PERBEDAAN WALI MAJDZUB ASLI DAN PALSU
LATAR BELAKANG
Dalam tradisi tasawuf Nusantara, keberadaan wali majdzub atau yang kita kenal dengan wali jadzab sering menjadi perbincangan menarik sekaligus membingungkan. karena Istilah majdzub merujuk pada seseorang yang terserap kuat dalam gelora kecintaan kepada Allah hingga perilakunya tampak tidak seperti orang pada umumnya. Selain itu, mereka juga dianggap memiliki kedekatan spiritual yang tinggi meskipun kadang tidak menampakkan kesempurnaan adab lahiriah seperti para wali pada umumnya.
Fenomena ini kemudian melahirkan dua sisi: di satu sisi, masyarakat menghormati dan meyakini adanya hamba-hamba pilihan dengan kondisi jadzab; di sisi yang lain, muncul orang-orang yang mengklaim diri sebagai wali majdzub demi memperoleh pengakuan, penghormatan, atau bahkan keuntungan material. hal itu dikarenakan oleh Minimnya pemahaman masyarakat tentang karakter asli seorang majdzub yang bisa membuat kasus penipuan spiritual semakin mudah terjadi.
Dalam beberapa waktu terakhir, sedang marak-maraknya penyamaran tokoh spiritual palsu yang menimbulkan keresahan. Klaim kesaktian, kemampuan supranatural, hingga kebiasaan bertingkah nyeleneh sering dipakai sebagai kedok untuk menutupi perilaku menyimpang. Masyarakat yang tidak memiliki literasi keagamaan yang kuat mudah terkecoh karena mengira setiap perilaku unik atau “aneh” adalah tanda kewalian.
Situasi ini mendorong penulis untuk mengedukasi sedikit tentang bagaimana membedakan antara wali majdzub yang asli dengan mereka yang hanya mengklaim dirinya sebagai wali majdzub(palsu). Pemahaman yang tepat tidak hanya melindungi masyarakat dari penyalahgunaan agama, tetapi juga menjaga kehormatan ajaran tasawuf yang selama berabad-abad menjadi warisan spiritual umat islam.
PEMBAHASAN
Pengertian Wali
Secara bahasa, wali berarti dekat, menyertai, atau melindungi. Dalam istilah syariat, wali adalah hamba Allah yang mencapai derajat kedekatan melalui iman dan takwa, bukan melalui keanehan perilaku atau klaim-klaim luar biasa. Allah berfirman dalam Surat Yunus ayat 62-63 yaitu:
أَلَاۤ إِنَّ أَوۡلِیَاۤءَ ٱللهِ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡهِمۡ وَلَا هُمۡ یَحۡزَنُونَ, ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ یَتَّقُونَ (يونس: ٦٢-٦٣)
“Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka tidak pula bersedih hati. Mereka adalah orang-orang yang telah beriman dan senantiasa menjaga diri dari maksiat.(Q.S. Yunus: 62-63)
Selain itu juga banyak ulama’ yang menjelaskan tentang pengertian wali. salah satunya yaitu Syaikh Qusyairi dalam kitab Risalah al-Qusyairiyah yang menyebutkan bahwa wali memiliki dua pengertian yaitu wali diartikan sebagai orang yang dicintai allah, kemudian yang kedua wali yang berarti orang-orang yang sangat mencintai Allah. Dia adalah orang yang selalu beribadah dan taat kepada Allah. Ia Beribadah kepada Allah dengan istiqomah tanpa diselingi perbuatan durhaka. Kedua sifat tersebut merupakan keharusan sehingga seorang wali benar-benar menjadi wali yang senantiasa melaksanakan hak-hak Allah dengan benar dan selalu menjaga perintah-perintah-Nya, baik dalam keadaan senang maupun susah.
