Konsep Hubb Dalam Tasawuf Perspektif Ibnu 'Arabi

 

KONSEP HUBB DALAM TASAWUF PERSPEKTIF IBNU ARABI 

LATAR BELAKANG

Dalam konteks spiritual Islam, konsep mahabbah merujuk pada cinta yang mendalam dan tulus seorang hamba kepada Allah SWT. Hal ini bukan sekedar perasaan biasa, melainkan sebuah kondisi spiritual yang mendorong seseorang untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya.

Konsep hubb (cinta) dalam masyarakat mengalami reduksi makna yang membuatnya menjadi begitu sempit. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang konsep hubb yang sering disebut sebagai “cinta”. Masyarakat umumnya menganggap bahwa cinta identik dengan kesukaan terhadap lawan jenis, padahal cinta menurut para tokoh yang salah satunya adalah Ibnu Arabi, cinta tidak sebatas itu. Hal ini yang mengakibatkan penulis memfokuskan pembahasan pada bagaimana konsep cinta dalam sudut pandang Ibnu Arabi.

PEMBAHASAN 

Pengertian Hubb

Hubb secara bahasa berasal dari kata ahabba yuhibbu mahabbatan yang memiliki arti menyukai, mencintai, jatuh cinta. Hubb secara umum adalah rasa cinta yang mendalam, ketertarikan hati, dan kasih sayang yang kuat terhadap sesuatu atau seseorang. 

Hubb atau yang sering kita ketahui sebagai cinta sangat sulit dijelaskan dengan kata-kata. Namun sulit bukan berarti tidak bisa dipahami. Karena cinta hanya bisa dirasakan oleh seseorang yang merasakan cinta. Bahkan para cendekiawan maupun para ahli teolog sangat sulit mendefinisikannya, karena hal ini tidak bisa didefinisikan tetapi bisa dirasakan oleh orang yang merasakannya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa cinta itu hanyalah sebuah rasa namun hakikat sejatinya sangat sulit dijelaskan. 

اعْلَمْ أَنَّ الْحُبَّ مَعْقُوْلُ الْمَعْنَى وَإِنْ كَانَ لَا يُحَدُّ، فَهُوَ مُدْرَكٌ بِالذَّوْقِ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ، وَلَكِنَّهُ عَزِيْزُ التَّصَوُّرِ، فَإِنَّ الْأُمُوْرَ الْمَعْلُوْمَاتِ عَلَى قِسْمَيْنِ: مِنْهَا مَا يُحَدُّ وَمِنْهَا مَا لَا يُحَدُّ، وَالْمَحَبَّةُ عِنْدَ الْعُلَمَاءِ بِهَا الْمُتَكَلِّمِينَ فِيهَا، مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَا تُحَدُّ، فَيَعْرِفُهَا مَنْ قَامَتْ بِهِ وَمَنْ كَانَتْ صِفَتَهُ، وَلَا يَعْرِفُ مَا هِيَ، وَلَا يُنْكَرُ وُجُوْدُهَا،(الحب والمحبة الإلهية: ص ٢٦ )

“Ketahuilah bahwa cinta dapat dipahami maknanya meskipun tidak dapat didefinisikan. Ia dapat dirasakan melalui pengalaman (rasa), bukan sesuatu yang tidak dikenal, namun sulit untuk dibayangkan secara konseptual. Hal itu karena perkara-perkara yang diketahui terbagi menjadi dua: ada yang dapat didefinisikan dan ada yang tidak dapat didefinisikan. Cinta, menurut para ulama yang membicarakannya, termasuk perkara yang tidak dapat didefinisikan. Ia diketahui oleh orang yang mengalaminya dan oleh orang yang menjadi sifatnya, tetapi hakikatnya tidak dapat diketahui secara pasti. Namun, keberadaannya tidak dapat diingkari”.(Al-Hubbu Wa al-Mahabbah Ilahiyah: 26)

Abu Yazid al-Busthami juga menjelaskan cinta seperti halnya seseorang yang minum air tanpa menghilangkan rasa haus yang dirasakan. Artinya ketika kita hanya mengenal cinta sebatas definisi atau pengertiannya saja maka kita tidak akan merasakan manfaatnya secara mendalam, hal tersebut tidak akan mengenalnya, dan barangsiapa mengklaim telah merasa puas darinya, ia pun tidak mengenalnya. Abu al-Abbas bin al-Arif al-Sanhaji mendefinisikan bahwa kecemburuan adalah salah satu sifat cinta, dan kecemburuan tidak dapat disembunyikan, sehingga tidak dapat dibatasi”.

