Tinjauan Hukum Terhadap Jual Beli Skin Game Dan Item Digital

TINJAUAN HUKUM TERHADAP JUAL BELI SKIN GAME DAN ITEM DIGITAL

 Jual beli merupakan transaksi tukar-menukar barang atau jasa yang dilakukan dengan akad tertentu sesuai ketentuan syariat. Dalam praktiknya, seorang remaja memainkan game Mobile Legend dan membeli skin digital agar tampil lebih keren serta merasa lebih unggul dalam permainan tersebut. Permasalahan muncul karena skin yang dibeli tidak memiliki wujud nyata dan hanya berupa tampilan virtual di dalam game. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai keabsahan transaksi jual beli barang digital yang tidak berwujud secara fisik dalam hukum islam.

Bagaimana hukum membeli skin digital dalam  game Mobile Legend menurut syariat islam? 

Tafsil

A. Tidak Boleh

Tidak boleh jika pembelian dengan sistem draw (acak) atau undian tidak memenuhi syarat sah jual beli menurut syariat Islam. Transaksi semacam ini mengandung ketidakjelasan dan unsur gharar (ketidakpastian) serta maisir (perjudian). Oleh karena itu, aktivitas jual beli skin dengan sistem draw tidak diperbolehkan dalam pandangan hukum Islam.


قَالَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللَّهُ. (وَلَا يَجُوزُ بَيْعُ عَيْنٍ مَجْهُولَةٍ كَبَيْعِ عَبْدٍ مِنْ عَبِيْدٍ وَثَوْبٍ مِنْ أَثْوَابٍ، لِأَنَّ ذَلِكَ غَرَرٌ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ. وَيَجُوْزُ أَنْ يَبِيْعَ قَفِيْزًا مِنْ صُبْرَةٍ لِأَنَّهُ إِذَا عَرَفَ الصُّبْرَةَ عَرَفَ الْقَفِيْزَ مِنْهَا فَزَالَ الْغَرَرُ).

(الشَّرْحُ): الْقَفِيْزُ مِكْيَالٌ مَعْرُوْفٌ، وَمُرَادُ الْفُقَهَاءِ بِهِ التَّمْثِيْلُ. وَأَصْلُ الْقَفِيْزِ مِكْيَالٌ يَسَعُ اثْنَيْ عَشَرَ صَاعًا، وَالصَّاعُ خَمْسَةُ أَرْطَالٍ وَثُلُثٌ بِالْبَغْدَادِيِّ، هَكَذَا ذَكَرَهُ أَهْلُ اللُّغَةِ، وَانْتِخَابُ الْغَرِيْبِ وَغَيْرُهُمْ. ( المجموع شرح المهذب :  ج ٩ ,ص ٢٧٢ )

Mushonif rohimahullah menyatakan : Tidak boleh menjual barang yang tidak diketahui secara jelas (tidak diketahui wujudnya), seperti menjual seorang budak dari antara beberapa budak, atau satu kain dari beberapa kain. Karena hal itu termasuk unsur gharar (ketidakjelasan/ketidakpastian) tanpa adanya kebutuhan yang mendesak. Namun, diperbolehkan menjual satu (qafiz) dari tumpukan gandum (ṣubrah), karena apabila tumpukan itu diketahui (dilihat dan dikenali), maka ukuran (qafiz-nya) pun menjadi jelas, sehingga hilanglah unsur gharar (ketidakpastian).

Syarah : al-Qafiz adalah takaran yang dikenal. Maksud para ahli fikih dengannya hanyalah perumpamaan. Asal al-qafiz adalah takaran yang memuat dua belas sa' (takaran), dan satu sa' adalah lima riṭl (ratl) sepertiga menurut takaran Baghdad. Demikianlah disebutkan oleh ahli bahasa, penulis intikhab al-Gharib dan lainnya. (al-Majmu‘ Syarḥ al-Muhadzab : Juz 9, Hal. 272).

B. Boleh

Transaksi diperbolehkan secara syariat apabila menggunakan akad yang sah. Jika membeli dengan sistem biasa dan jenis akad jual beli biasa, maka hukumnya diperbolehkan, karena telah memenuhi rukun dan syarat jual beli. Jika mendapatkan skin secara gratis dengan mengikuti event atau misi, maka hukumnya juga diperbolehkan, karena termasuk akad ju‘alah, yaitu pemberian imbalan atas keberhasilan menyelesaikan suatu pekerjaan.

