PANDANGAN TASAWUF TERHADAP KEBIASAAN LIVE STREAMING SAAT MELAKUKAN MUROJA'AH AL-QUR’AN DI MEDIA SOSIAL
LATAR BELAKANG
Muroja’ah al-Qur’an merupakan bentuk ibadah spiritual yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah demi meraih ketenangan hati serta kebersihan jiwa. Di era kemajuan teknologi saat ini, penggunaan media sosial telah merambah ke berbagai ranah, salah satunya melalui konten mengaji, baik yang direkam maupun disiarkan secara langsung. Dari sinilah muncul sebuah diskursus, bagaimana tasawuf memandang trend live streaming muroja’ah al-Qur’an di media sosial tersebut?
PEMBAHASAN
Hakikat Muroja’ah dan Membaca Al-Qur’an
Muroja’ah al-Qur’an merupakan ibadah yang sangat mulia. Ia termasuk bentuk dzikrullah yang paling utama, sebab di dalamnya terdapat usaha untuk menghadirkan kalam Allah di hati, lidah dan perilaku seorang hamba. Oleh karena itu, muroja’ah dipandang bahwa tujuan utamanya bukanlah memperlihatkan kemampuan hafalan atau suara yang merdu, melainkan mendekatkan diri kepada Allah dengan hati yang khusyuk dan penuh keikhlasan. berikut beberapa pandangan tentang membaca alquran.
Imam al-Nawawi menegaskan bahwa tujuan utama dalam membaca Al-Qur’an adalah untuk mencari ridha Allah Ta’ala. Dengan kata lain, segala usaha dalam membaca baik dari segi tajwid, tartil, pemahaman, maupun khusyuk seharusnya dilandasi niat ikhlas semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah, bukan untuk pamer kemampuan atau sekadar formalitas. Prinsip ini menekankan etika dalam membaca Al-Qur’an, bahwa keberkahan dan pahala bacaan sangat terkait dengan niat yang tulus dan kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap bacaan. Dengan demikian, ridha Allah menjadi sasaran pertama dan paling utama bagi setiap pembaca, menegaskan bahwa aspek lahir dan batin dalam membaca Al-Qur’an tidak dapat dipisahkan. hal itu dijelaskan dalam al-Tibyan fi Adabi Hamalatil-Qur’an:
أَوَّلُ مَا يَنْبَغِيْ لِلْمُقْرِئِ وَالْقَارِئِ أَنْ يَقْصِدَا بِذَلِكَ رِضَا اللهِ تَعَالَى(التبيان في آداب حملة القرآن ، ص٣١)
“Hal pertama yang sepatutnya dilakukan oleh pengajar maupun pembaca Al-Qur'an adalah meniatkan aktivitas tersebut semata-mata untuk mencari rida Allah Ta'ala." (al-Tibyan fi Adabi Hamalah al-Qur’an: 31)
Abul al-Qasim juga menambahkan peringatan agar tidak menjadikan bacaan Al-Qur’an sebagai sarana mencari keuntungan duniawi:
وَيَنْبَغِيْ لَهُ أَلَّا يَقْصِدَ بِذٰلِكَ تَوَصُّلًا إِلىٰ غَرَضٍ مِنْ أَغْرَاضِ الدُّنْيَا: مِنْ مَالٍ أَوْ رِيَاسَةٍ، أَوْ وِجَاهَةٍ، أَوْ ثَنَاءٍ عِنْدَ النَّاسِ، أَوْ صَرْفِ وُجُوْهِهِمْ إِلَيْهِ، أَوْ نَحْوِ ذٰلِكَ (شرح طيبة النشر في القراءات العشر ، ج١ ص ۵٨)
"Seharusnya tidak melakukan hal itu dengan tujuan untuk meraih kepentingan duniawi seperti mencari harta, jabatan, kehormatan, pujian dari orang lain, menarik perhatian mereka kepadanya, atau tujuan-tujuan duniawi lainnya."(Syarh Tayyibat al-Nasyr fī al-Qira’at al-‘Ashr, 1: 58)
Peringatan Abu al-Qasim agar bacaan Al-Qur’an tidak dijadikan sarana meraih kepentingan duniawi menegaskan bahaya bercampurnya niat ibadah dengan tujuan selain Allah. Ketika tilawah diarahkan untuk memperoleh harta, jabatan, kehormatan, pujian, atau perhatian manusia, maka amal tersebut berpotensi terjerumus ke dalam riya’, yaitu meninggalkan keikhlasan dalam beramal karena memperhatikan dan mengutamakan selain Allah di dalam amalan tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-ta’rifat:
الرِّيَاءُ : تَرْكُ الْإِخْلَاصِ فِيْ الْعَمَلِ بِمُلَاحَظَةِ غَيْرِ اللهِ فِيْهِ. (التعريفات ، ص ١٠٠)
Riya adalah: meninggalkan keikhlasan dalam beramal dengan memperhatikan selain Allah di dalamnya (al-Ta’rifat: 100)
Muraja’ah dalam Dunia Streaming
Di zaman sekarang, live streaming sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui live streaming, seseorang dapat menampilkan kegiatannya secara langsung dan ditonton oleh banyak orang dalam waktu yang sama. Dalam praktiknya, live streaming sering disertai dengan respons cepat dari penonton, seperti komentar, jumlah penonton, tanda suka, dan pujian. Hal-hal tersebut membuat seseorang merasa diperhatikan dan dihargai. Tidak hanya digunakan untuk hiburan, live streaming juga banyak dimanfaatkan untuk kegiatan positif, termasuk kajian keagamaan, dakwah, dzikir, dan aktivitas ibadah lainnya.
Namun, karena semua aktivitas tersebut disaksikan oleh banyak orang, live streaming juga membuka peluang munculnya keuntungan duniawi, seperti pujian dan popularitas. Situasi inilah yang menuntut setiap pelaku aktivitas keagamaan untuk selalu mengoreksi dan menata kembali niatnya. Tanpa disadari, niat beribadah bisa bergeser dari mencari ridha Allah menjadi mencari penilaian manusia. Oleh karena itu, gambaran tentang dunia live streaming ini menjadi pengantar yang relevan untuk memahami pembahasan selanjutnya mengenai riya’, syirik, dan pentingnya keikhlasan niat sebagaimana dijelaskan oleh al-Fudhail dalam al-Risalah al-Qusyairiyyah.
Macam-macam keuntungan duniawi sangat banyak diantaranya adalah mendapatkan pujian atau ketenaran dimana hal tersebut sama dengan konsep riya’. al-Fudhail menegaskan prinsip penting dalam niat dan motivasi setiap amal ibadah. Dia menjelaskan jika seseorang meninggalkan suatu amal karena ingin menonjolkan diri di mata manusia, maka hal itu tergolong riya’ amal yang tampak baik namun niatnya tercemar oleh keinginan duniawi, sehingga tidak diterima di sisi Allah. Sebaliknya, jika seseorang melakukan amal hanya untuk mendapatkan pujian atau pengakuan manusia, maka hal itu termasuk syirik, karena menempatkan manusia sebagai tujuan ibadah, bukan Allah. Dengan kata lain, setiap amal ibadah hanya diterima bila niatnya murni untuk Allah semata, dan kesadaran akan ridha-Nya menjadi satu-satunya motivasi. Ucapan ini menekankan bahwa niat yang lurus adalah inti dari ibadah, dan menyimpang darinya baik karena riya’ maupun syirik akan merusak nilai spiritual amal. Hal ini dijelaskan dalam kitab al-Risalah al-Qusyairiyah:
وَقَالَ : تَرْكُ العَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ هُوَ الرِّيَاءُ، وَالعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ هُوَ الشِّرْكُ (الرِّسَالَةُ الْقُشَيْرِيَّةُ، ص ٤٢٥)
“Al-Fudhail ibn ‘Iyadh berkata: Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, dan beramal karena manusia adalah syirik.” (al-Risalah al-Qusyairiyyah: 425)