(قَالَ الْأُسْتَاذُ أَبُو الْقَاسِمِ) الْوَلِيُّ لَهُ مَعْنَيَانِ .. أَحَدُهُمَا فَعِيْلٌ بِمَعْنَى مَفْعُولٍ وَهُوَ مَنْ يَتَوَلَّى اللهُ سُبْحَانَهُ أَمْرَهُ قَالَ اللهُ تَعَالَى : ( وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ ) فَلَا يَكِلُهُ إِلَى نَفْسِهِ لَحْظَةً بَلْ يَتَوَلَّى الْحَقُّ سُبْحَانَهُ رِعَايَتَهُ وَالثَّانِي فَعِيلٌ مُبَالَغَةٌ مِنَ الْفَاعِلِ وَهُوَ الَّذِي يَتَوَلَّى عِبَادَةَ اللهِ تَعَالَى وَطَاعَتَهُ فَعِبَادَتُهُ تَجْرِيْ عَلَى التَّوَالِي مِنْ غَيْرِ أَنْ يَتَخَلَّلَهَا عِصْيَانٌ وَكُلَا الْوَصْفَيْنِ وَاجِبٌ حَتَّى يَكُونَ الْوَلِيُّ وَلِيًّا يُحِبُّ قِيَامَهُ بِحُقُوْقِ اللهِ تَعَالَى عَلَى الِاسْتِقْصَاءِ وَالِاسْتِيفَاءِ وَدَوَامِ حِفْظِ اللهِ تَعَالَى إِيَّاهُ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ ( الرسالة القشيرية: ص ٢٩٠-٢٩١)
“Syaikh Abu Al-Qasim menjelaskan bahwa kata 'Al-Wali' memiliki dua makna.. Makna pertama adalah mengikuti pola 'Fa'il' yang bermakna 'Maf'ul' (yang diurus), yaitu hamba yang Allah SWT urus segala urusannya, sebagaimana firman-Nya: (Dan Dia mengurus orang-orang saleh). Artinya, Allah tidak pernah sedikit pun menyerahkannya kepada dirinya sendiri, melainkan Allah senantiasa menjaga dan memeliharanya. Makna kedua adalah mengikuti pola 'Fa'il' sebagai bentuk penekanan (mubalaghah) dari 'Fa'il' (pelaku), yaitu hamba yang taat beribadah kepada Allah SWT dan menaati-Nya, sehingga ibadahnya berlangsung terus-menerus tanpa diselingi kemaksiatan. Kedua sifat ini (diurus oleh Allah dan taat kepada Allah) wajib ada agar seseorang layak disebut 'Wali' (penjaga/yang dijaga), yang dicintai karena ia menunaikan hak-hak Allah secara sempurna dan berkelanjutan, serta karena Allah senantiasa menjaganya dalam setiap keadaan, baik senang maupun susah. (Risalah al-Qusyairiyah: 290-291)
Syekh Ismail Haqqi dalam tafsir Ruh al-Bayan juga mendefinisikan wali Allah sebagai kekasih-kekasih Allah sekaligus musuh bagi hawa nafsu mereka sendiri. Karena, hakikat kewalian adalah mengenal Allah dan mengenal diri sendiri. Mengenal Allah berarti melihat-Nya (dalam segala sesuatu) dengan pandangan permusuhan (terhadap keburukan/syahwat).
(أَلَا)تَنَبَّهُوا وَاعْلَمُوْا (إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ) أَيْ: أَحِبَّاءُ اللهِ وَأَعْدَاءُ نُفُوسِهِمْ فَإِنَّ الْوِلَايَةَ هِيَ مَعْرِفَةُ اللهِ وَمَعْرِفَةُ نُفُوْسِهِمْ، فَمَعْرِفَةُ اللهِ رُؤْيَتُهُ بِنَظَرِ الْمَحَبَّةِ وَمَعْرِفَةُ النَّفْسِ رُؤْيَتُهَا بِنَظَرِ الْعَدَاوَةِ عِنْدَ كَشْفِ غِطَاءِ أَحْوَالِهَا وَأَوْصَافِهَا فَإِذَا عَرَفْتَهَا حَقَّ الْمَعْرِفَةِ وَعَلِمْتَ أَنَّهَا عَدُوَّةُ اللهِ وَلَكَ وَعَالَجْتَهَا بِالْمُعَانَدَةِ وَالْمُكَابَدَةِ أَمِنْتَ مَكْرَهَا وَكَيْدَهَا وَمَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا بِنَظَرِ الشَّفَقَةِ وَالرَّحْمَةِ .(روح البيان في تفسير القرآن : ج ٤, ص ٦٣)
“Ketahuilah dan sadarilah (sesungguhnya wali-wali Allah) yaitu: kekasih-kekasih Allah dan musuh-musuh jiwa mereka, karena kewalian itu adalah mengenal Allah dan mengenal jiwa mereka. Maka mengenal Allah adalah melihatNya dengan pandangan cinta, dan pengenalan jiwa adalah melihatnya dengan pandangan permusuhan ketika tersingkap tabir keadaan dan sifat-sifatnya. Maka apabila engkau mengenalnya dengan pengenalan yang benar dan mengetahui bahwa ia adalah musuh Allah bagimu dan engkau menanganinya dengan perlawanan dan perjuangan, engkau aman dari tipu dayanya dan muslihatnya, dan engkau tidak memandangnya dengan pandangan kasih sayang dan rahmat.”(Ruh al-Bayan fi tafsir Al-Qur'an, 4: 63)
Selain itu Syaikh Mawla Abu al-Su'ud menjelaskan pengertian Wali Secara bahasa berarti yang dekat. Selain itu beliau juga menjelaskan bahwa wali Allah adalah orang-orang mukmin yang murni karena kedekatan spiritual mereka kepada Allah SWT.
