TIPS MENGATASI HATI YANG KERAS DALAM TASAWUF
PENDAHULUAN
Hati (qalb) adalah pusat kesadaran batin yang menentukan kualitas iman dan perilaku lahiriah manusia. Di era modern, fenomena hati yang keras yang ditandai dengan sulitnya menerima nasehat dan dominasi hawa nafsu menjadi tantangan besar bagi spiritualitas individu.
Kekerasan hati ini bukanlah kondisi yang muncul seketika, melainkan hasil dari akumulasi kelalaian dan dosa yang menutup cahaya hidayah. Melalui kajian literatur tasawuf, ditemukan bahwa solusi utama untuk mengatasi masalah ini adalah dengan metode tazkiyah al-nafs (penyucian jiwa). Proses ini melibatkan perbaikan niat, penguatan ilmu, serta praktik spiritual yang berkesinambungan untuk mengembalikan kelembutan hati dan integritas akhlak.
PEMBAHASAN
Pengertian Hati Keras dalam Tasawuf
Dalam istilah tasawuf, hati yang keras adalah hati yang kehilangan fungsi utamanya sebagai penerima kebenaran dan pengendali perilaku. Hati tersebut tidak lagi menanggapi terhadap nasihat, peringatan, maupun ajakan menuju kebaikan. Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa seluruh penyakit hati berakar pada dua sumber utama, sebagaimana disebutkan:
"فَإِنَّ مَدَارَ اعْتِلَالِ الْقُلُوبِ وَأَسْقَامِهَا عَلَى أَصْلَيْنِ: فَسَادِ الْعِلْمِ، وَفَسَادِ الْقَصْدِ." (مدارج السالكين في منازل السائرين: ج ١ ، ص ٨٤)
“Sesungguhnya poros kerusakan dan penyakit hati bersumber pada dua hal: rusaknya ilmu dan rusaknya maksud (niat).” (Madarij al-Salikin fi Manazil al-Sairin, 1: 84)
Kerusakan ilmu menyebabkan seseorang tidak mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, sedangkan kerusakan niat melahirkan dorongan hawa nafsu yang menyimpang. Dari kedua akar ini muncul penyakit batin yang lebih besar, yaitu kesesatan dan kemarahan, yang pada akhirnya mengeraskan hati. Dengan demikian, hati yang keras bukan semata-mata disebabkan oleh faktor eksternal, tetapi merupakan refleksi dari kerusakan internal dalam cara berpikir dan cara mengarahkan kehendak.
Ciri-Ciri Hati yang Keras
Salah satu ciri utama hati yang keras adalah tidak berfungsinya nasihat dalam menggerakkan seseorang menuju perubahan yang lebih baik. Dalam tasawuf dijelaskan bahwa manfaat nasihat sangat bergantung pada hidupnya rasa takut dan harap dalam hati, sebagaimana disebutkan:
"اْلِانْتِفَاعُ بِالْمَوْعِظَةِ هُوَ أَنْ يَقْدَحَ فِي الْقَلْبِ قَادِحُ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ." (مدارج السالكين في منازل السائرين: ج ٢ ، ص ۷٢)
“Mengambil manfaat dari nasihat adalah ketika di dalam hati terpercik rasa takut dan harap.” (Madarij al-Salikin fi Manazil al-Sairin, 2: 72)
Apabila nasihat hanya didengar secara lahiriah tanpa menimbulkan rasa takut terhadap akibat buruk dan harapan akan rahmat Allah, maka hal tersebut menunjukkan bahwa hati berada dalam kondisi keras. Selain itu, hati yang keras ditandai dengan kecenderungan meremehkan dosa, merasa aman dari murka Allah, serta lebih mengikuti hawa nafsu daripada tuntunan syariat.
