TRANSFORMASI JIWA: PENGARUH DZIKIR THARIQAH TERHADAP SPIRITUALITAS PENGIKUTNYA
LATAR BELAKANG
Dzikir merupakan salah satu amalan yang memiliki kedudukan agung dalam kehidupan seorang mukmin. Ia bukan hanya aktivitas lisan, tetapi juga penghidup hati dan penopang keteguhan iman. Rasulullah SAW memberikan sebuah perumpamaan yang sangat jelas dan mudah dipahami: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dan yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.” Perumpamaan ini menunjukkan betapa besar pengaruh dzikir terhadap kondisi spiritual manusia. Hati yang senantiasa mengingat Allah bagaikan tubuh yang hidup aktif, peka, dan diterangi cahaya petunjuk. Sementara itu, hati yang lalai dari dzikir kehilangan vitalitasnya, menjadi kering, gelap, dan rapuh seperti jasad yang tidak bernyawa. Melalui pembahasan ini, kita akan menelaah makna mendalam dari perumpamaan tersebut, serta memahami bagaimana dzikir berperan sebagai sumber kehidupan rohani yang menuntun manusia menuju kedekatan dengan Allah.
PEMBAHASAN
Dalam islam menempatkan dzikir (mengingat Allah) adalah sebagai ruh kehidupan spiritual seorang mukmin. Orang yang rajin berdzikir diumpamakan sebagai jasad yang hidup, yang memiliki kesadaran, cahaya, dan kedekatan dengan Penciptanya, sehingga hatinya tenang dan terpimpin. Sebaliknya, orang yang lalai dan tidak pernah berdzikir diibaratkan sebagai mayat yang berjalan, karena meskipun tubuhnya bergerak di dunia, hatinya hampa dari cahaya Ilahi dan jauh dari fungsi spiritual yang seharusnya, sehingga ia rentan terhadap kegelisahan dan bisikan setan. Perumpamaan ini berfungsi sebagai motivasi kuat bagi umat Islam agar senantiasa menjaga lisan dan hati mereka untuk selalu mengingat Allah.
(مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ) (خَ. م). الْحَدِيْثُ أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ كَمَا قَالَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ، وَهُوَ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ مُوْسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. وَهَذَا اللَّفْظُ الَّذِيْ ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ هُوَ لَفْظُ الْبُخَارِيِّ فِيْ كِتَابِ الدَّعَوَاتِ مِنْ صَحِيْحِهِ، وَذَكَرَهُ مُسْلِمٌ فِيْ كِتَابِ الْصَّلَاةِ مِنْ صَحِيْحِهِ، وَلَفْظُهُ: "مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِيْ يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ وَالْبَيْتِ الَّذِيْ لَا يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ". وَفِيْ هَذَا التَّمْثِيْلِ مَنْقَبَةٌ لِلذَّاكِرِ جَلِيْلَةٌ وَفَضِيْلَةٌ لَهُ نَبِيْلَةٌ، وَأَنَّهُ بِمَا يَقَعُ مِنْهُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِيْ حَيَاةٍ ذَاتِيَّةٍ وَرُوْحِيَّةٍ لِمَا يَغْشَاهُ مِنَ الْأَنْوَارِ وَيَصِلُ إِلَيْهِ مِنَ الْْأُجُوْرِ، كَمَا أَنَّ التَّارِكَ لِلذِّكْرِ وَإِنْ كَانَ فِيْ حَيَاةٍ ذَاتِيَّةٍ فَلَيْسَ لَهَا اِعْتِبَارٌ، بَلْ هُوَ شَبِيْهٌ بِالْأَمْوَاتِ الَّذِيْنَ لَا يَفِيْضُ عَلَيْهِمْ بِشَيْءٍ مِمَّا يَفِيْضُ عَلَى الْأَحْيَاءِ الْمَشْغُوْلِيْنَ بِالطَّاعَةِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. وَمِثْلُ مَا فِيْ هَذَا الْحَدِيْثِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ﴾ . وَالْمَعْنَى تَشْبِيْهُ الْكَافِرِ بِالْمَيِّتِ وَتَشْبِيْهُ الْهِدَايَةِ إِلَى الْإِسْلَامِ بِالْحَيَاةِ. (محمد بن علي بن محمد بن عبد الله الشوكاني اليمني (ت ١٢٥٠هـ)، تحفة الذاكرين: ص١٧)
