
HUKUM PERCAMPURAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM SATU KELAS PEMBELAJARAN
Dalam syariat Islam, interaksi antara laki-laki dan perempuan dibahas dalam kerangka pengaturan adab dan etika pergaulan. Hal tersebut juga mencakup interaksi yang terjadi di lingkungan pendidikan, seperti kegiatan pembelajaran dalam satu kelas. Pembahasan ini berkaitan dengan konsep ikhtilath sebagai bagian dari tata aturan pergaulan dalam Islam. Oleh karena itu, syariat memberikan pedoman umum agar interaksi antara laki-laki dan perempuan berlangsung sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
Pertanyaan:
Bagaimana hukum fiqih mengenai percampuran laki-laki dan perempuan dalam satu kelas pembelajaran?
Jawab:
Haram
Karena Dalam kasus tersebut termasuk kategori bercampurnya laki-laki dan perempuan dalam satu pembelajaran yang dapat menimbulkan fitnah qabihah (fitnah yang keji).
(خَاتِمَةٌ) مِنْ أَقْبَحِ الْمُحَرَّمَاتِ، وَأَشَدِّ الْمَحْظُوْرَاتِ اخْتِلَاطُ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ فِيْ الْمَجْمُوْعَاتِ لِمَا يَتَرَتَّبُ عَلَى ذٰلِكَ مِنَ الْمَفَاسِدِ وَالْفِتَنِ الْقَبِيْحَةِ، قَالَ سَيِّدُنَا الْحَدَّادُ فِيْ بَعْضِ مَكَاتِيْبِهِ لِبَعْضِ الْأُمَرَاءِ، وَمَا ذَكَرْتُمْ مِنْ اِجْتِمَاعِ النِّسَاءِ مُتَزَيِّنَاتٍ بِمَحَلٍّ قَرِيْبٍ مِنْ مَحَلِّ رِجَالٍ يَجْتَمِعُوْنَ فِيْهِ ، مَنْسُوْبٍ لِسَيِّدِنَا عُمَرَ الْمُحْضَارِ، فَإِنْ خِيْفَتْ فِتْنَةٌ بِنَحْوِ سَمَاعِ الصَّوْتِ، فَهُوَ مِنَ الْمُنْكَرَاتِ الَّتِيْ يَجِبُ النَّهْيُ عَنْهَا عَلَى وُلَاةِ الْأَمْرِ، وَيَحْسُنُ مِنْ غَيْرِهِمْ إِذَا خَافَ عَلَى نَفْسِهِ أَنْ لَا يَحْضُرَهُمْ. (إسعاد الرفيق: ج ٢، ص ٦٧)
“Termasuk perbuatan haram yang paling buruk dan larangan yang paling keras adalah bercampurnya laki-laki dengan perempuan dalam suatu perkumpulan, karena hal tersebut menimbulkan berbagai kerusakan dan fitnah yang tercela. Sayyiduna al-Haddad berkata dalam salah satu suratnya kepada sebagian penguasa: “Adapun yang kalian sebutkan tentang berkumpulnya para perempuan dalam keadaan berhias di suatu tempat yang berdekatan dengan tempat berkumpulnya para laki-laki sebagaimana dinisbatkan kepada Sayyidina Umar al-Muhdar maka apabila dikhawatirkan timbul fitnah, seperti saling mendengar suara, perbuatan tersebut termasuk kemungkaran yang wajib dicegah oleh para penguasa. Adapun selain penguasa, maka sebaiknya seseorang tidak menghadirinya apabila ia khawatir terhadap keselamatan dirinya (dari fitnah).” (Is’ad al-Rafiq : juz 2, hal 67)
Tidak Haram
Menurut Fatwa Prof. Dr. Ali Jum‘ah, Dar al-Ifta’ Mesir, Ikhtilat antara laki-laki dan perempuan dibolehkan selama menjaga adab syariat, seperti menutup aurat, menjaga pandangan, dan menghindari khalwat (QS. an-Nur: 30–31). Namun, jika menimbulkan fitnah atau pelanggaran syariat, maka ikhtilat menjadi terlarang dan pemisahan wajib dilakukan.