قَالَ:الْمَوْلَى أَبُو السُّعُودِ رَحِمَهُ اللَّهُ الْوَلِيُّ لُغَةً الْقَرِيبُ، وَالْمُرَادُ بِأَوْلِيَاءِ خُلَّصُ الْمُؤْمِنِينَ لِقُرْبِهِمُ الرُّوحَانِيِّ مِنْهُ سُبْحَانَهُ انْتَهَى، لِأَنَّهُمْ يَتَوَلَّوْنَهُ تَعَالَى بِالطَّاعَةِ أَيْ: يَتَقَرَّبُونَ إِلَيْهِ بِطَاعَتِهِ وَالِاسْتِغْرَاقِ فِي مَعْرِفَتِهِ بِحَيْثُ إِذَا رَأَوْا رَأَوْا دَلَائِلَ قُدْرَتِهِ.(روح البيان في تفسير القرآن : ج ٤, ص ٦٣)
“Syaikh Mawla Abu as-Su'ud RA. berkata: Secara bahasa, “Al-Walī” berarti yang dekat. Yang dimaksud dengan para wali adalah orang-orang mukmin yang tulus karena kedekatan ruhani mereka kepada Allah Yang Maha Suci. Hal ini karena mereka menjadi 'wali' bagi Allah Yang Maha Tinggi melalui ketaatan, yakni mereka mendekatkan diri kepada-Nya dengan ketaatan dan penyerahan diri total dalam mengenal-Nya, sehingga ketika mereka melihat, mereka benar-benar melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya”. (Tafsir Ruh al-Bayan, 4: 63)
Dari beberapa pendapat ulama’ mengenai pengertian wali diatas dapat disimpulkan bahwa wali adalah para kekasih Allah yang dekat kepada-Nya dan seseorang yang telah mencapai derajat makrifat melalui jalan yang diridhai Allah.
Pengertian Wali Majdzub
Orang yang dalam kondisi jadzab seringkali melakukan perbuatan di luar nalar manusia biasa. Hal tersebut terjadi karena apa yang dilakukan oleh mereka termasuk dalam keadaan jadzab dimana perilaku tersebut sudah di luar kapasitasnya sebagai manusia. karena hal tersebut sebagai bukti bahwa Allah telah menampakkan sifat-sifat Allah secara nyata.
الْجَذْبَةُ هِيَ التَّجَلِّي الْإِلٰهِيُّ، وَفِيْهَا يَحْصُلُ التَّحْقِيْقُ بِالْأَسْمَاءِ الْإِلٰهِيَّةِ، وَالِاسْتِشْعَارُ بِالِاسْمِ الصَّمَدِ.( الكشف الحقيقة الصوفية: ص ٢٤٧)
“Jadzab adalah tajalli (penampakan diri) Ilahi. Di dalamnya terjadi pencapaian hakikat melalui nama-nama Ilahi, serta lahirnya kesadaran yang mendalam terhadap allah Yang Maha kekal”. (al-Kasyf al-Haqiqah al-Shufiyyah: 247)
Jalan yang ditempuh seseorang untuk mencapai tingkatan wali yaitu dengan cara menggapai ma‘rifatullah. Dalam ilmu tasawuf, terdapat dua jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai makrifat ini. Yang Pertama yaitu dengan cara suluk. suluk ini adalah salah satu pilihan jalan yang dapat ditempuh secara normal. Karena seseorang yang mengamalkan perilaku tasawuf secara tidak langsung juga disebut sebagai salik. Kemudian yang Kedua Yaitu dengan cara jadzab. Jalan ini merupakan jalan khusus yang tidak sembarang orang bisa mengamalkan, hanya orang-orang khusus yang memang terpilih yang dapat menempuh jalan ini. Dua jalan menuju ma‘rifatullah di atas, secara sederhana diilustrasikan dalam kitab Nasihah al-Murid fi Thariq ahli al-Suluk wa al-Tajrid berikut:
اِعْلَمْ أَنَّ الْجَذْبَ وَالسُّلُوْكَ مِثْلُهُمَا كَالْأَشْجَارِ، شَجَرَةُ الْجَذْبِ لَهَا عُرُوْقٌ وَفُرُوْعٌ، وَكَذَلِكَ شَجَرَةُ السُّلُوْكِ لَهَا عُرُوْقٌ وَفُرُوْعٌ وَكُلُّ عِرْقٍ وَفَرْعٍ مِنْهُمَا لَهُ أَثْمَارٌ. عُرُوْقُ الْجَذْبِ هِيَ الْعُلُومُ اللَّدُنِّيَّةُ الْغَيْبِيَّةُ، وَأَثْمَارُ فُرُوْعِ الْجَذْبِ هِيَ أَنْ يَكُوْنَ صَاحِبُهَا بِأَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى يَقُوْلُ لِلشَّيْءِ كُنْ فَيَكُونُ وَالْكُلُّ مَوَاهِبُ وَكَذَلِكَ عُرُوقُ شَجَرِ السُّلُوكِ تُثْمِرُ بِالْعِلْمِ الظَّاهِرِ، وَفُرُوعُهُ تُثْمِرُ بِالْعَمَلِ الظَّاهِرِيِّ، وَإِنْ تَفَاوَتَ أَهْلُ السُّلُوْكِ مَعَ أَهْلِ الْجَذْبِ إِلَّا أَنَّ أَهْلَ السُّلُوْكِ عِبَادَتُهُمْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ، وَأَهْلُ الْجَذْبِ مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ مِنْهُ إِلَيْهِمْ، وَمِنْهُمْ إِلَيْهِ. (نصيحة المريد في الطريق أهل السلوك والتجريد: ص ١٧)