فَمَنْ حَدَّ الْحُبَّ مَا عَرَفَهُ،وَمَنْ لَمْ يَذُقْهُ شَرْبًا مَا عَرَفَهُ، وَمَنْ قَالَ رَوَيْتُ مِنْهُ مَا عَرَفَهُ. فَالْحُبُّ شُرْبٌ بِلَا رِيٍّ، قَالَ بَعْضُ الْمَحْجُوبِيْنَ (شَرِبْتُ شَرْبَةً فَلَمْ أَظْمَأْ بَعْدَهَا أَبَدًا) فَقَالَ أَبُو يَزِيْدَ (الرَّجُلُ مَنْ يَحْسُو الْبِحَارَ وَلِسَانُهُ خَارِجٌ عَلَى صَدْرِهِ مِنَ الْعَطَشِ، وَأَحْسَنُ مَا سَمِعْتُ فِيهِ، مَا حَدَّثَنَا بِهِ غَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ الْعَرِيْفِ الصِنْهَاجِيِّ، قَالَ سَمِعْنَاهُ وَقَدْ سُئِلَ عَنِ الْمَحَبَّةِ فَقَالَ: الْغَيْرَةُ مِنْ صِفَاتِ الْمَحَبَّةِ وَالْغَيْرَةُ تَأْبَى إِلَّا السِّتْرَ فَلَا تَحُدَّهُ).(الحب والمحبة الإلهية :ص ٢٦ )

“Barangsiapa mendefinisikan cinta, maka ia tidak mengenalnya. Barang siapa belum merasakannya sebagai suatu “minuman”, maka ia tidak mengenalnya. Dan barangsiapa berkata, “Aku telah puas darinya,” maka ia pun tidak mengenalnya. Cinta adalah minuman tanpa menghilangkan rasa haus. Sebagian dari mereka yang terhalang (dari hakikat cinta) berkata: “Aku telah minum satu tegukan, setelah itu aku tidak pernah haus lagi.” Maka Abu Yazid berkata: “Seorang (pecinta sejati) adalah orang yang meneguk lautan-lautan, sementara lidahnya tetap terjulur di dadanya karena haus.” Dan sebaik-baik ucapan yang pernah kudengar tentangnya adalah apa yang diriwayatkan kepada kami oleh lebih dari satu orang dari Abu al-‘Abbas Ibn al-‘Arif ash-Shanhaji. Ia berkata: Kami mendengarnya ketika ia ditanya tentang cinta, lalu ia menjawab: ‘Kecemburuan termasuk sifat cinta, dan kecemburuan tidak menghendaki selain penutupan (penyembunyian), maka janganlah engkau membatasi (hakikat cinta) itu.”(Al-Hubbu Wa al-Mahabbah Ilahiyah: 26 )

Dalam berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa istilah hubb (cinta) tersebut sulit didefinisikan tetapi bisa dirasakan oleh orang yang merasakan. Selain itu juga dapat diartikan sebagai mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari diri yang dikasihi. Seseorang yang sudah benar-benar mencintai maka ia bisa merasakan keberadaan Tuhan beserta sifat-sifatnya sehingga sifat-sifat tersebut masuk ke dalam jiwa .

Macam-Macam Cinta 

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cinta (hubb) merupakan  kecenderungan tabiat terhadap sesuatu yang memberikan kelezatan atau kenikmatan. Tetapi ketika kelezatan atau kenikmatan tersebut semakin kuat maka hal tersebut dinamakan rindu yang mendalam (‘isyq).