Masih dalam kitab yang sama, Seorang sufi yang bernama Sahal al-Tustari memberikan cara untuk mengidentifikasi riya’ dan syirik pada suatu amal. beliau berpendapat bahwa hanya orang yang ikhlas yang benar-benar bisa mengenali riya’ dalam dirinya. Orang yang hatinya bersih dan niatnya murni untuk Allah mampu membedakan dengan jelas kapan amalnya terkontaminasi oleh keinginan duniawi, seperti ingin dipuji atau diperhatikan manusia. Sebaliknya, bagi orang yang niatnya belum sepenuhnya tulus, riya’ sering tersembunyi dan sulit disadari. Pernyataan ini menegaskan bahwa pengenalan terhadap riya’ adalah buah dari keikhlasan semakin tulus hati seorang hamba, semakin peka ia terhadap kecenderungan amalnya yang mungkin terhalang oleh motivasi duniawi. Dengan demikian, introspeksi dan keikhlasan menjadi kunci untuk menjaga kemurnian ibadah. sebagaimana keterangan dalam kitab al-Risalah al-Qusyairiyah:
قَالَ سَهْلٌ بِنْ عَبْدُ اللّٰهِ : لَا يَعْرِفُ الرِّيَاءَ إِلَّا مُخْلِصٌ (الرِّسَالَةُ الْقُشَيْرِيَّةُ، ص ٢٠٩)
“Sahl al-Tustari berkata: Tidak ada yang mengetahui dan mengenali riya’ kecuali orang yang ikhlas.” (al-Risalah al-Qusyairiyyah: 209)
Maka dalam konteks live streaming muroja’ah di media sosial, tasawuf memandangnya dari sisi niat dan efeknya terhadap hati. Jika niatnya adalah untuk menampakkan amal ibadah agar dipuji, maka termasuk dalam bahaya riya’. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa riya’ terjadi ketika seseorang melakukan ibadah atau kebaikan dengan tujuan agar terlihat baik di mata orang lain, bukan semata-mata untuk Allah. Batas riya’ adalah ketika niat utama tetap ibadah kepada Allah, namun hati juga menginginkan pujian manusia. Orang yang melakukan riya’ menampilkan amal tertentu agar diperhatikan, sehingga niatnya bercampur antara Allah dan pengakuan manusia. Singkatnya, riya’ adalah tindakan menunjukkan kebaikan untuk mendapat tempat di hati manusia. Hal itu dijelaskan dalam kitab Ihya' Ulum al-Din Juz 3 halaman 263:
اِعْلَمْ أَنَّ الرِّيَاءَ مُشْتَقٌّ مِنَ الرُّؤْيَةِ، وَالسُّمْعَةُ مُشْتَقَّةٌ مِنَ السَّمَاعِ، وَإِنَّمَا الرِّيَاءُ أَصْلُهُ طَلَبُ الْمَنْزِلَةِ فِيْ قُلُوْبِ النَّاسِ بِإِيْرَائِهِمْ خِصَالَ الْخَيْرِ، إِلَّا أَنَّ الْجَاهَ وَالْمَنْزِلَةَ تُطْلَبُ فِيْ الْقَلْبِ بِأَعْمَالٍ سِوَى الْعِبَادَاتِ وَتُطْلَبُ بِالْعِبَادَاتِ، وَاسْمُ الرِّيَاءِ مَخْصُوصٌ بِحُكْمِ الْعَادَةِ بِطَلَبِ الْمَنْزِلَةِ فِيْ الْقُلُوْبِ بِالْعِبَادَةِ وَإِظْهَارِهَا. فَحَدُّ الرِّيَاءِ هُوَ إِرَادَةُ الْعِبَادِ بِطَاعَةِ اللهُ فَالْمُرَائِيْ هُوَ الْعَابِدُ، وَالْمُرَاءَى هُوَ النَّاسُ الْمَطْلُوْبُ رُؤْيَتُهُمْ بِطَلَبِ الْمَنْزِلَةِ فِيْ قُلُوْبِهِمْ ، وَالْمُرَاءَى بِهِ هُوَ الْخِصَالُ الَّتِيْ قَصَدَ الْمُرَائِيْ إِظْهَارَهَا، وَالرِّيَاءُ هُوَ قَصْدُهُ إِظْهَارَ ذَلِكَ. (إحياء علوم الدين ، ج٣ ص٦٣ ٢)
‘’Ketahuilah bahwa riya berasal dari kata ru’yah melihat dan sum’ah ingin didengar Riya pada dasarnya adalah mencari kedudukan di hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka sifat-sifat kebaikan. Namun, kehormatan dan kedudukan dapat dicari di hati manusia melalui amalan selain ibadah, dan juga dapat dicari melalui ibadah. Istilah riya secara kebiasaan khusus digunakan untuk mencari kedudukan di hati manusia melalui ibadah dan menampakkannya." (Ihya' Ulum al-Din, 3: 263)
Karena itu, ketika seseorang menyiarkan ibadahnya di media sosial dengan tujuan mendapatkan pujian, pengakuan, atau popularitas, maka secara spiritual ia telah terjatuh dalam bentuk riya’.