“Pahami bahwa Jadzab (tarikan Ilahi) dan Sulūk (perjalanan spiritual) dapat diibaratkan seperti dua jenis pohon. Pohon Jadzab memiliki akar dan cabang, begitu pula pohon Sulūk memiliki akar dan cabang, dan setiap bagian dari keduanya menghasilkan buah. Akar Jadzab adalah ilmu-ilmu laduni yang tidak tampak, dan buah dari cabang-cabangnya adalah kemampuan pemiliknya untuk mewujudkan sesuatu hanya dengan perintah Allah ('Kun Fayakun'), dan semua itu adalah pemberian. Sementara itu, akar pohon Sulūk menghasilkan ilmu yang tampak (syariat), dan cabangnya menghasilkan amal yang tampak (lahiriah). Meskipun terdapat perbedaan antara para ahli Sulūk dan para ahli Jadzab, ibadah para ahli Sulūk masih terhalang oleh tabir (syariat), sedangkan bagi ahli Jadzab, tabir yang ada di antara mereka dan Allah adalah tabir yang berasal dari Allah kepada mereka, dan dari mereka kembali kepada-Nya (menunjukkan kedekatan dan keterbukaan).” (Nasihah al-Murid fi Thariq ahli al-Suluk wa al-Tajrid: 17)
Selain itu di dalam kitab Jami’ al-Ushul Fi al-Auliya’ karya Syaikh Dhiyauddin al-Naqsabandi dijelaskan bahwa wali jadzab merupakan orang yang ditarik melalui genggaman mutlak Allah Yang Maha Tinggi, hal tersebut diibaratkan seperti halnya bayi yang sedang disusui oleh ibunya. Selain itu wali majdzub juga diibaratkan sebagai seorang ibu yang mendidik anaknya. Ia berada dalam asuhan didikan Ilahi, padahal mereka (para majdub) seperti anak-anak kecil.
وَالْمَجْذُوبُ فِي قَبْضَتِهِ تَعَالَى بِمَنْزِلَةِ الصَّبِيِّ الرَّضِيْعِ، تَتَصَرَّفُ فِيْهِ يَدُ الْقُدْرَةِ كَتَصَرُّفِ الْوَالِدَةِ فِي وَلَدِهَا، فَهُوَ فِي حِجْرِ تَرْبِيَّةِ الْمَحْبُوبِيَّةِ، يَرْضَعُ بِلَبَنِ كَرَمِ الرُّبُوبِيَّةِ, وَهُمْ أَطْفَالٌ، وَيَقُولُ فِيْهِمْ قَدْ يُرَبَّوْنَ فِي حِجْرِ تَرْبِيَّةِ إِرَادَتِنَا، يُرْضَعُوْنَ بِلَبَنٍ مِنْ كَرَمِنَا.( جامع الأصول في الأولياء:ج ١, ص ٢٦)
“Orang yang majdzub berada dalam genggaman penuh Allah Yang Maha Tinggi, ia laksana bayi yang sedang disusui; Tangan Kekuasaan bertindak padanya sebagaimana seorang ibu bertindak pada anaknya. Ia berada dalam asuhan kasih sayang Ilahi, diberi minum dari air susu kemurahan Tuhan. Mereka (orang majdzub) adalah seperti anak-anak, dan Allah berfirman tentang mereka: 'Sesungguhnya mereka dididik dalam naungan pengasuhan kehendak Kami, mereka disusui dengan air susu kemurahan Kami”. (Jami’ al-Ushul fi al-Auliya', 1: 26)
Dengan adanya berbagai penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa jadzab adalah sebuah keadaan saat seseorang sudah lepas dalam kapasitasnya sebagai manusia karena tampak secara jelas padanya sifat-sifat Allah (tajalli), segala keanehan perbuatan yang dilakukan dalam kondisi jadzab bermula dari petunjuk Allah. Orang yang sudah sampai pada maqam jadzab ini biasanya dikenal dengan sebutan majdzub. Sedangkan masyarakat pada umumnya mengenal orang yang sudah sampai pada maqam ini dengan sebutan wali jadzab atau wali majdzub.
Perlu kita ketahui bahwa istilah jadzab dan majdzub berasal dari akar kata yang sama, yaitu jadzaba (جذب) yang berarti "menarik". Namun, kedua istilah tersebut memiliki makna yang berbeda dalam konteks pengalaman spiritual. Dimana, istilah jadzab adalah kata benda (masdar) yang merujuk pada peristiwa, tindakan, atau keadaan ditariknya kesadaran seorang hamba oleh Allah SWT. Sedangkan majdzub adalah kata sifat/objek (isim ma'ful) yang merujuk pada orang atau subjek yang mengalami jadzab tersebut.
Cara Membedakan Wali Majdzub Asli Dan Palsu
Orang yang dalam kondisi jadzab seringkali melakukan perbuatan di luar nalar manusia biasa. Karena apapun yang dilakukan oleh mereka ketika dalam keadaan jadzab sudah di luar kapasitasnya sebagai manusia pada umumnya.