فَالْحُبُّ عِبَارَةٌ عَنْ مَيْلِ الطَّبْعِ إِلَى الشَّيْءِ الْمُلْتَذِّ بِهِ، فَإِنْ تَأَكَّدَ ذَلِكَ الْمَيْلُ وَقَوِيَ سُمِّيَ عِشْقاً.(إحياء علوم الدين, ص: ١٦٥٩ )

‘Maka hubb adalah ungkapan dari kecenderungan tabiat (pembawaan diri) kepada sesuatu yang memberikan kelezatan baginya. Jika kecenderungan tersebut telah kukuh dan menguat, maka ia dinamakan 'Isyq (Rindu yang mendalam). (Ihya' al-'Ulum al-Din: 1659)

Imam al-Qusyairi menjelaskan bahwa  Mahabbah (Cinta) merupakan pintu tertinggi untuk mengenal Allah bukan hanya sekedar lewat dalil-dalil logika, melainkan lewat jalur cinta. Ketika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan menarik hamba tersebut ke hadirat-Nya, dan ketika hamba mencintai Allah, seluruh hidupnya akan tertata demi mencari ridha-Nya.

قَالَ الْأُسْتَاذُ أَبُوالقَاسِمِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : الْمَحَبَّةُ حَالَةٌ شَرِيْفَةٌ، شَهِدَ الْحَقُّ سُبْحَانَهُ بِهَا لِلْعَبْدِ، وَأَخْبَرَ عَنْ مَحَبَّتِهِ لِلْعَبْدِ. فَالْحَقُّ سُبْحَانَهُ يُوْصَفُبِأَنَّهُ يُحِبُّ الْعَبْدَ، وَالْعَبْدُ يُوْصَفُ بِأَنَّهُ يُحِبُّ الْحَقَّ سُبْحَانَهُ.( الرسالة القشيرية: ص ٦٤٩)

“Imam abu qasim Ra. berkata: Mahabbah (Cinta) adalah sebuah keadaan (haal) yang mulia, yang mana Allah (Al-Haq) Subhanahu wa Ta'ala telah mempersaksikannya bagi hamba-Nya dan mengabarkan tentang cinta-Nya kepada hamba tersebut. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala disifati bahwa Dia mencintai hamba, dan hamba disifati bahwa ia mencintai Allah Subhanahu wa Ta'ala.”(Al-Risalah al-Qusyairiyyah: 459)

Dalam sedikit penjelasan tentang hubb dan mahabbah diatas dapat disimpulkan bahwa sebenarnya hubb dan mahabbah adalah sesuatu yang sama namun berbeda dalam konteks atau sesuatu yang dicintai. dimana hubb merupakan cinta yang berkaitan dengan ketertarikan jiwa terhadap sesuatu yang memberikan kelezatan atau kesempurnaan. sedangkan mahabbah merupakan bentuk sifat atau keadaan yang lebih dinamis, luas, dan melibatkan proses spiritual yang mendalam antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Ibnu Arabi, dalam kitab al-Hubbu Wa al-Mahabbah juga dijelaskan mengenai tingkatan cinta, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Hubb Ilahiyah (Cinta Kepada Allah)

Cinta Ilahiyah adalah cinta Allah kepada manusia, demikian pula cinta manusia kepada-Nya juga disebut cinta Ilahiyah. Puncak dari cinta Ilahiyah adalah jika hamba menyaksikan keberadaan dirinya sebagai penampakan dari-Nya. Mencintai Allah merupakan kebenaran yang nyata. Sehingga Allah akan menampakkan diri-Nya kepada hamba, sehingga Allah mengambil sifat-sifat yang dimiliki hamba berupa batasan, ukuran, dan sifat-sifat lahiriah, dan hamba itu menyaksikan hal tersebut, maka pada saat itulah ia akan dicintai oleh Allah.

