Hukum Shalawatan Tapi Di Dalamnya Disertai Gerakan Tubuh Yang Berlebihan

 

HUKUM SHALAWATAN TAPI DI DALAMNYA DISERTAI GERAKAN TUBUH YANG BERLEBIHAN 

Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Dalam praktiknya, shalawat sering dibaca dalam berbagai majelis keagamaan, seperti peringatan Maulid Nabi dan majelis shalawatan. Namun, pada sebagian majelis, pembacaan shalawat tersebut diiringi dengan gerakan tubuh tertentu, bahkan terkadang dilakukan secara berlebihan. Sebagian masyarakat memandang hal tersebut sebagai ungkapan kegembiraan dan kecintaan kepada Nabi SAW, sementara sebagian yang lain menilai bahwa hal tersebut kurang sesuai dengan adab dan ketenangan dalam ibadah.

Bagaimana hukum membaca shalawat yang diiringi dengan gerakan tubuh secara berlebihan?


Jawaban ditafsil

  1. Haram jika tarian yang mengandung gerakan meliuk-liuk, bergoyang-goyang ke samping, serta gerakan naik dan turun dengan gerakan-gerakan yang berirama, yang menyerupai perbuatan banci.

وَأَمَّا الرَّقْصُ الَّذِي يَشْتَمِلُ عَلَى التَّثَنِّي وَالتَّكَسُّرِ وَالتَّمَايُلِ وَالْخَفْضِ وَالرَّفْعِ بِحَرَكَاتٍ مَوْزُوْنَةٍ فَهُوَ حَرَامٌ وَمُسْتَحِلُّهُ فَاسِقٌ.(الفِقْهُ الإسلاميُّ وأدلَّتُهُ: ج ٣، ص  ۵٧۵ )

“Adapun tarian yang mengandung (gerakan) meliuk-liuk, bergoyang-goyang (mematahkan tubuh), bergoyang ke samping, serta gerakan naik dan turun dengan gerakan-gerakan yang berirama, maka itu adalah haram, dan orang yang menganggapnya halal (boleh) adalah seorang fasiq.” (Al-Fiqh Al-Islam Wa Adillatuhu, 3: 575).

Haram jika menyerupai perbuatan banci maka itu adalah.

قَالَ الْحَلِيْمِيُّ: لَكِنَّ الرَّقْصُ الَّذِي فِيْهِ تَثَنٌّ وَتَكَسُّرٌ يُشْبِهُ أَفْعَالَ الْمُخَنَّثِيْنَ حَرَامٌ عَلَى الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ.(روضة الطالبين وعمدة المفتين: ج  ١١، ص ٢٢٩  )

"Al-Halimi berkata: Akan tetapi, tarian yang di dalamnya terdapat tarian yang melibatkan liukan dan lenggokan yang menyerupai perbuatan kaum banci maka dihukumi haram bagi laki-laki maupun perempuan, karena dianggap melanggar etika dan kehormatan." (Raudhatuth Thalibin Wa Umdatul Muftin, 11: 229).


  1. Diperbolehkan jika berupa tarian sufi dan tarian tidak membangkitkan syahwat.

 (وَسُئِلَ)نَفَعَ اللهُ بِهِ عَنْ رَقْصِ الصُّوْفِيَّةِ عِنْدَ تَوَاجُدِهِمْ هَلْ لَهُ أَصْلٌ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ نَعَمْ لَهُ أَصْلٌ فَقَدْ رُوِيَ فِي الْحَدِيْثِ أَنَّ جَعْفَرَ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ رَقَصَ بَيْنَ يَدَيِ النَّبِيِّ (ﷺ)  لَمَّا قَالَ لَهُ أَشْبَهْتَ خَلْقِيْ وَخُلُقِي وَذٰلِكَ مِنْ لَذَّةِ هَذَا الْخِطَابِ وَلَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِ  (ﷺ)  وَقَدْ صَحَّ الْقِيَامُ وَالرَّقْصُ فِي مَجَالِسِ الذِّكْرِ وَالسَّمَاعِ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ كِبَارِ الْأَئِمَّةِ مِنْهُمْ عِزُّ الدِّيْنِ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ.(الفتاوى الحديثية: ج ٣، ص ٥١١)