نَعَمْ، يُرَدُّ عَلَيْهِ بَيْعُ حَقِّ الْمَمَرِّ، فَإِنَّهُ تَمْلِيْكُ مَنْفَعَةٍ بِعِوَضٍ مَعْلُومٍ، وَهُوَ بَيْعٌ، لَا إِجَارَةٌ، وَأُجِيْبَ عَنْهُ بِأَنَّهُ لَيْسَ بَيْعًا مَحْضًا، بَلْ فِيْهِ شَوْبُ إِجَارَةٍ، وَإِنَّمَا سُمِّيَ بَيْعًا، نَظَرًا لِصِيْغَتِهِ فَقَطْ، فَهُوَ إِجَارَةٌ مَعْنًى، وَعُلِمَ مِنْ قَوْلِهِ تَمْلِيْكُ مَنْفَعَةٍ، أَنَّ مَوْرِدَ الْإِجَارَةِ، الْمَنْفَعَةُ، سَوَاءٌ وَرَدَتْ عَلَى الْعَيْنِ، كَآجَرْتُكَ هَذِهِ الدَّابَّةَ بِدِيْنَارٍ، أَوْ عَلَى الذِّمَّةِ، كَأَلْزَمْتُ ذِمَّتَكَ حَمْلِيْ إِلَى مَكَّةَ بِدِيْنَارٍ، وَلَا يَجِبُ قَبْضُ الْأُجْرَةِ فِيْ الْمَجْلِسِ فِيْ الْوَارِدَةِ عَلَى الْعَيْنِ، وَتَصِحُّ الْحَوَالَةُ بِهَا، وَعَلَيْهَا، وَالِاسْتِبْدَالُ عَنْهَا، وَأَمَّا الْوَارِدَةُ عَلَى الذِّمَّةِ فَيُشْتَرَطُ فِيْهَا قَبْضُ الْأُجْرَةِ فِيْ الْمَجْلِسِ، وَلَا تَصِحُّ الْحَوَالَةُ بِهَا، وَلَا عَلَيْهَا، وَلَا الِاسْتِبْدَالُ عَنْهَا، لِأَنَّهَا سَلَمٌ فِيْ الْمَنَافِعِ، فَتَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكَامُ السَّلَمِ. (اعانة الطلبين : ج ٣, ص ١٢٩-١٣٠)

Ya, hal itu disanggah (dibantah) dengan kasus penjualan hak lewat (hak jalan/mempergunakan jalan), karena itu adalah pemilikan manfaat dengan imbalan (iwadh) tertentu, dan itu adalah jual beli, bukan sewa (ijarah). Dijawab (atas sanggahan itu) bahwa itu (penjualan hak lewat) bukanlah jual beli murni, melainkan di dalamnya terdapat campuran (unsur) ijarah, dan ia hanya dinamakan jual beli hanya karena tinjauan pada sighah-nya (redaksi akad) saja. Maka, secara makna, ia adalah ijarah. Diketahui dari perkataan (definisi ijarah sebelumnya, yaitu) "pemilikan manfaat" bahwa objek (tempat jatuhnya) akad ijarah adalah manfaat, baik itu objeknya berkaitan dengan 'ain (benda nyata), seperti "Aku sewakan kepadamu hewan ini dengan satu dinar," atau berkaitan dengan dzimmah (tanggungan), seperti "Aku wajibkan atas tanggung-jawabmu untuk membawa barang bawaanku ke Mekkah dengan satu dinar." 

Tidak wajib menerima upah (ujrah) di tempat akad (majlis) pada ijarah yang berkaitan dengan 'ain (benda nyata), dan sah adanya hiwalah (pengalihan utang) dengan upah tersebut maupun atasnya, serta sah istibdal (penggantian) darinya. Adapun ijarah yang berkaitan dengan dzimmah (tanggungan), maka disyaratkan di dalamnya penyerahan (penerimaan) upah di tempat akad, dan tidak sah adanya hiwalah (pengalihan utang) dengan upah tersebut maupun atasnya, dan tidak sah istibdal darinya, karena ia adalah salam (pemesanan) dalam manfaat, sehingga berlaku padanya hukum-hukum akad salam. (I’anatut al-Tholibin :  Juz 3, Hal. 129-130).