“(Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dan orang yang tidak mengingat-Nya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.) (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, sebagaimana yang disebutkan oleh penyusun rahimahullah, dan hadis ini berasal dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu. Lafazh yang disebutkan oleh penyusun rahimahullah adalah lafazh Al-Bukhari dalam Kitab Ad-Da'awat dari Shahih-nya. Muslim meriwayatkannya dalam Kitab Ash-Shalah dari Shahih-nya, dengan lafazh: "Perumpamaan rumah yang di dalamnya disebut nama Allah dan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati." Dalam perumpamaan ini terdapat keutamaan yang agung bagi orang yang berdzikir dan kemuliaan yang mulia baginya. Bahwasanya dengan dzikir kepada Allah 'Azza wa Jalla yang ia lakukan, ia berada dalam kehidupan yang hakiki secara fisik dan spiritual, karena ia diliputi oleh cahaya dan mendapatkan pahala yang sampai kepadanya. Adapun orang yang meninggalkan dzikir, meskipun secara fisik ia hidup, kehidupannya tidak memiliki nilai (sejati). Bahkan, ia menyerupai orang-orang yang mati, yang tidak mendapatkan limpahan apa pun dari limpahan yang diberikan kepada orang-orang yang hidup yang sibuk dalam ketaatan kepada Allah 'Azza wa Jalla. Serupa dengan makna dalam hadis ini adalah firman Allah Ta'ala: Ataukah orang yang dahulunya mati, kemudian Kami hidupkan dia. Maknanya adalah menyerupakan orang kafir dengan orang yang mati, dan menyerupakan petunjuk (hidayah) kepada Islam dengan kehidupan.” (Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah al-Syaukani al-Yamani Tuhfah al-Dzakirin: 17)
Dalam tradisi tasawuf, dzikir merupakan pusat dari seluruh proses transformasi jiwa. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa hati manusia memiliki kecenderungan untuk dikuasai oleh ingatan terhadap dunia dan dorongan hawa nafsu. Ketika hati tenggelam dalam kecenderungan semacam ini, setan mendapatkan majal, yaitu ruang gerak untuk bersembunyi dan membisikkan waswas. Namun sebaliknya, ketika hati kembali kepada dzikir dan menghidupkan ingatan kepada Allah, majal tersebut menyempit; setan pun menjadi terusir dan tak mampu menancapkan pengaruhnya. Dzikir, dengan demikian, menjadi mekanisme pembersihan batin yang efektif, yang mengusir kegelapan bisikan setan dari dalam diri manusia.
Al-Hakim menambahkan bahwa setan memang diberi jalan untuk menipu Bani Adam dengan menghias-hiasi kehidupan dunia. Tipu daya itu hanya berhasil ketika manusia lalai dari fitrahnya, ketika hati kehilangan maqarnya, yakni ketenangan asalnya yang berhubungan dengan Allah. Karena itu, tidak ada penjagaan yang lebih wutsqo lebih kokoh dan kuat daripada dzikir. Saat dzikir memancar dari hati, maka cahaya Ilahi, ikut bergejolak. Dada pun tersinari oleh cahaya tersebut. Pada saat yang sama, setan menyalakan api syahwat untuk menghalangi cahaya ini. Tetapi ketika ia melihat dzikir menyala dalam hati seorang hamba, setan akan lari terbirit-birit karena sinar dzikir memadamkan api syahwat dan menghalangi tipu dayanya.
Narasi ini menunjukkan bahwa amalan-amalan thariqah, khususnya dzikir yang teratur dan mendalam, bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi merupakan proses transformasi jiwa. Dzikir menyalakan kembali cahaya fitrah, membersihkan hati dari gelapnya waswas, menundukkan syahwat, dan mengokohkan hubungan batin dengan Allah. Transformasi ini menghasilkan spiritualitas yang lebih kuat, jernih, dan stabil. Para pengikut thariqah, melalui disiplin dzikir yang terarah, mengalami perjalanan batin yang membawa mereka menuju ketenangan, kekokohan jiwa, serta ketajaman spiritual dalam menghadapi godaan kehidupan. Inilah esensi perubahan batiniah yang menjadi tujuan utama jalan spiritual thariqah.
