskipun setelah itu safarnya terputus di tengah shalat. Jika safar terputus sebelum memulai shalat kedua, maka jamak tidak sah karena sebabnya hilang.” (Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu, 2: 356)
فَصْلٌ: يَجُوْزُ الْجَمْعُ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، وَبَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ، فِي السَّفَرِ الَّذِي يُقْصَرُ فِيْهِ الصَّلَاةُ، لِمَا رَوَى ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا جَدَّ بِهِ السَّيْرُ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ»، وَرَوَى أَنَسٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَجْمَعُ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِي السَّفَرِ, وَفِي السَّفَرِ الَّذِي لَا تُقْصَرُ فِيهِ الصَّلَاةُ قَوْلَانِ: أَحَدُهُمَا يَجُوزُ، لِأَنَّهُ سَفَرٌ يَجُوزُ فِيْهِ التَّنَفُّلُ عَلَى الرَّاحِلَةِ، فَجَازَ فِيهِ الْجَمْعُ كَالسَّفَرِ الطَّوِيلِ، وَالثَّانِي لَا يَجُوزُ، وَهُوَ الصَّحِيحُ، لِأَنَّهُ إِخْرَاجُ عِبَادَةٍ عَنْ وَقْتِهَا، فَلَمْ يَجُزْ فِي السَّفَرِ الْقَصِيرِ كَالْفِطْرِ فِي الصَّوْمِ.(المهذب في فقه الإمام الشافعي : ج ١ ،ص ١٩٧)
"Diperbolehkan menjamak antara salat Zuhur dan Asar, serta antara Magrib dan Isya dalam perjalanan yang membolehkan salat diqashar. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar ra., ia berkata: Apabila Rasulullah Saw bergegas dalam perjalanan, beliau menjamak antara Magrib dan Isya.' Dan dari Anas ra. diriwayatkan bahwa Nabi Saw pernah menjamak antara Zuhur dan Asar. Adapun untuk perjalanan yang tidak sampai jarak qashar, terdapat dua pendapat: Pendapat pertama: Diperbolehkan menjamak, karena perjalanan tersebut termasuk perjalanan yang memperbolehkan seseorang untuk salat sunnah di atas kendaraan. Maka, diperbolehkan pula menjamak salat di dalamnya sebagaimana pada perjalanan jauh. Pendapat kedua (dan yang dianggap paling kuat): Tidak diperbolehkan. Sebab, menjamak salat berarti memindahkan ibadah dari waktu aslinya, sehingga tidak boleh dilakukan dalam perjalanan pendek sebagaimana tidak bolehnya berbuka puasa dalam perjalanan yang pendek." (Al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam asy-Syafi‘i, 1: 197)
Catatan:
Menurut satu pendapat ulama’ dalam kitab Minhaj ath-Thalibin wa ‘Umdat al-Muftin fi al-Fiqhsah, boleh menjamak sholat meskipun jaraknya pendek atau belum mencapai 16 farsakh (80 km).
يَجُوزُ الجَمْعُ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ تَقْدِيمًا وَتَأْخِيرًا _ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ كَذَلِكَ _ فِي السَّفَرِ الطَّوِيلِ، وَكَذَا القَصِيرُ فِي قَوْلٍ. فَإِنْ كَانَ سَائِرًا وَقْتَ الأُولَى . . فَتَأْخِيرُهَا أَفْضَلُ، وَإِلَّا . . فَعَكْسُهُ. (منهاج الطالبين وعمدة المفتين: ص ١٣٠)
“Diperbolehkan menjamak antara shalat Zuhur dan Ashar, baik dengan cara taqdim maupun takhir, demikian pula antara shalat Maghrib dan Isya’, ketika dalam perjalanan jauh, dan juga dalam perjalanan pendek menurut satu pendapat. Jika seseorang sedang bepergian pada waktu salat pertama, maka menunda (takhir) lebih utama; jika tidak, maka sebaliknya (taqdim lebih utama).” (Minhaj ath-Thalibīn wa ‘Umdah al-Muftin, 130)
Penulis : Shobibah Azzahro
Contact Person : 081333853794
e-Mail : shobibahazzahroh14@gmail.com
Perumus : Teguh Pradana, S.P.
Mushohih : Teguh Pradana, S.P.
Daftar Pustaka
Syekh Wahbah az-Zuhaili (W. 1436 H), al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu: Dar al-Fikr, Suriah, Damaskus: 1404 H, sebanyak 10 jilid.
Abi Ishaq Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Fayruzabadi asy-Syirazi (W. 479 H), Al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam asy-Syafi‘i: Dar al-Khotob al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon: cet. Pertama, 1416 H / 1995 M, Sebanyak 3 jilid.
Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawi (W. 676 H), Minhaj al-Thalibin wa Umdat al-Muftin: Dar al-Minhaj, Beirut, Lebanon: cet. Pertama, 1426 H / 2005 M.
=========================





Posting Komentar untuk "Hukum Menjamak Shalat Tetapi Di Tengah Perjalanan Dia Pulang"