الْحُبُّ الْإِلٰهِيُّ هُوَ حُبُّ اللّٰهِ الْعَبْدَ وَحُبُّ الْعَبْدِ رَبَّهُ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: (يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهُ) وَنِهَايَتُهُ مِنَ الطَّرَفَيْنِ أَنْ يُشَاهِدَ الْعَبْدُ كَوْنَهُ مَظْهَرًا لِلْحَقِّ، وَهُوَ لِذَلِكَ الْحَقُّ الظَّاهِرُ كَالرُّوْحِ  لِلْجِسْمِ، بَاطِنُهُ غَيْبٌ فِيْهِ لَا يُدْرَكُ أَبَدًا، وَلَا يَشْهَدُهُ إِلَّا مُحِبٌّ، وَأَنْ يَكُوْنَ الْحَقُّ مُظْهِرًا لِلْعَبْدِ، فَيَتَّصِفُ بِمَا يَتَّصِفُ بِهِ الْعَبْدُ مِنَ الْحُدُوْدِ وَالْمَقَادِيْرِ وَالْأَعْرَاضِ، وَيُشَاهِدُ هَذَا الْعَبْدُ، وَحِيْنَئِذٍ يَكُوْنُ مَحْبُوْبًا لِلْحَقِّ (الحب والمحبة الإلهية: ص ٧١-٧٢)

“Cinta Ilahi adalah cinta Allah kepada hamba-Nya dan cinta hamba kepada Tuhannya. Sebagaimana firman Allah Ta'ala: (Allah mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya). Puncak dari cinta kedua belah pihak ini adalah ketika hamba menyaksikan bahwa dirinya adalah manifestasi dari Kebenaran (Allah) seperti ruh yang berasal dari ciuman dan sentuhan bibir, dan dalam naskah lain disebutkan bahwa itu adalah sifat hati bagi jasad. Batinnya adalah alam gaib yang tidak akan pernah terjangkau, dan tidak ada yang dapat menyaksikannya kecuali seorang pencinta. Dan (keadaan) bahwa Al-Haqq menampakkan diri-Nya kepada hamba, sehingga Dia (Al-Haqq) mengambil sifat-sifat yang dimiliki hamba berupa batasan, ukuran, dan sifat-sifat lahiriah, dan hamba itu menyaksikan hal tersebut, maka pada saat itulah ia menjadi dicintai oleh Al-Haqq”. (Al-Hubbu Wa al-Mahabbah: 71-72 )

  1. Hubb  Ruhaniyah

Cinta Ruhaniyah adalah cinta yang ditempuh demi mendapat ridho Sang Kekasih. Dia tidak lagi memiliki keinginan maupun kehendak, bahkan ia dikendalikan oleh apa yang diinginkannya. Tujuan dari cinta Ruhaniyah adalah Tasyabbuh (penyerupaan) dengan kekasih, dengan menunaikan hak dan mengetahui derajat kekasih

وَالْحُبُّ الرُّوْحَانِيُّ هُوَ الْحُبُّ الْجَامِعُ فِي الْمُحِبِّ أَنْ يُحِبَّ مَحْبُوْبَهُ لِمَحْبُوْبَهُ وَلِنَفْسِهِ، إِذْ كَانَ الْحُبُّ الطَّبِيْعِيُّ لَا يُحِبُّ الْمَحْبُوْبَ إِلَّا لِأَجْلِ نَفْسِهِ، فَاعْلَمْ أَنَّ الْحُبَّ الرُّوْحَانِيَّ إِذَا كَانَ الْمُحِبُّ مَوْصُوْفًا بِالْعَقْلِ وَالْعِلْمِ، كَانَ بِعَقْلِهِ حَكِيْمًا، وَبِحِكْمَتِهِ عَلِيْمًا، فَرَتَّبَ الْأُمُوْرَ تَرْتِيْبَ الْحِكْمَةِ (الحب والمحبة الإلهية: ص ٦٧)

“Cinta ruhani adalah cinta yang menghimpun di dalam diri pencinta agar ia mencintai kekasihnya karena kekasihnya itu sendiri dan untuk dirinya sendiri (si pencinta). Hal ini karena cinta alami (thabi'i) tidaklah mencintai sang kekasih kecuali hanya demi kepentingan dirinya sendiri. Maka ketahuilah, bahwa cinta ruhani itu, apabila sang pencinta memiliki sifat akal dan ilmu, maka dengan akalnya ia menjadi bijaksana, dan dengan kebijaksanaannya ia menjadi berilmu, sehingga ia mampu mengatur segala perkara sesuai dengan tatanan hikmah."(Al-Hubbu Wa al-Mahabbah Ilahiyah: 67)

  1. Hubb Thabi'iyyah

Cinta Thabi’iyyah adalah cinta orang awam yang bertujuan untuk menyatukan dalam roh hewani yang mana hal ini dimaksudkan dengan menyatukan dua Insan (wanita dan laki-laki) melalui jalan kenikmatan dan syahwat yang akhirnya  akan terjadi hubungan pernikahan.

