Pandangan Fiqih Tentang Pembayaran Zakat Fitrah Dalam Satu Karung Untuk Satu Keluarga Dengan Satu Niat

 

PANDANGAN FIQIH TENTANG PEMBAYARAN ZAKAT FITRAH DALAM SATU KARUNG UNTUK SATU KELUARGA DENGAN SATU NIAT

Zakat fitrah adalah kewajiban setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak. Besarannya adalah satu sha‘ (sekitar 2,5–3 kg beras atau makanan pokok) untuk setiap jiwa dan dilakukan menjelang hari raya idul fitri.

Dalam praktiknya, ada sebagian keluarga yang membayar zakat fitrah dengan cara membeli satu karung beras, kemudian berniat bahwa beras tersebut untuk zakat fitrah seluruh anggota keluarganya sekaligus. Misalnya, kepala keluarga membeli beras 25 kg dan langsung diniatkan untuk dirinya, istrinya, dan anak-anaknya dalam satu kali niat. Namun, dalam keluarga tersebut ada anak yang sudah baligh (bekerja) yang sudah bisa menafkahi dirinya sendiri

  1. Bagaimana pandangan fikih tentang pembayaran zakat fitrah dalam satu karung untuk satu keluarga dengan satu niat?

  2. Bagaimana hukum orang tua membayarkan zakat anak yang sudah baligh (bekerja) yang sudah mampu mencari nafkah?

Jawaban

  1. Boleh
    Diperbolehkan memberikan zakat fitrah dalam satu karung untuk satu keluarga dengan satu niat. Sama halnya ketika ibu yang berniat menzakati 2 anaknya dan dirinya sendiri yang terpenting dalam satu karung tersebut terdapat 3 sha’ (7,5 - 9 kg) beras. 

Sebagaimana terdapat dalam kitab Bughyah al-Mustarshidin fī Talkhis Fatawa ba’di al-A’immah min al-Ulama al-Muta’akhirin yang mewajibkan membayar zakat fitrah senilai 1 sha’ (2,5 - 3 kg). Maka zakat 1 karung untuk satu keluarga diperbolehkan asalkan dalam 1 karung tersebut mencapai sebagaimana yang sudah di syaratkan

لَوْ كَانَ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثَمَانِيَةُ أَمْدَادٍ فَنْوِيَاهَا فِطْرَةً وَفَرَّقَاهَا بِلَا إِفْرَازٍ كَفَاهُمَا، قَالَهُ اِبْنُ حَجَرٍ، وَيُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّهُ لَوْ جَمَعَ وَلِيٌّ فِطْرًا مِنْ جِنْسٍ وَنَوَاهَا عَنْهُ وَعَنْ مَمُوْنِهِ أَجْزَأَ أَيْضًا،(بغية المسترشدين في تلخيص فتاوى بعض الأئمة من العلماء المتأخرين : ج ١، ص ١٢٩)

“Apabila terdapat delapan mud antara dua orang, lalu keduanya meniatkannya sebagai zakat fitrah dan membaginya tanpa pemisahan, maka itu sudah mencukupi bagi keduanya.” Demikian yang dikatakan oleh Ibn Hajar. Dan dapat diambil darinya bahwa apabila seorang wali mengumpulkan zakat fitrah dari satu jenis makanan dan meniatkannya untuk dirinya dan untuk orang yang berada dalam tanggungannya, maka hal itu juga sah.’’ (Bughyah al-Mustarshidin fī Talkhis Fatawa ba’di al-A’immah min al-Ulama al-Muta’akhirin: hal. 129)


Dijelaskan dalam kitab Umdah al-Mufti Wa al-Mustafti :

