
PENGARUH DZIKIR PADA KESEHATAN MENTAL
LATAR BELAKANG
Kesehatan mental merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Kesehatan mental merupakan terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antar fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problema-problema biasa terjadi, dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya. Di era modern yang penuh tekanan, manusia sering dihadapkan pada stres, kecemasan, dan rasa gelisah yang berlebihan. Kondisi tersebut tidak hanya mempengaruhi pikiran, tetapi juga dapat mengganggu keseimbangan spiritual seseorang. Karena Menurut pemikiran Al-Ghazali jiwa kecil berfungsi untuk mengimbangi jiwa alam yang besar. (Deni Sefreni, 2023)
Pengertian Dzikir
Dalam pandangan Islam, salah satu cara untuk menenangkan hati dan memperbaiki kondisi batin adalah melalui dzikir, yaitu mengingat Allah secara terus-menerus dengan hati yang hadir dan penuh kesadaran. Pengertian dzikir Secara bahasa, kata dzikir berasal dari akar kata ذَكَرَ – يَذْكُرُ – ذِكْرًا yang berarti mengingat, menyebut, atau memperhatikan. Sedangkan secara istilah, dzikir adalah menghadirkan Allah dalam hati dengan lisan, perbuatan, dan perasaan. Dzikir bukan hanya bacaan di bibir, tetapi merupakan sarana untuk menyucikan jiwa dan menenangkan batin.
dzikir terbagi menjadi beberapa macam seperti dijelaskan dalam kitab tanwirul qulub :
فَصْلٌ فِيْ الذِّكْرِ الْقَلْبِيِّ وَأَنَّهُ أَفْضَلُ مِنَ الْجَهْرِيِّ اِعْلَمْ أَنَّ الذِّكْرَ نَوْعَانِ: قَلْبِيٌّ وَلِسَانِيٌّ، وَلِكُلٍّ مِنْهُمَا شَوَاهِدُ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ. فَالذِّكْرُ اللِّسَانِيُّ بِاللَّفْظِ الْمُرَكَّبِ مِنَ الْأَصْوَاتِ وَالْحُرُوْفِ لَا يَتَيَسَّرُ لِلذَّاكِرِ فِيْ جَمِيْعِ الْأَوْقَاتِ، فَإِنَّ الْبَيْعَ وَالشِّرَاءَ وَنَحْوَهُمَا يُلْهِيَانِ الذَّاكِرَ عَنْهُ أَلْبَتَّةَ، بِخِلَافِ الذِّكْرِ الْقَلْبِيِّ، فَإِنَّهُ بِمُلَاحَظَةِ مُسَمَّى ذٰلِكَ اللَّفْظِ الْمُجَرَّدِ عَنِ الْحُرُوْفِ وَالْأَصْوَاتِ، وَإِذَا فَلَا شَيْءَ يُلْهِيْ الذَّاكِرَ عَنْهُ ( تنوير القلوب ، ص ۵۰۸ )
‘’Bab tentang Dzikir Qalbi (Dzikir Hati) dan Bahwa Ia Lebih Utama daripada Dzikir Jahri (Dzikir Keras). Ketahuilah bahwa dzikir itu ada dua macam: qalbi dan lisani Masing-masing memiliki dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Dzikir lisani dengan lafal yang tersusun dari suara dan huruf tidak mudah dilakukan oleh orang yang berdzikir di setiap waktu, karena jual beli dan sejenisnya benar-benar dapat melalaikan orang yang berdzikir darinya. Berbeda halnya dengan dzikir qalbi, karena ia hanya dengan menyadari makna dari lafal tersebut, yang terlepas dari huruf dan suara. Oleh karena itu, tidak ada sesuatu pun yang dapat melalaikan orang yang berdzikir darinya.’’(Tanwir al-Qulub: 508 )
Konsep kesehatan mental dalam pandangan islam, bukan hanya berarti seseorang tidak mengalami stres atau gangguan kejiwaan, tapi lebih dalam dari itu yaitu keadaan jiwa yang tenang, hati yang bersih, dan pikiran yang seimbang karena dekat dengan Allah SWT. Manusia dalam Islam terdiri dari tiga unsur penting: jasad (tubuh), akal (pikiran), dan ruh (jiwa) Maka dari itu akan dijelaskan tentang beberapa penyakit mental yaitu berupa depresi dan cemas.
