HUKUM PENGGUNAAN AIR DAUR ULANG LIMBAH UNTUK WUDHU DAN BERSUCI
Air daur ulang adalah air limbah yang diproses dengan teknologi modern hingga tampak jernih dan aman digunakan. Dalam praktiknya, beberapa kota sudah memanfaatkannya, bahkan berpotensi digunakan untuk bersuci. Namun, muncul permasalahan fiqih karena air tersebut berasal dari limbah, sehingga dipertanyakan apakah setelah melalui proses sterilisasi modern air itu sah digunakan untuk bersuci.
Apakah air hasil daur ulang limbah yang telah disterilkan sah digunakan untuk wudhu dan bersuci?
Sah
Jika air tersebut memenuhi tiga syarat, yaitu: hilangnya perubahan sifat (bau, rasa, dan warna), volume air harus mencapai dua qullah atau lebih, kecukupan volume setelah proses penyucian.
فَصْلٌ : فِيْ تَطْهِيْرِ الْمَاءِ النَّجِسِ. وَهُوَ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ :أَحَدُهَا مَا دُوْنَ الْقُلَّتَيْنِ: فَتَطْهِيْرُهُ بِالْمُكَاثَرَةِ بِقُلَّتَيْنِ طَاهِرَتَيْنِ، إِمَّا أَنْ يُصَبَّ فِيْهِ، أَوْ يَنْبُعَ فِيْهِ، فَيَزُوْلَ بِهِمَا تَغَيُّرُهُ إِنْ كَانَ مُتَغَيِّرًا، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُتَغَيِّرًا طَهُرَ بِمُجَرَّدِ الْمُكَاثَرَةِ؛ لِأَنَّ الْقُلَّتَيْنِ لَا تَحْمِلُ الْخَبَثَ، وَلَا تَنْجُسُ إِلَّا بِالتَّغَيُّرِ، وَلِذَلِكَ لَوْ وَرَدَ عَلَيْهَا مَاءٌ نَجِسٌ لَمْ يُنَجِّسْهَا مَا لَمْ تَتَغَيَّرْ بِهِ، فَكَذَلِكَ إِذَا كَانَتْ وَارِدَةً، وَمِنْ ضَرُوْرَةِ الْحُكْمِ بِطَهَارَتِهِمَا طَهَارَةُ مَا اخْتَلَطَتَا بِهِ. الْقِسْمُ الثَّانِيْ : أَنْ يَكُوْنَ وَفْقَ الْقُلَّتَيْنِ: فَلَا يَخْلُوْ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ غَيْرَ مُتَغَيِّرٍ بِالنَّجَاسَةِ، فَيَطْهُرُ بِالْمُكَاثَرَةِ الْمَذْكُوْرَةِ لَا غَيْرُ، الثَّانِيْ أَنْ يَكُوْنَ مُتَغَيِّرًا فَيَطْهُرُ بِأَحَدِ أَمْرَيْنِ؛ بِالْمُكَاثَرَةِ الْمَذْكُوْرَةِ إِذَا أَزَالَتِ التَّغَيُّرَ، أَوْ بِتَرْكِهِ حَتَّى يَزُوْلَ تَغَيُّرُهُ بِطُوْلِ مُكْثِهِ. الْقِسْمُ الثَّالِثُ، الزَّائِدُ عَنِ الْقُلَّتَيْنِ: فَلَهُ حَالَانِ، أَحَدُهُمَا، أَنْ يَكُوْنَ نَجِسًا بِغَيْرِ التَّغَيُّرِ، فَلَا طَرِيْقَ إِلَى تَطْهِيْرِهِ بِغَيْرِ الْمُكَاثَرَةِ، الثَّانِيْ أَنْ يَكُوْنَ مُتَغَيِّرًا بِالنَّجَاسَةِ، فَتَطْهِيْرُهُ بِأَحَدِ أُمُوْرٍ ثَلَاثَةٍ؛ الْمُكَاثَرَةُ، أَوْ زَوَالُ تَغَيُّرِهِ بِمُكْثِهِ، أَوْ أَنْ يُنْزَحَ مِنْهُ مَا يَزُوْلُ بِهِ التَّغَيُّرُ، وَيَبْقَى بَعْدَ ذَلِكَ قُلَّتَانِ فَصَاعِدًا، فَإِنَّهُ إِنْ بَقِيَ مَا دُوْنَ الْقُلَّتَيْنِ، قَبْلَ زَوَالِ تَغَيُّرِهِ، لَمْ يَبْقَ التَّغَيُّرُ عِلَّةُ تَنْجِيْسِهِ؛ لِأَنَّهُ تَنَجَّسَ بِدُوْنِهِ، فَلَا يَزُوْلُ التَّنْجِيْسُ بِزَوَالِهِ، وَلِذَلِكَ طَهُرَ الْكَثِيْرُ بِالنَّزْحِ وَطُوْلِ الْمُكْثِ، وَلَمْ يَطْهُرِ الْقَلِيْلُ، فَإِنَّ الْكَثِيْرَ لَمَّا كَانَتْ عِلَّةُ تَنْجِيْسِهِ التَّغَيُّرَ زَالَ تَنْجِيْسُهُ بِزَوَالِ عِلَّتِهِ، كَالْخَمْرَةِ إِذَا انْقَلَبَتْ خَلًّا، وَالْقَلِيْلُ عِلَّةُ تَنْجِيْسِهِ الْمُلَاقَاةُ لَا التَّغَيُّرُ، فَلَمْ يُؤَثِّرْ زَوَالُهُ فِيْ زَوَالِ التَّنْجِيْسِ. (المغني: ج ١، ص ٥١-٥٢).