فَالْحُبُّ الطَّبِيْعِيُّ هُوَ حُبُّ الْعَوَامِّ، وَغَايَتُهُ الِاتِّحَادُ فِي الرُّوْحِ الْحَيَوَانِيِّ، فَتَكُوْنُ رُوْحُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا رُوْحًا لِصَاحِبِهِ بِطَرِيْقِ الِالْتِذَاذِ وَإِثَارَةِ الشَّهْوَةِ، وَنِهَايَتُهُ فِي الْفِعْلِ النِّكَاحُ، فَإِنَّ شَهْوَةَ الْحُبِّ تَسْرِيْ فِيْ جَمِيْعِ الْمِزَاجِ، سَرَيَانَ الْمَاءِ فِي الصُّوْفَةِ، بَلْ سَرَيَانَ اللَّوْنِ فِي الْمُتَلَوِّنِ. وَاعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ يَكُوْنُ الْحُبُّ طَبِيعِيًّا وَالْمَحْبُوْبُ لَيْسَ مِنْ عَالَمِ الطَّبِيْعَةِ، وَلَا يَكُوْنُ الْحُبُّ طَبِيْعِيًّا إِلَّا إِذَا كَانَ الْمُحِبُّ مِنْ عَالَمِ الطَّبِيْعَةِ، لَابُدَّ مِنْ ذَلِكَ، وَذَلِكَ أَنَّ الْحُبَّ الطَّبِيْعِيَّ سَبَبُهُ نَظْرَةٌ أَوْ سَمَاعٌ، فَيَحْدُثُ فِيْ خَيَالِ النَّاظِرِ مِمَّا رَآهُ إِنْ كَانَ الْمَحْبُوْبُ مِمَّنْ يُدْرَكُ بِالْبَصَرِ، وَفِيْ خَيَالِ السَّامِعِ مِمَّا سَمِعَ. (الحب والمحبة الإلهية: ص ٦٥)

“Cinta alami  adalah cintanya orang awam, yang puncaknya adalah persatuan dalam ruh hewani. Sehingga masing-masing ruh dari keduanya (pencinta dan kekasih) menjadi ruh bagi pasangannya melalui jalan kelezatan dan gejolak syahwat, dan puncaknya dalam perbuatan tersebut adalah pernikahan (nikah). Sesungguhnya syahwat cinta itu merambat ke seluruh watak, sebagaimana merambatnya air di dalam serat wol, bahkan seperti merambatnya warna pada sesuatu yang berwarna. Dan ketahuilah, terkadang cinta itu bersifat alami padahal sosok yang dicintai bukan berasal dari alam tabi’at(karakter), namun cinta tidaklah disebut alami kecuali jika si pencintanya berasal dari alam tabi’at, hal ini mutlak adanya. Hal itu dikarenakan cinta alami disebabkan oleh pandangan mata atau pendengaran, sehingga muncul gambaran di dalam imajinasi si pelihat dari apa yang ia lihat (jika kekasih termasuk yang bisa dilihat), atau dalam imajinasi si pendengar dari apa yang ia dengar."(Al-Hubbu Wa al-Mahabbah: 65 )

Dari berbagai penjelasan tingkatan diatas cinta ilahiyahlah merupakan tingkatan tertinggi didalam cinta. Karena cinta ilahiyah didasarkan cintanya terhadap Allah SWT.