الِاخْتِلَاطُ بَيْنَ الذُّكُوْرِ وَاْلِانَاثِ فِيْ الْمَدَارِسِ وَالْجَامِعَاتِ وَغَيْرِهَا لَا مَانِعَ مِنْهُ شَرْعًا، طَالَمَا كَانَ ذٰلِكَ فِيْ حُدُوْدِ اْلَادَبِ وَالتَّعَالِيْمِ الْإِسْلَامِيَّةِ، وَكَانَتْ الْمَرْأَةُ مُحْتَشِمَةً فِيْ لُبْسِهَا، مُرْتَدِيَةً مَلَابِسَ فَضْفَاضَةً لَا تَصِفُ وَلَا تَشِفُّ عَمَّا تَحْتَهَا وَلَا تُظْهَرُ جَسَدَهَا، مُلْتَزِمَةً بِغَضِّ بَصْرِهَا وَبَعِيْدَةً عَنْ أَيِّ خَلْوَةٍ مَهْمَا كَانَتْ الظُّرُوْفُ وَاْلَاسْبَابُ، وَبِشَرْطِ حِفْظِ حُرُمَاتِ اللهِ، وَكَذٰلِكَ الرَّجُلُ فِيْ هٰذَا الشَّأْنِ؛ مِصْدَاقًا لِقَوْلِهِ تَعَالَى: (قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ ذٰلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا يَصْنَعُوْنَ){النُّورِ: ٣٠}، وَكَمَا قَالَ تَعَالَى: وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا){النُّورِ: ٣١} أَمَّا إِذَا لَمْ تَلْتَزِمْ الْمَرْأَةُ أَوِ الرَّجُلُ بِآدَابِ اْلِاسْلاَمِ وَتَعَالِيْمِهِ، وَكَانَ اِخْتِلَاطُهُمَا مُثَارَ فِتْنَةٍ وَمُؤَدِّيًا إِلَى عَدَمِ الْتِزَامِ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ بِمَا أَمَرَ اللهُ بِهِ، فَيَكُوْنُ الِْاخْتِلَاطُ وَسِيْلَةً لِلْحَرَامِ، وَيَجِبُ حِيْنَئِذٍ الْفَصْلُ بَيْنَهُمَا ( الفتوى الأستاذ الدكتور علي جمعة محمد، دار الإفتاء مصر، ١٣ أبريل ٢٠٠٥، رقم الفتوى١٩٩٣ )
“Percampuran (ikhtilat) antara laki-laki dan perempuan di sekolah, universitas, dan lembaga lainnya tidak dilarang secara syariat, selama pencampuran tersebut berada dalam batas-batas adab dan ajaran Islam. Yaitu, perempuan berpakaian sopan dan menutup aurat, mengenakan pakaian longgar yang tidak memperlihatkan bentuk tubuh dan tidak menerawang, tidak menampakkan tubuhnya, menjaga pandangan, serta menjauhi segala bentuk khalwat (berduaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram), apapun keadaan dan alasannya, dengan tetap menjaga kehormatan dan batasan-batasan yang ditetapkan oleh Allah. Ketentuan ini juga berlaku bagi laki-laki. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala:“Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. an-Nur: 30)Dan firman-Nya: “Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin agar mereka menundukkan pandangan, menjaga kemaluannya, dan tidak menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak.” (QS. an-Nur: 31) Adapun apabila laki-laki atau perempuan tidak mematuhi adab dan ajaran Islam, dan pencampuran tersebut menjadi sumber fitnah serta menyebabkan keduanya tidak melaksanakan perintah Allah, maka percampuran itu berubah menjadi sarana menuju perbuatan haram, sehingga wajib dilakukan pemisahan antara laki-laki dan perempuan. (Fatwa Ustadz Prof. Dr. Ali Jum‘ah Muhammad, hamdalam Dar al-Ifta’ Mesir 13 April 2015, Nomor Fatwa : 1993)
Penulis : Siti Husnia
Contact Person : 082301000928
e-Mail : sitihusniaa246@gmail.com
Perumus : Teguh Pradana, S.P.
Mushohih : Teguh Pradana, S.P.
Penyunting : Ahmad Firuz Nazili
Daftar Pustaka
Syekh Abdullah bin Husain bin Thahir bin Muhammad bin Hasyim al-Alawi (W. 1272 H), Is’adur Rofiq syarh sullam al-Taufiq : Al Haromain Beirut, Lebanon: Cetakan Ke-empat, 2003 M, Sebanyak 2 Juz 1 Jilid.
Prof. Dr. Ali Jum‘ah Muhammad, Fatwa Tentang حكم اختلاط التلاميذ في المرحلة الإعدادية والثانوية (Hukum percampuran (ikhtilat) siswa pada jenjang sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas) : Dar al-Ifta Mesir, 13 April 2005, Nomor Fatwa 1993 https://www.dar-alifta.org/ar/fatwa/details/11542/%d8%ad%d9%83%d9%85-%d8%a7%d8%ae%d8%aa%d9%84%d8%a7%d8%b7-%d8%a7%d9%84%d8%aa%d9%84%d8%a7%d9%85%d9%8a%d8%b0-%d9%81%d9%8a-%d8%a7%d9%84%d9%85%d8%b1%d8%ad%d9%84%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d8%a5%d8%b9%d8%af%d8%a7%d8%af%d9%8a%d8%a9-%d9%88%d8%a7%d9%84%d8%ab%d8%a7%d9%86%d9%88%d9%8a%d8%a9

%20Siti%20Husnia.png)
%20Siti%20Husnia(1).png)
%20Siti%20Husnia(2).png)
Posting Komentar untuk "Hukum Percampuran Laki-Laki dan Perempuan Dalam Satu Kelas Pembelajaran"