“Cara mensucikan air yang terkena najis ada tiga cara: pertama jika airnya kurang dari dua kullah pensuciannya dengan cara mukatsarah yaitu menambah air hingga dua kullah yang suci, baik dengan dituang atau bertambah dari mata air, kemudian menghilangkan perubahan (warna, bau, rasa) air jika memang ada perubahan air, jika tidak ada perubahan (warna, bau, rasa) air maka sucinya cukup dengan cara mukatsarah ini. Alasannya, karena air dua kullah tidak mengandung najis dan tidak menjadi najis kecuali dengan adanya perubahan (warna, rasa, bau). Karenanya jika air dua kullah terkena air najis tidak akan dengan serta merta menjadi najis selagi tidak berubah (warna, rasa, bau), konsekwensi dari sucinya air dua kullah adalah sucinya barang yang dicampurkan padanya. Bagian kedua jika jumlah air dua kullah pas, tidak tertutup kemungkinan tidak berubah sebab najis, maka menjadi suci dengan cara mukatsarah sebagaimana tersebut di atas. Jika air tersebut berubah maka cara pensuciannya dengan salah satu dari dua cara; dengan cara mukatsarah sebagaimana di atas jika bisa menghilangkan perubahannya, atau dengan membiarkannya hingga hilang perubahannya karena lamanya diam. Bagian ketiga jika air lebih dari dua kullah ada dua hal: pertama, jika air tersebut najis tapi tidak berubah (warna, bau, rasa) maka tidak ada cara lain untuk mensucikannya kecuali dengan cara mukatsarah. Kedua, jika air tersebut berubah dengan najis maka cara untuk mensucikannya dengan salah satu dari tiga cara: dengan cara mukatsarah, menghilangkan perubahannya dengan mendiamkannya, atau membuang penyebab berubahnya air, kemudian tersisa lebih dari dua kullah, karena jika yang tersisa kurang dari dua kullah sebelum hilangnya perubahan (warna, bau, rasa) tidak perubahan yang menjadi penyebab najisnya air tersebut; karena air yang kurang dua kullah bisa kena najis, tidak hilang najisnya dengan hilangnya perubahan, karenanya air banyak menjadi suci dengan menghilangkan najis dan lamanya diam, dan tidak menjadi suci air yang sedikit, karena air banyak ketika alasan najisnya karena berubah (warna, bau, rasa) maka akan hilang najisnya jika hilang berubahnya, seperti khamr jika berubah menjadi cuka. Sedangkan air sedikit penyebab najisnya adalah terkena najis bukan berubahnya (warna, bau, rasa) air, sehingga hilangnya perubahan tidak otomatis menjadi hilangnya najis.” (al-Mugni, 1 : 51-52).
