PANDANGAN FIQIH TENTANG PEMERANAN TOKOH SEBAGAI NABI DALAM FILM
Pada masa kini, dunia hiburan berkembang menjadi salah satu bidang yang banyak diminati sebagai sumber penghasilan. Profesi sebagai artis berkaitan dengan penampilan, popularitas, dan kemampuan membangun citra di hadapan publik. Dalam menjalani profesi tersebut, seorang artis dituntut untuk menjalankan berbagai peran sesuai dengan arahan sutradara dan kebutuhan produksi, termasuk memerankan karakter tertentu termasuk memerankan berbagai karakter sesuai kebutuhan produksi.
Bagaimana menurut literatur fiqih tentang orang yang berperan sebagai nabi dalam film?
Tidak Boleh
Berdusta atas nama Nabi adalah dosa besar dan pelakunya disiapkan balasan neraka. Para Nabi dan Rasul adalah manusia terbaik yang ma’shum, sehingga tidak pantas diperankan atau digambarkan, dan hukumnya haram secara syar’i.
اْلأَنْبِيَاءُ وَالْمُرْسَلُوْنَ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ، هُمْ أَفْضَلُ الْبَشَرِ عَلَى اْلِاطْلَاقِ، وَمَيَّزَهُمُ اللهُ تَعَالَى عَمَّنْ سِوَاهُمْ، بِأَنْ جَعَلَهُمْ مَعْصُوْمِيْنَ، وَمَنْ كَانَ بِهَذِهِ الْمَنْزِلَةِ فَهُوَ أَعَزُّ مِنْ أَنْ يُمَثَّلَ أَوْ يَتَمَثَّلَ بِهِ إِنْسَانٌ، وَلِذَا فَإِنَّ تَمْثِيْلَهُمْ حَرَامٌ شَرْعًا. ( الفتوى الأستاذ الدكتور علي جمعة محمد، دار الإفتاء مصر، ٠٤ سبتمبر ٢٠١١، رقم الفتوى٥٤٧)
“Para Nabi dan Rasul adalah manusia terbaik yang pernah ada, dan Allah Ta’ala membedakan mereka dari manusia lain dengan menjadikan mereka ma’shum (terjaga dari dosa). Orang yang berada di derajat ini sangat mulia sehingga tidak pantas untuk diperankan atau digambarkan oleh manusia, sehingga memerankan mereka hukumnya haram secara syar’i.” (Fatwa Ustadz Prof. Dr. Ali Jum‘ah Muhammad dalam Dar al-Ifta’ Mesir 4 September 2011, Nomor Fatwa : 547)
(مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ) فَكَمَا أَنَّهُ قَصَدَ فِيْ الْكَذِبِ التَّعَمُّدِ، فَلْيَقْصِدْ فِيْ جَزَائِهِ التَّبَوُّءَ، فَالْكَذِبُ عَلَيْهِ كَبِيْرَةٌ إِجْمَاعًا، حَتَّى فِيْ التَّرْغِيْبِ وَالتَّرْهِيْبِ، وَلَا الْتِفَاتَ لِمَنْ شَذَّ.(التيسير بشرح الجامع الصغير: ج ٣، ص ٤٤١)
“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka. Sebagaimana ia berniat dengan sengaja dalam berdusta, maka hendaklah ia juga berniat (siap menerima) balasannya berupa tempat di neraka. berdusta atas nama nabi termasuk dosa besar menurut ijma’ (kesepakatan ulama), bahkan dalam perkara targhib (anjuran) dan tarhib (ancaman) sekalipun. maka tidak perlu di perhatikan (di anggap) pendapat orang yang menyelisihi hal ini.” (al-Taisir bi Syarhi al-Jami' al-Shaghir : Juz 2 hal 441)
Catatan :
Meneladani Nabi dapat dilakukan melalui berbagai cara yang menjaga kehormatan beliau, seperti mempelajari sirah, membaca buku, dan mengikuti kajian. Oleh karena itu, penyampaian ajaran Nabi sebaiknya dilakukan melalui sarana yang sesuai dengan adab Islam dan penuh penghormatan.
Penulis : Siti Husnia
Contact Person : 082301000928
e-Mail : sitihusniaa246@gmail.com
Perumus : Teguh Pradana, S.P.
Mushohih : Teguh Pradana, S.P.
Penyunting : Ahmad Firuz Nazili
Daftar Pustaka
Abd al-Rauf al-Nawawi (W. 1031 H) Al- Taisir bi Syarh al-Jami’ al-Shaghir : Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, Lebanon : Cetakan Pertama 1445 H/ 1994 M, Sebanyak 2 Juz dalam 4 Jilid.
Prof. Dr. Ali Jum‘ah Muhammad, Fatwa Tentang حكم تمثيل الأنبياء والعشرة المبشرين بالجنة وآل البيت في الأعمال الدرامية (Hukum memerankan para nabi, sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, dan Ahlul Bait dalam karya-karya drama (film, sinetron, teater, dan sejenisnya) : Dar al-Ifta Mesir, 04 september 2011, Nomor Fatwa 547 https://www.dar-alifta.org/ar/fatwa/details/11459/%d8%ad%d9%83%d9%85-%d8%aa%d9%85%d8%ab%d9%8a%d9%84-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d9%86%d8%a8%d9%8a%d8%a7%d8%a1-%d9%88%d8%a7%d9%84%d8%b9%d8%b4%d8%b1%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d9%85%d8%a8%d8%b4%d8%b1%d9%8a%d9%86-%d8%a8%d8%a7%d9%84%d8%ac%d9%86%d8%a9-%d9%88%d8%a2%d9%84-%d8%a7%d9%84%d8%a8%d9%8a%d8%aa-%d9%81%d9%8a-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d8%b9%d9%85%d8%a7%d9%84-%d8%a7%d9%84%d8%af%d8%b1%d8%a7%d9%85%d9%8a%d8%a9


%20Siti%20Husnia(3).png)
%20Siti%20Husnia(4).png)
%20Siti%20Husnia(5).png)
Posting Komentar untuk "Pandangan Fiqih Tentang Pemeranan Tokoh Sebagai Nabi Dalam Film"