Dalil - Dalil Hubb

Dalil-dalil mengenai cinta dalam Al-Qur’an sangat banyak ayat yang menjelaskan tentang cinta. Begitu pun dengan hadist Rasulullah Saw., bahkan keimanan yang paling sempurna adalah iman yang dilandasi dengan adanya cinta, Tanpa didasari dengan cinta, keimanan hanya sebatas nama tanpa makna. Allah berfirman: 

وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا أَشَدُّ حُبًّا لِلّٰهِ [البقرة:١٦٥]

Dan orang-orang yang beriman lebih hebat cintanya kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)  

Hadist Rasulullah Shallallâhu 'Alaihi Wasallam juga tidak kalah menarik ketika membahas cinta: 

يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، مَا الإيْمَانُ؟ قَالَ: (أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إلَيْكَ مِمَّا سِوَاهُمَا). (رَوَاهُ أَحْمَدُ)(إحياء علوم الدين: ج ٤ ص ٢٥٧ )

Wahai Rasulullah, apakah keimanan itu? Beliau berkata: Bahwasanya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai kepadamu daripada selain keduanya”.(HR. Ahmad) (Ihya' 'Ulum al-Din, 4: 257)

Dengan cinta, orang akan menjadi istimewa di sisi Pencipta. Tanpa cinta, ia tidak lebih hanya sekedar seorang hamba yang tidak mempunyai nilai yang lebih lebih di sisi Tuhan. Imam Al-Ghazali menulis kalam hikmah yang disampaikan Syaikh Sari Al-Saqathi, tokoh sufi pertama kota Baghdad: 

تُدْعَى الْأُمَمُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَنْبِيَائِهَا عَلَيْهِمُ السَّلَامُ. فَيُقَالُ يَا أُمَّةَ مُوسَى وَيَا أُمَّةَ عِيسَى وَيَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ غَيْرِ الْمُحِبِّينَ لِلّٰهِ تَعَالَى فَإِنَّهُم يُنَادُونَ يَا أَوْلِيَاءَ اللّٰهِ هَلُمُّوا إِلَى اللّٰهِ سُبْحَانَهُ، فَتَكَادُ قُلُوبُهُم تَنْخَلِعُ فَرْحًا. (إحياء علوم الدين: ج ٤، ص ٢٥٨-٢٥٩)

Kelak di hari kiamat, semua umat akan dipanggil menghadap Allah sesuai dengan nama nabinya. Maka dikatakan: ‘Wahai umat Musa, wahai umat Isa, wahai umat Muhammad’, kecuali para pecinta Allah, maka mereka akan dipanggil: ‘Wahai kekasih Allah, kemarilah menghadap Allah Subhânahu Wa Ta’âla’, Maka seketika hati mereka hampir tercerai berai karena bahagia (sebab panggilan itu).” (Ihya’ ‘Ulum al-din, 4: 258-259)

Menyimak penjelasan di atas, cinta menjadi salah satu hal penting dalam Islam. Dengan adanya cinta orang akan mempunyai nilai keimanan yang lebih di sisi Allah. Seolah-olah, hubb atau yang sering disebut dengan cinta bisa menjadi kewajiban secara tersirat yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang sudah mempunyai keimanan secara mantap. Bagaimana tidak, dengan adanya cinta , nilai ibadah dan ketaatan seseorang akan semakin sempurna, sedangkan ketaatan merupakan salah satu cabang dari cinta itu sendiri. Tentu, untuk bisa melakukan ketaatan secara sempurna harus melalui cinta terlebih dahulu.

Konsep Cinta Menurut Ibnu Arabi

Manusia tidak dapat lepas dari cinta, karena dalam hidup yang ada hanyalah cinta. Karena ketika seseorang merasa terpisahkan dengan cinta maka seseorang tersebut seolah-olah mengalami masalah. Semua manusia pada dasarnya ingin saling mencintai, namun mereka tidak tahu bagaimana melakukannya. Hal demikian juga akan menimbulkan masalah ketika dibiarkan berlarut-larut. 