Pandangan Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili
Dalam tasawuf, penyakit riya’ sangat berbahaya karena dapat menghapus nilai ibadah, walaupun secara lahiriah perbuatannya tampak baik. Meskipun demikian, tasawuf juga mengenal sudut pandang lain mengenai kapan sebuah ketaatan boleh ditampakkan. Hal ini sebagaimana nasihat Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili yang dinukil dalam kitab Lathaif al-Minan wa al-Akhlaq :
وَكَانَ الشَّيْخُ أَبُوْ الْحَسَنِ الشَّاذِلِيْ يَقُوْلُ كَثِيْرًا لِأَصْحَابِهِ : أَعْلِنُوْا بِطَاعَتِكُمْ إِظْهَارًا لِعُبُوْدِيَّتِكُمْ كَمَا يَتَظَاهَرُ غَيْرُكُمْ بِالْمَعَاصِيْ، وَعَلَيْكُمْ بِالْإِعْلَامِ لِلنَّاسِ بِمَا مَنَحَكُمُ اللهُ تَعَالَى مِنَ الْعُلُوْمِ وَالْمَعَارِفِ (لطائف المنن والْأخلاق، ص٦۲)
“Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili sering berkata kepada murid-muridnya: Tampakkanlah ketaatanmu sebagai bentuk pengakuan atas kehambaanmu kepada Allah, sebagaimana orang lain menampakkan kemaksiatannya. Tampakkanlah kepada manusia nikmat ilmu dan makrifat yang telah Allah anugerahkan kepadamu.” (Lathaif al-Minan wa al-Akhlaq: 62 )
Dari pandangan ini, tampak bahwa dalam tasawuf tidak semua penampakan amal dianggap tercela. Bila niatnya untuk Isyhar al-‘Ubudiyyah (menampakkan kehambaan kepada Allah) dan menjadi sarana dakwah bil hal, maka diperbolehkan bahkan bisa berpahala lebih besar. Seperti yang telah ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-Haitami:
َالْحَاصِلُ: أَنَّهُ مَتَى خَلُصَ الْعَمَلُ مِنْ تِلْكَ الشَّوَائِبِ وَلَمْ يَكُنْ فِيْ إظْهَارِهِ إيذَاءُ لِاَحَدٍ فَإِنْ كَانَ فِيْهِ حَمْلٌ لِلنَّاسِ عَلَى الِاقْتِدَاءِ وَالتَّأَسِّي بِهِ فِيْ فِعْلِهِ ذَلِكَ الْخَيْرَ وَالْمُبَادَرَةِ إلَيْهِ لِكَوْنِهِ مِنْ الْعُلَمَاءِ أَوْ الصُّلَحَاءِ الَّذِينَ تَبَادَرَ الْكَافَّةُ إلَى الِْاقْتِدَاءِ بِهِمْ، فَالْإِظْهَارُ أَفْضَلُ لِأَنَّهُ مَقَامُ الْأَنْبِيَاءِ وَوُرَائِهِمْ وَلَا يُخَصُّوْنَ إلَّا بِالْأَكْمَلِ (الزواجر عن اقتراف الكبائر، ج١ ص۷۰)
“Kesimpulannya: Apabila suatu amalan telah bersih dari kotoran-kotoran (riya) tersebut, dan menampakkannya tidak menimbulkan bahaya bagi siapapun, maka jika dengan menampakkannya dapat mendorong orang lain untuk mencontoh dan meneladani kebaikan itu serta bersegera melakukannya terutama jika pelakunya termasuk ulama atau orang-orang saleh yang diikuti oleh banyak orang maka menampakkan amalan itu lebih utama. Sebab, menampakkan amalan dalam kondisi seperti ini merupakan kedudukan para nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka, dan mereka hanya dikhususkan dengan hal-hal yang paling sempurna.” ( al-Zawajir ‘an Iqtiraf al-Kaba’ir, 1: 70)
KESIMPULAN