Meski demikian, patut dibedakan antara orang yang melakukan hal-hal aneh (khâriq al-âdah) karena memang betul-betul jadzab dengan orang yang hanya pura-pura jadzab. Untuk menandai perbedaan dua orang ini cukup sederhana, yakni dengan cara melihat tingkah laku orang tersebut setelah kondisi terjaga. Jika saat kondisi normal, ia senantiasa berdzikir dan beribadah serta menjauhi hal-hal duniawi yang bersifat fana(tidak kekal), maka bisa dipastikan keanehan yang ia lakukan adalah berangkat dari maqam jadzab. Sebaliknya, ketika seseorang sadar atau kembali ke dalam kondisi normal justru ia lebih mendekatkan diri pada hal-hal yang bersifat duniawi dan senang mendekat dengan orang-orang yang memiliki ambisi duniawi, maka bisa dipastikan keanehan yang ia lakukan bukanlah bermula dari keadaan jadzab, tak hanya itu hal tersebut juga bisa dipastikan hanya sebatas tipu daya yang dilakukannya untuk menarik perhatian orang lain. Perbedaan dua karakteristik ini seperti yang digambarkan dalam pembahasan menari saat berdzikir yang dijelaskan dalam kitab Zad al-Muslim fi ma Ittafaq ‘alaihi al-Bukhari wa Muslim:
وَاعْلَمْ أَنَّ الرُّقْصَ فِي حَالِ الذِّكْرِ لَيْسَ مِنَ الشَّرْعِ وَلَا مِنَ الْمُرُوْءَةِ وَلَمْ يُعْذَرْ فِيهِ إِلَّا الْفَرْدُ النَّادِرُ مِنْ أَهْلِ الْأَحْوَالِ وَالْجَذْبِ وَلَهُ عِنْدَ الْقَوْمِ عَلَامَةٌ يُمَيِّزُونَ بِهَا بَيْنَ مَا كَانَ مِنْهُ عَنْ جَذْبٍ حَقِيقِيٍّ وَبَيْنَ مَا كَانَ عَنْ تَلَاعُبٍ وَتَلْبِيسٍ عَلَى النَّاسِ فَقَدْ قَالُوا إِنَّ الْمَجْذُوبَ إِذَا كَانَ بَعْدَ الصَّحْوِ يُوجَدُ مُعْرِضًا عَنِ الدُّنْيَا وَأَهْلِهَا مُقْبِلًا عَلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَعِبَادَتِهِ فَهَذَا جَذْبُهُ حَقِيقِيٌّ وَيُعْذَرُ فِي رَقْصِهِ وَإِذَا كَانَ بَعْدَ الصَّحْوِ مِنْ تَجَاذُبِهِ وَرَقْصِهِ يُوجَدُ مُقْبِلًا عَلَى الدُّنْيَا مُتَأَنِّسًا بِأَهْلِهَا لَا فَرْقَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ فِي الْأَحْوَالِ وَاللَّهْوِ فَهُوَ مُتَلَاعِبٌ كَاذِبٌ فِي دَعْوَى جَذْبِهِ صَاحِبُ رَقْصٍ وَلَعِبٍ فَهُوَ مِمَّنِ اتَّخَذَ دِينَهُ هُزُوًا وَلَعِبًا.(زاد المسلم فيما اتفق عليه البخاري ومسلم: ج ٢, ص ٢٣٤)
“Ketahuilah bahwa menari pada saat berdzikir bukan bagian dari ajaran syariat dan bukan bagian dari budi pekerti yang baik. Tindakan tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk dibenarkan oleh siapa pun kecuali bagi orang khusus dari kalangan orang jadzab. Menurut sebagian kalangan (ulama sufi) jadzab memiliki tanda-tanda tertentu yang membedakan antara tindakan jadzab yang hakiki dan tindakan yang berangkat dari main-main dan tipu daya di hadapan manusia. Mereka berkata bahwa orang yang jadzab ketika setelah sadar ia berpaling dari dunia dan menghadap untuk berdzikir pada Allah dan beribadah kepada-Nya, maka sikap jadzabnya adalah sikap jadzab yang sungguhan, tindakannya menari saat berdzikir dianggap udzur. Sedangkan ketika setelah sadar dari jadzab dan selesai menari saat dzikir, seseorang lantas menghadap pada dunia dan merasa senang berjumpa dengan orang yang tergiur dengan dunia, hingga tidak ada perbedaan antara dirinya dan orang yang tergiur dengan dunia dalam perbuatan dan sikap main-mainnya, maka ia adalah orang yang main-main dan bohong atas klaim kejadzabannya saat menari dan bersenda gurau, ia adalah bagian dari orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau” ( Zad al-Muslim fi ma Ittafaqa ‘alaihi al-Bukhari wa Muslim, 2: 234)
Jadzab menurut ahli sufi disebabkan oleh keimanan yang sangat kuat bagi seorang hamba pada tuhannya sehingga oleh Allah mereka akan diberikan sesuatu yang tidak akan bisa dilihat, tidak bisa di dengar, dan tak akan bisa dirasakan oleh manusia lain, selain itu, orang yang mengalami jadzab akan senantiasa berdoa pada allah dengan tetap khauf (takut pada azab allah) dan thoma’ (keinginan untuk masuk surga).
فَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ ادَّخَرَ اللهُ لَهُمْ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ لَا شَكَّ أَنَّهُمْ أَكْمَلُ النَّاسِ إِيمَانًا وَحَالًا، وَمَعَ ذَلِكَ فَهُمْ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا: خَوْفًا مِنْ عَذَابِهِ، وَطَمَعًا فِي جَنَّتِهِ.( الفكر الصوفي في ضوء الكتاب والسنة: ص ٥٧)
“Mereka adalah orang-orang yang telah disiapkan Allah bagi mereka kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam benak manusia. Tidak diragukan lagi bahwa mereka adalah manusia dengan keimanan dan kondisi (keadaan) yang paling sempurna. Meskipun demikian, mereka tetap berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut akan siksa-Nya dan penuh harap akan surga-Nya”.(Al-Fikr al-Sufi Fii Dzu’i al-Kitab Wa al-Sunnah: 57)
Kemudian ketika seseorang mengalami jadzab, seseorang tersebut akan mengalami khudur atau menyatunya jiwa dengan allah yang maha esa (sebagian ulama sufi mendefinisikan keadaan seperti ini dengan istilah fana’.
الْحُضُورُ: النَّفْسُ حِينَ تَتَّحِدُ بِالْوَاحِدِ فِي حَالِ الْجَذْبِ (هَذَا التَّعْرِيفُ هُوَ لِأَفْلَاطُونَ، مِنَ الْمُعْجَمِ الْفَلْسَفِيِّ الصَّادِرِ عَنْ مَجْمُعِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ)، وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نَصُوغَ هَذِهِ الْجُمْلَةَ بِالْعِبَارَةِ الصُّوفِيَّةِ، نَقُولُ: الْحُضُورُ هُوَ الْفَنَاءُ فِي الذَّاتِ.( الكشف الحقيقة الصوفية: ص ١٠٠)
“Kehadiran (Al-Hudhur): Jiwa ketika menyatu dengan Al-Wahid (Yang Esa) dalam kondisi tarikan spiritual (definisi ini berasal dari Plato, dari Kamus Filsafat yang diterbitkan oleh Majmu' Bahasa Arab). Dan jika kita ingin merumuskan kalimat ini dengan ungkapan sufistik, kita katakan: Kehadiran adalah peleburan (fana') dalam Dzat (Allah)”.(Al-Kasyf al-Haqiqah al-Shufiyyah: 100)
Selain itu, seseorang yang sedang mengalami Jadzab mereka akan berperilaku seperti orang gila, namun tidak seperti orang gila pada umumnya, karena sebetulnya orang yang sedang jadzab mereka sedang menyatu kepada Allah, kemudian dalam penjelasan ulama, mereka mengatakan bahwa gila yang dialami oleh orang yang sedang Jadzab adalah karena mereka larut ke dalam kecintaan mereka pada Allah
فِي وَاقِعِ الأَمْرِ، إِنَّ مَا يَحْصُلُ لِلصُّوْفِيِّ هُوَ نَفْسُ مَا يَحْصُلُ لِلْمَجْنُوْنِ مِنْ خَدَرٍ فِي مَرَاكِزِ الْوَعْيِ وَالضَّبْطِ فِي الدِّمَاغِ، مَعَ فَارِقٍ، أَنَّ مَا يَحْصُلُ لِلصُّوفِيِّ هُوَ شَيْءٌ شِبْهُ مَرَضِيٍّ، لَا مَرَضِيٌّ، وَلَا يَكُوْنُ مَرَضِيًّا مِثْلَ الْجُنُونِ تَمَامًا إِلَّا عِنْدَ الَّذِينَ يَسْتَوْلِي عَلَيْهِمُ الْجَذْبُ، وَالَّذِينَ يَقُولُونَ عَنْهُمْ إِنَّهُمْ فِي مَقَامِ جَمْعِ الْجَمْعِ وَكَثِيرًا مَا سَمِعْنَا مِمَّنْ يَقُولُ عَنْ مَجْنُوْنٍ أَوْ مَعْتُوْهٍ إِنَّهُ سَائِحٌ فِي حُبِّ اللهِ.( الكشف الحقيقة الصوفية: ص ٥٧٧)
“Pada kenyataannya, apa yang dialami oleh seorang sufi adalah sama dengan apa yang dialami oleh orang gila, yaitu mati rasa pada pusat-pusat kesadaran dan kontrol di otak. Perbedaannya adalah, apa yang dialami sufi itu semi-patologis, bukan penyakit sejati. Kondisi itu baru menjadi penyakit seperti kegilaan sepenuhnya pada mereka yang dikuasai oleh 'jadzab' (tarikan spiritual mendalam), yang mana mereka digambarkan berada pada tingkatan 'jam' al-jam'' (penyatuan total). Kami sering mendengar orang menyebut orang gila atau orang cacat mental sebagai 'pengembara dalam cinta Allah”. (Al-Kasyf al-Haqiqah as-Shufiyyah: 577)
Menurut Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad Al-Dibaghi menjelaskan bahwa seorang hamba tidak akan mengalami Jadzab sebelum hamba tersebut mencintai Allah SWT.