Dalam kehidupan bermasyarakat,  hubungan antar individu harus didasari dengan kasih sayang, karena dengan adanya rasa kasih sayang maka akan tercipta rasa kepercayaan terhadap orang lain. Ketika seluruh manusia saling mencintai, dunia ini akan terasa sangat indah. Pikiran-pikiran positif yang muncul datangnya dari Allah, maka untuk menjalin hubungan dengan sesama ataupun dengan Allah hendaknya juga didasari oleh pikiran-pikiran positif, saling menjaga kepercayaan, serta saling menjaga. Kebutuhan rohaniah akan terpenuhi dengan adanya cinta kepada Tuhan, bukan hanya sekedar cinta dalam arti sempit yaitu antara lawan jenis. 

Diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:

وَإِنَّ اللّٰهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ (الحب والمحبة الإلهية: ص ٣٦)

Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan”. (Al-Hubbu Wa al-Mahabbah:  36)

Hadist diatas merupakan salah satu hadits yang menjelaskan bahwa Allah memiliki keindahan dan mencintai keindahan, dan Dia menampakkan Keindahan-Nya secara paling sempurna melalui manusia. Cinta manusia terhadap segala sesuatu di dunia, termasuk cinta kepada wanita  dipandang sebagai hasil perwujudan atau cermin dari keindahan Ilahi yang paling sempurna, hal tersebut merupakan tangga atau jalan untuk mencapai cinta yang sesungguhnya.

Cinta terhadap wanita merupakan syahwat terbesar dalam diri seorang manusia. Karena syahwat tersebut akan naik dengan seiring tingginya syahwat, dan syahwat tersebut akan turun seiring menurunnya syahwat. Syahwat merupakan sebuah keinginan untuk menikmati apa yang seharusnya dinikmati. Kenikmatan dibagi menjadi dua jenis: kenikmatan Ruhaniyyah dan kenikmatan Thabi'iyyah. Kenikmatan Ruhaniyyah merupakan sebuah kenikmatan yang berasal dari roh ilahi. Kenikmatan Thabi'iyyah merupakan sebuah kenikmatan yang tidak pernah lepas dari alam, dan yang tersisa hanyalah sesuatu yang dinikmatinya.

وَمِنْ هُنَا حُبِّبَ لِرَسُوْلِ اللّٰهِ ﷺ النِّسَاءُ، فَإِنَّ الْحُبَّ أَعْظَمُ شَهْوَةٍ وَأَكْمَلُهَا، وَالشَّهْوَةُ آلَةُ النَّفْسِ، تَعْلُوْ بِعُلُوِّ الْمُشْتَهَى، وَتَسْفُلُ بِاسْتِقَالِ الْمُشْتَهَى، وَكُلُّ صِفَةٍ لَنَا نَحْوَ عُنْصُرِهَا تَطْلُبُهُ، مِثْلَ الشَّوْقِ يَعْلُوْ نَحْوَ عُنْصُرِهِ الَّذِي هُوَ الشَّوْقُ الْأَعْظَمُ، الْمَوْصُوْفِ بِهِ الْجَنَابُ الْعَالِي، وَكَالْمَحَبَّةِ مِنَّا تَطْلُبُ الْمَحَبَّةَ الْإِلَهِيَّةَ مِنْ قَوْلِهِ: (يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهُ) فَحُبُّنَا نَتِيجَةٌ عَنْ حُبِّهِ (الحب والمحبة الإلهية: ص ٣٦)

“Dan dari sinilah Rasulullah Saw. menjadikan rasa cinta kepada wanita. Karena sesungguhnya cinta adalah syahwat (keinginan kuat) yang paling agung dan paling sempurna. Syahwat adalah alat bagi jiwa; ia menjadi tinggi jika sesuatu yang diinginkannya itu tinggi, dan menjadi rendah jika sesuatu yang diinginkannya itu rendah. Setiap sifat yang ada pada diri kita akan senantiasa mencari asalnya (unsurnya). Seperti halnya kerinduan pada kita, ia akan naik (membumbung) menuju asalnya, yaitu Kerinduan Teragung yang disifatkan kepada Hadirat Yang Maha Tinggi. Begitu pula dengan cinta (al-mahabbah) dari kita, ia akan mencari Cinta Ilahi, sebagaimana firman-Nya: 'Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya'. Maka cinta kita (kepada makhluk) sebenarnya adalah hasil (akibat) dari cinta-Nya." (Al-Hubbu Wa al-Mahabbah Ilahiyah: 36)