قَالَ الْغَزَالِيُّ: مَهْمَا غَلَبَ عَلَى الْقَلْبِ ذِكْرُ الدُّنْيَا وَفَمَقْتَضَيَاتُ الْهَوَى وَجَدَتْ الشَّيْطَانُ مَجَالاً فَوَسْوَسَ إِلَى ذِكْرِ اللهِ ارْتَحَلَ الشَّيْطَانُ وَضَاقَ مَجَالُهُ وَأَكْثَرُ الْقُلُوبِ قَدِ افْتَتَحَهَا جُنْدُ الشَّيْطَانِ وَمَلَكُوْهَا، وَمَبْدَأُ اسْتِيْلَائِهِ اتِّبَاعُ الْهَوَى، وَلَا يُمْكِنُ فَتْحُهَا بَعْدَ ذَلِكَ إِلَّا بِتَخْلِيَةِ الْقَلْبِ عَنْ قُوْتِ الشَّيْطَانِ وَهُوَ الْهَوَى وَالشَّهَوَاتُ وَعِمَارَتِهِ بِذِكْرِ اللهِ. وَقَالَ الْحَكِيْمُ: قَدْ أُعْطِيَ الشَّيْطَانُ وَجُنْدُهُ السَّبِيْلُ إِلَى فِتْنَةِ الْأَدَمِيِّ وَتَزْيِيْنِ مَا فِيْ الْأَرْضِ لَهُ طَمْعاً فِيْ غِوَايَتِهِ، فَهُوَ يُهَيِّجُ النُّفُوْسَ إِلَى تِلْكَ الزِّيْنَةِ تَهْيِيْجًا يُزَعْزِعُ أَرْكَانَ الْبَدَنِ وَمُسْتَقَرَّ الْقَلْبِ حَتَّى يُزْعِجَهُ عَنْ مَقَرِّهِ. وَلَا يَعْتَصِمُ الْآدَمِيُّ بِشَيْءٍ أَوْثَقَ وَلَا أَحْصَنَ مِنَ الذِّكْرِ؛ لِأَنَّهُ إِذَا هَاجَ الذِّكْرُ مِنَ الْقَلْبِ هَاجَتِ الْأَنْوَارُ، فَاشْتَعَلَ الصَّدْرُ بِنَارِ الْأَنْوَارِ، وَهَيِّجُ الْعَدُوَّ نَارَ الشَّهَوَاتِ، فَإِذَا رَأَى الْعَدُوُّ هَيَجَانَ الذِّكْرِ مِنَ الْقَلْبِ وَلَّى هَارِباً، وَخَمَدَتْ نَارُ الْشَّهْوَةِ، وَامْتَلَأَ الصَّدْرُ نُوْراً، فَبَطَلَ كَيْدُهُ. ( محمد عبد الرؤوف المناوي (ت ١٠٣١هـ)، فيض القدير شرح الجامع الصغير: ج٢، ص٤٤٩)
“Imam Al-Ghazali berkata: "Kapan saja hati didominasi oleh ingatan tentang dunia dan tuntutan hawa nafsu, niscaya setan akan mendapatkan peluang lalu ia pun berbisik (menggoda). Dan kapan saja hati berpaling kepada dzikir (mengingat) Allah, niscaya setan akan pergi (pindah) dan ruang geraknya menjadi sempit. Mayoritas hati telah dibuka (dikuasai) dan dimiliki oleh tentara setan, dan permulaan penguasaannya adalah mengikuti hawa nafsu. Hati tidak mungkin dapat dibuka kembali setelah itu, kecuali dengan mengosongkan hati dari makanan setan, yaitu hawa nafsu dan syahwat, dan memakmurkannya dengan dzikir kepada Allah." Imam al-Hakim berkata: "Setan dan tentaranya telah diberi jalan untuk menyesatkan (menggoda) manusia dan menghiasi apa yang ada di bumi baginya, karena tamak (berhasrat) untuk menyesatkannya. Maka, ia (setan) menggerakkan jiwa-jiwa menuju perhiasan tersebut dengan gejolak yang menggoyahkan pilar-pilar badan dan tempat berdiamnya hati, hingga ia (hati) terusir dari tempatnya. Manusia tidak dapat berlindung dengan sesuatu pun yang lebih kuat dan lebih membentengi daripada Dzikir; karena apabila dzikir bergejolak dari hati, maka cahaya akan bergelora, lalu dada pun menyala dengan api cahaya, sedangkan (setan) mengobarkan api syahwat. Maka, apabila musuh (setan) melihat gejolak dzikir dari hati, niscaya ia akan berpaling melarikan diri, api syahwat pun padam, dan dada terisi dengan cahaya, sehingga tipu dayanya menjadi batal." (Muhammad Abdu al-Rouf al-Manawi Faidh al-Qodir Syarh Jami’ al-Shoghir, 2: 449)