Dalam bingkai tasawuf, live streaming muroja’ah Al-Qur’an di media sosial dapat bernilai ibadah apabila memenuhi tiga syarat: pertama, niatnya murni karena Allah. Kedua, tidak bertujuan mencari pengakuan, pujian, atau keuntungan duniawi. Ketiga, dilakukan dengan adab dan ketenangan hati, sebagai syiar kebaikan yang menginspirasi. Sebaliknya, apabila dilakukan untuk ketenaran atau sekadar hiburan, maka secara hakikat sufi, amal tersebut kehilangan ruh spiritualnya. Dengan demikian, tasawuf tidak menolak kemajuan teknologi atau publikasi amal saleh, tetapi menuntut kemurnian niat dan kebersihan hati dalam setiap bentuk ibadah. Sebab bagi kaum sufi, inti dari setiap amal bukanlah tampilannya, melainkan rahasia niat di dalam hati.
Penulis : Lailatul khoiria
Contact Person : 081931346316
e-Mail : www.lailatulkhoiria31@gmail.com
Perumus : Muhammad Abidul Masykur, S.Pd
Mushohih : Muhammad Syafi’ Dzulihilmi, S.TP
Daftar Pustaka
Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi, (W. 676H), At-Tibyan fi Adabi Hamalah al-Qur’an, Dar al-Minhaj, Mekkah, Arabiyah, Saudiah, Jeddah, 1432 H.
Abu Qasim Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali al-Nawiri (W. 857H), Syarh Tayyibat al-Nasyr fii al-Qira’at al-‘Ashr, Dar al-Kutub, Al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon : 1424 H.
'Ali bin Muhammad bin Ali al-Sayyid al-Zain Abi al-Hasan al-Husaini al-Jurjani al-Hanafi (W. 616 H). al-Ta'rifat, Mushthofa al-Bani al-Halabi wa Auladuhu, Mesir,1357 H.
Abu al-Qasim ‘Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi (W.465 H/1074 M). al-Risalah al-Qusyairiyyah fī ‘Ilm al-Tashawwuf, Bab al-Wara‘, Haromain, Surabaya, Indonesia, tanpa tahun.
Abu al-Qasim ‘Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi (W. 465 H/1074 M). al-Risalah al-Qusyairiyyah fī ‘Ilm al-Tashawwuf, Haromain, Surabaya, Indonesia: tanpa tahun.
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi (W. 505 H/1111 M). Ihya' ‘Ulum al-Din, Darul kutub ilmiyah, Beirut, Lebanon,cetakan ke-empat,1426H/2005M.
Abdul Wahab Assya’roni (W 973), Lathaif al-Minan wa al-Akhlaq, Darut Taqwa , Surabaya, Indonesia, cetakan pertama 1425 H - 2004 M.
Abdul Latif Hasan Abdur-Rahman , (W .974 ), al-Zawajir ‘an Iqtiraf al-Kaba’ir, Dar al-Kutub, Al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon : Tanpa Tahun.

.png)
%20LAILATUL%20KHOIRIA%20NEW.png)
%20LAILATUL%20KHOIRIA%20NEW(1).png)
%20LAILATUL%20KHOIRIA%20NEW(2).png)
%20LAILATUL%20KHOIRIA%20NEW(3).png)
%20LAILATUL%20KHOIRIA%20NEW(4).png)
%20LAILATUL%20KHOIRIA%20NEW(5).png)
%20LAILATUL%20KHOIRIA%20NEW(6).png)
%20LAILATUL%20KHOIRIA%20NEW(8).png)
Posting Komentar untuk "Pandangan Tasawuf Terhadap Kebiasaan Live Streaming Saat Melakukan Muroja'ah Al-Qur'an di Media Sosial"