مَنْ أَخْرَجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ نَفْسِهِ وَعَمَّنْ يَلْزَمُهُ إِخْرَاجُهَا عَنْهُ كَزَوْجَةٍ وَابْنٍ يُجْزِئُهُ أَنْ يَدْفَعَهَا إِلَى الْفُقَرَاءِ بِنِيَّةٍ وَاحِدَةٍ، وَلَا يُكَلَّفُ أَنْ يُفَرِّدَ كُلُّ وَاحِدٍ بِنِيَّةٍ قَالَهُ شَيْخُنَا تَفَقُّهًا، (عُمْدَةُ المُفْتِي وَالمُسْتَفْتِي:ج ١،  ص ٢٠٠)

‘’Barang siapa mengeluarkan zakat fitrah atas dirinya sendiri dan atas orang-orang yang wajib ia keluarkan zakat fitrahnya, seperti istri dan anak, maka mencukupinya untuk menyerahkannya kepada orang-orang fakir dengan satu niat saja, dan tidak dibebani baginya untuk mengkhususkan setiap orang dengan niat tersendiri. Hal ini dikatakan oleh guru kami sebagai penjelasan dalam masalah fikih.” (Umdah al-Mufti Wa al-Mustafti: Juz 1,  Hal. 200 ) 

Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri dan Keluarga

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنِّيْ وَعَنْ جَمِيْعِ مَا يَلْزَمُنِي نَفَقَاتُهُمْ شَرْعًا فَرضًا لِلّهِ تَعَلَى

“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku dan seluruh orang yang nafkahnya menjadi tanggunganku, fardu karena Allah Ta‘ala.”


  1. Tidak Wajib

Tidak diwajibkan orang tua membayarkan zakat anak yang sudah baligh (bekerja) yang sudah mampu mencari nafkah

يَجِبُ عَلَى مَنْ تَوَفَّرَتْ لَدَيْهِ هَذِهِ الشَّرَائِطُ الثَّلَاثَةُ، أَنْ يَخْرُجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ نَفْسِهِ، وَعَمَّنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُمْ، كَأُصُوْلِهِ وَفُرُوْعِهِ، وَزَوْجَتِهِ. فَلَا يَجِبُ أَنْ يَخْرُجَهَا عَنْ وَلَدِهِ الْبَالِغِ الْقَادِرِ عَلَى اْلِاكْتِسَابِ (الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي ج ١، ص ٢٢٩) 

"Setiap orang yang telah memenuhi tiga syarat (wajib zakat) diharuskan membayar zakat fitrah untuk dirinya sendiri dan juga untuk orang-orang yang nafkahnya menjadi tanggung jawabnya, seperti orang tua, anak-cucu, serta istrinya. Namun, ia tidak berkewajiban membayarkan zakat fitrah untuk anaknya yang sudah dewasa dan mampu bekerja sendiri."  (al- Fiqh al-Manhaji ala Madzhab al-Imam asy-Syafi'i, juz 1 Hal.  229)


Penulis : Siti Robbi’atul Adawiyah

Contact Person : 083851921651

e-Mail : robi98167@gmail.com 


           Perumus : Teguh Pradana, S.P.

Mushohih : Teguh Pradana, S.P.


Penyunting            : M. Salman Alfarizi


Daftar Pustaka

Abdurrahman bin Muhammad bin Husain Ba'alawi (1320 H), Bughyah al-Mustarshidin fī Talkhis Fatawa ba’di al-A’immah min al-Ulama al-Muta’akhirin, Dar al-Kutub al-ʻIlmiyah,  Beirut, Lebanon : tanpa tahun 

Jamaluddin Muhammad bin Abdurrahman bin Hasan bin Abdul Bari al-Ahdal (W. 1352 H), Umdah al-Mufti Wa al-Mustafti, Makkah al-Mukarramah : 1418 H

Dr. Mustafa al-Khinn (W. 1429), al- Fiqh al-Manhaji ala Madzhab al-Imam asy-Syafi'i, Dar al-Qalam, Damaskus, Cetakan Keempat 1413 H – 1992 M, Sebanyak 8 jilid

====================
====================
====================
====================



Posting Komentar untuk "Pandangan Fiqih Tentang Pembayaran Zakat Fitrah Dalam Satu Karung Untuk Satu Keluarga Dengan Satu Niat"