Gerbang menuju kedekatan ilahi adalah thariqah. Secara harfiah Thariqah berarti cara, jalan, atau metode, guna mencapai tujuan bertasawuf, yakni meraih kesucian jiwa, kedekatan diri dengan Sang Pencipta dan merasakan kehadiran-Nya dalam setiap keadaan melalui seorang guru Mursyid (Pembimbing spiritual).
Dalam Thariqah, Dzikir (mengingat Allah) menempati posisi sentral. Ia adalah denyut nadi yang menghidupkan spiritualitas seorang salik (penempuh jalan). Tujuan utama Dzikir adalah menambatkan hati pada ketenangan hakiki.
(أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ) أَيْ قُلُوْبُ الْمُؤْمِنِيْنَ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: هَذَا فِيْ الْحَلِفِ، فَإِذَا حَلَفَ خَصْمُهُ بِاللَّهِ سَكَنَ قَلْبُهُ. وَقِيلَ:«بِذِكْرِ اللَّهِ» أَيْ بِطَاعَةِ اللَّهِ. وَقِيْلَ بِثَوَابِ اللَّهِ. وَقِيْلَ: بِوَعْدِ اللَّهِ. وَقَالَ مُجَاهِدٌ: هُمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ ﷺ. (شمس الدين (ت ٦٧١)، الجامع لأحكام القرآن: ج١٢، ص٦٥)
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” maksudnya hati orang-orang beriman. Ibnu ‘Abbas berkata: Ayat ini berkenaan dengan sumpah; ketika lawannya bersumpah dengan (nama) Allah, hatinya menjadi tenang. Ada yang berkata: “Dengan mengingat Allah” maksudnya dengan taat kepada Allah. Ada yang berkata: dengan (mengingat) pahala Allah. Ada yang berkata: dengan (mengingat) janji Allah. Mujahid berkata: Yang dimaksud adalah para sahabat Nabi SAW.” (al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 12: 65).
Dzikir, dengan segala maknanya, adalah benteng spiritual yang paling kokoh. Ia bukan hanya pengingat, melainkan perisai yang membersihkan jiwa dari karat kelalaian, menyiapkan hati untuk menerima cahaya Ilahi. Dzikir (mengingat Allah) merupakan jantung dari amalan thoriqoh, yang bertujuan untuk membersihkan jiwa dan mencapai kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta. Peran dzikir sebagai benteng spiritual yang sangat kuat, berfungsi sebagai pencegah utama dari godaan setan dan penawar bagi hati yang lalai.
وَقِيْلَ: إِذَا تَمَكَّنَ الذِّكْرُ مِنْ الْقَلْبِ فَإِنْ دَنَا مِنْهُ الشَّيْطَانُ، صَرَعَ كَمَا يَصْرَعُ الْإِنْسَانُ إِذَا دَنَا مِنْهُ الشَّيْطَانَ، فَيَجْتَمَعُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِيْنَ فَيَقُوْلُوْنَ: مَالِهَذَا؟ فَيَقُوْلُ: قَدْ مَسَّهُ الْإِنْسُ. إِنْتَهَى. (حسن بن محمد حلمي القحي النقشبندي الشاذلي (ت ١٣٥٦ هـ)، تنبيه السالكين: ص١٣٠)
“Dikatakan: Apabila zikir (mengingat Allah) telah menguasai hati, lalu setan mendekatinya, maka setan itu akan terlempar (tersungkur), sebagaimana manusia terlempar ketika setan mendekatinya. Maka berkumpullah para setan atasnya (setan yang terlempar itu), dan mereka berkata: "Ada apa dengan ini (setan ini)? Maka ia (setan yang terlempar) menjawab: "Dia telah disentuh oleh manusia (maksudnya, telah dikalahkan oleh kekuatan zikir pada hati manusia itu)." Selesai (di sini berakhir kutipan itu). (Tanbih al-Salikin, : 130).