“Semoga Allah memberikan manfaat dengannya, ia ditanya mengenai tarian sufi ketika mereka berkumpul, apakah ia memiliki landasan (asal)? (Maka Beliau Menjawab) dengan perkataannya: 'Ya, ia memiliki landasan. Sungguh telah diriwayatkan dalam hadis bahwa Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menari di hadapan Nabi SAW ketika Beliau berkata kepadanya: "Engkau mirip dengan rupa (penciptaan) dan akhlakku." 'Dan yang demikian itu (tarian/gerakan) adalah karena nikmatnya (rasa bahagia) dari ucapan ini, dan Nabi SAW tidak mengingkarinya.' 'Sungguh telah dibenarkan (shahih) adanya berdiri dan menari di majelis zikir dan sama’ (mendengarkan lantunan/nyanyian sufi) dari sekelompok besar ulama besar, di antaranya adalah ‘Izzuddin Syaikhul Islam Ibnu Abdissalam.” (Al-Fatawa al-Haditsiyyah, 3:  511).

وَقَدِ اسْتَدَلَّ الْأُسْتَاذُ الْغَزَالِيُّ عَلَى إِبَاحَةِ الرَّقْصِ: بِرَقْصِ الْحَبَشَةِ وَالزُّنُوْجِ فِي الْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ يَوْمَ عِيْدٍ حَيْثُ أَقَرَّهُمْ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ، وَأَبَاحَ لِزَوْجِهِ السَّيِّدَةِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنْ تَتَفَرَّجَ عَلَيْهِمْ وَهِيَ مُسْتَتِرَةٌ بِهِ ﷺ، وَهُوَ كَمَا تَعْلَمُ لَا يُثِيْرُ أَيَّ شَهْوَةٍ، فَالنَّوْعُ الْمُبَاحُ مِنَ الرَّقْصِ هُوَ الَّذِي لَا يُثِيْرُ شَهْوَةً فَاسِدَةً.(الفقه على المذاهب الأربعة: ج ٢،  ص ٤٢)

“Dan sungguh, Al-Ustaz Al-Ghazali telah berdalil atas kebolehan menari (dengan): Tarian orang-orang Habasyah (Etiopia) dan orang-orang berkulit hitam di Masjid Nabawi pada hari raya, di mana Rasulullah SAW membenarkan (mengakui) perbuatan mereka, dan Beliau membolehkan istrinya, Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha, untuk menonton mereka, sementara Aisyah tertutup (terhalang) oleh Beliau SAW. Dan tarian itu, sebagaimana kamu ketahui, tidak membangkitkan syahwat apa pun. Maka, jenis tarian yang dibolehkan adalah tarian yang tidak membangkitkan syahwat yang merusak (fasid).” (Al-Fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah, 2: 42).



Penulis : Nur Sholihatul Jannah, S.Psi

Contact Person : 081808823897

e-Mail : solikalika985@gmail.com


Perumus : M. Faisol, S.Pd

Mushohih : M. Faisol, S.Pd


Penyunting            : M. Irvan Masfani


Daftar Pustaka

Wahbah az-Zuhaili (W.1436 H), al-Fiqh al-Islam Wa Adillatuhu, Dar al-Fikr, Surya Damaskus, cetakan ke-2 (1409 H/1989 M), Sebanyak 10 jilid.

Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi (W. 676 H), Raudhatuth Thalibin Wa Umdatul Muftin, Dar al-Kitab al-Ilmiyah, cetakan ke-3 (1412 H/1991 M), Sebanyak 12 jilid.

Syekh Abdurrahman al-Jazairi (W. 1360 H), al-Fiqih ala al-Madzahib al-Arba’ah, Dar al- Kitab al-Ilmiyah, cetakan ke-2  (1424 H/2003 M), Sebanyak 5 jilid.

 Ahmad bin Muhammad bin Ali Ibnu Hajar al-Haitami as-Sa’di al-Anshari (W. 974 H), al-Fatwa al-Haditsiyyah, Dar al-kitab al-Ilmiyah, Beirut- Lebanon, Tanpa tahun.


===========================================

==========================================

==========================================

==========================================


=====================================




Posting Komentar untuk "Hukum Shalawatan Tapi Di Dalamnya Disertai Gerakan Tubuh Yang Berlebihan "