Kesehatan mental dalam perspektif tasawuf
1. Cemas (الهمّ والقلق)
Rasa cemas dalam Islam disebut al-Hamm atau al-Qalaq, yaitu kegelisahan dan ketakutan yang berlebihan terhadap masa depan atau hal yang belum terjadi. dalam kitab al-furuq al-lughawiyyah dijelaskan:
وَالْهَمُّ هُوَ الْفِكْرُ فِيْ إِزَالَةِ الْمَكْرُوْهِ وَاجْتِلَابِ الْمَحْبُوْبِ(الفروق اللغو, ص ١٤٦)
“Bahwa al-hamm (kegundahan) adalah memikirkan cara untuk menghilangkan sesuatu yang tidak disukai dan mendatangkan sesuatu yang disukai.”(al-furuq al-lughawiyyah: 146)
al-Hamm adalah bentuk kegelisahan yang lahir dari gerak pikiran manusia saat menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan atau ketika ia mengharapkan sesuatu yang belum tercapai. Ia bukan sekadar perasaan sedih, melainkan suatu keadaan ketika pikiran bekerja terus-menerus, mencari cara untuk menyingkirkan hal yang buruk dan mendekatkan hal yang baik. Oleh Karena itu, Abu Hilal al-‘Askari, penulis Al-Furuq al-Lughawiyyah menjelaskan bahwa al-Hamm adalah kecenderungan batin yang membuat seseorang merasa terdorong untuk bertindak baik untuk menghindari bahaya maupun meraih kebutuhan.
2. Sedih (الحزن)
Sedih dalam Islam dikenal dengan istilah al-Huzn kesedihan mendalam. Seseorang yang sedih biasanya merasa kehilangan harapan, merasa hidupnya tidak berarti, dan jauh dari rasa syukur. Dalam Islam, putus asa dari rahmat Allah termasuk dosa besar, karena menunjukkan lemahnya iman.
الْحُزْنُ: حَالٌ يَقْبِضُ الْقَلْبَ عَنْ التَّفَرُّقِ فِيْ أَوْدِيَةِ الْغَفْلَةِ، وَالْحُزْنُ مِنْ أَوْصَافِ أَهْلِ السُّلُوْكِ سَمِعْتُ الْأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ الدَّقَّاقَ، رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى، يَقُوْلُ: صَاحِبُ الْحُزْنِ يَقْطَعُ مِنْ طَرِيْقِ اللهِ فِيْ شَهْرٍ مَا لَا يَقْطَعُهُ مَنْ فَقَدَ حُزْنَهُ سِنِينَ وَ فِيْ الْخَبَرِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ كُلَّ قَلْبٍ حَزِيْنٍ. (الرسالة القشيرية ، ج ١ ص ١٧۵)
“Kesedihan spiritual al-huzn adalah keadaan hati yang mencegahnya dari berpencar dalam kelalaian, sehingga menjadi ciri para penempuh jalan ruhani ahlu suluk guru Aba 'Ali Ad-Daqqaq menyatakan bahwa dengan kesedihan ini, seseorang dapat menempuh perjalanan spiritual dalam satu bulan setara dengan pencapaian orang tanpa kesedihan itu selama bertahun-tahun, dan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Allah mencintai setiap hati yang sedih.’’ (al-Risalah al-Qusyairiyyah , 1: 175)
Dalam Ar-Risalah al-Qusyairiyyah tersebut dijelaskan bahwa al-huzn kesedihan adalah keadaan yang membuat hati tertahan dan tidak larut dalam kelalaian. Kesedihan yang dimaksud bukanlah putus asa, tetapi kondisi spiritual yang menjaga hati tetap sadar kepada Allah. Dengan rasa sedih yang terarah ini, hati tidak dibiarkan menyebar ke berbagai jalan kelalaian, melainkan tetap fokus pada kehambaan dan keinsafan diri. Karena itu, al-Qusyairi menyebut bahwa kesedihan adalah salah satu sifat para salik, yaitu orang-orang yang berjalan menuju Allah, sebab rasa sedih tersebut menjaga mereka dari kelalaian dan mendorong mereka untuk selalu kembali kepada Allah dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati.