(فَصْلٌ) فِيْ أَحْكَامِ  الْجُعَالَةُ وَهِيَ  بِتَثْلِيْثِ  الْجِيْمِ وَمَعْنَاهَا  لُغَةً مَا  يُجْعَلُ  لِشَخْصٍ عَلَى شَيْءٍ  يَفْعَلُهُ وَشَرْعًا الْتِزَامُ  مُطْلَقِ التَّصَرُّفِ عِوَضًا مَعْلُومًا عَلَى عَمَلٍ  مُعَيَّنٍ  أَوْ  مَجْهُولٍ لِمُعَيَّنٍ أَوْ  غَيْرِهِ. ( وَالْجُعَالَةُ جَائِزَةٌ ) مِنَ الطَّرَفَيْنِ طَرَفِ  الْجَاعِلِ  وَالْمَجْعُولِ  لَهُ ( وَهِيَ  أَنْ  يُشْتَرَطَ  فِيْ  رَدِّ ضَالَّتِهِ عِوَضٌ مَعْلُومٌ )، كَقَوْلِ  مُطْلَقِ التَّصَرُّفِ : «مَنْ رَدَّ ضَالَّتِيْ فَلَهُ كَذَا». (فَإِذَا رَدَّهَا اسْتَحَقَّ) الرَّادُّ (ذَلِكَ الْعِوَضَ الْمَشْرُوطَ) لَهُ. (فتح القريب المجيب : ص ٣٨)


Makna ju’alah secara etimoogi adalah sesuatu yang diberikan kepada seseorang atas apa yang ia telah kerjakan. Sedangkan secara terminologi adalah kesanggupan orang yang mutlak tasharrufnya untuk memberikan ongkos atau (iwadl) pada orang tertentu ataupun tidak, atas pekerjaan yang telah diketahui secara jelas. Al-Ji’alah adalah ja'iz (boleh) dari kedua belah pihak: pihak yang menjanjikan upah (al-ja’il) dan pihak yang berhak menerima upah (al-maj’ul lahu). (Bentuknya adalah) dengan mensyaratkan imbalan tertentu dalam pengembalian barang hilang miliknya, seperti ucapan orang yang memiliki otoritas penuh dalam bertransaksi, “Barang siapa mengembalikan barang hilang ku, maka ia mendapat sekian.” (Maka) apabila ia mengembalikannya, orang yang mengembalikan itu berhak menerima imbalan  yang disyaratkan tersebut. (Fath al-Qarib al-Mujib :  Hal. 38)

Catatan :

Akad semacam ini disebut hiwalah dan sah secara syara’, sehingga boleh diterapkan. Namun, semua akad yang bersifat boleh adalah tidak berlaku secara mutlak, melainkan ada sejumlah batasan yang harus diperhatikan. Batas kebolehan bermain game adalah selagi tidak menjadikan game tersebut sebagai instrumen yang membuat lalai dari tugas dan kewajiban selaku individu mukallaf. Bila penjualan item game dan gold dilakukan atas orang yang diketahui atau diduga besar akan menjadikannya sebagai alat malâhi (penyebab lalai dari kewajiban), maka hukumnya adalah haram sebab potensi malâhi-nya.  Alhasil, keharamannya bukan sebab dzatiyyah item game dan gold, melainkan sebab malahi-nya. Sebagaimana disinggung kaidah: ‘lil wasa-il hukmul maqashid', hukum penggunaan instrumen (game) adalah mengikut tujuan pelakunya dalam menggunakan. Wallahu a’lam bish shawab.



Penulis : Rosnella Dwi Cahyani

Contact Person : 081247357770

e-Mail : rosnelladwi1309@gmail.com


Perumus : M. Faisol, S.Pd.

Mushohih : M. Faisol, S.Pd.


Penyunting            : Ahmad Muzammilul Hannan


Daftar Pustaka

Imam Ruknuddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi  (W. 676 H /1277 M), al-Majmu‘ Syarḥ Al-Muhadzab, Dar al-Fikr, Beirut, Lebanon,  1344–1347 H, Sebanyak 23 jilid.

Abu Bakr 'Uthman bin Muhammad Shatta ad-Dimyati asy-Syafi'i  (W. 1310 H / 1892 M), I’anatut al-Tholibin, Dar al-Fikr lit-Tiba'ah wan-Nasyr wat-Tawri', cet. Pertama, Kairo, Mesir,  1298 H.

Imam 'Allamah Ahmad bin Al-Husain (W. 1258 H), Fath al-Qarib al-Mujib, Mustofa al-Babi al-Halabi. Kairo, Mesir 1425 H.

=====================================

======================================

======================================

======================================

======================================



Posting Komentar untuk "Tinjauan Hukum Terhadap Jual Beli Skin Game Dan Item Digital"