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dzikir merupakan inti kehidupan spiritual dan pusat informasi jiwa dan tradisi dalam thariqah. Dzikir tidak sekedar aktivitas lisan, melainkan kekuatan rohaniah yang menghidupkan hati, menyalakan cahaya fitrah, serta mengokohkan hubungan batin manusia dengan Allah SWT. Hadist Nabi yang mengibaratkan orang yang berdzikir seperti orang hidup, dan yang lalai dari dzikir seperti orang mati, menegaskan bahwa kualitas kehidupan spiritual manusia agar ditentukan oleh kehadiran dzikir dalam hati dan kehidupannya.
Dalam perspektif tasawuf, sebagaimana dijelaskan oleh imam Al-Ghazali dan para ulama sufi lainnya, hati manusia senantiasa berada dalam pertarungan antara dzikir dan hawa nafsu Ketika hati dipenuhi ingatan kepada dunia dan syahwat, setan memperoleh ruang untuk menanamkan waswas dan kegelisahan. Sebaliknya, ketika dzikir menguasai hati, ruang gerak setan menyempit, bahkan sirna, karna cahaya dzikir memadamkan api syahwat dan membatalkan tipu dayanya.
Dengan demikian, dzikir berfungsi sebagai mekanisme penyucian batin dan benteng spiritual yang paling kokoh. Amalan dzikir yang terstruktur dan berkesinambungan dalam thariqah menjadi sarana efektif dalam proses transformasi jiwa. Melalui bimbingan mursyid, dzikir tidak hanya menenangkan hati, tetapi juga membentuk spiritualitas yang stabil, jernih, dan tahan terhadap godaan duniawi. Transformasi ini mengantarkan salik dari kondisi kelalaian menuju kesadaran mengingat Allah SWT, dari kegelisahan menuju ketenangan, serta dari dominasi hawa nafsu menuju kemantapan iman. Dengan demikian, dzikir berperan penting dalam membangun spiritualitas pengikutnya secara mendalam dan berkelanjutan. Dzikir menjadi jalan hidup yang menghidupkan hati, menjaga fitrah manusia, serta menuntun jiwa menuju kedekatan hakiki dengan Allah SWT. Inilah esensi transformasi batiniah yang menjadi tujuan utama perjalanan spiritual dalam thariqah.
Penulis : M. Syaifulloh Faqeh
Contact Person : 085731220006
e-Mail : mfaqehfaqeh@gmail.com
Perumus : Ust. Ulul Albab Munajadallah, S. Psi
Mushohih : Ust. M. Faidlus Syukri, , S.Pd
Daftar Pustaka
Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah al-Syaukani al-Yamani (W. 1250 H), Tuhfah al-Dzakirin, Muassasah al-Kitab al-Tsaqofiyah, Beirut, Lebanon, 1988 M.
Muhammad Abdu al-Rouf al-Manawi (W. 1031 H), Faidh al-Qodir Syarh Jami’ al-Shoghir, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon, 2001 M, Sebanyak 6 jilid.
Syamsuddin al-Qurtubi (W. 671 H), al-Jami’u li Ahkam al-Qur’an, Muassasah al-Risalah, 2006 M, Sebanyak 24 jilid.
Hasan bin Muhammad Helmi al-Qohi al-Naqsabandi al-Syadzili (W. 1356 H), Tanbih al-Salikin, Republik Dangestan, Rusia.





Posting Komentar untuk "Transformasi Jiwa: Pegaruh Dzikir Thariqah Terhadap Spiritualitas Pengikutnya"