Dalam kehidupan, manusia sering dihadapkan pada kegelisahan, tekanan batin, dan ketidak tenangan hati. Dalam kondisi seperti ini, dzikir menjadi sarana yang mampu mengembalikan keteduhan jiwa serta mempererat hubungan seorang hamba dengan Allah. Para ulama, seperti Ibnu Abbas, Sa‘id bin Jubair, dan Sahl At-Tustari, menegaskan bahwa dzikir bukan hanya ucapan lisan, tetapi ketaatan yang menghadirkan Allah di dalam hati. Melalui dzikir yang benar, seorang hamba meraih pertolongan, ampunan, serta ketenteraman batin. oleh sebab itu, pembahasan berikut akan menguraikan dua manfaat utama dzikir sebagaimana dijelaskan oleh para ulama tersebut.
Faktor-Faktor Dzikir :
Membuat Hati Dekat dengan Allah
Dalam konteks dzikir, hadis ini menegaskan bahwa Allah memberikan perhatian dan kedekatan khusus kepada hamba yang mengingat-Nya. Dzikir yang dilakukan sendiri dibalas dengan perhatian Allah secara khusus dzikir dalam majelis dibalas dengan penyebutan oleh Allah di hadapan para malaikat yang lebih mulia. Semakin sering dan tulus seorang hamba berdzikir, semakin besar pula limpahan rahmat, pertolongan, dan kedekatan dari Allah. Hadis ini pada intinya memotivasi agar dzikir dilakukan dengan konsistensi dan keikhlasan, karena setiap langkah kecil dalam mengingat Allah dibalas dengan kedekatan yang jauh lebih besar dari-Nya.
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ، فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِيْ مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِيْ يَمْشِيْ أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً (تفسير الشعراوي ، ج ١ ص ٣۰٦۰)
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam Diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam suatu kelompok, Aku mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik daripada mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil” (Tafsir al-Sya'rawi, 1: 3060)
Menenangkan Pikiran
Dalam menghadapi berbagai tekanan hidup, hati sering menjadi gelisah dan pikiran tidak stabil. Dzikir hadir sebagai cara untuk mengatasi kegelisahan tersebut. Dengan berdzikir, seseorang mengalihkan fokus dari rasa takut dan kekhawatiran menuju ingatan kepada Allah, sehingga batin terasa lebih tenang Dzikir memberikan ketenangan, Ketenangan inilah yang membuat kecemasan berangsur berkurang dan hati menjadi lebih kuat menghadapi masalah. sebagaimana dipaparkan oleh Sahl At-Tustari dalam Tafsir Al-Tustari dijelaskan bahwa dzikir memiliki dua sisi penting. Dari sisi ilmu, dzikir menghadirkan ketenangan, dan dari sisi akal, dzikir menumbuhkan ketentraman hati :
قَوْلُهُ تَعَالَى:اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ (الرعد :٢۸) قَالَ: الذِّكْرُ مِنَ الْعِلْمِ السُّكُوْنُ، وَالذِّكْرُ مِنَ الْعَقْلِ الطُّمَأْنِيْنَةُ. قِيلَ: وَكَيْفَ ذَاكَ؟ قَالَ: إِذَا كَانَ الْعَبْدُ فِيْ طَاعَةِ اللّٰهِ فَهُوَ الذَّاكِرُ، فَإِذَا خَطَرَ بِبَالِهِ شَيْءٌ فَهُوَ الْقَاطِعُ، وَإِذَا كَانَ فِيْ فِعْلِ نَفْسِهِ فَحَضَرَ بِقَلْبِهِ مَا يَدُلُّهُ عَلَى الذِّكْرِ وَالطَّاعَةِ فَهُوَ مَوْضِعُ الْعَقْلِ. ثُمَّ قَالَ: كُلُّ مَنِ ادَّعَى الذِّكْرَ فَهُوَ عَلَى وَجْهَيْنِ: قَوْمٌ لَمْ يُفَارِقْهُمْ خَوْفُ اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، مَعَ مَا وَجَدُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمْ مِنَ الْحُبِّ وَالنَّشَاطِ، فَهُمْ عَلَى حَقِيْقَةٍ مِنَ الذِّكْرِ، وَهُمْ الِلّٰهِ وَالْآخِرَةِ وَالْعِلْمِ وَالسُّنَّةِ، وَقَوْمٌ ادَّعَوُا النَّشَاطَ وَالْفَرَحَ وَالسُّرُورَ فِيْ جَمِيْعِ الْأَحْوَالِ، فَهُمْ لِلْعَدُوِّ وَالدُّنْيَا وَالْجَهْلِ وَالْبِدْعَةِ، وَهُمْ شَرُّ الْخَلْقِ.(تفسير التستري ، ص ٨۵)