Kenikmatan sangat terasa ketika syahwat merasuki setiap bagian dari diri manusia. ketika kita sudah mengetahui nilai dan rahasia dari wanita kita tidak akan mengabaikan cinta. Rasulullah Saw. bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ ﷺ: (حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ ثَلَاثٌ: النِّسَاءُ، وَالطِّيْبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِيْ فِي الصَّلَاةِ. (الحب والمحبة الإلهية: ص ٣٧)

“Rasulullah Saw. Bersabda: (Tiga hal dari duniamu telah kucintai: wanita, wewangian, dan shalat telah menjadikan mataku senang).” (Al-Hubbu Wa al-Mahabbah Ilahiyah:  37)

Dalam hadits diatas Rasulullah menyebutkan wanita termasuk salah satu dari tiga hal yang disukai beliau. Dimana mencintai wanita dapat dipandang sebagai jembatan untuk mencintai Tuhan, karena wanita adalah wujud yang paling sempurna untuk tajalli (penampakan) Tuhan. Cinta kepada wanita tidak dapat dipisahkan dari cinta ilahiah, karena wanita menjadi simbol jiwa yang dapat menerima dan sebagai cermin bagi sifat dan keindahan Tuhan, sebagaimana cinta manusia adalah cerminan cinta Tuhan kepada makhluk-Nya. 

KESIMPULAN 

Hubb (cinta) sulit didefinisikan tetapi bisa dirasakan oleh orang yang merasakan. Selain itu juga dapat diartikan sebagai mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari diri yang dikasihi. Cinta terhadap manusia merupakan syahwat terbesar dalam diri manusia. karena syahwat tersebut akan naik dengan seiring tingginya syahwat, dan syahwat tersebut akan turun seiring menurunnya syahwat. Namun ketika syahwat telah menjadi minoritas di dalam diri kita, mencintai wanita justru mampu untuk bisa mencapai derajat tajalli (merasa kehadiran Allah didalam hatinya). Cinta kepada wanita tidak dapat dipisahkan dari cinta ilahiyah, karena wanita menjadi simbol jiwa yang dapat menerima dan sebagai cermin bagi sifat dan keindahan Tuhan, sebagaimana cinta manusia adalah cerminan cinta Tuhan kepada makhluk-Nya. Seseorang ketika sudah benar-benar mengerti  sifat dan keindahan tuhan maka ia juga bisa merasakan keberadaan Tuhan beserta sifat-sifatnya sehingga sifat-sifat tersebut masuk ke dalam jiwa .


Penulis : AHMAD ASROFI

Contact Person : 08563656798

e-Mail : ahmadasrofi1998@gmail.com


Perumus : Abidusy Syakur A

Mushohih : Khoirun ni’am, M.Ag.




DAFTAR PUSTAKA


Imam Abu Hamid Bin Muhammad Bin Muhammad al-Ghazali (W. 505 H), Ihya' 'Ulum al-Din, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon: cetakan keempat, 2005M/1426 H, sebanyak 4 jilid.

Imam Abu Hamid Bin Muhammad Bin Muhammad al-Ghazali (W. 505 H), Ihya' 'Ulum al-Din, Dar Ibnu Hazm, Beirut, Lebanon: cetakan pertama, 2005M/1426 H, sebanyak 1 jilid.

Mahmud Mahmud al-Ghuroob (W. 1442 H), Al-Hubbu Wa al-Mahabbah Ilahiyah Min Kalam Syekh Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi,  Mathba'ah al-Katib al-Arabi, Damaskus: cet. Kedua, 1992M/1412 H.

Imam Abdul Karim al-Qusyairi (W. 465 H), Al-Risalah al-Qusyairiyah, Dar al-Minhaj, Beirut, Lebanon: cetakan pertama, 2017 M/1438 H.

======================














Posting Komentar untuk "Konsep Hubb Dalam Tasawuf Perspektif Ibnu 'Arabi"