وَيَقُولُ عَبْدُ الْعَزِيزِ الدَّبَّاغُ: … إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يُحِبُّ عَبْدًا حَتَّى يُعَرِّفَهُ بِهِ، وَبِالْمَعْرِفَةِ يَطَّلِعُ عَلَى أَسْرَارِهِ تَعَالَى، فَيَقَعُ لَهُ الْجَذْبُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى ... (الكشف الحقيقة الصوفية: ص ٣٩٥-٣٩٦)
“Abdul Aziz Al-Dabbagh berkata bahwa Allah SWT tidak akan mencintai seorang hamba kecuali setelah Dia memperkenalkan Diri-Nya kepada hamba tersebut. Melalui pengenalan itu, hamba tersebut dapat mengetahui rahasia-rahasia Allah SWT, sehingga ia merasakan tarikan (jadzab) menuju Allah SWT”. (Al-Kasyf al-Haqiqah as-Shufiyyah: 395-396)
Sedangkan Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Baghdadi mengatakan bahwa jadzab harus dibarengi dengan adanya ketaqwaan atau menjalankan perintah tuhan. ketika jadzab tidak dibarengi dengan hal-hal tersebut maka hasilnya tak akan ada artinya, begitu pula ketika hanya melakukan syariat tanpa adanya jadzab, maka hal tersebut tidak akan menghasilkan apapun, kecuali menjadi golongan ulama yang cenderung dhohiriyah atau hanya melihat dhohir saja.
…وَاعْلَمْ أَنَّ الْجَذْبَ وَحْدَهُ مِنْ غَيْرِ سُلُوْكٍ فِي الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ بِاِمْتِثَالِ أَوَامِرِ الْحَقِّ تَعَالَى وَالاِجْتِنَابِ عَنْ نَوَاهِيهِ لَا نَتِيجَةَ لَهُ أَصْلاً…وَكَذَلِكَ السُلُوكُ بِاِمْتِثَالِ الْأَوَامِرِ وَاِجْتِنَابِ النَّوَاهِي مِنْ غَيْرِ جَذْبٍ إِلَهِيٍّ لَا نَتِيْجَةَ لَهُ غَيْرَ الدُّخُولِ فِي حَيِّزِ الْعُلَمَاءِ وَالْعُبَّادِ مِنْ أَهْلِ الظَّاهِرِ...( الكشف الحقيقة الصوفية: ص ٢٤٧)
"...Ketahuilah bahwasanya Jadzab (tarikan Ilahi) saja, tanpa adanya Suluk (usaha menempuh jalan) dalam jalan yang lurus dengan melaksanakan perintah Allah Ta'ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya, maka sama sekali tidak ada hasilnya (buahnya)... Demikian juga Suluk (usaha) dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, tanpa adanya Jadzab Ilahi (tarikan Ilahi), tidak ada hasilnya selain sekadar masuk dalam lingkup ulama dan ahli ibadah dari kalangan Ahli Zhahir (orang-orang yang fokus pada lahiriah)”...(Al-Kasyf al-Haqiqah al-Shufiyyah: 247)
Dengan adanya beberapa penjelasan mengenai wali jadzab diatas dapat disimpulkan bahwa wali Jadzab merupakan sebuah fase di mana manusia oleh tuhan ditarik ke alam yang berbeda untuk dijadikan kekasih Allah (ma’rifat billah). Hal tersebut sebagai bukti bahwa Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya serta berbagai rahasia yang tidak diketahui oleh manusia. Selain itu juga dapat mendorong seseorang wali jadzab untuk menjadikan dirinya lupa akan keadaannya (hingga banyak dari tokoh sufi yang seperti orang gila), namun tidak gila karena sakit, tetapi karena sebuah tingkatan keimanan yang luar biasa pada Allah atau disebabkan karena dia telah tenggelam dalam kecintaan pada Allah. orang yang melakukan hal-hal aneh (khâriq al-âdah) karena memang betul-betul jadzab dengan orang yang hanya pura-pura jadzab. Untuk menandai perbedaan dua orang ini cukup sederhana, yakni dengan cara melihat tingkah laku orang tersebut setelah kondisi terjaga. Jika saat kondisi normal, ia senantiasa berdzikir dan beribadah serta menjauhi hal-hal duniawi yang bersifat profan (tidak suci), maka bisa dipastikan keanehan yang ia lakukan adalah berangkat dari maqam jadzab. Sebaliknya, ketika seseorang sadar atau kembali ke dalam kondisi normal justru ia lebih mendekatkan diri pada hal-hal yang bersifat duniawi dan senang mendekat dengan orang-orang yang memiliki ambisi duniawi, maka bisa dipastikan keanehan yang ia lakukan bukanlah bermula dari keadaan jadzab, tak hanya itu hal tersebut juga bisa dipastikan hanya sebatas tipu daya yang dilakukannya untuk menarik perhatian orang lain. Walaupun seseorang sudah pada tahap jadzab, mereka tidak akan meninggalkan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Namun jika ada orang yang jadzab akan tetapi meninggalkan syariat, hal itu hanyalah jadzab yang tidak ada faedahnya.