air yang sempat berubah sifatnya (warna, bau, atau rasa) akibat najis akan kembali suci apabila sebab perubahan tersebut hilang, baik dengan sendirinya maupun dengan sebab tertentu yang dibenarkan.
(فَإِنْ زَالَ تَغَيُّرُهُ بِنَفْسِهِ) بِأَنْ لَمْ يَنْضَمَّ إلَيْهِ شَيْءٌ، كَأَنْ طَالَ مُكْثُهُ (أَوْ بِمَاءٍ) انْضَمَّ إلَيْهِ وَلَوْ مُتَنَجِّسًا، أَوْ أُخِذَ مِنْهُ وَالْبَاقِيْ كَثِيْرٌ، بِأَنْ كَانَ الْإِناَءُ مُنْخَنِقًا بِهِ، فَزَالَ انْخِنَاقُهُ وَدَخَلَهُ الرِّيْحُ وَقَصَرَهُ، أَوْ بِمُجَاوِرٍ وَقَعَ فِيْهِ، أَيْ : أَوْ بِمُخَالِطٍ تَرَوَّحَ بِهِ، كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ مِمَّا يَأْتِيْ فِيْ نَحْوِ زَعْفَرَانٍ لَا طَعْمَ لُهُ وَلَا رِيْحَ (..طَهُرَ) لِزَوَالِ سَبَبِ التَّنَجُّسِ. (تحفة المحتاج بشرح المنهاج: ج ١، ص ٢٨٨).
“(Jika air yang berubah karena najis kemudian hilang perubahannya dengan sendirinya) karena lama dibiarkan, (atau karena bercampur dengan air) lain sekalipun mutanajjis, atau karena diambil sebagian airnya sementara sisanya masih banyak, atau karena wadah yang tadinya tertutup rapat lalu terbuka sehingga masuk udara dan hilang baunya, atau karena ada sesuatu yang berdekatan lalu jatuh ke dalamnya, atau karena bercampur dengan sesuatu yang tidak meninggalkan rasa dan bau seperti za‘faran, (maka air tersebut kembali suci) karena telah hilang sebab kenajisannya.” (Tuhfah al-Muhtaj bi Syarh al-Minhaj, 1 : 288).
Penulis : Nuraini
Contact Person : 085869287247
e-Mail : sajakhaklusinasi123@gmail.com
Perumus : M. Faisol, S.Pd
Mushohih : M. Faisol, S.Pd
Penyunting : Ahmad Fairuz Nazili
Daftar Pustaka
Muwaffaq al-Din Abi Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al-Maqdisi al-Jamma'ili al-Dimasyqi al-Shalihi al-Hanbali (W. 620 H), Al-Mughni, Dar Alam al-Kutub, Riyadh, Arab Saudi : Cet. Ketiga 1417 H/1997 M, Sebanyak 15 Jilid.
Syihabuddin Ibnu Hajar al-Haytami al-Syafi’i (W.974 H), Tuhfah al-Muhtaj bi Syarh al-Minhaj, Dar al-Dhiya', Kuwait: Cet. Pertama 1441 H/2020 M, Sebanyak 9 Jilid.


%20Nuraini(1).png)
%20Nuraini.png)
%20Nuraini(2).png)
Posting Komentar untuk "Hukum Penggunaan Air Daur Ulang Limbah Untuk Wudhu dan Bersuci"