“Firman Allah Ta'ala, "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram" (QS. Ar-Ra'd: 28) dijelaskan bahwa dzikir dari segi ilmu adalah ketenangan, dan dzikir dari segi akal adalah kepuasan batin ketika ditanya bagaimana maksudnya, dijelaskan bahwa seorang hamba yang taat kepada Allah adalah orang yang berdzikir, namun jika terlintas dalam benaknya hal lain maka itulah pemutus dzikirnya, dan jika ia sedang mengikuti hawa nafsunya lalu datang dalam hatinya sesuatu yang mengingatkannya pada dzikir dan ketaatan, maka itu adalah tempat akal bekerja; kemudian disebutkan bahwa setiap orang yang mengaku berdzikir terbagi menjadi dua golongan: golongan pertama yang tidak pernah lepas dari rasa takut kepada Allah disertai cinta dan semangat dalam hati mereka,mereka berada pada hakikat dzikir yang sebenarnya dan hidup untuk Allah, akhirat, ilmu, dan sunnah, Sedangkan golongan kedua yang mengaku selalu bersemangat, gembira, dan senang dalam segala keadaan, mereka sebenarnya hidup untuk musuh, dunia, kebodohan, dan bid'ah, dan mereka adalah seburuk-buruk makhluk. (Tafsir Al-Tustari: 85)
KESIMPULAN
Dzikir dalam Islam merupakan sarana penting untuk menenangkan hati dan menjaga kesehatan mental. Dzikir bukan hanya ucapan lisan, tetapi juga aktivitas hati yang lebih kuat dan tidak terhalang oleh kesibukan dunia. Islam memandang kesehatan mental sebagai kondisi jiwa yang tenang dan dekat dengan Allah oleh karena itu, kecemasan dan kesedihan muncul ketika hati jauh dari-Nya. Dzikir menjadi obat bagi kegelisahan karena menghubungkan manusia dengan Allah, menghadirkan rasa aman, dan mengalihkan pikiran dari kekhawatiran menuju harapan. Sementara Tafsir at-Tustari menjelaskan bahwa dzikir menghadirkan ketenangan secara ilmu dan ketenteraman secara akal. Dengan demikian, dzikir adalah terapi spiritual yang mampu menenangkan jiwa, memperkuat iman, dan membantu seseorang menghadapi tekanan hidup dengan lebih stabil dan penuh keyakinan.
Penulis : Lailatul Khoiria
Contact Person : 081931346316
e-Mail : www.lailatulkhoiria31@gmail.com
Perumus : Muhammad Abidul Masykur, M.Pd
Mushohih : Muhammad Syafi’ Dzulihilmi, S.TP
Daftar Pustaka
Deni Sefreni, Peran dzikir terhadap kesehatan mental santri, Skripsi, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama ,2003.
Muhammad Amin al-Kurdi (W. 1332 H), Tanwir al-Qulub, al-Haromain, Surabaya, cetakan pertama Tahun 2006.
Imam Abi Qasim Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi (W. 465 H), al-Risalah al-Qusyairiyyah, Dar al-Kutub, al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon : 1971 M.
Muhammad Mutawalli al-Sya'rawi (W 1418 H) , Tafsir al-Sya'rawi, Dar Akhbar al-Yaum, Mesir: Cetakan pertama: 1418 H / 1997 M.
Al-Imam Abi Muhammad Sahal bin Abdullah al-Tustari (W 283 H) , Tafsir al-Tustari Dar al-Kutub, al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon : Cetakan pertama 1423 H / 2002.
Al-Hasan bin Abdullah bin Sahal Askari (W. 400 H), al-Furuq al-Lughawiyyah, Dar al-Kutub, al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon : 1971 M.
.png)
%20LAILATUL%20KHOIRIA%20NEW(9).png)
%20LAILATUL%20KHOIRIA%20NEW(10).png)
%20LAILATUL%20KHOIRIA%20NEW(11).png)
%20LAILATUL%20KHOIRIA%20NEW(12).png)
%20LAILATUL%20KHOIRIA%20NEW(13).png)
%20LAILATUL%20KHOIRIA%20NEW(14).png)
%20LAILATUL%20KHOIRIA%20NEW(15).png)
Posting Komentar untuk "Pengaruh Dzikir Pada Kesehatan Mental"