Akibat Hati yang Keras terhadap Kehidupan Spiritual
Hati yang keras memiliki dampak yang sangat luas terhadap kehidupan spiritual dan sosial seseorang. Dalam tasawuf dijelaskan bahwa terdapat lima kebiasaan utama yang menjadi perusak hati, yaitu:
"مُفْسِدَاتُ الْقَلْبِ الْخَمْسَةُ: كَثْرَةُ الْخُلْطَةِ، وَالتَّمَنِّي، وَالتَّعَلُّقُ بِغَيْرِ اللهِ، وَالشِّبَعُ، وَالْمَنَامُ." (مدارج السالكين في منازل السائرين: ج ٢ ، ص ۸۷)
“Lima perusak hati adalah: terlalu banyak bergaul, berangan-angan kosong, bergantung kepada selain Allah, kenyang yang berlebihan, dan tidur berlebihan.” (Madarij al-Salikin fi Manazil al-Sairin, 2: 87)
Kelima hal tersebut menyebabkan hati kehilangan cahaya dan kekuatan spiritual. Bahkan, para ulama tasawuf menggambarkan hati yang tidak lagi merasakan dampak dosa sebagai hati yang mati. Dalam kondisi ini, seseorang tetap hidup secara fisik, tetapi kehilangan kesadaran batin yang mengarahkan kepada kebaikan.
Teknik Mengatasi Hati yang Keras dalam Tasawuf
Tasawuf menawarkan solusi komprehensif untuk mengatasi hati yang keras melalui proses tazkiyah al-nafs. Proses ini mencakup penyucian jiwa, pengendalian hawa nafsu, serta pembinaan akhlak secara berkesinambungan. Wahbah al-Zuhaili menjelaskan bahwa jiwa manusia membutuhkan pengarahan agar tidak dikuasai oleh hawa nafsu, sebagaimana dijelaskan:
"النَّفْسُ الْغَرِيْزِيَّةُ تَحْتَاجُ إِلَى تَعْدِيْلِ الْغَرَائِزِ وَالتَّزْكِيَةِ، وَجِهَادِ الشَّيْطَانِ وَالْهَوَى." (التفسير الوسيط للزحيلي: ج ١ ، ص ٢٨٨٢)
“Jiwa yang bersifat naluriah membutuhkan penyeimbangan naluri, penyucian, serta perjuangan melawan setan dan hawa nafsu.” (Tafsir al-Wasith li al-Zuhaili, 1: 2882)
Secara praktis, teknik mengatasi hati yang keras meliputi pelurusan niat, peningkatan kualitas ilmu, memperbanyak zikir, taubat yang sungguh-sungguh, muhasabah diri, serta membatasi faktor-faktor yang merusak hati. Semua praktek ini bertujuan untuk menghidupkan kembali kepekaan batin dan mengembalikan hati pada fitrah kesuciannya.
KESIMPULAN
Hati yang keras merupakan penyakit batin yang berakar pada kerusakan ilmu dan niat, serta diperparah oleh kebiasaan hidup yang tidak terkontrol. Kondisi ini menyebabkan seseorang sulit menerima nasehat dan kehilangan kepekaan terhadap nilai-nilai agama. Tasawuf menawarkan solusi melalui proses tazkiyah al-nafs yang menekankan penyucian jiwa, pengendalian hawa nafsu, dan pembinaan akhlak secara berkelanjutan. Dengan proses tersebut, hati dapat kembali hidup, lembut, dan mampu menjalankan fungsinya sebagai pusat kesadaran iman dan akhlak.
Penulis : Ainul Rofiqo, S.Pd.
Contact Person : 0895358140907
e-Mail : rofiqoainur76@gmail.com
Perumus : Ust. Abdusy Syakur Al Mahbub, S.TP.
Mushohih :Ust. Syafi' Dzulhilmi, S.TP.
Daftar Pustaka
Abu Abdillah Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (W. 659 - 751 H), Madarij al-Salikin, Dar Ibn Hazm, Beirut, Lebanon, Thn. 1441 H / 2019 M, Cet. Kedua, Sebanyak 4 Jilid.
Wahbah bin Musthafa al-Zuhaili (W. 1436 H), Tafsir al-Wasith li al-Zuhaili, Dar al-Fikr, Damaskus, Suriah, Thn. 1422 H / 2001 M, Cet. Pertama, Sebanyak 3 Jilid.
============================%20Ainul%20Rofiqo.png)
Posting Komentar untuk "TIPS MENGATASI HATI YANG KERAS DALAM TASAWUF"