KESIMPULAN
Wali adalah para kekasih Allah yang dekat kepada-Nya dan seseorang yang telah mencapai derajat makrifat melalui jalan yang diridhai Allah. Jalan yang ditempuh tersebut yaitu dengan menggapai ma’rifatullah , yang mana jalan ini dapat ditempuh melalui dua jalan yaitu melalui suluk dan melalui jadzab. Kedua jalan tersebut memiliki perbedaan yaitu ketika orang melakukan jalan suluk orang tersebut masih beribadah di belakang tirai penghalang dari Allah, namun ketika seseorang melakukan atau yang sudah dalam kondisi jadzab, diantara mereka dan Allah tidak ada penghalang sama sekali. orang yang Jadzab kadang juga melakukan hal diluar nalar dan tidak sesuai atau diluar kapasitasnya sebagai manusia pada umumnya. Hal tersebut dapat dibedakan antara orang-orang yang mengklaim jadzab dan orang-orang yang benar-benar sudah masuk pada tahap jadzab yaitu salah satunya dengan melihat perilakunya. Dimana perilaku orang yang benar-benar jadzab mereka akan tetap beribadah, berdzikir, dan menjauhi hal-hal duniawi, sedangkan jadzab yang palsu mereka justru mendekatkan dirinya pada duniawi.
Selain itu wali jadzab kadang juga berperilaku seperti orang gila, namun tidak seperti orang gila pada umumnya. Hal tersebut disebabkan karena mereka sedang menyatu dengan tuhan. Walaupun seseorang sudah pada tahap jadzab, mereka tidak akan meninggalkan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Seorang hamba tidak akan mengalami jadzab sebelum hamba tersebut mencintai Allah SWT. Ketika jadzab tidak didasari dengan adanya taqwa atau menjalankan perintah tuhan maka hal tersebut akan sia-sia, begitu pula ketika hanya melakukan syariat tanpa adanya jadzab maka hal tersebut tidak akan menghasilkan apa-apa. jika ada orang yang jadzab akan tetapi meninggalkan syariat, hal itu hanyalah Jadzab yang tidak ada manfaatnya. Wallahu a'lam
Penulis : AHMAD ASROFI
Contact Person : 08563656798
e-Mail : ahmadasrofi1998@gmail.com
Perumus : Abidusy Syakur Almahbub
Mushohih : Khoirun ni’am, M.Ag
DAFTAR PUSTAKA
Abu al-Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi (W. 465 H), Risalah al-Qusyairiyah, Dar Jawami' al-Kalam, Kairo, Mesir: cetakan pertama, 2007 M/1428 H, sebanyak 1 jilid.
Syaikh Ahmad dhiyauddin al-Naqsyabandi al-Khalidi (W. 1311 H), Jami' al-Ushul Fi al-Auliya', al-Intisyar al-Arabi, Beirut, Lebanon: cetakan pertama, 1997 M, sebanyak 3 jilid.
Imam Syeikh Ismail Haqqi bin Musthofa al-Hanafi ( W. 1127 H), Ruh al-Bayan, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon: cetakan keempat, 2018 M/ 1439 H, sebanyak 10 jilid.
Sayyid Ali bin Abdul Rohman (W. 1193 H), Nasihat al-Murid fi Thariq Ahli al-Suluk wa al-Tajrid, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon: cetakan pertama, tahun 1426 H/2005 M, sebanyak 1 jilid.
Mahmud Abdur Rauf al-Qasim (W. 1990 H ), al-Kasyfu al-Haqiqat al-Sufiyyah, Dar al-Shahabah litthiba'at wa al-Nasyr, Beirut, Lebanon: cetakan pertama tahun 1408 H/1987 M, sebanyak 1 jilid.
Muhammad Ibnu Abdullah al-Syinqity (W.1236 H), Zad al-Muslim fi ma ittafaq 'alaihi, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon: cetakan pertama 2012 M, sebanyak 4 jilid.
Abdurrahman Abdul Khaliq (W. 1442H), al-Fikrah al-Sufi fi Dzu'i al-Kitab wa al-Sunnah, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kuwait: cetakan kedua 1404 H/1984 M, sebanyak 1 jilid.
====================

%20AHMAD%20ASROFI%20(23).png)
%20AHMAD%20ASROFI%20(22).png)
%20AHMAD%20ASROFI%20(21).png)
%20AHMAD%20ASROFI%20(20).png)
%20AHMAD%20ASROFI%20(19).png)
%20AHMAD%20ASROFI%20(18).png)
%20AHMAD%20ASROFI%20(17).png)
%20AHMAD%20ASROFI%20(16).png)
%20AHMAD%20ASROFI%20(15).png)
%20AHMAD%20ASROFI%20(14).png)
%20AHMAD%20ASROFI%20(13).png)
%20AHMAD%20ASROFI%20(12).png)
Posting Komentar untuk "Perbedaan Wali Majdzub Asli dan Palsu"